Beranda » Materi Kuliah » Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas


A. Pendahuluan
1. Latarbelakang Masalah Hasil pengamatan di SMAN 6 Lhokseumawe pada semester II, nilai mata pelajaran biologi secara klasikal, lebih dari 35 % siswa kelas XI ipa belum mencapai ketuntasan belajar. Hal ini dapat dilihat dengan hasil ujian semester dengan nilai yang kurang memuaskan. Rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran juga berakibat tidak baik terhadap hasil belajar siswa. Rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terindikasi dari sikap siswa diantaranya : rendahnya respon siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru, kurangnya inisiatif siswa untuk bertanya jika belum mengerti. Dari kenyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa kemungkinan munculnya masalah tersebut, antra lain : (i) rendahnya minat belajar siswa, (ii) rendahnya pemahaman siswa (iii) rendahnya motivasi dan keaktifan siswa dalam belajar Apabila masalah tersebut tidak segera dicari solusinya sulit bagi siswa untuk mencapai tuntas belajar baik secara induvidu maupun klasikal. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menggunakan media audio visual sebagai media pembelajaran yang disertai kartu prestasi untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam meningkatkan hasil belajar. 2. Cara Pemecahan Masalah Penelitian ini dilakukan dengan bantuan, CD, Laptop dan infokus, serta beberapa lembar kertas karton ukuran 10×15 cm yang dibagikan ke siswa. Penelitian ini dilakukan di dalam kelas. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: penyusunan materi pembelajaran, menyiapkan alat-alat pendukung laptop, infokus, CD pembelajaran dan karton manila, melakukan diskusi tentang materi pembelajaran dan pemberian nilai pada kartu prestasi. Indikator untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran adalah hasil belajar siswa. Tindakan setiap siklus di nilai dan dianggap berhasil jika ada peningktan pemahaman dan respon siswa sesuai harapan. Kriteria keberhasilan siswa diukur dengan daya serap dan ketuntasan belajar. Seorang siswa dianggap tuntas belajar bila telah mencapai nilai yang sama atau melebihi Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang telah ditentukan. Untuk pelajaran Biologi kelas XI IPA SMAN 6 Lhokseumawe nilai SKBM yang harus dicapai adalah 6,5. 3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : (1). Meningkatkan hasil belajar siswa, (2) meningkatkan minat dan pemahaman belajar siswa, (3). Meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa, (4). Respon siswa terhadap penggunaan audio visual.yang disertai kartu prestasi. Adapun manfaat penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar, dapat mengatasi kesulitan dalam pemahaman belajar serta dapat meningkatkan minat dan aktifitas siswa dalam belajar B. Kerangka teori dan hipotesis tindakan Belajar adalah kegiatan para siswa, baik dengan bimbingan guru atau atau dengan usaha sendiri. Pendidik berusaha membantu agar siswa belajar lebih terarah, cepat, lancar dan berhasil baik, atau dengan istilah lain membelajarkan siswa. Pembelajaran agar berhasil perlu dilaksanakan sistematis, secara bulat dengan pertimbangan segala aspek.. Model pembelajaran merupakan penyederhanaan dari hubungan berbagai komponen yang ada dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Komponen- komponen pembelajaran meliputi : metode belajar, sarana dan prasarana, guru, siswa, kurikulum, alat evaluasi dan sebagainya. Menurut Zamroni, (1988:79), mengatakan model merupakan inti dari teori dalam bentuk sederhana, sehingga mudah dibaca dan dipahami. Ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar pada siswa antara lain : a. Prinsip Bimbingan Bimbingan dapat diartikan suatu proses bantuan atau tuntutan terhadap induvidu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagian pribadi dan menfaat social. b. Belajar Tuntas Belajar tuntas merupakan suatu system belajar yang mengharapkan sebagian besar siswa tujuan (basic learning objective) tertentu secara tuntas. Penguasaan terhadap tujuan sehingga dapat dikatakan tuntas memiliki standar tertentu sesuai dengan tuntutan masing-masing tujuan yang hendak dicapai. Pencapaian standar dalam belajar tuntas pada umumnya para siswa diharapkan minimal menguasai 85 % dari jumlah populasi peserta didik dan dari 85% siswa harus menguasai sekurang-kurangnya 75% tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan. c. Belajar Aktif Belajar aktif merupakan perkembangan dari terre dewey yaitu learning by doing dimana siswa terlibat lansung dalam proses belajar aktif ini lebih dikenal sebagai CBSA dan merupakan suatu proses pendekatan menuju belajar mandiri. Dalam belajar aktif ini guru memiliki peran membantu dan membimbing siswa untuk mencare, menganalisis, menyeleksi dan merefleksi berbagai pengetahuan yang telah mereka terima, (Tjipto Sumadi 2004, 10). d. Motivasi Belajar Motivasi belajar adalah besarnya dorongan yang timbul karena adanya suatu usaha sikap positif dari siswa, dalam hal ini adalah kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Secara psikologis motivasi dapat diartikan keadaan dalam pribadi orang yang mendorong induvidu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan tertentu (Sumadi,2004,70). Mengenai penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar, Penggunaan media dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pengajaran. 1. Penggunaan Komputer dalam pembelajaran Aplikasi TI yang nyata misalnya dengan hadirnya multimedia dan web, dalam bidang pendidikan yang melahirkan terobosan baru dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran. Pengajaran dengan bantuan computer dikembangkan dari model belajar terprogram(Programmed instruction). 2. Kartu Prestasi Kartu Prestasi adalah suatu jenis kartu yang tujuan memotivasi siswa, sehingga siswa punya minat untuk mempelajari pelajaran. Kartu prestasi ini sengaja penulis rancang sendiri dalam rangka mendorong siswa untuk beraktifitas. Melalui kartu prestasi ini, penulis memberi penghargaan yang berupa nilai terhadap segala aktifitas yang dilakukan siswa saat proses pembelajaran berlansung. Kartu prestasi ini diberikan kepada siswa dan dipegang oleh siswa yang harus selalu di bawa saat proses pembelajaran berlansung. Hipotesis Tindakan Penggunaan alat bantu pengajaran sangat membantu peserta didik, audio visual salah satu alat bantu pembelajaran memiliki peranan yang sangat membantu dalam menjelaskan hal-hal abstrak menjadi jelas dan sederhana serta lebih efisien dalam waktu. Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis tindakan yaitu : Penggunaan Audio Visual disertai kartu prestasi siswa dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pelajaran Biologi pada SMA 2 Blangpidie . C. Rencana Penelitian 1. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Penelitian dilaksanakan di SMAN 6 Lhokseumawe. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA 2 Blangpidie tahun pelajaran 2009 – 2010. Jumlah siswa 29 orang terdiri 21 orang wanita dan 8 orang laki-laki. Katagori pengamatan terhadap aktivitas guru antara lain meliputi : Penyampaian materi pelajaran, memotivasi siswa, membagi siswa dalm 4 kelompok, mengajukan pertanyaan , memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama, memeriksa hasil kerja siswa dan membimbing siswa dalam praktikum. Sedangkan subjek penelitian adalah siswa, yang meliputi 3 aspek penilaian yaitu, kognitif, apektif dan spikomotorik. Kognitif meliputi penilaian daya serap siswa terhadap materi yang disampaikan guru, pekerjaan rumah, tugas-tugas bobot penilaian 50-100 Apektif meliputi penilaian disiplin siswa selama proses pembelajaran berlansung, kerja sama kelompok dan perhatian siswa, bobot penilaian A-D. Spikomotorik meliputi keaktivan dan ketrampilan siswa dalam penggunaan alat dalam praktikum, bobot penilaian A-D Penelitian dilakukan dalam 3 siklus dengan alur kegiatan untuk setiap siklus terdiri dari empat komponen, yaitu : perencanaan, tindakan , observasi dan refleksi 2. Variabel yang diteliti Variabel yang menjadi sasaran dalam rangka PTK adalah Peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa melalui penggunaan media audio visual disertai kartu prestasi. Dan respon siswa terhadap proses pembelajaran berlansung. 