Beranda » Materi Kuliah » PENGEMBANGAN KURIKULUMTEORI DAN PRAKTEK

PENGEMBANGAN KURIKULUMTEORI DAN PRAKTEK


Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnyamenentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulummenyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas,sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Semua orang berkepentingan dengankurikulum, sebab kita sebagai orang tua, sebagai warga masyarakat, sebagai pemimpin formal ataupun informal selalu mengharapkan tumbuh dan berkembangnya anak, pemuda, dan generasi muda yang lebih baik, lebih cerdas,lebih berkemampuan. Kurikulum mempunyai andil yang cukup besar dalammelahirkan harapan tersebut.Buku ini disusun dengan tujuan membantu para guru, dosen, instruktur,widyaiswara, para pengembang, pengelola, penentu kebijaksanaan, dan siapa sajayang terlibat dan berminat dalam pengembangan kurikulum; untuk menambahwawasan tentang apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum.Meskipun dalam buku ini diusahakan menyajikan materi yang bervariasi dengancara penyajian yang moderat, tetapi mungkin saja sajian ini belum bisa memenuhikebutuhan semua pihak. Untuk itu penulis meminta maaf dan menantikan saran-saran bagi penyempurnaannya.Isi buku ini merupakan penyempurnaan dari buku sebelumnya yang berjudul Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum, yang ditulis dengan bantuan Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga KependidikanDepdikbud, untuk kepentingan Program Pascasarjana. Penulis inginmenyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada PimpinanP2LPTK, serta para pimpinan teras Depdikbud, yang telah mendorong penulisanserta memberi izin menerbitkan kembali buku ini oleh lembaga di luar P2LPTK.

Bandung, 1997

Nana Syaodih Sukmadinata

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

BAB 1 Konsep Kurikulum
A.Kedudukan kurikulum dalam pendidikan
B.Konsep kurikulum
C.Kurikulum dan teori-teori pendidikan
BAB 2 Teori Kurikulum
A.Apakah teori itu?
B.Teori pendidikan
C.Teori kurikulum
BAB 3 Landasan Filosofis dan Psikologis PengembanganKurikulum
A.Landasan filosofis
B.Landasan psikologis
BAB 4 Landasan Sosial-Budaya, Perkembangan Ilmu danTeknologi dalam Pengembangan Kurikulum
A.Pendidikan dan masyarakat
B.Perkembangan masyarakat
C.Perkembangan ilmu pengetahuan
D.Perkembangan teknologi
E.Pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi
BAB 5 Macam-Macam Model Konsep Kurikulum
A.Kurikulum subjek akademis
B.Kurikulum humanistik
C.Kurikulum rekonstruksi sosial
D.Teknologi dan kurikulum
BAB 6 Anatomi dan Desain Kurikulum
A.Komponen-komponen kurikulum
B.Desain kurikulum
BAB 7 Proses Pengajaran
A.Keseimbangan antara isi dan proses
B.Isi dan kurikulum
C.Proses belajar
D.Kesiapan belajar
E.Minat dan motif belajar
BAB 8 Pengembangan Kurikulum
A.Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
B.Pengembangan kurikulum
C.Faktor-faktor yang mempengaruhi
D.Artikulasi dan hambatan
E.Model-model pengembangan kurikulum
BAB 9 Evaluasi Kurikulum
A.Evaluasi dan kurikulum
B.Konsep kurikulum
C.Implementasi dan evaluasi kurikulum
D.Peranan evaluasi kurikulum
E.Ujian sebagai evaluasi sosial
F.Model-model evaluasi kurikulum
BAB 10 Guru dan Pengembangan Kurikulum
A.Guru sebagai pendidik profesional
B.Guru sebagai pembimbing belajar
C.Peranan guru dalam pengembangan kurikulum
D.Pendidikan guru

Daftar Rujukan

BAB 1
KONSEP KURIKULUM

A. Kedudukan Kurikulum dalam Pendidikan
Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan.Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah,ataupun rnasyarakat. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadiantara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis,Orang tua sering tidak mempunyai rencana yang jelas dan rinci ke mana anaknya akan diarahkan, dengan cara apa mereka akandididik, dan apa isi pendidikannya. Orang tua umumnya mempunyai harapantertentu pada anaknya, mudah-mudahan is menjadi orang soleh, sehat, pandai, dansebagainya, tetapi bagaimana rincian sifat-sifat tersebut bagi mereka tidak jelas.Juga mereka tidak tahu apa yang harus diberikan dan bagaimana memberikannyaagar anak-anaknya memiliki sifat-sifat tersebut.

Interaksi pendidikan antara orang tua dengan anaknya juga sexing tidak disadari. Dalam kehidupan keluarga interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat,setiap kali orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerja sama dengan anak-anaknya. Pada saat demikian banyak perilaku dan perlakuan spontan yangdiberikan kepada anak, sehingga kemungkinan terjadi kesalahan-kesalahanmendidik besar sekali. Orang tua menjadi pendidik juga tanpa dipersiapkan secaraformal. Mereka menjadi pendidik karena statusnya sebagai ayah atau ibu,meskipun mungkin saja sebenarnya mereka belum siap untuk melaksanakan tugastersebut. Karena sifat-sifatnya yang tidak formal, tidak memiliki rancangan yangkonkret dan ada kalanya juga tidak disadari, maka pendidikan dalam lingkungankeluarga disebut pendidikan informal. Pendidikan tersebut tidak memilikikurikulum formal dan tertulis.

Pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih‡bersifat formal. Guru sebagai pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikanguru. la telah mempelajari ilmu, keterampilan, dan seni sebagai guru. Ia juga telah dibina untuk memiliki kepribadian sebagai

pendidik. Lebih dari itu mereka jugatelah diangkat dan diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk menjadi guru, bukansekadar dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang, tetapi juga dengan pengakuan dan penghargaan dari masyarakat. Guru melaksanakan tugasnyasebagai pendidik dengan rencana dan persiapan yang matang. Mereka mengajar dengan tujuan yang jelas, bahan-bahan yang telah disusun secara sistematis danrinci, dengan cara dan alat-alat yang telah dipilih dan dirancang secara cermat. Disekolah guru melakukan interaksi pendidikan secara berencana dan sadar. Dalamlingkungan sekolah telah ada kurikulum formal, yang bersifat tertulis. Guru-gurumelaksanakan tugas mendidik secara formal, karena itu pendidikan yang berlangsung di sekolah sering disebut pendidikan formal.

Dalam lingkungan masyarakat pun terjadi berbagai bentuk interaksi pendidikan, dari yang sangat formal yang mirip dengan pendidikan di sekolahdalam bentuk kursus-kursus, sampai dengan yang kurang formal seperti ceramah,sarasehan, dan pergaulan kerja. Gurunya juga bervariasi dari yang memiliki latar belakang pendidikan khusus sebagai guru, sampai dengan yang melaksanakantugas sebagai pendidik karena pengalaman. Kurikulumnya juga bervariasi, dariyang memiliki kurikulum formal dan tertulis sampai dengan rencana pelajaranyang hanya ada pada pikiran penceramah atau moderator sarasehan, atau gagasanketeladanan yang ada pada pemimpin. Interaksi pendidikan yang berlangsung dimasyarakat, yang memiliki rancangan dan dilaksanakan secara formal sebenarnyadapat dimasukkan dalam kategori pendidikan formal. Interaksi yang rancangandan pelaksanaannya kurang formal dapat kita sebut sebagai pendidikan kurangformal (less formal). Karena adanya variasi itu, Para ahli pendidikan masyarakatlebih senang menggunakan istilah pendidikan luar sekolah bagi interaksi pendidikan yang berlangsung di masyarakat ini.

Dari hal-hal yang diuraikan itu, dapat ditarik beberapa kesimpulan berkenaan dengan pendidikan formal. Pertama, pendidikan formal memilikirancangan pendidikan atau kurikulum tertulis yang tersusun secara sistematis, jelas, dan rinci. Kedua, dilaksanakan secara formal, terencana, ada yangmengawasi dan menilai. Ketiga, diberikan oleh pendidik atau guru yang memilikiilmu dan keterampilan khusus dalam bidang pendidikan. Keempat, interaksi pendidikan berlangsung dalam lingkungan tertentu, dengan fasilitas dan alat sertaaturan-aturan permainan tertentu pula.

Pendidikan formal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pendidikan informal dalam lingkungan keluarga. Pertaina, pendidikan for- mal disekolah memiliki lingkup isi pendidikan yang lebih luas, bukan hanya berkenaandengan pembinaan segi-segi moral tetapi juga ilmu pengetahuan danketerampilan. Kedua, pendidikan di sekolah dapat memberikan pengetahuan yanglebih tinggi, lebih luas dan mendalam
.
Sejarah pendirian sekolah diawali karena ketidakmampuan keluargamemberikan pengetahuan dan keterampilan yang lebih tinggi dan mendalam.Ketiga, karena memiliki rancangan atau kurikulum secara formal dan tertulis, pendidikan di sekolah dilaksanakan secara berencana, sistematis, dan lebihdisadari. Karena yang memiliki rancangan atau kurikulum formal dan tertulisadalah pendidikan di sekolah, maka dalam uraian-uraian selanjutnya yangdimaksud dengan pendidikan atau pengajaran itu, lebih banyak mengacu pada pendidikan atau pengajaran di sekolah.

Telah diuraikan sebelumnya, bahwa adanya rancangan atau kurikulumformal dan tertulis merupakan ciri utama pendidikan di sekolah. Dengan kata lain,kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan di sekolah. Kalau kurikulummerupakan syarat mutlak, hal itu berarti bahwa kurikulum merupakan bagian yangtak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Dapat kita bayangkan, bagaimana bentuk pelaksanaan suatu pendidikan atau pengajaran di sekolah yangtidak memiliki kurikulum.

Setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuantertentu, apakah berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, pengembangan pribadi, kemampuan sosial, ataupun kemampuan bekerja. Untuk menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuankemampuan tersebutdiperlukan metode penyampaian serta alat-alat bantu tertentu. Untuk menilai hasildan proses pendidikan, juga diperlukap caracara dan alat-alat penilaian tertentu pula. Keempat hal tersebut, yaitu tujuan, bahan ajar, metode-alat, dan penilaianmerupakan komponenkomponen utama kurikulum. Dengau berpedoman padakurikulum, interaksi pendidikan antara guru dan siswa berlangsung. Interaksi ini

iidak berlangsung dalam ruang hampa, tetapi selalu terjadi dalam lingkungantertentu, yang mencakup antara lain lingkungan fisik, alam, sosial budaya,ekonomi, politik, dan religi. Pertautan antara satu komponen dan komlumen pendidikan lainnya dapat dilihat pada bagan berikut.

BAGAN 1.1 Komponen-komponen utama pendidikan

– – – – – – Lingkungan – – – – – – – –

– – – – – – – – – – – – – – -Kurikulm – – – – – – – – – – – – –
Isi Tujuan Pendidikan
Proses
Evaluasi
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

– – – – Alam, Sosial Budaya, Politik, Ekonomi, Religi- – – –

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demitercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johnson (1967, hlm. 130)kurikulum “prescribes (or at least anticipates) the result of in- struction”.Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan. Disamping kedua fungsi itu, kurikulum juga merupakan suatu bidang studi, yangditekuni oleh para ahli atau spesialis kurikulum, yang menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoretis bagi pengembangankurikulum berbagai institusi pendidikan.

B. Konsep Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikanyang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapanini telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “… aracecourse of subject matters to be mastered” (Robert S. Zais, 1976, hlm. 7)
Banyak orang tua bahkan juga guru-guru, kalau ditanya tentang kurikulum akanmemberikan jawaban sekitar bidang studi atau mata-mata pelajaran. Lebih khususmungkin kurikulum diartikan hanya sebagai isi pelajaran.

Pendapat-pendapat yang muncul selanjutnya telah beralih darimenekankan pada isi menjadi lebih memberikan tekanan pada pengalaman belajar. Menurut Caswel dan Campbell dalam buku mereka yang terkenalCurriculum Development (1935), kurikulum … to be composed of all the experi-ences children have under the guidance of teachers. Perubahan penekanan pada pengalaman ini lebih jelas ditegaskan oleh Ronald C. Doll (1974, hlm. 22):

The commonly accepted definition of the curriculum has changed fromcontent of courses of study and list of subjects and courses to all theexperiences which are offered to learners under the auspices or directionof the school..
Definisi Doll tidak hanya menunjukkan adanya perubahan penekanan dariisi kepada proses, tetapi juga menunjukkan adanya perubahan lingkup, darikonsep yang sangat sempit kepada yang lebih luas. Apa yang di maksud dengan pengalaman siswa yang diarahkan atau menjadi tanggung jawab sekolahmengandung makna yang cukup luas. Pengalaman tersebut berlangsung disekolah, di rumah ataupun di masyarakat, bersama guru tanpa guru, berkenaanlangsung dengan pelajaran ataupun tidak. Definisi tersebut juga mencakup berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya pengalaman tersebut serta berbagai fasilitas yang mendukungnya.Mauritz Johnson (1967, hlm. 130) mengajukan keberatan terhadap konsepkurikulum yang sangat luas seperti yang dikemukakan oleh Ronald Doll. MenurutJohnson, pengalaman hanya akan muncul apabila terjadi interaksi antara siswadengan lingkungannya. Interaksi seperti itu bukan kurikulum, tetapi pengajaran.Kurikulum hanya menggambarkan atau mengantisipasi hasil dari pengajaran.Johnson membedakan dengan tegas antara kurikulum dengan pengajaran. Semuayang berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan, seperti perencanaan isi,kegiatan belajarmengajar, evaluasi, termasuk pengajaran, sedangkan kurikulumhanya berkenaan dengan hasil-hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa.
Menurut Johnson kurikulum adalah:
… a structured series of intended learning outcomes (Johnson, 1967, him. 130).
Terlepas dari pro dan kontra terhadap pendapat Mauritz Johnson, beberapaahli memanciang kurikulum sebagai rencana pendidikan atau pengajaran. Salahseorang di antara mereka adalah Mac Donald (1965, hlm.

Menurut dia, sistem persekolahan terbentuk atas empat subsistem, yaitumengajar, belajar, pembelajaran, dan kurikulum. Mengajar (teaching) merupakankegiatan atau perlakuan profesional yang diberikan oleh guru. belajar (learning)merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan siswa. Sebagai respons terhadapkegiatan mengajar yang diberikan oleh guru. Keluruhan pertautan kegiatan yangmemungkinkan dan berkenaan (lengan terjadinya interaksi belajar-mengajar disebut pembelajaran (instruction). Kurikulum,(curriculum) merupakan suaturencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar-mengajar.

Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana(curriculum plan) dengan kurikulum yang fungional (functioning curricu- lum).Menurut Beauchamp (1968, him. 6) “A curriculum is a written document whichmay contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupilsduring their enrollment in given school”. Beauchamp lebih memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran. Pelaksanaanrencana itu sudah masuk pengajaran. Selanjutnya, Zais menjelaskan bahwakebaikan suatu kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen tertulisnya saja,melainkan harus dinilai dalam proses pelaksanaan fungsinya di dalam kelas.Kurikulum bukan hanya merupakan rencana tertulis bagi pengajaran, melainkansesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang memberi pedoman danmengatur lingkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Rencanatertulis merupakan dokumen kurikulum (curriculum document or inertcurriculum), sedangkan kurikulum yang dioperasikan di kelas merupakankurikulum fungsional (functioning, live or operative curriculum).

Hilda Taba (1962) mempunyai pendapat yang berbeda dengan pendapat- pendapat itu. Perbedaan antara kurikulum dan pengajaran menurut dia bukanterletak pada implementasinya, tetapi pada keluasan cakupannya. Kurikulum
berkenaan dengan cakupan tujuan isi dan metode yang lebih luas atau lebihumum, sedangkan yang lebih sempit lebih khusus menjadi tugas pengajaran.Menurut Taba keduanya membentuk satu kontinum, kurikulum terletak padaujung tujuan umum atau tujuan jangka panjang, sedangkan pengajaran pada ujunglainnya yaitu yang lebih khusus atau tujuan dekat.BAGAN 1.2 Kontinum kurikulum dan pengajaranMenurut Taba, batas antara keduanya sangat relatif, bergantung padatafsiran guru. Sebagai contoh, dalam kurikulum (tertulis), isi harus digambarkanserinci, sekhusus mungkin agar mudah dipahami guru, tetapi cukup luas danumum sehingga memungkinkan mencakup semua bahan yang dapat dipilih olehguru sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa serta kemampuan guru. Kurikulummemberikan pegangan bagi pelaksanaan pengajaran di kelas, tetapi merupakantugas dan tanggung jawab guru untuk menjabarkannya.Suatu kurikulum, apakah itu kurikulum pendidikan dasar, pendidikanmenengah atau pendidikan tinggi; kurikulum sekolah umum, kejuruan, dan lain-lain merupakan perwujudan atau penerapan teori-teori kurikulum. Teori-teoritersebut merupakan hasil pengkajian, penelitian, dan pengembangan para ahlikurikulum. Kumpulan teori-teori kurikulum membentuk suatu ilmu atau bidangstudi kurikulum. Menurut Robert S. Zais (1976, him. 3), kurikulum sebagai bidang studi mencakup: (1) the range of subject matters with which it is concerned(the substantive structure), and (2) the procedures of inquiry and practice that itfollows (the syntactical structure)”. Menurut George A. Beauchamp (1976, him.58-59) kurikulum sebagai bidang studi membentuk suatu teori, yaitu teorikurikulum. Beauchamp mendefinisikan teori kurikulum sebagai …a set of relatedstatements that gives meaning to a schools’s curriculum by pointing up therelationships among its elements and by directing its development, its use, and itsevaluation. Bidang cakupan teori atau bidang studi kurikulum meliputi: konsepkurikulum, penentuan kurikulum, pengembangan kurikulum, desain kurikulum,implementasi dan evaluasi kurikulum.Selain sebagai bidang studi menurut Beauchamp, kurikulum juga sebagairencana pengajaran dan sebagai suatu sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan. Sebagai suatu rencanapengajaran, kurikulum berisi tujuan yang ingin dicapai, bahan yang akan disajikan, kegiatan pengajaran,alat-alat pengajaran dan jadwal waktu pengajaran. Sebagai suatu sistem,kurikulum m.erupakan bagian atau subsistem dari keseluruhan kerangkaorganisasi sekolah atau sistem µ.ekolah. Kurikulum sebagai suatu sistemmenyangkut penentuan segala kebijakan tentang kurikulum, susunan personaliadan prosedur pengemhangan kurikulum, penerapan, evaluasi, dan penyempurnaannya. Fungsi utama sistem kurikulum adalah dalam pengembangan, penerapan, ovaluasi, dan penyempurnaannya, baik sebagai dokumen tertulismaupun aplikasinya dan menjaga agar kurikulum tetap dinamis.Mengenai fungsi sistem kurikulum ini, lebih lanjut Beauchamp (1975, 111m. 60)menggambarkan:
…(1) the choice of arena for curriculum decision making, (2) the selectionand involvement of person in curriculum planning, (3) organization for and leachniques used in curriculum plannning, (4) actual writing of acurriculum, (5) implementing the curriculum, (6) evaluation thecurriculum, and (7) providing for feedback and modification of thecurriculum.
Apa yang dikemukakan oleh Beauchamp bukan hanya menunjukkantnnlsi tetapi juga struktur dari suatu sistem kurikulum, yang secara garis berkenaan dengan pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.
C. Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan
Kurikulum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapateori kurikulum, dan suatu teori kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan tertentu. Kurikulum dapat dipandang sebagai rencana konkret
penerapan dari suatu teori pendidikan. Untuk lebih memahami hubungankurikulum dengan pendidikan, dikemukakan beberapa teori pendidikan danmodel-model konsep kurikulum dari masing-masing teori tersebut. Minimal adaempat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dandipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu pendidikan klasik, pendidikan pribadi, pendidikan interaksional, dan teknologi pendidikan.1.

