Beranda » Catatan Hidup » cerpen dian latifah padandi » Seribu Jingga Adha

Seribu Jingga Adha


Suasana hening. Aku, Ibu, dan Om Sugi memilih diam. Kami sibuk dengan untaian doa masing-masing. Hanya sesekali terdengar gemiricik air kolam di sudut taman. Juga desahan angin yang melepaskan daun-daun tua dari ranting pohon. Kelak kita pun akan demikian. Menua dan akan pergi. Suara sepatu-sepatu pegawai dan pengunjung tak ramai seperti biasanya. Mungkin mereka telah lelah dan memilih menyelonjorkan diri di emperan rumah sakit atau bermalasan sambil mengisi TTS (Teka Teki Silang).

Dua jam berlalu. Aku, Ibu dan Om Sugi masih betah berdiam. Hanya sesekali berbicara dalam tatap. Lalu, aku sibuk menatap etalase-etalase yang mulai mengusam. Tatapan yang kosong. Tatapan dengan resah yang memburu. Tatapan dengan doa yang tak putus, semoga operasi kali ini berhasil. Sesaat kupandangi Ibu. Wajahnya kuyu, ada gurat sedih dan bahagia yang bercampur. Dan yang pasti, juga ada doa yang sama, doa yang tak putus. Ibu meremas jemarinya yang basah karena keringat. Mengusir resah. Sedang Om Sugi mulai menguap. Terserang kantuk karena tak tidur sejak tadi malam.

Operasi keempat. Operasi yang seharusnya tak ada jika operasi ketiga beberapa tahun lalu berhasil. Operasi yang seharusnya tak tertunda lama. Sejak kepergian Bapak ke hadiratNya, memang tak ada lagi pembicaraan kapan mengganti operasi yang gagal itu. Tak ada biaya. Dan hari ini semua terjawab. Operasi itu sudah sejak dua jam lalu berlangsung. Operasi yang selalu menjadi bagian dari mimpi-mimpiku saat aku sukses. Yah seperti saat ini.

“Ya Rabb…sukseskan operasi adikku kali ini. Dia ingin berqurban di hari Idul Adha nanti. Kumohon kabulkan inginnya.” Lirihku.

**

Namanya Abdullah. Dia adalah adik pertamaku. Adik yang terlahir dalam keadaan yang tak sempurna. Terlahir dalam beda. Sumbing. Namun tak pernah sekalipun mengeluarkan bahasa kelu atas keterbatasannya. Adik yang memiliki rasa berbagi yang tak kumiliki.

Setahun setelah kepergian Bapak, benar-benar membuatnya dewasa. Bahkan lebih dewasa dariku, anak tertua. Percakapan di suatu senja benar-benar membuat hatiku basah. Haru atas ketulusannya. Di pojok belakang rumah kusempatkan untuk memperhatikannya. Peluh membanjiri tubuhnya, kulitnya yang putih berubah legam, tangan-tangannya berotot seperti lelaki dewasa yang bukan seusianya. Dia baru saja pulang angon, merumput untuk kambing-kambing yang dia dapatkan dari mengalahkan inginnya. Dia lebih memilih kambing-kambing itu dibanding handphone yang sudah lama dia idamkan.

“Tak apalah Kak, nanti saja aku beli handphone. Kambing-kambing ini mau kukurbankan Idul Adha nanti. Dulu Bapak tak sempat berkurban karena jatuh sakit. Aku ingin melanjutkan keinginan Bapak, Kak. Aku ingin berbagi dengan yang lain. Berbagi dengan hasil kerja kerasku sendiri.” Mendengarnya membuatku menggumpalkan haru pada dinding-dinding rasaku. Air mataku tak terasa luruh, menganak kali di sudut pipi. Aku, bahkan tak pernah memikirkan itu.

Sudah lama sekali aku dan rumusan cinta yang terdiri Bapak, Ibu dan adikku tak lagi menikmati pesona malam di balkon rumah. Tak lagi menikmati semilir angin dan gugusan bintang yang menyenangkan. Sejak kepergian Bapak semuanya benar-benar berubah. Harus bergumul dengan peluh dan sulitnya hidup. Suatu malam kusempatkan menikmati ritual itu lagi, menikmati gugusan bintang yang menyenangkan. Tanpa Bapak, tanpa Ibu. Hanya aku dan adikku, Abdullah.

“Selesai SMK nanti, kamu mau lanjut dimana?” tanyaku memecah hening.

“Tak usahlah Kak. Biar aku membantu Ibu. Kasihan Ibu, harus banting tulang seorang diri. Kakak saja yang kuliah.” Jawabnya dengan vokal yang tak biasa. Vokal yang sudah menjadi ciri khasnya sejak lahir.

“Tapi kamu harus kuliah La, bagaimanapun caranya.” Tegasku.

“Aku langsung kerja saja Kak sambil ikut kursus mesin di desa tetangga. Kakak jangan khawatir. Kakak sendiri yang bilang, kesuksesan itu milik semua orang. Tidak kuliah bukan berarti aku tidak akan sukses kan?”

“Tapi La…”

“Jangan khawatir Kak. Lagipula Kakak kan tahu aku lemah di akademik. Jadi sebaiknya aku ikut kursus saja. Aku tidak akan memakai toga, makanya aku ingin melihat Kakak memakainya.” Aku terdiam. Ada kenyataan yang menohok jantungku. Betapa besar hati dan keikhlasan adikku, dan aku? Belum bisa melakukan apa-apa. Buliran hangat menggenangi mataku. Gugusan bintang masih memamerkan pesonanya.

**

Tiga jam berlalu. Harusnya operasi sudah selesai. Berjuta kali kupanjatkan doa. Semoga semuanya baik-baik saja. Hatiku mulai resah, memburu tanya. Mengapa belum ada satu pun dokter keluar dari ruang operasi? Ya Rabb…aku menghela napas panjang. Tak berapa lama, terdengar suara sepatu. Perlahan berjalan mendekat ke arahku. Tidak salah lagi, salah satu dokter yang menangani operasi adikku. Baru saja dokter itu akan menjelaskan hasil operasi, tiba-tiba Ibu memanggil.

“Va…bangun Va. Ini sudah jam berapa? Nanti kamu telat sholat ied-nya.” Suara Ibu terdengar jelas dan…dan…dokter itu perlahan memburam lalu menghilang. Ya Rabb…ternyata aku  mimpi. Operasi itu hanya mimpi. Sedih seketika menggelayutiku. Tangisku buncah di sela-sela doa shalat ied.

Senja ini pemotongan hewan kurban dilaksanakan. Sedikit terlambat. Diantara orang-orang itu, juga ada adikku. Wajahnya berseri. Sangat bahagia walau dalam beda. Satu jingga muncul membentuk gugusan yang menyenangkan. Kemudian dua jingga, tiga jingga, dan akhirnya ada seribu jingga di gugusan senja. Indah. Seindah mimpi itu. Mimpi yang akan selalu ada pada deretan doaku. Mimpi yang akan nyata. Entah kapan.

4 thoughts on “Seribu Jingga Adha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s