3. Rencana Tindakan Tindakan pertama menyusun rencana pembelajaran meliputi : menyusun rencana program pembelajaran (RPP), menyusun alat evaluasi (test awal dan test akhir), menyusun instrument pengamatan meliputi : lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa, lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran, Angket respon siswa terhadap proses pembelajaran berlansung . 4. Data dan Cara Pengumpulan Data Sumber data merupakan seluruh siswa kelas XI IPA yang menjadi subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui hasil post test yang dilkukan disetiap akhir satu siklus dengan menggunkan test bentuk uraian. Data tersebut meliputi : 1. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa Digunakan lembar observasi, dilakukan oleh tim yang bekerja sebagai pengamat. Data yang diperoleh dihitung persentasenya (%) 2. Analisis kemampuan pengelolaan pembelajaran Untuk menganalisis hasil penelitian yang dilakukan oleh pengamat terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran digunakan ketentuan sebagai berikut ; 1 = tidak baik; 2 = kurang baik; 3= cukup baik; 4=baik 3. Tanggapan siswa Respon siswa digunakan untuk menjaring pendapat siswa terhadap proses pembelajaran berlansung dengan menggunakan audio visual dan kartu prestasi. Meliputi topic yang dipelajari, LKS, penampilan guru dan suasana kelas saat proses belajar berlansung. 4. Test hasil belajar Untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa digunakan tes dalam bentuk Essay (uraian). Hasil belajar siswa dilakukan dengan menggunakan statistic deskriptif, yaitu dengan menggunakan ketentuan individual dan klasikal terhadap TPK yang ingin dicapai. SMA 2 Blangpidie mengunakan nilai ketuntasan belajar siswa yaitu : Ketuntasan Induvidual, jika jawaban benar >0,65 atau 65%, Ketuntasan klasikal, jika >85% siswa tuntas belajarnya. 5. Indikator Kinerja Peningkatan keaktifan siswa ditunjukan dengan indikator sebagai berikut : 90 % siswa dapat meningkatkan hasil belajar, 80 % siswa dapat meningkatkan minat dan keaktifan siswa dalam bertanya dan memjawab pertanyaan yang diajukan guru.75 % siswa dapat nilai ulangan dan ujian diatas nilai standar ketuntasan belajar minimal D.Hasil Penelitian Pada setiap siklus penulis melakukan pretest dan posttest. Pretest dilaksanakan sebelum proses pembelajaran berlansung, sedangkan post test dilaksanakan setelah seluruh proses pembelajaran dilakukan atau dengan kata lain pada tiap siklus dilaksanakan pretest dan posttest untuk melihat ketuntasan belajar siswa. Pada TPK ini tingkat ketuntasan belajar siswa mencapai 93.10 %, sedangkan yang tidak tuntas 6.89 %. Menunjukkan ada peningkatan tingkat pemahaman siswa pada pelajaran biologi. Walaupun yang tidak tuntas hanya 2 orang, ini dikarenakan kurangnya kehadiaran siswa tersebut disekolah sehingga ketinggalan dalam mengikuti pelajaran dengan teman-temannya. Kemampuan siswa dalam pembelajaran diamati dan dinilai selama proses pembelajaran pada kartu prestasi. Aspek yang dinilai adalah Kognitif, Apektif dan Psikomotorik. Skor penilaian Kognitif : nilai 80-100, Apektif : A-B, Psikomotorik : A-B. Pada penilaian kognitif siswa yang mendapat niali A-B sebanyak 86 %. Penilaian apektif siswa yang mendapat nilai 80-100 sebanyak 96 %, sedangkan penilaian Spikomotorik dimana disini siswa dituntut kemampuan skil dalam melakukan praktikum dengan skor nilai A-B sebanyak 86 % Pada setiap siklus penulis melakukan penilaian pada kartu prestasi siswa, dan melakukan empat tahap kegiatan yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penilaian dari 3 siklus. yang dilakukan adalah sebagai berikut : Siklus I Kegiatan pada tahap awal pada siklus ini melakukan perencanaan sebagai berikut : penulis menjelaskan kepada siswa bahwa dalam proses pembelajaran berlansung peneliti menggunakan media audio visual serbagai media pembelajaran. Sementara kemampuan siswa dinilai melalui kartu prestasi. Kartu prestasi ini berfungsi untuk melihat kemampuan siswa dalam proses pembelajaran berlansung. Siswa yang aktif akan dinilai dengan memberi nilai pada kartu prestasi. Kartu prestasi diberikan kepada siswa dan harus dibawa setiap kali ada pertemuan, kartu harus dapat diparaf oleh wali sehingga orang tua dapat melihat kemampuan prestasi anaknya. Pada tahap perencanaan penulis menjelaskan penetapan materi pembelajaran dan alokasi waktu pelaksanaan. Pada tahap perencanan ini