mawar terakhir


“Aku tak pernah tahu siapa yang mengirimnya.”

 

“Apa?”

 

“Mawar-mawar itu.”

 

“Kamu suka?”

 

“Siapa?”

 

“Mawar itu.”

 

Ray hanya tersenyum. Tak ada kata. Hanya menyisakan tanya dalam hatiku. Tuhan…apa Ray suka dengan mawar-mawar itu? Apakah dia menyukai pengirim mawar itu? Aku menyayanginya, Tuhan.

**

Entah sejak kapan langit-langit kertas malamku dipenuhi lukisan wajahnya. Wajah dengan hidung yang tak mancung, kulit yang tak putih, bibir yang juga tak merah. Wajah yang sangat biasa. Tapi entahlah, mengapa mampu melenyap pekat dalam tidurku.

 

“Silakan duduk. Biar aku yang berdiri.” Laki-laki itu beranjak dan memberikan kursinya padaku.

 

“Terimakasih.” Ucapku singkat dengan wajah tertunduk.

 

Dalam bis kota yang sesak penumpang dan angkuh dengan individualisme, masih ada sosok yang peduli dengan yang lain. Ah wajah teduh itu, siapa namanya. Aku meringkuk dalam malu. Tak berani walau hanya sekedar mengungkap tanya.

 

“Ray.” Ucapnya kemudian sambil mengulurkan tangan.

 

“Ros…Rosalina.” Ucapku terbata.

 

Pertemuan singkat senja itu membuatku menggumamkan beribu kagum. Laki-laki berwajah teduh itu, namanya Ray.

**

Tak pernah ada yang salah dengan rencana Tuhan. Siang itu saat debu-debu jalan mengepul memenuhi trotoar kampus, aku kembali bertemu dengannya. Ray, laki-laki berwajah teduh. Pertemuan kedua yang kembali menyisakan rasa aneh dalam hatiku. Entah apa.

Aku masih mematung di hadapannya. Kelu. Tak ada kata yang dapat kuucap. Aku bingung merangkai tanya. Laki-laki itu kembali nyata setelah berhari-hari hanya menyiksa mimpiku. Yang hanya menjadi ilusi dalam gigilku.

 

“Hai aku juga kuliah di sini. Fakultas kedokteran.” Kalimat itu membuyarkan diamku.

 

“Di sini? Sejak kapan?” Ray kuliah di sini? fakultas kedokteran? Tapi  mengapa dia begitu asing. Bukankah fakultasnya hanya sepelemparan batu dari fakultasku?

 

“Mulai hari ini. Aku ikut pertukaran pelajar. Sebenarnya aku mahasiswa dari Jawa. Oh ya, semoga kamu mau bersahabat denganku.” Selorohnya ramah. Aku hanya tersenyum.

 

Sejak siang itu, aku benar-benar dekat dengan Ray. Mulai dengan bertukar nomor telepon, saling tanya tentang ini itu dan berbagi dalam berbagai momen. Ray, aku, benar-benar sempurna menjadi sepasang sahabat. Dan rasa aneh itu, makin sering saja mengusik. Makin tak jelas. Kekaguman yang hanya beberapa detik dalam bis tempo hari makin betah berlama-lama menghias hatiku.

 

“Kamu lagi dimana Ros?”

 

“Di kampus. Kenapa Ray?”

 

“Tunggu aku di depan fakultasmu. Jangan kemana-mana.” Aku tak mengerti mengapa suara Ray terdengar begitu panik. Tak ada penjelasan. Dan aku, hanya diam menunggu seperti perintahnya.

 

“Ada apa Ray?” Tanyaku sesaat dia tiba. Wajahnya kuyu.

 

“Ada tawuran di depan kampus. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.”

 

Pernyataan itu benar-benar meluluhkan hatiku. Membuatku serasa diguyur air dingin di tengah terik. Ray, laki-laki yang begitu perhatian dan menghormatiku. Yang membuatku menyimpan rasa dalam akrabku. Yang terus membuatku menyusun ide-ide gila agar dia menyukaiku. Tapi semuanya hanya dalam diam. Aku tak ingin kehilangan dia sebagai sahabat.

 

“Kamu sudah tahu siapa orangnya?”

 

“Maksudnya?”

 

“Perempuan pengirim mawar.”