Pendidikan klasik Pendidikan klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan berfungsi memelihara, mengawetkan, danmeneruskan semua warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Guruatau para pendidik tidak perlu susah-susah mencari dan menciptakan pengetahuan,konsep, dan nilai-nilai baru, sebab sentuanya telah tersedia, tinggal menguasai danmengajarkannya kepada anak. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan daripada proses atau bagaimana mengajarkannya. Isi pendidikan ataumateri ilmu tersebut diambil dari khazanah ilmu pengetahuan, berupa disiplin-disiplin ilmu yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli tempo dulu.Materi ilmu pengetahuan yang diambil dari disiplindisiplin ilmu tersebut telahtersusun secara logis dan sistematis.Tugas guru dan para pengembang kurikulum adalah memilih danmenyajikan materi ilmu tersebut disesuaikan dengan tingkat perkembangan dankemampuan peserta didik. Sebelum dapat menyampaikan materi ilmu pengetahuan tersebut secara sempurna, para pendidik atau talon pendidik terlebihdahulu harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Tugas para pendidik atauguru bukan hanya mengajarkan materi pengetahuan, tetapi juga melatihketerampilan dan menanamkan nilai. Mendidikkan nilainilai tidak sama denganmengajarkan pengetahuan yang berbentuk penyampaian informasi, tetapi perludimanifestasikan dalam perilaku seharihari. Menurut konsep pendidikan klasik,guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu dan juga contoh atau modelnyata dan pribadi yang ideal. Siswa merupakan penerima pengajaran yang baik, etapi sebagai penerima informasi sesungguhnya mereka pasif. Meskipundemikian dalam pendidikan klasik siswa bekerja keras menguasai apa-apa yangdiajarkan dan ditugaskan oleh guru. Pendidikan lebih menekankan perkembangansegi-segi intelektual daripada segi emosional dan psikomotor.Ada dua model konsep pendidikan klasik, perenialisme dan esensialisme.Walaupun didasari dengan konsep-konsep yang sama, keduanya memiliki pandangan yang berbeda. Parenialisme maupun esensialisme mempunyai pandangan yang sama tentang masyarakat, bahwa masyarakat bersifat statis.Pendidikan berfungsi memelihara dan mewariskan pengetahuan, konsep-konsepdan nilai-nilai yang telah ada. Pengetahuan dan nilai-nilai yang akan diajarkandiambil dari materi disiplin ilmu yang telah disusun dan dikembangkan oleh paraahli. Dalam penyusunan kurikulum, matamata pelajaran dipilih dan ditentukanoleh sekelompok orang ahli, disusun secara sistematis dan logis, dan diarahkan pada perkembangan kemampuan berpikir.Parenialisme berkembang di Eropa dalam masyarakat aristokralisagraris.Mereka lebih berorientasi ke masa lampau dan kurang hivmen tingkan tuntutan-tuntutan masyarakat yang berkembang saat sekarang pendidikan lebihmenekankan pada
humanitas, pembentukan pribadi, dan sifat-sifat mental.
Konsep-konsep filosofis lebih banyak mewarnai pendidikan ini. Isi pendidikanlebih banyak bersifat pendidikan umum (general education atau liberal art) denganmodel mengajar yang bersifat ekspositori, sedangkan model belajarnya adalahasimilasi. Pendidikan menurut pandangan mereka adalah bebas nilai(value free)dan bebas dari kebudayaan (culture free) artinya tidak terikat atau diwarnai olehnilai-nilai dan karakteristik masyarakat sekitar.

Esensialisme berkembang di Amerika Serikat dalam masyarakat industri.Pendidikan ini lebih mengutamakan sains daripada humanitas. Mereka lebih pragmatis, pendidikan diarahkan dalam mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dunia kerja. Konsep ini lebih berorientasi pada masa sekarang dan yangakan datang. Isi pengajaran lebih diarahkan kepada pembentukan keterampilandan pengembangan kemampuan vocational. Mengenai persamaan dan perbedaan pendidikan perenial dengan esensial, Dianna Lapp, dkk. menjelaskan:

Like perennial education, essentialism is conservative, seeking to maintainand pass on to the new generation the convictions of the older generation. But unlike perennialism, essentialism is nonreflective, nonphilosophical. It is far more prone to activity-to doing-than to wasting time on extensive philosophical speculation.
Looking to the present rather than the past, and to science rather than to the humanities, it is primarily practical and pragmatic. ( Lapp, Dianna, et. al., 1975, hlm. 32).
Para esensialis bersifat praktis, mengutamakan kerja dan kompetisi ditramping kerja sama. Mereka menghargai seni, keindahan, dan humanitassepanjang hal itu mendukung kehidupan sehari-hari, kehidupan produktif. Tujuan utama pendidikan, menurut para esensialis, adalah (1) memperoleh pekerjaan yang lebih baik, (2) dapat bekerja sama lebih baik dengan orang dari berbagaitingkatan/lapisan masyarakat, (3) memperoleh penghasilan lebih banyak. Mereka berpikiran praktis bahwa pendidikan adalah suatu hal untuk mencapai sukses dalam kehidupan, terutama sukses secara ekonomis.Kurikulum pendidikan klasik lebih menekankan isi pendidikan, yang diambil dari disiplin-disiplin ilmu, disusun oleh para ahli tanpa mengikutsertakanguru-guru, apalagi siswa. Isi disusun secara logis, sistematis, dan berstruktur,dengan berpusatkan pada segi intelektual, sedikit sekali memperhatikan segi-segisosial atau psikologis peserta didik. Guru mempunyai peranan yang sangat besar dan lebih dominan. Dalam pengajaran, ia menentukan isi, metode, dan evaluasi.Dialah yang aktif dan bertanggung jawab dalam segala aspek pengajaran. Siswa mempunyai peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari guru-guru.

Pendidikan pribadi Pendidikan pribadi (personalized education) lebih mengutamakan peranansiswa. Konsep pendidikan ini bertolak dari anggapan dasar bahwa, sejak dilahirkan, anak telah memiliki potensi-potensi, baik potensi untuk berpikir, berbuat, memecahkan masalah, maupun untuk belajar dan berkembang sendiri. Pendidikan adalah ibarat persemaian, berfungsi menciptakan lingkungan yangmenunjang dan terhindar dari hama-hama. Tugas guru, seperti halnya seorang petani adalah mengusahakan tanah yang gembur, pupuk, air, udara, dan sinar matahari yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan tanaman (peserta didik). Pendidikan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Peserta didik menjadi subjek pendidikan, dialah yang menduduki tempat utama dalam pendidikan. Pendidik menempati posisi kedua, bukan lagi sebagai penyampaiinformasi atau sebagai model dan ahli dalam disiplin ilmu. Ia lebih berfungsisebagai psikolog yang mengerti segala kebutuhan dan masalah peserta didik. la juga berperan sebagai bidan yang membantu siswa melahirkan ide-idenya. Guruadalah pembimbing, pendorong (motivator), fasilitator, dan pelayan bagi siswa.Teori ini juga memiliki dua aliran, yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Tokoh pendahulu pendidikan progresif adalah Francis Parker yang membawa aliran ini dari Eropa ke Amerika. Aliran ini menjadi lebihterkenal di Amerika berkat percobaan-percobaan yang dilakukan John Deweydengan sekolah-sekolah laboratoriumnya. John Dewey menerapkan prinsip belajar sambil berbuat (learning by doing). Dalam pendidikan progresif, siswa merupakansatu kesatuan yang utuh, perkembangan emosi dan sosial sama pentingnya dengan perkembangan intelektual. Isi pengajaran berasal dari pengalaman sisvva sendiriyang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalah-masalah yang muncul dalam kehidupanhya. Berkat refleksinya itu is memahamidan dapat menggunakannya bagi kehidupan. Guru lebih merupakan ahli dalammetodologi daripada dalam bahan ajar. Guru membantu perkembangan siswasesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing.Pendidikan romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran Jean JacquesRousseau. Menurut Rousseau, semua ciptaan Tuhan termasuk anak adalah baik dan menjadi kurang baik atau sering rusak di tangan manusia. Ia inginmengembalikan pendidikan kepada pendidikan alam, sebab secara alamiahmanusia baik, merdeka, dan gentle. Setiap orang mempunyai nurani yang berisikejujuran, kebenaran, dan ketulusan. Inilah yang hams ditemukan, didengarkan,dan diikuti. Rousseau menolak pendidikan yang mengutamakan intelektual.Pendidikan adalah proses individual yang berisi rentetan pengembangankemampuan-kemampuan anak, berkat interaksi dengan berbagai aspek dalamlingkungan maka terjadi rentetan pengembangan kemampuan-kemampuan anak Rousseau memandang pendidikan sebagai :
a life long personal growth processrather than an information and skill gathering process that exists only during the school years (Diane Lapp, et. al., 1975, hlm. 154).
Pengalaman merupakan isi sekaligus guru alamiah bagi anak. Anak tidak diajari, tetapi didorong untuk belajar. Guru menyediakan lingkungan belajar,memberikan kebebasan agar anak belajar dan berkembang sendiri, dan mewujudkan rasa ingin tahunya. Ia dibiarkan untuk mengalami sendiri,mewujudkan dorongan-dorongannya, dan tumbuh sesuai dengan polanya. Guru juga berperan sebagai sumber lingkungan belajar, yang selalu siap memberikan bantuan kepada siswa. Ia berusaha mencegah hal- hal yang mungkin mengganggu perkembangan siswa.Kurikulum pendidikan pribadi lebih menekankan pada proses pengembangan kemampuan siswa. Materi ajar dipilih sesuai dengan minat dankebutuhan siswa. Pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru- guru denganmelibatkan siswa. Tidak ada suatu kurikulum standar, yang ada adalah kurikulumminimal yang dalam implementasinya dikem- bangkan bersama siswa. Isi dan proses pembelajarannya selalu berubah sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.3.

TeknOlogi pendidikanTeknologi pendidikan mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Keduanya jugamempunyai perbedaan, sebab yang diutamakan dalam teknologi pendidikanadalah pembentukan dan penguasaan kompetensi bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. Mereka lebih berorientasi ke masa sekarang dan yangakan datang, tidak seperti pendidikan klasik yang lebih melihat ke masa lalu.Perkembangan teknologi pendidikari dipengaruhi clan sangat diwarnaioleh perkembangan ilmu dan teknologi. Hal itu memang sangat masuk akal, sebabteknologi pendidikan bertolak dari dan merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmudan teknologi dalam pendidikan. Teknologi telah masuk ke semua segi kehidupan,termasuk dalam pendidikan.
Our technologies to day are so powerful, so prevalent, so deliberately foster, and so prominent in the awareness of people, that they not only bring about changes in the physical world which tecnologies have alwaysdone but also in our insti- tutions, attitudes, and expectations, values, goals, and in our very conceptions of the meaning of existence (Holtzman,1970, hlm. 237).
Gambaran manusia tentang dunia dan makna kehidupan merupakansintesis dari pengalaman-pengalaman dasarnya. Menurut pandangan klasik, pengalaman ini bersifat menetap, sama dari tahun ke tahun, berbeda dengan pandangan teknologi pendidikan. Menurut mereka, pengalaman tersebut selalu berubah, hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik daripada hari Mi.Kehidupan dan perkembangan itu selalu baru.Karena sifat ilmiahnya, konsep pendidikan ini mengutamakan segi-segiempiris, informasi objektif yang dapat diamati dan diukur serta dihitung secarastatistik. Mereka kurang menghargai hal-hal yang bersifat kualitatif dan spiritual.Bagi mereka, dunia ini adalah dunia material, dunia empiris. Meskipun lebihkompleks, manusia pada dasarnya tidak berbeda dengan binatang, ia mereaksiterhadap perangsang-perangsang dari lingkungannya, perilakunya dapat dibentuk dengan teknologi perilaku, seperti yang dinyatakan Skinner.
Man totally determined by his environment. Therefore, if we wish to relateto him for better to educate him, we need only learn scientifically, how tocontrol his environment in such away as to reshape his behavior. What weneed is a technology of behavior (Skinner, 1972).
Menurut teori ini, pendidikan adalah ilmu dan bukan seni, pendidikanadalah cabang dari teknologi ilmiah. Dengan pengembangan desain program, pendidikan menjadi sangat efisien. Efisiensi merupakan salah satu ciri utamateknologi pendidikan. Dalam pengembangan desain program, mereka jugamelibatkan penggunaan perangkat keras, alat-alat pandangdengar (audio-visual)dan media elektronika. Pengembangan model-model pengajaran yang bersifatindividual serta menekankan penguasaan kemampuan, seperti computer assistedinstruction (CAI), individually prescribed instruction (IPI), competency basedinstruction, dan behavior modification merupakan model-model pengajaran baru,melengkapi model yang telah ada yaitu pengajaran berprogram, mesin pengajaran,dan pengajaran modul alam konsep teknologi pendidikan, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus. Isi pendidikan berupa data-data objektif dan keterampilan-keterampilan yang mengarah kepada kemampuan vocational. Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan denganmenggunakan bantuan media elektronika (kaset audio, video, film, atau komputer)dan para siswa belajar secara individual. Siswa berusaha untuk menguasaisejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi.Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak melakukan tugas-tugas pengelolaan daripada penyampaian dan pendalaman bahan. Apabila digunakanmedia elektronika, ierbehas dari tugas pengembangan segi-segi nonintelektual.Kurikulum pendidikan teknologi menekankan kompetensi ataukemampuan- kemampuan praktis. Materi disiplin ilmu dipelajari termasuk dalamkurikulum, apabila hal itu mendukung penguasaan kemampuan-kemampuantersebut. Dalam kurikulum, materi disiplin ilmu tersebut disusun terjalin dalamkemampuan. Penyusunan kurikulum dilakukan para ahli dan atau guru-guru yangmempunyai kemampuan mengembangkan kurikulum. Perangkat kurikulum cukuplengkap mulai dari struktur dan sebaran mata pelajaran sampai dengan rincian bahan ajar yang dipelajari oleh siswa, yang tersusun dalam satuan-satuan bahanajar dalam bentuk satuan pelajaran, paket belajar, modul, paket program audio,video ataupun komputer. Dalam satuan-satuan bahan ajar tersebut tercakup pulakegiatan pembelajaran dan bentuk-bentuk serta alat penilaiannya.4.

Pendidikan interaksionalKonsep pendidikan ini bertolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya, manusia selalu membutuhkan manusia lain, selaluhidup bersama, berinteraksi, dan bekerja sama. Karena kehidupan bersama dankerja sama ini, mereka dapat hidup, berkembang, dan mampu inemenuhikebutuhan hidup dan memecahkan berbagai masalah yang (iihadapi. Dapatdibayangkan, apa yang akan dihadapi seseorang, bila ia hidup sendiri di sebuah pulau terpencil. Bila lingkungannya mendukung, mungkin ia dapat bertahanhidup, tetapi apabila tidak, mungkin tidak liapat hidup atau tidak dapat mencapai
kemajuan seperti yang dialami oleh I wang-orang yang hidup bersama denganorang lain.Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja amadan interaksi. Dalam pendidikan klasik dan teknologi interaksi terjadi sepiliak dariguru kepada siswa, sedangkan dalam pendidikan romantik don progresif terjadisebaliknya dari siswa kepada guru. Pendidikan lideraksional menekankaninteraksi dua pihak, dari guru kepada siswa dan lari siswa kepada guru. Lebihluas, interaksi ini juga terjadi antara siswa dengan bahan ajar dan denganlingkungan, antara pemikiran siswa dengan kehidupannya. Interaksi ini terjadimelalui berbagai bentuk dialog.Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih dari sekadar mempelajarifakta-fakta. Siswa mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-faktatersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminyadalam konteks kehidupannya. Setiap siswa, begitu juga guru, mempunyai rentetan pengalaman dan persepsi sendiri. Dalam proses belajar, persepsi-persepsi yang berbeda tersebut digunakan untuk menyoroti masalah bersama yang munculdalam kehidupannya. Dalam proses seperti itu dialog berlangsung, setiap siswadan guru saling mendengarkan, memberikan pendapat, sal ing mengajar dan belajar. Pemahaman yang muncul dari situasi demikian melebihi jumlah seluruhsumbangan para peserta. Siswa tidak hanya berperan sebagai siswa, tetapijugasebagai guru, dan guru juga pada suatu saat berperan sebagai siswa yang turut belajar bersama para siswanya.Interaksi juga terjadi antara siswa dengan bahan ajar. Interaksi ini bukanhanya pada tingkat apa dan bagaimana, tetapi lebih jauh yaitu pada tingkatmengapa, tingkat mencari makna baik makna sosial (socially conscious) maupunmakna pribadi (self conscious). Isi atau bahan ajar ini berkenaan denganlingkungan sosial-budaya yang mereka hadapi saat ini. Setelah mengetahui maknadari fakta-fakta dan nilai-nilai sosial budaya, mereka mengadakan evaluasi, kritik dari sudut kepentingannya bagi kesejahteraan umat manusia.Siswa sebagai individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya, selaluterjadi hubungan timbal balik antara keduanya. Pandangan-pandangannyamempengaruhi bentuk dan pola lingkungan, di lain pihak kekuatan dan
keterbatasan lingkungan mempengaruhi individu siswa. Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa. Interaksi juga terjadi antara pemikiran siswa dengankehidupannya. Suatu kebenaran tidak akan diyakininya apabila tidak dicobakandan dihayati dalam kehidupannya sehari-hari.Sekolah berbeda dengan pendidikan, tetapi mempunyai peranan pentingdalam sistem masyarakat. Sekolah merupakan pintu untuk memasuki masyarakat,menentukan stratifikasi sosial, dan memberikan kesiapan untuk melakukan berbagai pekerjaan. Sekolah menyiapkan anak dengan berbagai keterampilansosial juga keterampilan bekerja. Lebih jauh, sekolah juga berperan dalammembina sikap positif terhadap dunia kerja, disiplin kerja, dan sebagainya.Pendidikan berperan dalam mengembangkan identitas pribadi, memperbaikimodus dari kehidupan.Proses belajar dalam model interaksional terjadi melalui dialog denganorang lain apakah dengan guru, teman, atau yang‡lainnya. Belajar adalah kerjasama dan saling kebergantungan dengan orang lain. Siswa belajar memperhatikan,menerima, menilai pendapat orang lain, dan belajar menyatakan pendapat dansikapnya sendiri. Melalui interaksi tersebut muncul pengetahuan, pendapat, sikap,dan keterampilan-keterampilan baru. Guru berperan dalam menciptakan situasidialog dengan dasar saling mempercayai dan saling membantu. Bahan ajar diambil dari lingkungan sosial-budaya yang dihadapi para siswa sekarang. Merekadiajak untuk menghayati nilai-nilai sosial-budaya yang ada di masyarakat,memberikan penilaian yang kritis, kemudian mereka mengembangkan persepsinya sendiri terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.Kurikulum pendidikan interaksional menekankan baik pada isi maupun proses pendidikan sekaligus. Isi pendidikan terdiri atas problem- problem nyatayang aktual yang dihadapi dalam kehidupan di masyarakat. Proses pendidikannya berbentuk kegiatan-kegiatan belajar kelompok yang mengutamakan kerja sama, baik antarsiswa, siswa dan guru, maupun antara siswa dan guru dengan sumber-sumber belajar yang lain. Kegiatan penilaian dilakukan untuk hasil maupun proses belajar. Guru-guru melakukan kegiatan penilaian sepanjang kegiatan belajar D.