juga penulis menjelaskan secara singkat cara pemberian nilai pada kartu prestasi. Pada siklus ini siswa dibagi dalam 4 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 8 orang. Pada tahap tindakan meliputi seluruh proses belajar mengajar melalui media audio visual dan aktivitas siswa. Sebelum proses pembelajaran berlansung siswa melakukan pretest untuk melihat kemampuan siswa, apakah siswa ada belajar atau tidak. Test dalam bentuk essay. Setelah test selesai, baru pengamat melakukan pengamatan, tim pengamat yang berjumlah dua orang yang bertugas mengamati aktifitas siswa dan guru. Nilai pretest pada siklus pertama ini hanya 3 siswa yang mendapat nilai 70, sementara sisanya dibawah itu. Kemudian pada tahap ini guru lansung membagi siswa dalam 4 kelompok, kemudian penulis sebagai guru memaparkan sedikit materi pembelajaran, kemudian penulis memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk mendiskusikan materi tersebut. Penulis menunjuk salah satu kelompok sebagai penyaji untuk menanggapi setiap pertanyaan siswa. Setiap siswa yang mengajukan pertanyaan dan menaggapi pertanyaan kawan mendapat nilai dikartu prestasi. Semua aspek penilaian akan diberikan penulis kepada siswa. Pada akhir pembelajaran penulis memberikan nilai untuk kerja sama kelompok dengan memberi nilai yang sama. Tahap Observasi dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran, meliputi peningkatan keaktifan siswa dalam proses belajar, pengembangan materi dan hasil belajar siswa. Pada siklus ini penulis melihat persentase aktifitas siswa masih kurang. Yang mengajukan pertanyaan masih sedikit, masih kurangnya siswa yang menanggapi pertanyaan kelompok lain. Kegiatan diskusi berjalan lancar namun hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja sehingga kerja sama kelompok relative kurang. Hal ini dari amatan penulis masing-masing kelompok masih berharap pada ketua kelompok sehingga yang dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar hanya beberapa siswa. Saling bertukar pendapat masih sedikit. Pada siklus ini siswa yang mengajukan pertanyan hanya 20.6 %, sedangkan yang menyiapkan buku sumber sebagai pegangan hanya 27,5 % tiap kelompok. Hal ini karena siswa menganggap itu kewajiban ketua kelompok saja. Kurangnya kekompakan dalam satu kelompok. Perhataian pada media pembelajaran cukup tinggi pada tiap kelompok sebesar 86.2 %, hal ini penulis menggunakan infokus dan laptop, sehingga perhatian siswa lebih terfokus. Pada akhir tahap observasi penulis melakukan posttest untuk melihat kemampuan siswa dalam penyerapan hasil pelajaran yang telah dilakukan. Tahap Refleksi meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran dan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya. Disini penulis mengintropeksi kembali hasil dan kelemahan-kelemahan pada siklus ini. Siklus II Pada siklus kedua, langkah-langkah yang penulis terapkan masih sama seperti langkah-langkah pada siklus pertama, yaitu tahap perencanaan dimana penulis meminta siswa untuk dapat membentuk kelompok masing-masing. Pada tahap tindakan pada siklus ini siswa sudah jelas tugasnya masing-masing dalam kelompok dan sudah ada pembenahan sehingga mulai menampakkan hasil meningkatnya aktifitas siswa dalam pembelajaran. Kemudian nilai pretest siswa juga sudah ada peningkatan dari siklus sebelumnya. Pada tahap observasi persentase aktifitas siswa sudah ada peningkatan yang mengajukan pertanyaan sudah mencapai 68.9 % dalam tiap kelompok. Hal ini penulis ransang siswa dengan memberi nilai pada kartu prestasi. Siapa yang bertanya dan aktif dalam diskusi nilai akan didapat pada kartu prestasi, sehingga siswa yang kartunya masih kosong nilainya akan terpacu dengan melihat kartu temannya yang sudah terisi nilai. Siswa yang menanggapi pertanyaan kelompok lain sebanyak 68.9 %, kerja sama kelompok juga sudah baik. Sudah banyak yang dapat menjawab pertanyaan guru. Perhatian pada media pembelajaran meningkat menjadi 93.1 % tiap kelompok. Tahap refleksi pada siklus ini keaktifan siswa sudah baik dibandingkan keaktifan siswa pada siklus pertama. Siswa yang selama ini pasif, sudah lebih aktif dan jumlah yang mengajukan pertanyaan bertambah. Kelemahan pada siklus pertama sudah tidak kelihatan lagi pada