Batas Cinta


            Larik-larik hujan masih menderas. Sesekali kilatan petir menyerabut merah di kaki langit. Gigil dan resah membungkus tubuhku yang hampir kehilangan keseimbangan di atas sepeda motor.

            “Rin kamu baik-baik saja kan?” napasku tersengal.

            “Aku sudah tidak tahan Ray, aku ingin mati saja.” Suara Rini melemah.

            “Astaghfirullah…nyebut Rin…nyebut. Sebentar lagi aku sampai.” Tubuhku makin gigil. Makin kalut. Kuusap hujan bercampur air mata yang membasahi wajahku.

            “Jangan datang Ray. Percuma. Aku sudah tidak tahan. Aku…aku…” Rini terisak.

            “Rini…Rin…halo…Rin?”

             Tut tut tut, tak ada jawaban dari seberang. Aku semakin takut. Buliran air mata juga makin menderas, menganak kali di sudut pipiku yang mulai beku karena gigil. Tuhan, lindungi Rini. Lindungi kekasihku (?). Lirihku perih.

**

            Namanya Rini. Gadis sederhana yang kukenal dua tahun lalu dalam sebuah pameran bunga. Mukanya oval dengan senyum yang sangat menawan. Kulitnya kuning langsat, matanya bening penuh keceriaan. Tuturnya lembut dengan tingkah manja kekanakan. Rini, sosok yang mampu menawan hatiku.

            “Kamu juga suka mawar?” tanya Rini tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan. Bibirku kelu. Aku bingung harus mengucap apa. Sejujurnya, aku tak suka bunga, apalagi mawar. Tapi sosok itu mampu menghipnotisku. Tiba-tiba saja aku berubah, menjadi sosok yang juga mencintai bunga.

            “Ambillah ini. Anggap saja tanda pertemuan dan pertemanan kita,” dengan ramah Rini memberiku setangkai mawar merah.

            Pertemuan itu adalah awal dari deretan kisah selanjutnya. Antara aku, Rini dan Agung, tunangan Rini. Persahabatan kami berjalan semestinya. Dan rasa yang tak harusnya ada dalam hatiku juga makin subur tak karuan. Sudah seribu satu cara kucoba untuk mengusir rasa itu jauh-jauh. Tapi nihil. Rasa itu terus saja bercokol penuh kemenangan.

            “Rin…”

            “mmm…”

            “aku ingin bertanya sesuatu.”

            “Tanyakan saja Ray. Pasti akan kujawab. Apa sih yang nggak untuk sahabat terbaikku.” Rini mengerling dan menjawil pipiku.

            “Rin…apa kamu benar-benar mencintai Agung?” tanyaku hati-hati. Rini tergelak.

            “Ya iyalah Ray. Kami kan sudah tunangan. Sebentar lagi kami akan menikah. Kamu setuju kan Ray dengan hubungan kami?” Rini menatapku. Bola mata itu jelas meminta sebuah dukungan. Aku tersudut. Ada semacam sengatan listrik di seluruh tubuhku. Ngilu. Hatiku telah kuyup dari tadi. Basah menahan rasa. Cintaku adalah cinta yang tak mungkin.

            “Ray…kamu setuju kan?” Rini mengulang pertanyaannya. Suaranya terdengar hati-hati.

             “Oh jelas dong Rin. Aku sangat menyetujui hubungan kalian. Agung laki-laki baik, dia pantas mendapatkan wanita baik sepertimu.” Suaraku parau. Seakan ada yang mencekat tenggorokanku. Dan yah, kupaksa senyum singgah sebentar di wajahku. Tuhan…Rini tak boleh tahu apa yang kurasakan sebenarnya. Desahku panjang.

             Kesiuh angin makin mendesakku menyanyikan deretan kata cinta sekaligus lara. Senja yang luka. Jingga sudah tergelincir. Sudah di ujung, siap menjemput malam. Aku dan Rini hanya berdua. Menghibur hati dengan debur ombak yang tiada letih mengantarkan buihnya. Gemerisik nyiur mulai membelai dan merayu, menawarkan pesona. Kami tak bergeming.