Buku Acuan
Schubert, William H. 1986. Curriculum: Perspective, Paradigm and Possibility. New York: Macmillan Publishing Co.Dilatarbelakangi oleh minat pribadi yang sangat mendalam terhadap pendidikan, khsusunya kurikulum, penulis memandang bahwa kurikulummerupakan bidang yang sangat penting. Kurikulum menentukan jenis dan kualitas pengetahuan dan pengalaman yang memungkinkan orang atau seseorangmencapai kehidupan dan penghidupan yang baik. Dilengkapi dengan pengalamannya yang begitu banyak dalam bidang pendidikan, penulis menyajikansuatu tulisan yang komprehensif mendasar, dalam arti bertolak dari teori yangkuat, dengan mengemukakan hal-hal yang bersifat praktis. Buku ini merupakan buku teks pada bidang kurikulum baik untuk tingkat S1 maupun S2 sebab isinyamenyangkut hal-hal yang sangat prinsip. Secara sistematis dan logis, seluruh isi buku ini terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama menguraikan perspektif kurikulum, baik dari segi konsep atau teori, sejarah maupun perkembangannya.Bagian kedua membahas paradigma, yang berisi tujuan, misi, proses, organisasi,dan ovaluasi, serta pelaksanaan. Bagian ketiga membahas problema-problemakurikulum, profesionalisasi, dan pengembangan kurikulum.Beane, James A. et. al., 1986. Curriculum Planning and Development. Boston:Allyn and Bacon, Inc.Isi buku ini hampir sama dengan buku-buku lain dalam tema yang sama.Salah satu kelebihannya terletak pada isinya yang sangat komprehensif. Hampir semua hal yang berkenaan dengan permasalahan kurikulum tercakup dalam bukumi. Oleh karena itu, buku ini baik sekali bagi para pengajar kurikulum dan guru-guru yang melaksanakan kurikulum..Secara sistematik diuraikan masalah apadalam kurikulum, pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai apa yang harusdisajikan dalam kurikulum, sampai sejauh mana dan untuk apa hal itu diberikan.Juga diuraikan masalah mengapa, yaitu.landasan-landasan apa yang mendasari penyusunan kurikulum. Selanjutnya, bagaimana proses penyampaian kurikulumserta proses pengelolaan kurikulum, dan diakhiri dengan proses evaluasikurikulum

johnson, Mauritz. 1977. Intensionality in Education. Albany, New York: Center for Curriculum Research and Services.Judul buku ini adalah intensionality in Education, suatu judul yang bertemakan pendidikan, dan isinya lebih banyak menyangkut kurikulum. Isi bukuini sangat berharga bagi para pakar pendidikan, pakar kurikulum, para perencana pengajaran, dan juga guru-guru. Dalam buku ini disajikan suatu model konseptualkurikulum dan rencana pengajaran, serta evaluasinya. Dipisahkan dengan tegasoleh penulis antara kurikulum dan pengajaran. Kurikulum berkenaan dengan apayang akan diajarkan, sedangkan pengajaran berkenaan dengan bagaimana caramengajarkannya. Dengan konsep scperti itu penulis mengemukakan suatu modelkurikulum yang disebutnya sebagai model P-I-E, dan dijelaskan pula bagaimana pengembangannya. Dalam pengembangan tersebut diuraikan secara rinci bagaimana merumuskan tujuan, isi, struktur kurikulum, serta sumbersumber kurikulum. Selanjutnya diuraikan juga rencana pengajaran, evaluasi, serta pengelolaannya.Goodlad, John I. (Ed). 1979. Curriculum Inquiry, The Study of CurriculumPractice. New York: McGraw Hill Book, Co.Tulisan ini membahas praktik pelaksanaan kurikulum di lapangan dengantujuan membantu para teoretisi, peneliti, dan pelaksana kurikulum memperluas pemahaman mereka tentang pelaksanaan kurikulum di lapangan. Isi bukudidasarkan atas hasil penelitian/pengalaman praktik selama lebih dari 20 tahun diSekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Pada bagian pertama tulisan ini, dikemukakan konsep-konsep kurikulum dankomponen-komponen pelaksanaan kurikulum dalam masyarakat industri, serta bidang-bidang kurikulum yang meliputi tiga fenomena; substantive, political-social, dan technicalprofesional. Pada bagian berikutnya diuraikan penjabarankonsep-konsep tersebut menurut tingkat perkembangan kurikulum, tingkatmasyarakat, tingkat institusi, serta penjabaran dalam desain instruksional. Pada bagian akhir dibahas peranan ahli kurikulum dan pengembangan kurikulum dalam perspektif persilangan budaya-budaya/bangsa-bangsa

BAB 2
TEORI KURIKULUM
Dewasa ini berkembang suatu anggapan bahwa pendidikan bukan lagimerupakan suatu ilmu, melainkan suatu teknologi. Hal ini disebabkan oleh upaya pengembangan dan penyempurnaan pendidikan, khususnya kurikulum, lebih banyak datang dari pengalaman praktik di sekolah, dibandingkan dengan dari penerapan teori-teori yang sudah mapan. Perubahan atau penambahan isikurikulum sering diadakan karena adanya kebutuhan-kebutuhan praktis. Karenaselalu menekankan pada hal-hal praktis itulah, masa berlaku suatu kurikulumtidak bisa lama. Pada bab ini akan diuraikan apa, mengapa, dan bagaimana teori,khususnya pentingnya ilasar-dasar teoretis dalam pengembangan suatu kurikulum.
A. Apakah Teori Itu?
Mengenai apakah teori itu, telah ada beberapa kesepakatan di antara paraahli, tetapi juga ada beberapa perbedaan pendapat. Kesepakatan yang telahditerima secara umum, bahwa teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (aset of statement) yang menjelaskan serangkaian hal. Ketidaksepakatannya terletak pada karakteiistik pernyataan tersebut.Di antara sekian banyak pendapat yang berbeda, ada tiga kelompok karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori. Pertama, pernyataan dalamsuatu teori bersifat memadukan (unifying statement). Kedua, pernyataan tersebut berisi kaidah-kaidah umum (universal preposition). Ketiga, pernyataan bersifatmeramalkan (predictive statement). Karakteristik memadukan (unifyingstatement) banyak disetujui oleh para perumus teori, seperti yang dikemukakanKaplan (1964, him. 295).
A theory is a way of making sense of a disturbing situation, so as to allow us most effectivelly to bring to bear our reverfoice of habits, and even more impor- tant, tomodify habits or discard them together, reflacing new ones as the situa- tiondemands.
And the reconstructed logic, accordingly, theory will appear as thedevice for interpreting, criticizing, and unifying established laws, modify- ing
hem to fit data unanticipated in their formation, and guiding the enter- prise of discovering new and more powerful generalizations.
Hall dan Lindsay (1970, him. 11) menekankan hal yang sama yaitu sifatunifying, seperti mereka nyatakan bahwa
“… a theory is set of conventions that should contain a cluster of relevant assumption systematically related to eachother and a set of empirical definitions”.
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Snow (1973, hlm.78).
In its simplest form, a theory is a symbolic instruction designed to bring gener-alizable fact (or laws) into systematic connection. It consist of a) a set of units(facts, concepts, variables), and b) a system of relationships among the units.
Karakteristik lain berupa kaidah-kaidah yang bersifat universal, kita temukandalam definisi teori Rose (1953, him. 52).
A theory may be defined as an integrated body of definitions, assumptions and general prepositions covering a given subject matter from which a comprehensiveand consistent set of specific and testable hypotheses can be deducted logically.
Menurut Rose, karakteristik pernyataan (set of statement) tersebut meliputidefinisi, asumsi, dan kaidah-kaidah umum. Dalam rumusan yang lebih kompleks,teori ini juga menyangkut hukum-hukum, hipotesis, dan deduksi-deduksi logis-matematis. Definisi teori Abel umpamanya menunjukkan hal seperti itu.
A general theory is built upon the facts discovered by means of the use of theo-rems and other conceptual models from empirical data and which have been ex- pressed in the form of laws, correlations, or other type of generalizations. It in-volves synthesis and is directed to the formulation of propositions about uni-versals.
Karakteristik ketiga yang dipandang sebagai ciri utama suatu teori adalahsifat prediktif (meramalkan). Teori harus mampu menjangkau ke depan, bukanhanya menggambarkan apa adanya tetapi mampu meramalkan apa yang terjadiatas suatu hal. Rumusan demikian dapat dilihat dalam definisi teori Travers (1960,hlm. 10):
“… a theory consists of generalizations intended to explain phenomenaand that the generalizations must be predictive”.
Suatu rumusan yang lebih menyeluruh, yang mengandung tigakarakteristik utama suatu teori (unifying, universal prepositions, dan predictive)kita temukan dalam definisi Kerlinger (1973, hlm. 9).
A theory is a set of interelated constructs (concepts), definitions, and prepositionsthat present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaining and predicting phenomena”.
Dengan bermacam-macam rumusan teori itu diharapkan sampai pada suatukesimpulan, walaupun bersifat tentatif bahwa suatu teori lahir dari suatu proses,yang berbeda dengan yang lainnya. Suatu teori hanya menjelaskan hal yangterbatas, teori lain menjelaskan hal yang lebih luas.Teori menjelaskan suatu kejadian. Kejadian ini bisa sangat luas atau sangatsempit. Suatu kejadian yang dijelaskan oleh suatu teori menunjukkan suatu setyang universal. Set universal ini terbentuk oleh tiga bagian. Bagian pertama,kejadian yang diketahui, yang dinyatakan sebagai fakta, hukum, atau prinsip.Bagian kedua yang dinyatakan sebagai asumsi, proposisi, dan postulat. Bagian ketiga adalah bagian dari set universal atau bagian dari keseluruhan yang belum diketahui. Visualisasi hubungan antara bagian-bagian tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.BAGAN 2.1
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
| A |
| |
|- – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – |
| B C |
| |
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Ket :
ABC : Secara Universal (keseluruhan)
A : Kejadian-kejadian yang diketahui
B : Kejadian-kejadian yang diasumsikan
C : Kejadian-kejadian yang tidak diketahui

Tugas seorang teoretisi adalah merumuskan istilah-istilah dan pernyataan yang akan menjelaskan isi bagian-bagian dan hubungan di antara bagian-bagiantersebut. Hal yang sangat penting dalam pekerjaan seorang ilmuwan adalah penggunaan istilah-istilah. Ia dituntut untuk menggunakan istilah dengan maknayang tepat dan konsisten. Gordon dan teman-temannya (1967) membagi istilah-istilah yang digunakan dalam suatu teori atas tiga kelas: primitive terms, keyterms, and theoretical terms. Primitive terms tak dapat didefinisikan secaraoperasional. Contohnya, konsep titik (point) dalam geometri. Key terms adalahistilah-istilah yang dapat didefinisikan secara operasional seperti pemecahanmasalah. Theo- retical terms dapat didefinisikan secara operasional, tetapi dalamhubungannya dengan key terms.Beauchamp (1975, hlm. 15) membedakan adanya tiga kelompok istilah,yaitu “general language terms, basic concepts, dan theoretical contructs”. Generallanguage terms merupakan istilah-istilah yang digunakan dalam ilmu pengetahuanatau bahasa secara umum. Istilah-istilah tersebut tidak perlu didefinisikan secaraoperasional karena telah dikenal secara umum. The basic concept merupakanistilah-istilah yang sangat dasar dan penting dalam menjelaskan suatu set kejadian,oleh karenanya perlu didefinisikan secara operasional. Sebagai contoh, istilah molekul dalam kimia, istilah kurikulum dalam pendidikan. Yang ketiga adalah theoretical constructs, yang merupakan istilah yang punya makna khusus dalam set kejadian yang akan dijelaskan suatu teori, tetapi tidak dapat diketahui melalui pengamatan langsung. Contoh istilah minat, kebutuhan dalam pengajaran.Hal lain yang juga sangat penting dalam pekerjaan ilmuwan adalah pernyataan. Suatu teori terdiri atas serangkaian pernyataan, di dalam pernyataantersebut ada istilah-istilah. Seperti halnya istilah, pernyataan pun ada pengkategoriannya. Pernyataan dapat menunjuk kepada fakta-fakta, definisi, proposisi, hipotesis, generalisasi, dalil, postulat, teorem, asumsi, dan hukum.Sering terdapat tumpang tindih atau pertukaran pengertian dari istilah-istilahtersebut, juga penggunaannya sering amat terbatas hanya dalam teori atau konseptertentu.Secara hukum istilah-istilah tersebut sering diartikan sebagai berikut.Fakta adalah suatu fenomena yang diketahui melalui pengamatan. Definisi merupakan perumusan arti dalam bentuk pernyataan formal. Proposisi merupakansuatu pernyataan formal yang memperkuat atau menolak keberadaan sesuatu haltentang suatu subjek. Hipotesis, generalisasi, aksioma, postulat, teorem, danhukum-hukum merupakan bentuk-bentuk khusus proposisi. Hipotesis terbentuk oleh satu proposisi atau lebih untuk menjelaskan suatu set kejadian. Generalisasiadalah suatu proposisi yang memperkuat atau menegaskan kedudukan suatuanggota atau beberapa anggota kolas, hal itu disimpulkan dari hasil pengamatanatas sejumlah hubungan peristiwa. Aksioma atau postulat adalah suatu proposisiyang diterima sebagai suatu kebenaran. Teorem adalah suatu proposisi yang berasal dari pemikiran atau diturunkan dari aksioma. Hukum adalah suatu proposisi yang sudah bersifat tetap, yang memberikan kondisi yang tidak berubah.
1.Apakah fungsi teori?Minimal ada tiga fungsi teori yang sudah disepakati para ilmuwan yaitu;(1) mendeskripsikan, (2) menjelaskan, dan (3) memprediksi. Untuk tiga fungsitersebut, Brodbeck (1963, hlm. 70) menambahkan fungsi lain. “A theory nol onlyexplains and predict, it also unifies phenomena”. Khusus dalam penelitian Gawin(1963) mengemukakan fungsi teori sebagai: … the theory help teioire,/ searcher toanalyze data to make shorthand summarization or synopsis of data anrelations, and to suggest new thing to try out.Dalam usaha mendeskripsikan, menjelaskan, dan membuat prediksi, paraahli terus mencari dan menemukan hukum-hukum baru dan hubungan-hubungan baru di antara hukum-hukum tersebut. Melalui proses demikian mungkin terjadidi dalam suatu “set kejadian”, semua hukum dan interealasinya dapat dinyatakandan teori itu telah berkembang menjadi hukum yang lebih tinggi. Para ahli teorimencari hubungan baru dangan menggabungkan beberapa “set kejadian” menjadisuatu “set kejadian yang baru yang lebih universal”. Hal itu mendorong pencariandan pengkajian selanjutnya, untuk menemukan hukum-hukum baru dan hubungan baru dalam suatu teori baru. Fungsi yang lebih besar dari suatu leori adalahmelahirkan teori baru.Mouly (1970, hlm. 70-71) mengemukakan ciri-ciri suatu teori yang baik,yaitu:
1.A theoretical system must permit deduction which be tested empirically,
2.A theory must be compatible both with observation and with previously validated theories,
3.Theories must be stated in simple terms, that theory is best which explainsthe most in the simplest form,
4.Scientific theories must be based on empirical facts and relationships.
Bagaimana proses pembentukan suatu teori atau bagaimana proses herteori berlangsung, melalui beberapa langkah.Pertama, pendefinisian istilah merupakan hal yang sangat penting berteori,terutama berkenaan dengan kejelasan atau ketepatan penggunaan istilah yangtelah didefinisikan.Kedua, klasifikasi yaitu pengelompokan informasi-informasi yang revandengan kategori-kategori yang sejenis. Klasifikasi juga merupakanwugelompokan fakta dan generalisasi ke dalam kelompok-kelompok yang.mogen, tetapi tidak menjelaskan interelasi antarkelompok atau interaksifakta dengan generalisasi dalam suatu kelompok.Ketiga, mengadakan induksi dan deduksi. Induksi dan deduksi merupakandua proses penting di dalam mengembangkan pernyataan- pernyataan teoretissetelah pendefinisian dan pengklasifikasian. Induksi merupakan proses penarikankesimpulan yang lebih bersifat umum dari fakta-fakta atau hal-hal yang bersifatkhusus. Deduksi merupakan penurunan kaidah-kaidah khusus dari kaidah yanglebih umum.Keempat adalah informasi, prediksi, dan penelitian. Pembentukkan suatuteori yang kompleks mungkin berpangkal dari inferensi-inferensi yaitu penyimpulan dari apa yang diamati. Inferensi ini mungkin ditarik melalui perumusan asumsi, hipotesis, dan generalisasi dari hasil-hasil observasi. Sesuaidengan fungsi dari teori yaitu memberikan prediksi, teori juga berkembangmelalui prediksi dan juga penelitian. Ada prediksi yang dibuktikan dengan suatu penelitian, tetapi ada juga prediksi yang tetap sebagai prediksi.Kelima pembentukan model-model. Karena yang dicakup dengan teorisering menyangkut hal-hal yang sifatnya abstrak dan kompleks, maka untuk
memberikan gambaran yang lebih konkret dan sederhana dibuat model-model.Model ini menggambarkan kejadian-kejadian serta interaksi antara kejadian.Keenam, pembentukan subteori. Suatu teori yang telah mapan dankomprehensif mendorong untuk terbentuknya sub-subteori. Subteori inicenderung memperluas lingkup dari suatu teori dan juga memberikan penyempurnaan.