 

“Tidak. Memang pengirimnya perempuan?”

 

Ray, selalu saja begitu. Tak pernah menanggapi tanyaku dengan serius. Padahal aku ingin tahu. Ingin tahu apa yang dia rasakan sebenarnya. Perempuan mawar itu, yang hampir setiap hari mengirim setangkai mawar untuk Ray, apa Ray menyukainya? Pertanyaan itu setia menemani ujung-ujung malamku. Apa Ray menyukaiku? Atau aku hanya sahabat baginya? Tak lebihkah? Semuanya berkecamuk dalam gigil sepi.

 

“Ros…kamu tahu apa arti cinta?”

 

“Hmm…rasa yang tak cukup terdefinisi dalam kata.”

 

“Bagiku, cinta adalah sayang yang akan selalu sama meski ada jeda.”

 

Aku terdiam. Lekat kupandangi wajah teduh di hadapanku. Angin menggelitikku merangkai beberapa tanya. Apa maksud Ray, cinta yang berjeda? Apa dia telah memiliki cinta di seberang sana? Cinta yang kini harus berpisah sementara. Danau di depanku tak lagi indah. Pernyataan Ray barusan benar-benar membekukan asaku. Aku, hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Perempuan mawar itu, bagaimana nasibnya? Ah aku kembali terpikir tentangnya.

Pertemuan di tepi danau senja itu mengukir lukisan luka dalam dinding rasaku. Berbait syair pilu kutulis pada berlembar-lembar kertas. Aku patah hati, tak dapat kupungkiri itu. Seminggu lagi dan Ray akan benar-benar pergi. Kembali ke kampungnya, menemu cintanya yang berjeda. Seminggu, waktu yang kuputuskan untuk tak sekalipun menemuinya. Wajah teduh itu, aku tak sanggup melihatnya.

**

“Ros…kamu dimana?” Aku diam.

 

“Ros, apa kamu marah padaku? Apa aku punya salah?” Aku masih saja diam. Buliran hangat luruh dari mataku.

 

“Setengah jam lagi aku berangkat. Aku sangat mengharapkan kedatanganmu. A…Aku…” tut..tut…handphone kumatikan.

 

Tanpa pikir panjang aku bergegas menyusul Ray di bandara. Bagaimanapun, Ray adalah sahabatku. Laki-laki berwajah teduh yang sangat kucintai. Sekalipun Ray tak mencintaiku, aku tak seharusnya egois. Aku akan menemuinya.

 

“Ray!” teriakku pada sosok di sudut ruang tunggu. Dia menoleh. Memandang lekat sosokku yang mendekat.

 

“Ros…akhirnya kamu datang. Aku menunggumu dari tadi.”

 

“Ray maafkan aku!” mataku sayu menatapnya.

 

“Untuk?”

 

“Ray…aku…aku…”

 

“Aku sayang kamu Ros.” Aku tercekat. Kalimat itu benar-benar membuat gigil tubuhku. Aku tak mengerti. Sungguh, aku bingung dengan kalimat Ray barusan.

 

“Maksudnya?” Ucapku terbata.

 

“Kamu adalah mawar terakhir untukku. Cintaku yang akan berjeda.”

 

Kalimat itu menggetarkan tubuhku. Sedikit tak percaya. Ada haru dan bahagia yang bercampur jadi satu. Tak lagi mampu terdefinisi. Aku lebih dari terkesima.

 

“Jadi kamu sudah tahu siapa perempuan mawar itu?”

 

“Tidak. Aku belum tahu siapa dia.”

 

“Perempuan itu tak kan lagi mengirim mawar. Ini mawar terakhir darinya untukmu.” Kataku pelan dengan setangkai mawar. Rasa dalam diam itu akhirnya buncah. Akhirnya menemu muaranya.

Ray…akulah perempuan mawar itu. Akulah pengagum rahasiamu. Aku, yang selalu memeluk mayamu dalam gigilku. Dan aku, yang akan selalu setia menanti hadirmu kembali, walau dalam jeda yang panjang. Kupandangi lekat-lekat wajahnya. Wajahnya masih teduh, matanya menyiratkan haru. Ada cinta yang menari lepas ingin memelukku. Ray, hanya satu kalimat untukku.

 

“Ros…tunggu aku dalam purnama berikutnya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s