            Wajah Rini melukiskan kesedihan yang sangat dalam. Matanya kuyu. Sisa-sisa buliran hangat masih tergenang di sana. Aku masih diam. Tak tahu harus berkata apa. Siang tadi jenazah Agung telah dimakamkan. Kecelakaan hebat kemarin sore. Lelaki itu telah pergi, dan cinta Rini terus meronta terluka.

Aku tetap diam. Memekuri jemariku satu per satu. Membacanya. Berusaha mengusir cinta yang tak kunjung jengah. Meraba luka yang mungkin sama. Luka kehilangan. Rini merebahkan tubuhnya di pundakku. Air matanya tak kunjung reda. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes dan akhirnya kembali menderas.

            “Kenapa Tuhan mengambil kebahagiaanku, Ray?”

            “sabar Rin. Tuhan sedang merencanakan kebahagiaan yang lebih indah untukmu” kuusap wajah sedih dan meletih di pundakku.

            “Sejak kepergian Ibu, cuma mas Agung yang kumiliki di dunia ini. Dan sekarang…” Rini terisak. Suaranya patah patah “dia juga pergi, Ray.”

            “Masih ada aku Rin. Ada Bapak, juga keluargaku yang akan selalu menyayangimu.”

             “Aku tidak pernah punya Bapak, Ray.” Potong Rini ketus. Pandangannya lurus. Sedih dan benci bercampur aduk dalam otaknya.

            “Tapi kamu masih punya aku kan?” lekat kupandangi bola mata itu. Sendu. Kembali kuusap wajahnya. Masih ada rangkaian rasa yang memilin luka.

             Mulutku serasa memahit. Hening. Jantungku berdegup tak menentu. Ada serentetan kenyataan yang kembali hidup menari-nari. Rini memang tak pernah lagi merasakan hadirnya seorang Bapak. Sejak kepergian Ibunya, laki-laki yang amat dicintainya itu benar-benar mengubah perangainya. Mengutuk takdir Tuhan. Menyalahkan hidup. Dan tak lagi segan berlaku kasar pada Rini.

           Beberapa senja berlalu. Jingga rasanya tak lagi indah. Luka itu makin dalam di hati Rini. Kenyataan yang juga kian memahit.

          “Aku sudah tidak tahan, Ray.”

          “Ada apa Rin? Bapak marah lagi? Dia memukulmu lagi?”

          “Iya…” suara Rini melemah “aku ingin mati, Ray.”

          “Rin…halo Rin.” Telepon terputus. Aku mulai gigil menahan takut. Tak perlu menunggu lama, aku langsung menyambar jaket dan bergegas menemui Rini.

**

           Tubuh kecil itu tergeletak tak berdaya. Wajahnya memucat. Darah mengalir dari nadi yang berusaha diirisnya. Perih. Pandangan yang memedihkan mata. Darahku berdesir kuat. Napasku naik turun tak beraturan. Ada jutaan doa yang kupanjatkan tanpa henti. Ambulans yang kupanggil beberapa waktu lalu melaju menembus derasnya hujan.

           Beberapa malam berlalu. Rini terselamatkan. Keadaannya mulai membaik. Untaian doa-doa itu telah berubah menjadi kebahagiaan yang tak terungkapkan. Aku, masih bergelut dengan rasa terlarangku. Tak ada lagi Agung, tapi Rini adalah sahabatku, tak akan pernah menjadi lebih. Dan aku, sekarat dalam cintaku yang salah.

          “Terimakasih Ray. Kau benar, aku masih punya kamu. Tak seharusnya aku melakukan itu. Aku harus bertahan.” Rini mendekapku erat. Ada aliran yang menyengat tubuhku. Tak dapat kujelaskan.

          Tuhan, jika aku boleh meminta, izinkan aku mencintai Rini. Izinkan aku menjadi layaknya Agung. Tuhan, jika waktu dapat diulang. Maka aku ingin terlahir sebagai lelaki. Agar tak ada batas dalam cintaku.

          “Raya kau adalah sahabat terbaikku.” Bisik Rini lembut. Aku diam menahan rasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s