B.Teori Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu ilmu terapan (applied science), yaitu terapandari ilmu atau disiplin lain terutama filsafat, psikologi, sosiologi, dan humanitas.Sebagai ilmu terapan, perkembangan teori pendidikan berasal dari pemikiran- pemikiran filosofis-teoretis, penelitian empiris dalam praktik pendidikan. Denganlatar belakang seperti itu, beberapa ahli menyatakan bahwa ilmu pendidikanmerupakan ilmu yang “belum jelas”. Hal itu diperkuat oleh kenyataan bahwacukup sulit untuk dapat merumuskan teori pendidikan. Teori-teori pendidikanyang ada lebih menggambarkan pandangan filosofis, seperti teori pendidikanLangeveld, Kohnstam, dan sebagainya, atau lebih menekankan pada pengajaranseperti teori Gagne, Skinner, dan sebagainya.Boyles (1959) menyatakan bahwa teori pendidikan di Amerika Serikat berada dalam a state of suspended animation, penggambarannya masih tertangguhkan. Masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk menampilkandengan jelas teori pendidikan ini. Menurut Beauchamp (1975, hlm. 34), teori pendidikan akan atau dapat berkembang, tetapi perkembangannya pertama-tama dimulai pada sub-subteorinya. Yang menjadi subteori dari teori pendidikan adalahteori-teori dalam kurikulum, pengajaran, evaluasi, bimbingan-konseling, dan administrasi pendidikan.Susunan hierarki teori pendidikan dengan subteori dan teori yangmemayunginya dapat dilihat pada Bagan 2.2. Susunan hirearki teori pendidikan dan kurikulm

Telah diuraikan sebelumnya bahwa ada dua kecenderungan perkembangan ilmu pendidikan. Pertama, perkembangan yang bermilai teoretis yang merupakan pengkajian masalah-masalah pendidikan dari sudut pandang ilmu lain, seperti filsafat, psikologi, dan lain-lain. Kedua, perkembanganilmu pendidikan dari praktik pendidikan. Keduanya dapat ding membantu,melengkapi, dan memperkaya. Dalam kenyataan, tidak selalu terjadi hal yangdemikian. Hanya sedikit hasil-hasil pengkajian leoretis yang diterapkan para pelaksana pendidikan. Sebagai contoh, teori IT Rousseau yang menekankan pendidikan alam dengan peranan anak sebagai subjek yang penuh potensi, hampir tidak ada yang melaksanakanIlya secara penuh, kecuali beberapa prinsiputamanya, itu pun dengan keberapa modifikasi. Sebaliknya para pendidik dilapangan melaksanakan praktik pendidikan yang lebih didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan prakt is, sekalipun tidak banyak dilandasi oleh teori-teori yang kuat.Seharusnya tidak terjadi hal yang demikian, sebab seharusnya praktik dilandasi oleh teori, tidak ada praktik yang baik tanpa teori yang mapan. Animateori dengan praktik memang terdapat perbedaan, tetapi keduanya ingat berkaitanerat. Mengenai perbedaan antara teori dengan praktik, beauchamp menjelaskan:
Theory by its nature is impractical. The world of practicality is built around clusters of specific events. The world of theory derives from generalization law aaxiomes and theorems explaining specific events and the relationships among them (Beauchamp, 1975, him. 35)
Walaupun terdapat perbedaan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Teorimenjadi pedoman bagi praktik dan praktik memberi umpan balik bagi pengembangan teori. Sebagai ilmu dari segala ilmu, filsafat mempunyai hubunganyang erat dengan ilmu pendidikan dan teori pendidikan. Ada dua kategori teoriyaitu teori deskriptif dan preskriptif. Teori deskriptif terdiri atas serangkaian proposisi yang berinterelasi secara logis. Dari proposisi-proposisi tersebutditurunkan secara deduktif informasi- informasi baru, juga dari proposisi- proposisi tersebut hubungan antara beberapa hal dirumuskan. Teori deskriptif terdiri atas serangkaian rencana kegiatan atau proposisi mengenai sesuatukerangka masalah. Pengembangan teori deskriptif berhubungan dengan pendekatan ilmiah (scientific approach), sedangkan pengembangan teori preskriptif berhubungan dengan pendekatan atau teknik-teknik filosofis(techniques of philosophy).Filsafat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan.Kebanyakan teori pendidikan yang ada, kalau tidak berlandaskan psikologi maka bersumber pada filsafat. Filsafat khususnya filsafat pendidikan memberikan pedoman bagi perumusan aspek-aspek pendidikan. Mendidik atau pendidikan berkenaan dengan perbuatanperbuatan yang tidak lepas dari nilai, atau dengankata lain perbuatan mendidik selalu menyangkut nilai. Teori pendidikan selalumenyangkut tentang teori nilai, etika, yang keduanya merupakan bahasan dari bidang filsafat. Antara keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. John Deweyseorang ahli filsafat pendidikan progresif, umpamanya menyatakan bahwa filsafatmerupakan teori umum dari pendidikan.Beberapa aliran filsafat pendidikan menggambarkan kedudukannya, jugasebagai teori pendidikan, seperti dalam filsafat pendidikan realisme dari Borudy,idealisme dari Butler, pragmatisme dari Mc. Murray. Pratte menegaskanhubungan antara filsafat dengan teori pendidikan di dalam uraiannya tentang teori pendidikan modern yaitu pendidikan progresif (eksperimentalisme), esensialisme, perenialisme, rekonstruksionalisme, dan eksistensialisme. Dalam semua aliranfilsafat ini, dikemukakan pandangan filosofisnya tentang peranan sekolah(pendidikan), ten tang hakikat pengetahuan, tentang manusia, tentang nilai, dansumber-sumber nilai.
Hugh C. Black dalam bukunya A Four fold Classification of EducationalTheories (1966) mengemukakan empat teori pendidikan, yaitu teori tradisional,teori progresif, teori hasil belajar, dan teori proses belajar. Teori tradisionalmenekankan fungsi pendidikan sebagai pemelihara dan penerus warisan budaya,teori progresif memandang pendidikan sebagai penggali potensi anak-anak, dalamteori ini anak menempati kedudukan sentral dalam pendidikan. Teori hasil belajar sesuai dengan namanya mengutamakan hasil, sedangkan teori proses belajar mengutamakan proses belajar.Teori pendidikan bukan saja berkembang melalui pemikiran p.mikiranfilosofis atau teori preskriptif, juga dikembangkan melalui ponglojfisn pengkajian ilmiah (teori deskriptif). Harry S. Broudy menyatakan perlunya suatuteori pendidikan yang utuh yang membentuk satu kesatuan. Teori pendidikan yangdemikian sangat diperlukan mengingat hal-hal sebagai berikut.
a. The present and projected kinds of knowledge and personality traits re-quired for citizenship, vocation, and self development.
b. A unified theory must be judicious about the latest development in learn-ing theory and teaching technology.
c. A unified theory has to provide for general and special education, for dif- ferences in ability and bent (Broudy, 1960, hlm. 24).
Brouner mengidentifikasi enam teori pendidikan yang berkembang di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Keenam teori tersebut dapat dilihat pada Bagan 2.3 : 6 teori pendidikan (Browner)

Teori Metode Pandangan terhadap anak Penekanan dalam Pendidikan
Monitorial method Orielland

March Beth dalam buku Education as a Discipline (1965) menegaskan bahwa pendidikan adalah suatu disiplin. la menolak pandangan bahwa pendidikanhanyalah aplikasi dari disiplin-disiplin lain. Pendidikan adalah suatu bidang studi(suatu disiplin) dalam bidangnya. Studi tentang pendidikan merupakan suatukajian tentang bagaimana cara atau model-model inkuiri disusun, digunakan,dikembangkan, dan disusun kembali. Lebih jauh berisi kajian tentang model-model yang cocok pada suatu tempat, saat, serta syarat-syarat yang diperlukan bagi pelaksanaan model tersebut..Menurut Beth, studi tentang pendidikan mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.Sejarah tentang teori dan model-model pendidikan
2.Prinsip-prinsip dan prosedur analisis dari model-model pendidikan.
3.Studi tentang fungsi dari model-model yang ada, sebagai bahan dan alat untuk mempelajari dan mengembangkannya.
4.Studi lebih mendalam tentang variasi model, bagaimana penerapannyadalam berbagai tingkat sekolah dan berbagai jenis mata pelajaran.
5.Pelaksanaan model sesuai dengan kondisi waktu, kemampuan para pelaksana, serta fasilitas yang ada.Terlepas dari apakah pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu atau bukan, pendidikan tetap merupakan suatu bidang studi. Dalam bidang studitersebut, teori-teori pendidikan dikembangkan.
Beauchamp (175, hlm. 43)menyatakan bahwa Irrespective of label, evidence mounts that education is sufficiently mature to become an organized field of study.
Pengembangan teori pendidikan menjadi semakin besar dan pesat dengan berkembangnya sub-subteori pendidikan, yaitu bimbingan clan konseling,kurikulum, penyuluhan, pengajaran, evaluasi, dan administrasi pendidikan.

C.Teori Kurikulum
Telah diuraikan sebelumnya bahwa teori merupakan suatu perangkat pernyataan yang bertalian satu sama lain, yang disusun sedemikian rupa sehinggamemberikan makna yang fungsional terhadap serangkaian kejadian. Perangkat pernyataan tersebut dirumuskan dalam bentuk definisi deskriptif atau fungsional,suatu konstruksi fungsional, asumsi-asunro hipotesis, generalisasi, hukum, atau teorem-teorem. Isi rumusan-rumusan tersebut ditentukan oleh lingkup dari rentetan kejadian yang dicakup, jumlah pengetahuan empiris yang ada, dan tingkat keluasan dan kedalaman teori dan penelitian di sekitar kejadian-kejadian tersebut. Kalau konsep-konsep itu diterapkan dalam kurikulum, maka dapatlahdirumuskan tentang teori kurikulum, yaitu sebagai suatu perangkat pernyataanyang rnemberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut Irryndikarena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena allanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum. Bahan kajian dariteori kurikulum adalah hal-hal yang berkaitan dengan renentuan keputusan, penggunaan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kurikulum, dan lain-lain.
1.Konsep kurikulumKonsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teorikurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum,kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi.Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi, suatu kurikulum,dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid disekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum jugadapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersamaantara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan denganmasyarakat. Suatu kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatusekolah, suatu kabupaten, propinsi, ataupun seluruh negara.Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu sistem, yaitu sistemkurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakupstruktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana cara me- nyusun suatukurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyem- purnakannya. Hasil darisuatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan fungsi darisistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis.Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studikurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikandan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkanilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidangkurikulum mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studikepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukanhal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.Seperti halnya para ahli ilmu sosial lainnya, para ahli teori kurikulum jugadituntut untuk: (1) mengembangkan definisi-definisi deskriptif dan preskriptif dariistilah-istilah teknis, (2) mengadakan klasifikasi tentang pengetahuan yang telahada dalam pengetahuan-pengetahuan baru, (3) melakukan penelitian inferensialdan prediktif, (4) mengembangkan subsubteori kurikulum, mengembangkan dan
melaksanakan model-model kurikulum. Keempat tuntutan tersebut menjadikewajiban seorang ahli teori kurikulum. Melalui pencapaian keempat hal tersebut baik sebagai subtansi, sebagai sistem, maupun bidang studi kurikulum dapat bertahan dan dikembangkan.
2.Perkernbangan teori kurikulumPerkembangan teori kurikulum tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangannya. Perkembangan kurikulum telah dimulai pada tahun 1890dengan tulisan Charles dan McMurry, tetapi secara definitif berawal pada hasilkarya Franklin Babbit tahun 1918. Bobbit sering dipandang sebagai ahlikurikulum yang pertama, ia perintis pengembangan praktik kurikulum. Bobbitadalah orang pertama yang mengadakan analisis kecakapan atau pekerjaansebagai cara penentuan keputusan dalam penyusunan kurikulum. Dia jugalah yangmenggunakan pendekatan ilmiah dalam mengidentifikasi kecakapan pekerjaandan kehidupan orang dewasa sebagai dasar pengembangan kurikulum.Menurut Bobbit, inti teori kurikulum itu sederhana, yaitu kehidupanmanusia. Kehidupan manusia meskipun berbeda-beda pada dasarnya sama,terbentuk oleh sejumah kecakapan pekerjaan. Pendidikan berupayamempersiapkan kecakapan-kecakapan tersebut dengan teliti dan sempurna.Kecakapan-kecakapan yang harus dikuasai untuk dapat terjun dalam kehidupansangat bermacam-macam, bergantung pada tingkatannya maupun jenislingkungan. Setiap tingkatan dan lingkungan kehidupan menuntut penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiasaan, apresiasi tertentu. Hal-hal itumerupakan tujuan kurikulum. Untuk mencapai hal-hal itu ada serentetan pengalaman yang harus dikuasai anak. Seluruh tujuan beserta pengalaman- pengalaman tersebut itulah yang menjadi bahan kajian teori kurikulum.Werrett W. Charlters (1923) setuju dengan konsep Bobbit tentang analisiskecakapan/pekerjaan sebagai dasar penyusunan kurikulum. Char ters lebihmenekankan pada pendidikan vokasional.Ada dua hal yang sama dari teori kurikulum, teori Bobbit dan Charters.Pertama, keduanya setuju atas penggunaan teknik ilmiah dalam memecahkanmasalah-masalah kurikulum. Dalam hal ini mereka dipengaruhi oleh gerakan ilmiah dalam pendidikan yang dipelopori oleh El. Thorndike, Charles Judd, danlain-lain. Kedua, keduanya bertolak pada asumsi bahwa sekolah berfungsimempersiapkan anak bagi kehidupan sebagai drang dewasa. Untuk mencapai haltersebut, perlu analisis tentang tugas-tugas dan tuntutan dalam kurikulum disusunketerampilan, pengetatitian, sikap, nilai, dan lain-lain yang diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan orang dewasa. Bertolak pada hal-hal tersebutmereka itionyusun kurikulum secara lengkap dalam bentuk yang sistematis.Mulai tahun 1920, karena pengaruh pendidikan progresif, berkembanggerakan pendidikan yang berpusat pada anak (child centered). Teori kurikulum berubah dari yang menekankan pada organisasi isi yang diarahkan padakehidupan sebagai orang dewasa (Bobbit dan Charters) kepada kehidupan psikologis anak pada saat ini. Anak menjadi pusat perhatianIsi kurikulum harus didasarkan atas minat dan kebutuhan alswa.Pendidikan menekankan kepada aktivitas siswa, siswa belajar nu lalui pengalaman. Penyusunan kurikulum harus melibatkan siswa.Perkembangan teori kurikulum selanjutnya dibawakan oleh Hollis I swell.Dalam peranannya sebagai ketua divisi pengembang kurikulum beberapa negara bagian di Amerika Serikat (Tennessee, Alabama, Ida, Virginia), iamengembangkan konsep kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau pekerjaan (society centered) maka Caswell mengembangkan kurikulum yang bersifat interaktif. Dalam pengembangan kurikulumnya, Caswell menekankan pada partisipasi guru-guru, Ism dalam menentukan kurikulum, menentukanstruktur dari penyusunan kurikulum, dalam merumuskan pengertian dalammerumuskan tujuan, memilih isi, menentukan kegiatan belajar, kurikulum,menilai hasil, dan sebagainya.Pada tahun 1947 di Univeristas Chicago berlangsung diskusi besar ri lamatentang teori kurikulum. Sebagai hasil diskusi tersebut merumuskan tiga tugas utama teori kurikulum: (1) mengidentifikasi masalah penting yangmuncul dalam pengembangan kurikulum tirui konsep-konsep yang mendasarinya,(2) menentukan hubungan antara Malin tersebut dengan struktur yangmendukungnya, (3) Monoirt atau meramalkan pendekatan-pendekatan pada masayang akan dittoing untuk memecahkan masalah tersebut Ralph W. Tylor (1949) mengemukakan empat pertanyaan pokok yang menjadiinti kajian kurikulum:
1.Tujuan pendidikan yang manakah yang ingin dicapai oleh sekolah?
2.Pengalaman pendidikan yang bagaimanakah yang harus disediakan untuk mencapai tujuan tersebut?
3.Bagaimana mengorganisasikan pengalaman pendidikan tersebut secaraefektif?
4.Bagaimana kita menentukan bahwa tujuan tersebut telah tercapai?Empat pertanyaan pokok tentang kurikulum dari Tylor ini banyak dipakaioleh para pengembangan kurikulum berikutnya. Dalam konferensi nasional perhimpunan pengembang dan pengawas kurikulum tahun 1963 dibahas duamakalah penting dari George A. Beauchamp dan Othanel Smith. Beauchampmenganalisis pendekatan ilmiah tentang tugas-tugas pengembangan teori dalamkurikulum. Menurut Beauchamp, teori kurikulum secara konseptual berhubunganerat dengan pengembangan teori dalam ilmu-ilmu lain. Hal-hal yang pentingdalam pengembangan teori kurikulum adalah penggunaan istilah-istilah teknisyang tepat dan konsisten, analisis dan klasifikasi pengetahuan, penggunaan penelitianpenelitian prediktif untuk menambah konsep, generalisasi atau kaidah-kaidah, sebagai prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam menjelaskanfenomena kurikulum.Dalam makalah kedua, Othanel Smith menguraikan peranan filsafat dalam pengembangan teori kurikulum yang bersifat ilmiah. Menurut Smith, ada tigasumbangan utama filsafat terhadap teori kurikulum, yaitu dalam (1) merumuskandan mempertimbangkan tujuan pendidikan, (2) memilih dan menyusun bahan, dan(3) perumusan bahasa khusus kurikulum.James B. MacDonald (1964) melihat teori kurikulum dari model sistem.Ada empat sistem dalam persekolahan yaitu kurikulum, pengajaran (instruction),mengajar (teaching), dan belajar. Interaksi dari empat sistem ini dapatdigambarkan dengan suatu diagram Venn. Melihat kurikulum sebagai suatusistem dalam sistem yang lebih besar yaitu persekolahan dapat memperjelas pemikiran tentang konsep kurikulum. Penggunaan model sistem juga dapat membantu para ahli teori kurikulum rnenentukan jenis dan lingkupkonseptualisasi yang diperlukan dalam teori kurikulum.Broudy, Smith, dan Burnett (1964) menjelaskan masalah persekolahandalam suatu skema yang menggambarkan komponen-komponen dari keseluruhan proses mempengaruhi anak. Skema persekolahan dari Broudy dan kawan-kawannya dapat dilihat pada Bagan 2.4.Beauchamp merangkumkan perkembangan teori kurikulum antara tahun1960 sampai dengan 1965. Ia mengidentifikasi adanya enam komponenkurikulum sebagai bidang studi, yaitu: landasan kurikulum, isi kurikulum, desainkurikulum, rekayasa kurikulum, evaluasi dan penelitian, dan pengembangan teori.Thomas L. Faix (1966) menggunakan analisis struktural-fungsional yang berasal dari biologi, sosiologi, dan antropologi untuk menjelaskan konsepkurikulum. Fungsi kurikulum dilukiskan sebagai proses bagaimana memeliharadan mengembangkan strukturnya. Ada sejumlah pertanyaan yang diajukan dalamanalisis struktural-fungsional ini. Topik dan subtopik dari pertanyaan inimenunjukkan fenomena-fenomena kurikulum Pertanyaan-pertanyaan itumenyangkut: (1) pertanyaan umum tentang fenomena kurikulum, (2) sistemkurikulum, (3) unit analisk (Ian unsur unsurnya, (4) struktur sistem kurikulum, (5)Fungsi sistem kurikulum, (6) proses kurikulum (7) prosedur analisis structuralfungsional.
BAGAN 2.4 Skema persekolahan dari Broudy, Smith, dan Bunett.
Attitudes andvalues systemsAssociative meaningsand imagesIntellectual OperationsExcecutive OperationsAssessment system:ExaminationsTests: Essay-ObjectiveTeacher JudgementsSelf evaluationSelf inventory”Alizabeth S. Maccia (1965) dari hasil analisisnya menyimpulkan adanyaempat teori kurikulum, yaitu: (1) teori kurikulum (curriculum theory), (2) teorikurikulum-formal (formal-curriculum theory), (3) teori kurikulum valuasional(valuational curriculum theory), dan (4) teori kurikulum praksiologi (praxiologicalcurriculum theory).Teori kurikulum (curriculum Theory atau event theory) merupakan teoriyang menguraikan pemilihan dan pemisahan kejadian/peristiwa kurikulum atauyang berhubungan dengan kurikulum dan yang bukan. Menurut Maccia,kurikulum merupakan bagian dari pengajaran, teori kurikulum merupakansubteori pengajaran. Teori kurikulum formal memusatkan perhatiannya padastruktur isi kurikulum. Teori kurikulum yaluasional mengkaji masalah-masalah pengajaran apa yang berguna/ berharga bagi keadaan sekarang. Teori kurikulum praksiologi merupakan suatu pengkajian tentang proses untuk mencapai tujuan-tujuan kurikulum. Walaupun mungkin, kita tidak setuju dengan seluruh pendapatMaccia, tetapi ia telah berhasil menunjukkan sejumlah dimensi kurikulum yangcukup berharga untuk menjelaskan teori kurikulum.Mauritz Johnson (1967) membedakan antara kurikulum dengan proses pengembangan kurikulum. Kurikulum merupakan hasil dari sistem