siklus ini. Nilai posttest siswa juga sudah ada peningkatan. Siklus III Pada siklus ketiga, langkah-langkah yang penulis terapkan masih sama seperti langkah-langkah pada siklus pertama. Pada tahap ini siswa masih melakukan pretest untuk melihat kemampuan belajar. Ternyata nilai pretest sudah kelihatan peningkatan dari siklus-siklus sebelumnya. Kemudian pada tahap observasi pada siklus ini siswa sudah lebih aktif dan trampil dalam kelompok. Nilai pada kartu prestasi sudah mulai terisi penuh. Siswa mulai membandingkan nilai yang dia dapat dikartu prestasi dengan teman kelompoknya. Persentase aktifitas siswa meningkat. Yang mengajukan pertanyaan sudah mencapai 93.10%, yang membawa buku sumber sebagai pegangan dalam belajar sudah mencapai 86.20% berarti dalam tiap kelompok hampir semua siswa sudah ada buku pegangan. Yang menjawab pertanyaan guru dengan tepat juga sudah ada peningkatan sebesar 86.20% berarti dalam tiap kelompok ada 6 orang yang sudah mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar. Perhatian pada media pembelajaran mencapai 96,5 % berarti semua siswa terfokus pada media infokus sebagai media pembelajaran. Kerja sama kelompok juga sudah ada peningkatan sebesar 96.5%. Mereka sudah berani menanggapi pertanyaan kelompok lain, semua ikut menjawab tidak lagi hanya menggandalkan ketua kelompok saja. Persentase ini meningkat mencapai 93.1%. Yang mempresentasikan hasil diskusi juga sudah bergantian, bukan siswa itu-itu saja lagi. Pada siklus ketiga ini peningkatan hasil belajar siswa sudah kelihatan. Nilai posttest siswa juga meningkat. Tahap refleksi, hasil yang terlihat pada siklus ketiga terlihat, keaktifan siswa sudah sangat baik dibandingkan keaktifan siswa pada siklus pertama dan kedua. Dari hasil siklus pertama, kedua dan ketiga terlihat : indikator keberhasilan dari penerapan pembelajaran menggunakan audio visual disertai kartu prestasi menunjukan keberhasilan yaitu lebih dari 90 % siswa dapat meningkatkan hasil belajar, lebih dari 80% siswa dapat meningkatkan minat dan keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Lebih dari 75 % siswa dapat nilai ulangan dan ujian diatas nilai standart ketuntasan belajar minimal. Untuk menjaring pendapat siswa terhadap proses pembelajaran berlansung penulis menggunakan angket respon siswa. Pada respon tersebut hampir 96.55% siswa senang guru memberikan materi dengan menggunakan media audio visual, dan hampir 96.55% siswa senang pemberian nilai dengan menggunakan kartu prestasi. 93.10% siswa berminat mengikuti kegiatan belajar seperti yang telah ia ikuti. 96.55% siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran khususnya pelajaran biologi. Penilaian pengelolaan pembelajaran diambil dari instrument penilaian oleh dua orang pengamat. Hasil dari penilaian tersebut selama 3 siklus . Dari hasil tersebut siklus I skor penilaian belum kelihatan peningkatan atau dengan kata lain masuk katagori kurang baik, pada siklus II skor penilaian sudah masuk katagori baik. Berarti pada siklus kedua sudah ada peningkatan. Pada siklus ke III skor penilaian sudah mencapai 30.08 dengan katagori sangat baik. Berarti pada siklus ini sudah ada peningkatan dalam penggolaan pembelajaran. E. Penutup Kesimpulan Berdasarkan pengamatan penulis, pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang disertai kartu prestasi dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar biologi, hal ini terlihat dari nilai pretest dan postes siswa yang mencapai nilai ketuntasan minimal diatas 6.5 Dari hasil angket respon siswa, disitu terlihat siswa senang dengan metode pembelajaran menggunakan audio visual yang disertai kartu prestasi Saran Hendaklah pembelajaran menggunakan media audio visual dan kartu prestasi diperkenalkan lebih luas kesetiap sekolah. Apabila disekolah tersebut belum ada media audio visual disekolah, guru dapat menggunakan kartu prestasi saja untuk memancing keaktivan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan kartu prestasi kita dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kreatif, menyenangkan dan mencerdaskan sehingga kurangnya motivasi dan keaktifan belajar siswa dapat diatasi.

2 thoughts on “Penelitian Tindakan Kelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s