Bukan Pacarku


Menunggu memang membosankan. Hampir satu jam aku duduk di balik jendela sambil celingukan ketika terdengar suara sepeda motor.  Siapa tau dia. Pikirku. Dua jam berlalu dan dia tak kunjung tiba.                                                                    1

“Jalanan macet kali ya atau jangan-jangan motornya lagi mogok atau …” aku terus berusaha berprasangka baik.

 

 

Lelah menunggu, kantuk menyergapku.  Dalam setengah mimpi bertemu pangeran, dering telepon membangunkanku. “Aku udah nyampe di depan kosanmu.” Akhirnya yang kutunggu tiba. Tanpa banyak mikir aku segera keluar kos nyamperin si dia. Seketika ada campuran hujan bunga dan kesal di hatiku.  Malam itu sedikit remang. Lampu teras depan sudah dua hari ini rusak.

 

 

“Kok berdiri di situ sih, ayo masuk!” Teriakku padanya yang sedang asyik duduk di atas motor.

 

 

“Lho kok diem aja, ayo masuk. Aku udah tiga jam tau nungguin kamu.” Aku lagi lagi berteriak yang kini ditingkahi nada kesal. Dia masih saja tak bergeming seperti tak mendengarkanku.

 

 

Dengan hati yang benar-benar kesal aku berjalan ke arahnya. Tanpa memperhatikan wajahnya…

 

 

“Ayo masuk!” kataku sambil menarik-narik lengan bajunya.

 

 

“Maaf mbak mungkin yang dimaksud mas yang di sana.” sambil menunjuk seseorang yang tengah tertawa terpingkal pingkal.

 

 

“Salah orang ni ye!”

 

 

“Kamu sih lama banget, aku sampai lupa sama wajahmu.” Kataku ngeles sambil menahan malu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s