pengembangan kurikulum, tetapi sistem pengembangan bukan kurikulum.Menurut Johnson, kurikulum merupakan seperangkat tujuan belajar yangterstruktur. Jadi, kurikulum berkenaan dengan tujuan dan bukan dengan kegiatan.Berdasarkan rumusan kurikulum tersebut, pengalaman belajar anak menjadi bagian dari pengajaran.Johnson menganalisis enam unsur kurikulum, yaitu:
1.

A
curriculum is a structured series of intended learning out comes.2.

Selection is an essential aspect of curriculum formulation.3.

Structure is an essential charactistic of curriculum.4.

Curriculum guide instruction5.

Curriculum evaluation involeves validation of both selection and structure.6.

Curriculum is the criterion for instructional evaluation.
Jack R. Frymier (1967) mengemukakan tiga unsur dasar kurikulum, yaituaktor, artifak, dan pelaksanaan. Aktor adalah orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan kurikulum. Artifak adalah isi dan rancangan kurikulum. Pelaksanaanadalah proses interaksi antara aktor yang melibatkan artifak. Studi kurikulummenurut Frymier meliputi tiga langkah: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.Ada beberapa masalah atau isu substansial dalam pembahasan tentangteori kurikulum, yaitu definisi kurikulum, sumber-sumber kebijaksanaankurikulum, desain kurikulum, rekayasa kurikulum, peranan nilai dalam pengembangan kurikulum, dan implikasi teori kurikulum.Semua rumusan teori kurikulum diawali dengan definisi. Definisi di sini bukan sekadar definisi istilah, melainkan definisi konsep, isi dan ruang lingkup,serta struktur. Beberapa pertanyaan umum tentang karakteristik kurikulum sebagai bidang studi yang perlu didefinisikan umpamanya, apakah kurikulum merupakansuatu konsep dalam sistem persekolahan? Apakah kurikulum mencakup mengajar dan pengajaran? Sampai sejauh mana kegiatan belajar siswa menjadi bagiankurikulum? Apakah ruang lingkup kurikulum sebagai bidang studi? Beberapa pertanyaan yang lebih khusus, yang lebih berkenaan dengan karakteristik desainkurikulum, umpamanya apakah kurikulum harus memiliki serangkaian tujuankhusus? Apakah kurikulum perlu memiliki sejumlah materi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut? Apakah kurikulum perlu mengadakan rumusan yang lebihspesifik tentang rencana dan bahan pengajaran? Apakah perlu ada spesifika4itentang makna perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum?1.

Sumber Pengembangan KurikulumDari kajian sejarah kurikulum, kita mengetahui beberapa hal yang menjadisumber atau landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. Karena sekolahmempersiapkan anak bagi kehidupan orang dewasa, kurikulum terutama isikurikulum diambil dari kehidupan orang dewasa. Para pengembang kurikulummendasarkan kurikulumnya atas hasil analisis pekerjaan dan kehidupan orangdewasa.Dalam pengembangan selanjutnya, sumber ini menjadi luas meliputi.sernua unsur kebudayaan. Manusia adalah makhluk yang berbudaya, hidup dalamIingkungan budaya, dan turut menciptakan budaya. Untuk dapat hidup dalamIingkungan budaya, ia harus mempelajari budaya, maka budaya menjadi sumber utama isi kurikulum. Budaya ini mencakup ..einua disiplin ilmu yang telahditemukan dan dikembangkan para pakar, itilai-nilai adat-istiadat, perilaku, benda- benda, dan lain-lain.Sumber lain penyusunan kurikulum adalah anak. Dalam pendidikan *Wm pengajaran, yang belajar adalah anak. Pendidikan atau pengajaran I iiikanmemberikan sesuatu pada anak, melainkan menumbuhkan potensipolensi yangtelah ada pada anak. Anak menjadi sumber kegiatan pengajaran, ia menjadisumber kurikulum. Ada tiga pendekatan terhadap anak sebagai sumber kurikulum,yaitu kebutuhan siswa, perkembangan serta minat siswa. Jadi, ada pengembangankurikulum bertolak dari ,hutuhan-kebutuhan siswa, tingkat-tingkat perkembangansiswa, serta hal hal yang diminati siswa.Beberapa pengembang kurikulum mendasarkan penentuan kurikulumkepada pengalaman-pengalaman penyusunan kurikulum yang lalu. Pengalaman pengembangan kurikulum yang lalu menjadi sumber penyusunan kurikulumkemudian. Hal lain yang menjadi sumber penyusunan kurikulum adalah nilai-nilai. Beauchamp menegaskan bahwa nilai dapat merupakan sumber penentuan
keputusan yang dinamis. Pertanyaan pertama yang muncul dalam kurikulum yang berdasarkan nilai adalah: Apakah yang harus diajarkan di sekolah? Ini merupakan pertanyaan tentang nilai. Nilai-nilai apakah yang harus diberikan dalam pelaksanaan kurikulum? Nilai-nilai apa yang digunakan sebagai kriteria penentuan kurikulum dan pelaksanaan kurikulum.Terakhir yang menjadi sumber penentuan kurikulum adalah kekuasaansosial-politik. Di Amerika Serikat pemegang kekuasaan sosial-politik yangmenentukan kebijaksanaan dalam kurikulum adalah board of education lokal yangmewakili negara bagian. Di Indonesia, pemegang kekuasaan sosial- politik dalam penentuan kurikulum adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengahserta Dirjen Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan Balitbangdikbud. Pada pendidikan dasar dan menengah, kekuasaan penyusunan kurikulum sepenuhnyaada pada pusat, sedangkan pada perguruan tinggi rektor diberi kekuasaan untuk menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam penyusunan kurikulum.2.

Desain dan Rekayasa KurikulumTelah diutarakan sebelumnya bahwa ada dua subteori dari teori kurikulum,yaitu desain kurikulum (curriculum design) dan rekayasa kurikulum (curriculumengineering).Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum,hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsipprinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaannya. Dalamdesain kurikulum, ada dua dimensi penting, yaitu (1) substansi, unsur-unsur sertaorganisasi dari dokumen tertulis kurikulum, (2) model pengorganisasian dan bagian-bagian kurikulum terutama organisasi dan proses pengajaran.Menurut Beauchamp, kurikulum mempunyai tiga karakteristik, yaitu: (1)kurikulum merupakan dokumen tertulis, (2) berisi garis-garis besar rumusantujuan, berdasarkan garis-garis besar tujuan tersebut desain kurikulum disusun, (3)isi atau materi ajar, dengan materi tersebut tujuantujuan kurikulum dapat dicapai. Ada dua hal yang perlu ditambahkan dalam desain kurikulum. Pertama,ketentuan-ketentuan tentang bagaimana penggunaan kurikulum, serta bagaimanamengadakan penyemprunaan-penyempurnaan berdasarkan masukan dari pengalaman. Kedua kurikulum itu dievaluasi, baik bentuk desainnya maupunsistem pelaksanaannya.Rekayasa kurikulum berkenaan dengan bagaimana proses memfungsikankurikulum di sekolah, upaya-upaya yang perlu dilakukan para pengelolakurikuluin agar kurikulum dayat berfungsi sebaik-baiknya. Pengelola kurikulumdi sekolah terdiri atas para pengawas/periilik dan kepala sekolah, sedangkan padatingkat pusat adalah Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum BaLitbang Dikbuddan para Kasubdit/Kepala Bagian Kurikulum di Direktorat. Dengan menerima pelimpahan wewenang dari Menteri atau Dirjen, para pejabat pusat tersebutmerancang, mengembangkan, dan mengadakan penyempurnaan kurikulum. Jugamereka memberi tugas dan tanggung jawab menyusun dan mengembangkan berbagai bentuk pedoman dan petunjuk pelaksanaan kurikulum. Para pengelola didaerah dan sekolah berperan melaksanakan dan mengawasi pelaksanaankurikulumSeluruh sistem rekayasa kurikulum menurut Beauchamp mencakup limahal, yaitu 1) arena atau lingkup tempat dilaksanakannya berbagai proses rekayasakurikulum, (2) keterlibatan orang-orang dalam proses kurikulum, (3) tugas-tugasdan prosedur perencanaan kurikulum, (4) tugas-tugas dan prosedur implementasikurikulum, dan (5) tugas-tugas dan prosedur evaluasi kurikulum.Dari semua uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori kurikulum,Beauchamp (hlm. 82) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan teorikurikulum, yaitu:1.

Setiap teori kurikulum harus dimulai dengan perumusan (definisi) tentangrangkaian kejadian yang dicakupnya.2.

Setiap teori kurikulum harus mempunyai kejelasan tentang nilai-nilai dansumber-sumber pangkal tolaknya.3.

Setiap teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik dari desainkurikulumnya. 4.

Setiap teori kurikulum harus menggambarkan proses-proses penentuankurikulumnya serta interaksi di antara proses tersebut.5.

Setiap teori kurikulum hendaknya menyiapkan diri bagi proses penyempurnaannya.
D.

Buku Acuan
Beauchamp, George A. 1975. Curriculum Theory. Wilmettee, Illinois: TheKAGG Press.Sesuai dengan judulnya, yang dibahas dalam buku ini adalah suatu teorikurikulum. Buku ini merupakan edisi ketiga, dengan berpegang atas hasil-hasil penelitian. Edisi ini merupakan hasil penyempurnaan atas dua edisi sebelumnya.Seluruh isi buku ini terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama membahas teorikurikulum yang merupakan subteori dari pendidikan: teori kurikulum sebagaimasalah pendidikan, pembentukan teori, teori dalam pendidikan, teori kurikulum.Bagian selanjutnya menguraikan suatu analisis tentang isu-isu teoretis, problemadan alternatif pemecahan problema dalam pengembangan kurikulum. Bagianterakhir mengemukakan teori kurikulum hasil pengembangan/pemikiran penulissendiri, terutama ,difokuskan pada kurikulum sebagai bidang studi dari teorikurikulum. Karena Jebih banyak menguraikan kurikulum secara teoritis makasumbangan buku ini terutama dirasakan oleh para ahli kurikulum, ahli pendidikan,dan perencana pengajaran, begitupun para praktisi juga dapat mengambilmanfaatnya.Gordon, Peter and Lawton, Denis. 1978. Curriculum Change in the Nineteenthand Twentieth Centuries. London: Hodder and Stoughton.Yang dibahas dalam buku ini adalah perubahan-perubahan besar yangterjadi dalam kurikuldm selama abad ke-19 dan ke-20, serta faktor-faktor yangmempengaruhinya. Perubahan kurikulum dilatarbelakangi oleh perubahan atau perkembangan teori pendidikan yang mendasarinya. Teori pendidikanmempengaruhi penentuan isi maupun proses pengajaran. Perubahan kurikulumdipengaruhi oleh perkembangan masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perkembangan ilmu dan teknologi, revolusi industri, perpaduan antara pengetahuan-humanisme-agama, clan perubahan ideologi dari elitisme pada
demokrasi. Juga yang berperanan besar terhadap perubahan kurikulum adalah pemerintah dan kelompok.Bullough Jr. Robert, et. a!. 1984. Human Interest in Curriculum. New York,London: Teachers College Press, Columbia University.Buku ini menyajikan suatu hasil studi kritis terhadap pengaruh munculnyanilai-nilai sebagai akibat perkembangan teknologi. Karena pengaruh perkembangan teknologi pendidikan tidak lebih dari suatu latihan untuk mempersiapkan pekerja, prosesnya menekankan efisiensi dan kontrol. Struktur persekolahan yang ada memperkuat hal tersebut, sehingga terbentuk sikap dananggapan yang kurang menghargai kebebasan dan perkembangan manusia.Pendidikan harus memiliki keterbukaan, yang memungkinkan berpikir dan berbuat yang leluasa, agar memungkinkan pertumbuhan segi kognitif, etestis,maupun moral dengan sempurna. Akibat terlalu berjiwa teknologis makamempersempit arti pendidikan dan membatasi perkembangan lingkungan pendidikan yang kreatif. Pendidikan harus memperluas emansipasi manusia, bukan membatasinya. Hal itu tercapai melalui interaksi komunikatif. Penulismenentang technocratic mindedness dan menganjurkan critical atau philosophicalmindedness. Buku ini sangat berharga bagi para ahli pendidikan, ahli kurikulum,dan juga bagi guru-guru atau calon guru, baik di dalam merencanakan rnaupunmelaksanakan pendidikan dan pengajaran.Olson, David R, 1970, Cognitive Development, Academic Press Publishing Co., New York.Apa yang dikemukakan dalam karangan ini adalah suatu teori tentang perkembangan intelektual anak. Buku ini membahas tiga masalah teoretis utama,yaitu peranan bahasa dalam perkembangan intelektual, hubungan antara informasi perseptual dengan tingkah laku nyata, dan pengaruh pengajaran terhadap pembentukkan dan perkembangan konsep. Ketiga hal itu didukung oleh hasil penelitian dari delapan eksperimen tentang perkembangan konsep diagonal anak usia 3 sampai dengan 6 tahun. Eksperimen menunjukkan bahwa pengaruh mediagambar dan bahasasangat besar terhadap tingginya perkembangan keterampilan konseptual. I ebih jauh dibuktikan besarnya pengaruh kebudayaan terhadap porkembangan

intelektual anak. Apa yang dibahas dalam buku ini sangat herguna bagi para peneliti di bidang pendidikan, para ahli kurikulum dan pengajaran serta ahli bimbingan dan penyuluhan sebagai pegangan atau kihan perbandingan dalammelakukan tugas-tugasnya.
BAB 3LANDASAN FILOSOFIS DAN PSIKOLOGISPENGEMBANGAN KURIKULUM
Pendidikan mempunyai peranan sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia. Hal itu disebabkan pendidikan berpengaruh langsungterhadap perkembangan manusia, perkembangan seluruh aspek kepribadianmanusia. Kalau bidang-bidang lain seperti ekonomi, pertanian, arsitektur, dansebagainya berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia, pendidikan berkaitan langsung dengan pembentukan manusia. Pendidikan”menentukan” model manusia yang akan dihasilkannya.Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yangcukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaandan basil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, penyusunan kurikulumtidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkanlandasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Kalau landasan pembuatan sebuah gedung tidak kokohyang akan ambruk adalah gedung tersebut, tetapi kalau landasan pendidikan,khususnya kurikulum yang lemah, yang akan “ambruk” adalah manusianya.Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum,yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, serta perkembangan ilmu dan teknologi. Pada bab ini akan dibahas landasan filosofisdan landasan psikologis, sedangkan landasan sosial-budaya dan perkembanganilmu dan teknologi akan dibahas pada bab selanjutnya.
A.

Landasan Filosofis
Pendidikan berintikan interaksi antarmanusia, terutama antara pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebutterlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik danterdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksipendidikan tersebut,
merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar,yang esensial yaitu jawaban-jawaban filosofis.Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, iaharus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistematis, logis, dan mendalam. Pemikirandemikian dalam filsafat sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar-akarnya (radic berarti akar). Berfilsafat diartikan pula berpikir secara radikal, berpikir sampai ke akar. Secara akademik, filsafat berarti upayauntuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dankomprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.Berfilsafat berarti menangkap sinopsis peristiwa-peristiwa yang simpang siur dalam penga- laman manusia. Suatu cabang ilmu pengetahuan mengkaji satu bidang pengetahuan manusia, daerah cakupannya terbatas. Filsafat mencakupkeseluruhan pengetahuan manusia, berusaha melihat segala yang ada irti sebagaisatu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia didalamnya. Sering dikatakan bahwa filsafat merupakan ibu dari segala ilmu.Terdapat perbedaan pendekatan antara ilmu dengan filsafat dalammengkaji atau memahami alam semesta mi. Ilmu menggunakan pendekatananalitik, berusaha menguraikan keTeluruhan dalam bagian- bagian yang kecil danlebih kecil. Filsafat berupaya merangkum atau mengintegrasikan bagian-bagian kedalam satu’kesatuan yang menyeluruh dan bermakna. Ilmu berkenaan denganfakta-fakta sebagaimana adanya (Das Sem), berusaha melihat segala sesuatuspcara objektif, menghilangkan hal-hal yang bersifat subjektif. Filsafat melihatsegala sesuatu dari sudut bagaimana seharusnya (Das So/len), faktor-faktor subjektif dalam filsafat sangat berpengaruh. Filsafat dan ilmu mempunyaihubungan yang saling mengisi dan melengkapi (komplementer). Filsafatmemberikan landasan- landasan dasar bagi ilmu. Keduanya dapat memberikan bahan-bahan bagi manusia untuk membantu memecahkan berbagai masalahdalam kehidupannya.
Ada tiga cabang besar filsafat, yaitti metafisika yang membahas segalayang ada dalam alam ini, epistemologi yang membahas kebenaran dan aksiologiyang membahas nilai. Aliran-aliran filsafat yang kita kenal bertolak dari pandangan yang berbeda dalam ketiga hal itu.Filsafat membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusiatermasuk masalah-masalah pendidikan ini yang disebut filsafat pen- didikan.Walaupun dilihat sepintas, filsafat pendidikan ini hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan,tetapi antara keduanya yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapathubungan yang sangat erat. Menurut Donald Butler, filsafat memberikan arah danmetodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikanmemberikan bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis. Keduanyasangat berkaitan erat, malah menurut Butler menjadi satu.
1) Philosphy is primary and basic to an educational philosophy, 2) philosophy isthe flower not root of education, 3) educational philosophy is an independent discipline which might benefit from contact with general philosophy, but thiscontact is not essential, 4) philosophy and the theory of education is one (Butler,1957: 12).
Pendapat para filsuf umumnya memandang filsafat umum sebagai dasar dari filsafat pendidikan, tetapi John Dewey umpamanya mempunyai pandanganyang hampir sama dengan Butler. Bagi Dewey, filsafat dan filsafat pendidikanadalah sama, sebagaimana juga pendidikan menurut Dewey sama dengankehidupan. Seperti halnya dalam filsafat umum, dalam filsafat pendidikan pundikenal banyak pandangan atau aliran. Setiap pandangan mempunyai landasanmetafisika, epistemilogi, dan aksiologi tentang masalah pendidikan yang berbeda.Dalam tulisan ini akan dikemukakan salah satu pandangan tentang filsafat pendidikan, yaitu pandangan dari John Dewey. Hal itu tidak berarti bahwa pandangan tersebut paling sesuai untuk masyarakat kita atau paling disetujui oleh penulis.
1.

Dasar-dasar filsafat DeweyCiri utama filsafat Dewey adalah konsepsinya tentang dunia yang selalu berubah, mengalir, atau on going-ness. Prinsip ini membavva konsekuensi yangcukup jauh, bagi Dewey tidak ada yang menetap dan abadi semuanya berubah.Ciri lain filsafat Dewey adalah anti dualistik. Pandangannya tentang dunia adalahmonistik dan tidak lebih dari sebuah hipotesis.Filsafat Dewey lebih berkenaan dengan epistemologi dan tekanannyakepada proses berpikir. Proses berpikir merupakan satu dengan pemecahan yang bersifat tentatif, antara ide dengan fakta, antara hipotesis dengan hasil. Proses berpikir merupakan proses pengecekan dengan kejadiankejadian nyata. Dalamfilsafat Dewey kebenaran itu terletak dalam perbuatan atau truth is in the making,yaitu adanya persesuaian antara hipotesis dengan kenyataan.Dewey sangat menghargai peranan pengalaman, merupakan dasar bagi pengetahuan dan kebijakan. Experience is the only basis for knowledge andwisdom (Dewey, 1964, hlm. 101). Pengalaman itu mencakup kegiatan manusia, baik yang berbentuk aktif maupu pasif.Mengetahui tanpa mengalami adalah omong kosong. Dewey menolak sesuatu yang bersifat spekulatif.Pengertian pengalaman Dewey berbeda dengan kaum empiris lainnya,yang mengartikannya sebagai pengalaman melalui pengindraan. InstrumentalismeDewey menganggap bahwa rohani itu adalah interelasi yang kreatif antaraorganisme dengan lingkungannya, dengan waktu dan tempat.Pengalaman selain merupakan sumber dari pengetahuan, juga sumber nilai. Karena pengalaman selalu berubah maka nilai pun berubah. Nilai-nilaiadalah relatif, subjektif, dan hanya dirasakan oleh manusia. Sesuatu itu bernilaikarena diberi nilai oleh manusia, sesuatu dibutuhkan karena manusiamembutuhkannya, selalu dalam hubungannya dengan pengalaman. Nilai-nilai itutidak dapat diukur dan tidak ada hierarki nilai.
A
ll values are thus subjective and either intrinsic or instrumental …. Values being finally intrinsic, and feeling, it is held, being immeasurable, no scale of values,and of any two things felt as intrinsically valuable it is than another. To be felt as
worthwhile in itself is thus the ultimate orientation of value. (Dewey dalam Joe Park, (Ed). 1958, hlm. 185).
Tujuan perkembangan manusia adalah self realization. Pengertian self hagi Dewey adalah sesuatu yang konkret bersifat empiris tidak dapat dipisahkandari pengalaman dan lingkungan. Self realization hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan interaksi dengan yang lain.2.

Teori pendidikan DeweyApakah pendidikan menurut John Dewey? Pendidikan berarti perkem- bangan, perkembangan sejak lahir hingga menjelang kematian. Jadi, pendidikanitu juga berarti sebagai kehidupan. Bagi Dewey, Education is Ntowlh,development, life. Ini berarti bahwa proses pendidikan itu tidak niempunyaitujuan di luar dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu Itendiri. Proses pendidikan juga bersifat kontinu, merupakan reorganisasi, teknnstruksi, dan pengubahan pengalaman hidup. Jadi, pendidikan itu mei npakan organisasi pengalaman hidup, pembentukan kembali hidup, dan juga perubahan pengalamanhidup sendiri merupakan organisasi pengalaman hidup, pembentukan kembali pengalaman hidup, dan juga perubahan pengalaman hidup sendiri.Pendidikan merupakan reorganisasi dan rekonstruksi yang konstan dari pengalaman. Pada setiap saat ada tujuan, perbuatan pendidikan selalu ditujukanuntuk mencapai tujuan. Setiap fase perkembangan kehidupan, masa kanak-kanak,masa pemuda, dan dewasa, semuanya merupakan fase pendidikan, semua yangdipelajari pada fase-fase tersebut mempunyai arti sebagai pengalaman;Pendidikanitu tidak berakhir, kecuali kalau seseorang sudah mati.Pengalaman sebagai suatu proses yang aktif membutuhkan waktu, waktuyang kemudian menyempurnakan waktu sebelumnya. Seluruh proses pendidikanitu membentuk pengertian-pengertian tentang benda, hubungan-hubungan, dansegala sesuatu tentang kehidupannya. Konstruksi pengalaman ini tidak hanya bersifat pribadi (individual), tetapi juga bersifat sosial. Pendidikan merupakansuatu lembaga yang konstruktif untuk memperbaiki masyarakat. Realisasi pendidikan dalam bentuk perkembangan bukan hanya perkembangan anak dan pemuda-pemuda, melainkan juga perkembangan masyarakat. Tujuan pendidikan diarahkan untuk mencapai suatu kehidupan yangdemokratis. Demokratis bukan dalam arti politik, melainkan sebagai cara hidup bersama sebagai way of life, pengalaman bersama dan komunikasi bersama.Tujuan pendidikan merupakan usaha agar individu melanjutkan pendidikannya.Tujuan pendidikan terletak pada proses pendidikan itu sendiri, yakni kemampuandan keharusan individu meneruskan perkembangannya. John Dewey menegaskan bahwa pendidikan itu tidak mernpunyai tujuan, hanya orang tua, guru, danmasyarakat yang mempunyai tujuan. And it is well to remind ourselves thateducation as such has no aims. Only persons, parents, and teacher etc., have aims,not an abstarct idea like education. (John Dewey, 1964, hlm. 177).Untuk mengetahui bagaimanakah proses belajarterjadi pada anak, baiklahkita lihat bagaimana syarat-syarat untuk pertumbuhan. Pendidikan sama dengan pertumbuhan. Syarat pertumbuhan adalah adanya kebelumdewasaan (immaturity),yang berarti kemampuan untuk berkembang. Immaturity tidak berarti negatif,tetapi positif, kemampuan, kecakapan, dan kekuatan untuk tumbuh. lnimenunjukkan bahwa anak adalah hidup, ia memiliki semangat untuk berbuat.Pertumbuhan bukan sesuatu yang harus kita berikan, pertumbuhan adalah sesuatuyang harus mereka lakukan sendiri.Ada dua sifat dari immaturity yakni kebergantungan dan plastisitas.Kebergantungan berarti kemampuan untuk menyatakan hubungan sosial, dan iniakan menyebabkan individu itu matang dalam hubungan sosial. Sebagai hasilnya,akan tumbuh kemampuan interpendensi atau saling kebergantungan antaraanggota masyarakat yang satu dengan yang lain. Plastisitas mengandung pengertian kemampuan untuk berubah. Plastisitas juga berarti habitat yaitukecakapan menggunakan keadaan lingkungan sebagai alat untuk mencapai tujuan, bersifat aktif mengubah lingkungan.Kapankah proses belajar itu dimulai dan kapankah berakhir? Sesuaidengan pandangan John Dewey, bahwa pendidikan itu adalah pertumbuhan itusendiri. Karena itu, pendidikan tersebut dimulai sejak lahir dan berakhir pada saatkematian. Demikian juga proses belajar tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan. Pendidikan adalah pengalaman, yaitu suatu proses yang berlangsung

terus-menerus. Bagaimana hubungan antara proses belajar, pengalaman, dan berpikir?Pengalaman itu bersifat aktif dan pasif. Pengalaman yang bersifat aktif herarti berusaha, mencoba, dan mengubah, sedangkan pengalaman pasif herartimenerima dan mengikuti saja. Kalau kita mengalami sesuatu maka kita berbuat,sedangkan kalau mengikuti sesuatu kita memperoleh akibat atau hasil. Belajar dari pengalaman berarti menghubungkan kemunduran dengan kemajuan dalam perbuatan kita, yakni kita merasakan kesenangan atau penderitaan sebagai suatuakibat atau hasil. ”
To learn from experience is hi make a backward and forward connection between what we have do to things and what we enjoy or suffer fromthing in consequence (Dewey, dalam Jo Park, 1958: 94).
Belajar dari pengalaman adalah bagaimana menghubungkan pengalamankita dengan pengalaman masa lalu dan yang akan datang. lielajar dari pengalaman berarti mempergunakan daya pikir reflektif (reflecI we thinking), dalam pengalaman kita. Pengalaman yang efektif adalah

pengalaman reflektif. Ada limalangkah berpikir reflektif menurut John Dewey, yaitu:

1.

merasakan adanya keraguan, kebingungan yang menimbulkan masalah,2.

mengadakan interpretasi tentatif (merumuskan hipotesis),3.

mengadakan penelitian atau pengumpulan data yang cermat,4.

memperoleh hasil dari pengujian hipotesis tentatif,5.

hasil pembuktian sebagai sesuatu yang dijadikan dasar untuk berbuat.Langkah-langkah berpikir reflektif ini dipergunakan sebagai metode belajar dalam pendekatan pendidikan proyek dari John Dewey, yang sampaidengan tahun 50-an sangat populer. Belajar seperti halnya pendidikan adalah proses pertumbuhan, belajar, dan berpikir adalah satu.Dalam penyusunan bahan ajaran menurut Dewey hendaknyamemperhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1) Bahan ajaran hendaknya konkret,dipilih yang betul-betul berguna dan dibutuhkan, dipersiapkan secara sistematisdan mendetil, 2) Pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil belajar,hendaknya ditempatkan, dalam kedudukan yang berarti, yang memungkinkandilaksanakannya kegiatan baru, dan kegiatan yang lebih menyeluruh. Bahan pelajaran bagi anak tidak bisa semata-rnata diambil dari buku pelajaran, yang diklasifikasikan dalam mata-mata pelajaran yang terpisah. Bahan pelajaran harus berisikan kemungkinan-kemungkinan, harus mendorong anak untuk bergiat dan berbuat. Bahan pelajaran harus memberikan rangsangan padaanak-anak untuk bereksperimen. Demikian- lah dengan bahan pelajaran ini, kitamengharapkan anak-anak yang aktif, anak-anak yang bekerja, anak-anak yang bereksperimen. Bahan pelajaran tidak diberikan dalam disiplin-disiplin ilmu yangketat, tetapi merupakan kegiatan yang berkenaan dengan sesuatu masalah(problem).Peranan guru bukan hanya berhubungan dengan mata pelajaran,melainkan dia harus menempatkan dirinya dalam seluruh interaksinya dengankebutuhan, kemampuan, dan kegiatan siswa. Guru juga harus dapat memilih bahan-bahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan.Metode mengajar merupakan, penyusunan bahan pelajaran yangmemungkinkan diterima oleh para siswa dengan lebih efektif. Sesuatu metodetidak pernah terlepas dari bahan pelajaran, kita dapat membedakan cara berbuat,tetapi cara ini hanya ada sebagai cara berhubungan dengan bahan atau materitertentu. Metode mengajar harus fleksibel dan menimbulkan inisiatif kepada parasiswa.Sekolah merupakan suatu lingkungan khusus, bagian dari lingkunganmanusia, yang mempunyai peranan dan fungsi khusus. Fungsi-fungsi khusus darisekolah adalah:1.

Menyediakan lingkungan yang disederhanakan. Tidak mungkin kitamemasukkan seluruh peradaban manusia yang sangat kompleks itu kesekolah. Demikian pula, para siswa tidak mungkin dapat memahami seluruhmasyarakat yang sangat kompleks itu. Itulah sebabnya sekolah merupakanmasyarakat atau lingkungan hidup manusia yang disederhanakan.2.

Membentuk masyarakat yang akan datang yang lebih baik. Para siswa tidak belajar dari masa lampau, tetapi belajar dari masa sekarang untuk memperbaiki masa yang akan datang.

3.

Mencari keseimbangan dari bermacam-macam unsur yang ada di dalamlingkungan. Sekolah mernberi kesempatan kepada setiap individu/siswauntuk memperluas lingkungan hidupnya.Sekolah sebagai lingkungan yang khusus hendaknya memberikan pengarahan sosial, dengan cara mendorong kegiatan-kegiatan yang bersifatintrinsik, dalam suatu arah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, melaluiimitasi, persaingan sehat, kerja sama, dan memperkuat kontrol.Dalam sekolah progresif, yaitu sekolah-sekolah yang menerapkan sistemPendidikan Progresif dari John Dewey, sumber dari kontrol sosial terletak padasifat kegiatannya yang berisikan kerja sama sosial. Di dalam kerja sama sosial ini,setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan dan untuk memikul tanggung jawab. Sekolah dan kelas diciptakan sebagai suatu organisasisosial. Di dalam organisasi sosial itu setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan, melakukan kegiatan-kegiatan, berpartisipasi, semuanyaitu merupakan control social.Di dalam kontrol sosial ini tidak ada peraturan umum, sebab kontrolsosial tidak datang dari luar, tetapi timbul dari kegiatannya sendiri. Tugas guruadalah memberikan bimbingan dan mengusahakan kerja sama secara individual.Para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok, dan bekerja dalam kelompok, bahkan guru termasuk sebagai anggota kelompok. Tentu saja sebagai orangdewasa, is mempunyai tanggung jawab yang khusus, yaitu memelihara interaksidan komunikasi, mendorong kelompok untuk melakukan kegiatan-kegiatanseperti dalam kehidupan masyarakat. Guru bukan atasan, penguasa, apalagidiktator, melainkan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok.
B.

Landasan Psikologis
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaituantara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena kondisi psikologisnya. Manusia berbeda dengan benda atau tonaman, karena benda atautanaman tidak mempunyai aspek psikologis. Manusia juga lain dari binatang,karena kondisi psikologis manusia jauh tinggi tarafnya dan lebih kompleks
dibandingkan dengan binatang. Iterkat kemampuan-kemampuan psikologis yanglebih tinggi dan kompleks inilah sesungguhnya manusia menjadi lebih maju, lebih banyak menii liki kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan dibandingkandengan binatang.Apa yang dimaksud dengan kondisi psikologis itu? Kondisi psikologismerupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang din yatakandalani berbagai bentuk perilaku dalani interaksi den gan lingkungannya. Perilaku- perilaku tersebut merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik. yangtampak maupun yang tidak tampak, perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.Kondisi psikologis setiapµindividu berbeda, karena perbedaan tahap perkembangannya, latar belakang sosial-budaya, juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Kondisi ini pun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan, dan status individu di antara individu- individu yanglainnya. Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengankondisi psikologis para peserta didik rnaupun kondisi pendidiknya. Interaksi pendidikan di rumah berbeda dengan di sekolah, interaksi antara anak dan guru pada jenjang sekolah dasar berbeda dengan jenjang sekolah lanjutan pertarna dansekolah lanjutan atas.Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalahmembantu perkembangan peserta didik secara optimal. Sejak kelahiran sampaimenjelang kematian, anak selalu berada dalam proses perkembangan, perkembangan seluruh aspek kehidupannya. Tanpa pendidikan di sekolah, anak tetap berkembang, tetapi dengan pendidikan di sekolah tahap perkembangannyamenjadi lebih tinggi dan lebih luas. Apa yang dididikkan dan bagaimana caramendidiknya, perlu disesuaikan dengan pola-poly perkembangan anak.Karakteristik perilaku individu pada tahap-tahap perkembangan, serta pola-pola perkembangan individu menjadi kajian Psikologi Perkembangan.Perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak sebagian besar terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan, maupun pemecahan masalah.Pendidik atau guru melakukan berbagai upaya, dan menciptakan berbagai
kegiatan dengan dukungan berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar.Cara belajar-mengajar mana yang dapat memberikan hasil secara optimal serta bagaimana proses pelaksanaannya membutuhkan studi yang sistematik danmendalam. Studi yang demikian merupakan bidang pengkajian dari PsikologiBelajar.Jadi, minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangankurikulum, yaitu Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar. Keduanyasangat diperlukan, baik di dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.1.

Psikologi perkembanganPsikologi Perkembangan membahas perkembangan individu sejak masakonsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengandewasa.a.

Metode dalam psikologi perkembanganPengetahuan tentang perkembangan individu diperoleh melalui studiyang bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik, atau studikasus. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individumelalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari saat lahir sampai dengan dewasa, seperti yang pernahdilakukan oleh Williard C. Olson. Metode cross sectional pernah -dilakukan olehArnold Gessel. Ia mempelajari beribu-ribu,. anak clan berbagai tingkatan usia,mencatat ciri-ciri fisik dan mental, pola-pola perkembangan dan kemampuan,serta perilaku mereka dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya.Studi ini banyak diaralikan mempelajari perkembangan anak pada masa- masasebelumnya, terutama pada masa kanak-kanak (balita). Menurut mereka, pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa balita ini dapat mengganggu perkembangan pada masa-masa berikutnya. Metode sosiologik digunakan olehRobert Havighurst. Ia mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akantugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. Tuntutan akan
tugas-tugas kehidupan masyarakat ini oleh Havighurst disebut sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Ada seperangkat tugas-tugas perkembanganyang harus dikuasai individu dalam setiap tahap perkembangan. Metode lain yangsering digunakan untuk mengkaji perkembangan anak adalah studi kasus. Denganmempelajari kasus-kasus tertentu, para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. Studi demikian pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak.Individu apakah itu, anak ataupun orang dewasa merupakan kesatuan jasmani dan rohani yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan menunjukkankarakteristik-karakteristik tertentu yang khas. Individu manusia adalah mesuatuyang sangat kompleks tetapi unik. Ia memiliki banyak aspek Neperti aspek jasmani, intelektual, sosial, emosional, moral, tetapi keseluruhannya membentuk satu kesatuan yang khas.Walaupun individu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah- pisahkan, untuk mempermudah penelitian, biasanya pembahasan dilakukan per aspek perkembangan. Hal itu berarti aspek tertentulah yang mendapatkan sorotanutama, yang menjadi fokus pengkajian, tetapi tidak berarti aspek-aspek lainnyadiabaikan. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak padasetiap aspek tidak selalu sama. Seorang anak mungkin lebih cepat perkembangannya pada tahap tertentu, tetapi lambat pada tahap lainnya, atau perkembangan aspek tertentu lebih cepat dibandingkan dengan aspek lainrtya.Para ahli Psikologi Perkem- bangan tidak selalu mempunyai pendapat yang samatentang perkem- bangan, baik secara menyeluruh maupun per aspek perkembangan. Hal itu didasari oleh perbedaan asumsi yang menjadi titik tolaknya, atau perbedaan pendekatan yang mereka pakai, populasi yangdigunakan, atau aspek perkembangan yang menjadi fokus. Adanya perbedaan- perbedaan tersebut sering menimbulkan kebingungan pada para guru, tetapi justruakan memperluas dan memperkaya pengetahuan para pemakai teori-teori perkembangan anak. b.

Teori perkembanganDikenal ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu,yaitu pendekatan pentahapan (stage approach), pendekatan diferensial (dif-ferential approach), dan pendekatan ipsatif (ipsative approach). Menurut pendekatan pentahapan, perkembangan individu berjalan melalui tahaptahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentuyang berbeda dengan tahap yang lainnya. Pendekatan diferensial melihat bahwaindividu memiliki persamaan dan perbedaan. Atas dasar persamaan dan perbedaantersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. Kitamengenal ada kelompok individu berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, statussosial-ekonomi, dan sebagainya. Pengelompokan individu adakalanya jugadidasarkan atas kesamaan karakteristiknya. Berkenaan dengan hal itu dikenal pengelompokan yang bersifat bipolar, seperti:Introvert– ekstravertDominan– submisif agresif –pasif aktivitas tinggi– aktivitas rendahkholerik ±melanholik Kedua pendekatan tersebut berusaha untuk menarik atau membuatgeneralisasi yang berlaku untuk semua individu. Apakah dalam kenyataannyademikian? Dalam kenyataan seringkali ditemukan adanya sifatsifat individual,yang hanya dimiliki oleh seorang individu dan tidak dimiliki oleh yang lainnya.Pendekatan yang berusaha melihat karakteristik individu-individu inilah yangdikelompokkan sebagai pendekatan isaptif.Dari tiga pendekatan itu yang banyak dianut oleh para ahli PsikologiPerkembangan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan ini lebih disenangikarena lebih jelas menggambarkan proses ataupun.urutan perkembangan dankemajuan individu. Di samping ketiga pendekatan itu, ada beberapa ahli yangmengombinasikan suatu pendekatan dengan pendekatan yang lain. Kombinasi inisering dipandang dapat memperlengkap deskripsi tentang perkembangan individu.
Dalam pendekatan pentahapan, dikenal dua variasi. Pertama, pendekatanyang bersifat menyeluruh rnencakup segala segi perkembangan, seperti perkembangan fisik dan gerakan motorik, sosial, intelektual, moral, emosional,religi, dan sebagainya. Kedua, pendekatan yang bersifat khusus mendeskripsikansalah satu segi atau aspek perkembangan saja. Dalam pentahapan yang bersifatmenyeluruh dikenal tahap-tahap perkembangan dari Jean Jacques Rousseau, G.Stanley Hall, Havighurst dan lain-lain.Rousseau membagi seluruh masa perkembangan anak a tas empat tahap perkembangan. Masa bayi (infancy), usia 0-2 tahun merupakan tahap perkembangan fisik, menurut Rousseau sebagai binatang yang sehat. Masa anak (childhood), usia 2-12 tahun, masa perkembangan sebagai manusia primitif. Masaremaja awal (pubescence), usia 12-15 tahun, masa bertualang yang ditandaidengan perkembangan intelektual dan kemampuan nalar yang pesat. Masa remaja(adolescene), usia 15-25 tahun masa hidup sebagai manusia yang beradab, masa pertumbuhan seksual, sosial, moral, dan kata hati.Stanley Hall adalah salah seorang ahli Psikologi Perkembangan penganutteori evolusi. Hall menerapkan teori rekapitulasi, salah satu konsep dalam teorievolusi, pada perkembangan anak. Menurut teori rekapitulasi, perkembanganindividu merupakan rekapitulasi dari perkembangan spesiesnya (ontogenyrecapitulates philogeny). Hall membagi keseluruhan masa perkembangan anak atas empat tahap. Masa kanakkanak (infancy), usia 0-4 tahun, merupakan masakehidupan sebagai 1,matang melata dan berjalan. Masa anak (childhood), usia 4-8tahun, masa pemburu. Masa Puer (youth), usia 8-12 tahun, masa manusia belum beradab. Masa remaja (adolescence), usia 12/13 tahun sampai dewasa, iiierupakanmasa manusia beradab.Robert J. Havighurst menyusun fase-fase perkembangan atas dasar problema-problema yang harus dipecahkannya dalam setiap fase. Tuntutan akankemampuan memecahkan problema dalam setiap fase perkembangan ini olehHavighurst disebutnya sebagai tugas-tugas perkembangan (devel- opmentaltasks). Havighurst membagi seluruh masa perkembangan anak atas lima fase,yaitu masa bayi (infancy) dari 0-1/2 tahun, masa anak awal (early childhood) 2/3-5/7 tahun, masa anak (late chilhood) dari 5 / 7-masa pubesen, masa adolesen awal
(early adolescence) dari pubesen ke pubertas, dan masa adolesen (lateadolescence) dari masa pubertas sampai dewasa. Untuk setiap fase, perkembanganHavighurst menghimpun sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasaianak. Dikuasai atau tidak dikuasainya tugas-tugas perkembangan pada suatu fase berpengaruh bagi penguasaan tugas pada fase-fase berikutnya.Ada sepuluh kelompok tugas perkembangan yang harus dikuasai anak pada setiap fase yang membentuk pola, yaitu pola:1.

kebergantungan-keberdirisendirian,2.

memberi-menerima kasih sayang,3.

hubungan sosial,4.

perkembangan kata hati,5.

peran bio-sosio dan psikologis,6.

penyesuaian dengan perubahan badan,7.

penguasaan perubahan badan dan motorik,8.

belajar memahami dan mengontrol lingkungan fisik,9.

pengembangan kemampuan konseptual dan sistem simbol,10.

kemampuan melihat hubungan dengan alam semesta.Dalam pendekatan pentahapan yang bersifat khusus, kita mengenal pentahapan- pentahapan dari Piaget, Kohlberg, Erikson, dan sebagainya.Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan dari kemam- puankognitif anak. Dalam perkembangan kognitif menurut Piaget, yang terpentingadalah penguasaan dan kategori konsep-konsep. Melalui penguasaan konsep-konsep itu, anak mengenal lingkungan dan memecahkan berbagai problema yangdihadapi dalam kehidupannya.Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut konsep Piaget,yaitu:1.

tahap Sensorimotor, usia 0-2 tahun;2.

tahap Praopersional, usia 2-4 tahun;3.

tahap Konkret Operasional, usia 7-11 tahun;4.

tahap Formal Operasional, usia 11-15 tahun.Tahap Sensorimotor disebut juga masa descriminating and labeling. Padamasa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang, dan ruang yang dekat saja. Masa praoperasional atau prakonseptualdisebut juga masa intuitif dengan kemampuan menerima perangsang yangterbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, pemikirannya masihstatis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas.Masa konkret operasional disebut juga masa performing operation. Pada tahap inianak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan,menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi. Masa formal operasional disebut juga masa proportional thinking, pada masa ini anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi. Mereka sudah mampu berpikir secara deduktif, induktif,menganalisis, menyintesis, mampu berpikir abstrak dan berpikir reflektif, sertamemecahkan berbagai masalah.Lawrence Kohlberg mengembangkan suatu teori tentang perkembanganmoral kognitif dengan mengacu kepada teori Piaget. Berdasarkan atas hasil-hasil penelitiannya yang cukup lama, Kohlberg menemukan ada tiga tahap perkembangan moral kognitif. Masing-masing tahap terdiri atas dua tingkatansehingga seluruhnya meliputi enam tingkatan, yaitu:Tahap I Preconventional moral reasoningTingkat 1. Obedience and punishment orientationsTingkat 2. Naively egoistic orientationTahap II Conventional moral reasoningTingkat 3. Good boy orientationTingkat 4. Authority and social order maintenance orientationTahap III Postconventional moral reasoningTingkat 5. Contractual legalistic orientationTingkat 6. Conscience or principle orientationPada tahap prakonvensional, pertimbangan moral seseorang mengacu keluar, kepada objek-objek dan peristiwa yang konkret dan bersifat fisik. Mereka belum mampu memberi pertimbangan moral atas standar sosial. Tingkatkeputusan dan hukuman
(obedience and punishment orientation)
diwarnai olehkecenderungan berbuat baik atau tidak berbuat salah karena takut akan hukuman.Acuan perbuatan adalah kekuasaan dan kekuatan. Mereka patuh karena takutdihukum, segala perbuatannya dikontrol oleh kekuatan-kekuasaan yang datang dari luar. Tingkat kebaikan sebagai alat (naively egoitistic orientation) suatu perbuatan dipandang baik apabila menguntungkan atau memberi kesenangankepada dirinya atau orang-orang yang dekat dengan dirinya.Tahap kedua adalah pertimbangan moral konvensional. Pada tahap ini perilaku dinilai atas harapan orang lain atau orang banyak. Suatu perbuatandipandang baik apabila sesuai dengan harapan orang banyak atau masyarakat.Tahap ini meliputi dua tingkat, yaitu tingkat sebagai anak baik dan tingkatmemelihara ketertiban dan peraturan masyarakat. Tingkat anak/orang baik, perilaku baik, atau jahat dilihat dari penilaian orang lain. Kalau seseorang berbuatuntuk kepentingan orang lain atau orang banyak, dinilai sebagai perbuatan baik.Tingkat keempat memelihara ketertiban dan peraturan masyarakat, suatu perbuatan dipandang baik bila perbuatan lersebut sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang ada dalam masyarakat, atau sejalan dengan tuntutan dan kebiasaanmasyarakat.Tahap ketiga, pertimbangan moral pascakonvensi. Pada tahap ini pertimbangan moral didasarkan atas pandangan yang bersifat relatif, unsur-unsur subjektif dari aturan sosial. Pranata dan aturan-aturan sosial bukan sesuatu yangabsolut, bukan satu-satunya yang benar, tetapi juga ada kebenaran-kebenaran lain.Tahap pascakonvensi mempunyai dua Inigkatan, yaitu tingkat pertimbanganlegalistik kontraktual, dan tingkat pertimbangan kata hati. Pada tingkat legalistik kontraktual, pertimbangan perbuatan baik atau jahat didasarkan atas persetujuantidak tertulis antara pribadi dan masyarakat. Seseorang tidak mencuri karena perbuatan mencuri akan merugikan orang lain. Pada tingkat pertimbangan katahati, baik tidak baik didasarkan atas nilai-nilai yang bersifat universal, prinsip- prinsip yang mendasar.Seseorang menghargai orang lain betul-betul sebagai manusia, tanpamehhat atribut-atribut yang disandangnya, apakah karena gelar, pangkat, statusilmu, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Seseorang berbuat baik karena dia yakin bahwa perbuatan tersebut baik.Erick Homburger Erikson merupakan salah seorang tokoh psiko- analisis pengikut Sigmund Freud. Ia memusatkan studinya terhadap perkembangan psikososial. Ada delapan tahap perkembangan psikososial menurut Erikson, dan
tahap-tahap tersebut paralel dengan tahap perkembangan psikososial dari Freud,seperti dapat dilihat pada Bagan 3.1BAGAN 3. Perkembangan psikososial(Diadaptasi dari Erikson, 1959, hlm. 166)PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL2.

Psikologi belajar Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar. Banyak sekali definisi tentang belajar. Secara sederhana, belajar dapatdiartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan tingkah laku balk yang berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. Peruhahan-perubahan perilaku yang terjadi karena instink atau karenakematangan serta pengaruh hal-hal yang bersifat kimiawi tidak termasuk belajar.Menurut Gagne (1965, hlm. 5) perubahan tersebut berkenaan dengan disposisiatau kapabilitas individu,

L
earning is a change in human disposition or capability, which can be retained, and which is not simply ascribable to the pro-cess of growth
. Hilgard dan Bower menambahkan bahwa peruhahan itu terjadi

karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, sebagai reaksi terhadapsituasi yang diliadapinya. Menurut mereka belajar adalah :
The process by which an activity originates or is changed throught reacting to anencountered situation, provided that the characteristics of the change in activitycannot be explaned on the basis of native response tendecies, maturation, or temporary states of the organism (e.g. fatigue, drug etc.) (Iiilgard dan Bower,1966, hlm. 2).
Masih banyak definisi tentang belajar dan definisi-definisi tersebut bersumber pada teori-teori belajar tententu. Menurut Morris L. Bigge dan MauriceP. Hunt (1980, hlm. 226-227) ada tiga keluarga atau rumpun teori belajar, yaituteori disiplin mental, behaviorisme, dan Cognitive Gestalt Field.Menurut rumpun teori disiplin mental dari kelahirannya atau secaraherediter, anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Belajar merupakan upayauntuk mengembangkan potensi-potensi tersebut. Ada beberapa teori yangtermasuk rumpun disiplin mental yaitu: disiplin mental theistik, disiplin mentalhumanistik, naturalisme, dan apersepsi.Teori disiplin mental theistik berasal dari Psikologi Daya. Menurut teoriini individu atau anak mempunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggap, mengingat, berpikir, memecahkan masalah, clansebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Kalau daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapiatau memecahkan berbagai masalah.Teori disiplin mental humanistik bersumber pada psikologi humanismeklasik dari Plato dan Aristoteles. Teori ini hampir sama dengan teori pertama bahwa anak memiliki potensi-potensi. Potentsi-potensi perlu d ilatih agar berkembang. Perbedaannya dengan teori disiplin mental IIu teori tersebutmenekankan bagian-bagian, latihan bagian, atau aspek tertentu. Teori disiplinmental humanistik lebih menekankan keseluruhan, keutuhan. Pendidikannyamenekankan pendidikan umum (Neneml education). Kalau seseorang menguasaihal-hal yang bersifat umum okan mudah ditransfer atau diaplikasikan kepada hal-hal lain yang bersifat khusus.
Teori naturalisme atau natural unfoldment atau self actualization. Teori ini berpangkal dari Psikologi Naturalisme Romantik dengan tokoh utamanya JeanJacques Rousseau. Sama dengan kedua teori sebelumnya bahwa anak mempunyaisejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini adalah mereka berasumsi bahwa individu bukan saja mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dankemampuan untuk belajar dan berkembang sendiri. Agar anak dapat berkembangdan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya pendidik atau guru perlumenciptakan situasi yang permisif yang jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal.Teori belajar yang keempat adalah teori apersepsi, disebut jugaHerbartisme, bersumber pada Psikologi Strukturalisme dengan tokoh utamanyaHerbart. Menurut aliran ini belajar adalah membentuk massa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu massa apersepsi, dan massa apersepsi inidigunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya. Demikianseterusnya semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula massaapersepsinya.Rumpun atau kelompok teori belajar yang kedua adalah Behaviorismeyang biasa juga disebut S-R Stimulus-Respons. Kelompok ini mencakup tiga teoriyaitu S-R Bond, Conditioning, dan Reinforcement. Kelompok teori ini berangkatdari asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki/ membawa potensi apa-apadari kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasaldari lingkungan. Lingkunganlah, apakah lingkungan keluarga, sekolah, ataumasyarakat; lingkungan manusia, alam, budaya, religi yang membentuknya.Kelompok teori ini tidak mengakui sesuatu yang bersifat mental. Perkembangananak menyangkut nyata yang dapat dilihat, diamati.Teori S-R Bond (Stimulus-Responce) bersumber dari Psikologi Koneksio-nisme atau teori asosiasi dan merupakan teori pertama dari rumpun Behaviorisme.Menurut konsep mereka, kehidupan ini tunduk kepada hukum stimulus-responsatau aksi-reaksi. Setangkai bunga dapat merupakan suatu stimulus dan diresponsoleh mata dengan cara meliriknya. Kesan indah yang diterima individu dapat
merupakan stimulus yang mengakibatkan terespons memetik bunga tersebut.Demikian halnya dengan belajar, terdiri atas rentetan hubungan stimulus respons.Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus respons sebanyak- banyaknya. Tokoh utama teori ini adalah Edward L. Thorndike. Ada tiga hukum belajar yang sangat terkenal dari Thorndike, yaitu Law of readness, law of exercise or repetition dan law of effect (Bigge dan Thurst, 1980, hlm. 273).Menurut hukum kesiapan, hubungan antara stimulus dan respons akanterbentuk atau mudah terbentuk apabila telah ada kesiapan pada sistem syaraf individu. Selanjutnya, hukum latihan atau pengulangan, hubungan antara stimulusdan respons akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang-ulang. Menuruthukum akibat (law of effect), hubungan stimulus dan respons akan terjadi apabilaada akibat yang menyenangkan.Teori kedua dari rumpun behaviorisme adalah conditioning atau stimulus-responce with conditioning. Tokoh utama teori ini adalah Watson, terkenaldengan percobaan conditioning pada anjing. Belajar atau pembentukan hubunganantara stimulus dan respons perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Sebelum anak-anak masuk kelas dibunyikan bel, demikian terjadi setiap hari dan setiap saat pertukaran jam pelajaran. Bunyi bel menjadi kondisi bagi anak sebagai tandamemulai pelajaran di sekolah. demikian juga dengan waktu makan pagi, siang,dan makan malam.Teori ketiga adalah reinforcement dengan tokoh utamanya C.L. Hull. Teoriini berkembang dari teori psikologi, reinforcement, merupakan perkembanganlebih lanjut dari teori S-R Bond dan conditioning. Kalau pada teori conditioning,kondisi diberikan pada stimulus, maka pada reinforcement kondisi diberikan padarespons. Karena anak belajar sungguh-sungguh (stimulus) selain is menguasai apayang dipelajarinya (respons) maka guru memberi angka tinggi, pujian, mungkin juga hadiah. Angka tinggi, pujian dan hadiah merupakan reinforcement, supaya pada kegiatan belajarnya akan Iebih giat dan sungguh-sungguh.Di dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh reinforcement kitatemukan seperti pemberian pujian, hadiah, bonus, insentif, piala, medali, piagam penghargaan, kalpataru, adipura, serta lencana sampai dengan parasamya, dan bintang mahaputra. Di samping reinforcement positif seperti itu dikenal pula
reinforcement negatif untuk mencegah atau menghilangkan suatu perbuatan yangkurang baik atau tidak disetujui masyarakat. Contoh reinforcement negatif adalah: peringatan, teguran, ancaman, sanksi, litikuman, pemotongan gaji, penundaankenaikan pangkat, dan sebagainya.Rumpun ketiga adalah Cognitive Gestalt Field. Teori belajar pertama darirumpun ini adalah teori insight. Aliran ini bersumber dari Psikologi Gestalt Held.Menurut mereka belajar adalah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi .ipabila individumenemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur .1ng ada dalamlingkungan, termasuk struktur tubuhnya sendiri. Gestalt Field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan, riksploratif, imajinatif, dankreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra 11.1ri atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan.
To state it differently, insight is the sensed way through or solution of a prob-lematic situation…. We might say that an insight is a kind of intelligent feel we get about a situation that permits us to continue to strive actively to serve our purposes. (Bigge dan Hunt, 1980, hlm. 293).
Teori belajar Goal Insight berkembang dari psikologi configurationlism.Menurut mereka, individu selalu berinteraksi dengan lingkungan. Perbuatanindividu selalu bertujuan, diarahkan kepada pembentukan hubungan denganlingkungan. Belajar merupakan usaha untuk mengembangkan pemahaman tingkattinggi. Pemahaman yang bermutu tinggi (tingkat tinggi) adalah pemahaman yangtelah teruji, yang berisi kecakapan menggunakan suatu objek, fakta, proses,ataupun ide dalam berbagai situasi. Pemahaman tingkat tinggi memungkinkanseseorang bertindak inteligen, berwawasan luas, mampu memecahkan berbagaimasalah.Teori belajar cognitive field bersumber pada psikologi lapangan (field psikology), dengan tokoh utamanya Kurt Lewin. Individu selalu berada dalamsuatu lapangan psikologis yang oleh Lewin disebut life space. Dalam lapangan iniselalu ada tujuan yang ingin dicapai, ada motif yang ilit‡iidorong pencapaiantujuan dan ada hambatan-hambatan yang harus diatasi. Perbuatan individu selaluterarah kepada pencapaian sesuatu tujuan, oleh karena itu sering dikatakan
perbuatan individu adalah purposive. Apabila ia telah berhasil mencapai sesuatutujuan maka timbul tujuan lain yang ingin dicapai dan berada dalam life space baru. Setiap orang berusaha mencapai tingkat perkembangan dan pemahamanyang terbaik, di dalam lapangan psikologisnya masing-masing. Lapangan psikologis terbentuk oleh interelasi yang simultan dari orang-orang danlingkungan psikologisnya di dalam suatu situasi. Tingkah laku seseorang padasuatu saat merupakan fungsi dari semua faktor yang ada yang saling bergantung pada yang lain.Istilah congnitive berasal dari bahasa Latin “cognoscre” yang berarti’mengetahui (to know)’. Aspek ini dalam teori belajar cognitive field berkenaandengan bagaimana individu memahami dirinya dan lingkungannya, bagaimana iamenggunakan pengetahuan dan pengenalannya serta berbuat terhadaplingkungannya. Bagi penganut cognitive field, belajar merupakan suatu prosesinteraksi, dalam proses interaksi tersebut ia mendapatkan pemahaman baru ataumenemukan struktur kognitif lama. Dalam membimbing proses belajar, guruharus mengerti akan dirinya dan orang lain, sebab dirinya dan orang lain sertalingkungannya merupakan suatu kesatuan.
C
.

Buku Acuan
Have, Micahel J.A. (1972). Understanding School Learning, New York:Harper & Row Pub.Buku ini menguraikan dasar-dasar pemahaman tentang belajar dan bagaimana memperbaiki proses belajar. Pada bagian pertama buku ini diuraikantentang konsep dan kebutuhan untuk memahami proses belajar, macam-macam belajar dan peranan siswa dalam belajar. Pada bagian berikutnya dijelaskanstruktur dan transfer dalam belajar clan perkembangan, fungsi inteligensi dan bahasa dalam perkembangan belajal Selanjutnya diuraikan pula hal-hal yang harusdiperhatikan dalam belajar seperti motivasi belajar, relevansi apa yang dipelajaridengan kebutuhaii siswa, cara bertanya dan menjawab serta cara-carameningkatkan ingatan Pada bagian akhir buku ini, dijelaskan pengajaran berprogram, peranali teknologi dalam belajar serta berbagai upaya guru untuk meningkatkol, hasil belajar.
BAB 4LANDASAN SOSIAL-BUDAYA, PERKEMBANGAN ILMU DANTEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagaisuatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kitaketahui bahwa pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun kelingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapimemberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informaldalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusiamanusiayang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang lebih bermutu,mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi,maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik,kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut.
A.

Pendidikan dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung nilaidan memberikan pertimbangan nilai. Hal itu disebabkan karena pendidikandiarahkan pada pengembangan pribadi anak agar sesuai dengan nilai-nilai yangada dan diharapkan masyarakat. Karena tujuan pendidikan mengandung nilai,maka isi pendidikan harus memuat nilai. Proses pendidikannya juga harus bersifatmembina dan mengembangkan nilai. Kedua, pendidikan diarahkan padakehidupan dalam masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapirnenyiapkan anak untuk kehidupan dalam masyarakat. Generasi muda perlumengenal dan memahami apa yang ada dalam masyarakat, memiliki kecakapanuntuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, baik sebagai warga maupun sebagai
karyawan. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung olehlingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Kehidupanmasyarakat berpengaruh terhadap proses pendidikan, karena pendidikan sangatmelekat dengan kehidupan masyarakat. Proses pendidikan merupakan bagian dari proses kehidupan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan membutuhkan dukungandari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas, personalia, sistem sosial budaya, politik, keamanan, dan lain-lain.Tujuan umum pendidikan sering dirumuskan untuk menyiapkan generasimuda menjadi orang dewasa anggota masyarakat yang mandiri dan produktif. Halitu merefleksikan konsep adanya tuntutan individual (pribadi) dan sosial dariorang dewasa kepada generasi muda. Tuntutan individual merupakan harapanorang dewasa agar generasi muda dapat mengembangkan pribadinya sendiri,mengembangkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Tuntutansosial adalah harapan orang dewasa agar anak mampu bertingkah laku, berbuatdan hidup dengan baik dalam berbagai situasi dan lingkungan masyarakat.Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.Pendidikan dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda denganlingkungan masyarakat lain, karena adanya perbedaan sistem sosialbudaya,lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada.Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial- budaya yang berbeda. Sistem sosial-budaya ini mengatur pola kehidupan dan polahubungan antar-anggota masyarakat, antara anggota dan lembaga, serta antaralembaga dan lembaga. Sistem sosial-budaya di daerah perkotaan berbeda dengandi pedesaan, di daerah pesisir berbeda dengan di pegunungan, di pusat perindustrian berbeda dengan di daerah pertanian. Sistem sosial-budaya padasuatu daerah juga berbeda dari suatu periode waktu dengan waktu yang lainnya,karena masyarakatnya berkembang.Salah satu aspek yang cukup penting dalam sistem sosial-budaya adalahtatanan nilai-nilai. Tatanan nilai merupakan seperangkat ketentuan, peraturan,hukum, moral yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para wargamasyarakat. Nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, budaya, kehidupan politik,
maupun dari segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembanganmasyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga selalu berkembang,dan mungkin pada suatu saat perkembangan begitu drastis, sehingga tidak jarangmenimbulkan perbedaan bahkan konflik nilai. Konflik nilai bisa juga diakibatkanadanya perbedaan sudut pandang karena adanya variasi sumber-sumber nilaitersebut.Perbedaan ataupun konflik nilai tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaantatanan yang berakar pada perbedaan pola-pola kebudayaan Menurut Tylor (1871), kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat-istiadat, sertakemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam arti yang lebihmendasar, pendidikan merupakan suatu proses kebudayaan. Setiap generasimanusia menempatkan dirinya dalam urutan sejarah kebudayaan. Menurut IsraelScheffler (1958), melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu,turut serta dalam peradaban masa sekarang dan membuat peradaban masa yangakan datang.Proses pembudayaan tidak dapat berlangsung secara sendirian, melainkanharus dalam interaksi dengan orang lain, interaksi dengan lingkungan. Status dan peranan manusia dalam kelompok, apakah kelompok usia, jenis kelamin, sekolah, pekerjaan, kemasyarakatan, dan lain-lain, menentukan jenis interaksi dan tingkat partisipasinya dalam proses pembudayaan.Kehidupan masyarakat tidak dapat terlepas dari tempat masyarakat itu berada. Masalah tempat menyangkut lingkungan alam dan keadaan geografis.Lingkungan alam dan keadaan geografis mempengaruhi perilaku dan pola hidup para anggota masyarakat. Masyarakat yang hidup di daerah tropis berbeda polahidupnya dengan di daerah subtropis atau daerah dingin. Demikian jugamasyarakat di daerah kepulauan berbeda dengan di daerah daratan, di daerahgurun pasir berbeda dengan di daerah padang rumput atau rawa. Kondisi alam dangeografis mempengaruhi cara hidup, cara ber pikir, cara bekerja, caramempertahankan diri, cara bermasyarakat, dan lain-lain.
Kehidupan masyarakat juga dipengaruhi oleh tingkat kemajuan yang telahdicapainya. Masyarakat yang telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi dalamsegi ilmu, teknologi, ekonomi, sosial-budaya, dan segi-segi kehidupan yanglainnya, akan memiliki sistem dan fasilitas yang lebih mapan dibandingkandengan masyarakat yang kemajuannya rendah. Sistem dan fasilitas yang tersediaakan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat.
B.

Perkembangan Masyarakat
Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang. Mungkin padamasyarakat tertentu perkembangannya sangat cepat, tetapi pada masyarakatlainnya agak lambat bahkan lambat sekali. Karena adanya pengaruh dari perkembangan teknologi, terutama teknologi industri transportasi, komunikasi,telekomunikasi dan elektronika, masyarakat kita dewasa ini berkembang sangatcepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global.Dalam kondisi masyarakat demikian, perubahan-perubahan terjadi dengancepat, mobilitas manusia dan barang sangat tinggi, komunikasi cepat, lancar, danakurat. Perubahan yang cepat hampir terjadi dalam semua aspek kehidupan,sosial-budaya, ekonomi, politik, ideologi, nilainilai etik dan estetik. Perubahan- perubahan masyarakat ini akan mempengaruhi perkembangan setiap individuwarga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kecakapan, sikap, aspirasi, minat,semangat, kebiasaan bahkan pola-pola hidup mereka.Mobilitas yang tinggi mempercepat pertemuan antarsuku dan antarbangsa,membuka daerah-daerah yang terisolasi, meningkatkan pemerataan pembangunan.Komunikasi sangat cepat, lancar, dan akurat memudahkan perolehan informasi,yang sangat berharga baik bagi kepentingan bisnis, pemerintahan, penelitian,rekreasi, maupun hobi. Pertemuan antarsuku bangsa, antarbangsa, dan antarrasdengan berbagai kebudayaan, kemampuan masyarakat makin sering terjadi. Makait’rjadilah proses pembauran budaya, tradisi, nilai-nilai, pengetahuan, dan lain-lainmalah terjadi pembauran suku, bangsa, atau ras. Di samping pembauran, pertentangan atau konflik antarsektor sosial-budaya adakalanya juga terjadi.Melalui proses alkulturalisasi, pertentangan atau ko nflik-konflik ini berangsur-angsur berkurang.
1.

Perubahan pola pekerjaanKarena pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yangcukup drastis dalam pola pekerjaan. Masyarakat secara berangsur-angsur,terutama di perkotaan sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan yang berpola agraris ke pola kehidupan industri. Pola kehidupan agraris memilikikesamaan, hidup yang lebih santai, cara kerja yang teratur, rasa kerja sama yangtinggi, perubahan yang lamban, dan sebagainya.Dalam pola kehidupan masyarakat industri, sifat-sifat yang dimilikimasyarakatnya jauh berbeda. Diversifikasi pekerjaan dan tugas-tugas dalam satu pekerjaan melahirkan spesialisasi yang menuntut profesio- nalisme dalam setiapspesialisasi tersebut. Hal itu mengakibatkan adanya keragaman tugas dan pekerjaan. Tugas-tugas dalam suatu spesialisasi sering tidak dipahami olehspesialisasi lain. Penerapan teknologi di bidang industri relatif lebih majudibandingkan di bidang pertanian, dan menuntut profesionalisme yang lebih tinggi pula. Bekerja di bidang industri tidak lagi bergantung pada musim (hujan ataukemarau, panas, atau dingin), bisa bekerja sepanjang masa, malah bisa bekerjasiang dan malam. Oleh karena itu, hidup santai telah ditinggalkan, diganti dengan pola kerja keras mengejar target meningkatkan produksi.Dalam bekerja di sektor industri telah ada pembagian tugas masingmasing,menghadapi mesin dan peralatan lain yang berbeda, yang menuntut konsentrasi perhatian dan kegiatan. Oleh karena itu, sifat gotong royong mulai menipis,diganti dengan kerja sama sesuai dengan alur kerja. Penggunaan peralatan berteknologi tinggi tidak menuntut banyak orang, tetapi sedikit orang dengankemampuan tinggi. Pola padat karya yang dikerjakan secara gotong royong dalamkehidupan agraris telah beralih pada padat teknologi yang dikerjakan secara profesional. Sifat kompetitif, baik dengan sesama karyawan maupun denganwaktu atau prestasi sebelumnya, lebih mewarnai kehidupan dalam masyarakatindustri. Dalam pola kehidupan industri perubahan sangat cepat terjadi. Perubahanini bukan saja karena adanya peralatan baru atau jenis pekerjaan yang baru, tetapikarena dunia industri berorientasi pada pasar. Dengan demikian, strategi, taktik,kebijakan baru yang melahirkan produk dan layanan baru selalu muncul.
1.

Perubahan pola pekerjaanKarena pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yangcukup drastis dalam pola pekerjaan. Masyarakat secara berangsur-angsur,terutama di perkotaan sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan yang berpola agraris ke pola kehidupan industri. Pola kehidupan agraris memilikikesamaan, hidup yang lebih santai, cara kerja yang teratur, rasa kerja sama yangtinggi, perubahan yang lamban, dan sebagainya.Dalam pola kehidupan masyarakat industri, sifat-sifat yang dimilikimasyarakatnya jauh berbeda. Diversifikasi pekerjaan dan tugas-tugas dalam satu pekerjaan melahirkan spesialisasi yang menuntut profesio- nalisme dalam setiapspesialisasi tersebut. Hal itu mengakibatkan adanya keragaman tugas dan pekerjaan. Tugas-tugas dalam suatu spesialisasi sering tidak dipahami olehspesialisasi lain. Penerapan teknologi di bidang industri relatif lebih majudibandingkan di bidang pertanian, dan menuntut profesionalisme yang lebih tinggi pula. Bekerja di bidang industri tidak lagi bergantung pada musim (hujan ataukemarau, panas, atau dingin), bisa bekerja sepanjang masa, malah bisa bekerjasiang dan malam. Oleh karena itu, hidup santai telah ditinggalkan, diganti dengan pola kerja keras mengejar target meningkatkan produksi.Dalam bekerja di sektor industri telah ada pembagian tugas masingmasing,menghadapi mesin dan peralatan lain yang berbeda, yang menuntut konsentrasi perhatian dan kegiatan. Oleh karena itu, sifat gotong royong mulai menipis,diganti dengan kerja sama sesuai dengan alur kerja. Penggunaan peralatan berteknologi tinggi tidak menuntut banyak orang, tetapi sedikit orang dengankemampuan tinggi. Pola padat karya yang dikerjakan secara gotong royong dalamkehidupan agraris telah beralih pada padat teknologi yang dikerjakan secara profesional. Sifat kompetitif, baik dengan sesama karyawan maupun denganwaktu atau prestasi sebelumnya, lebih mewarnai kehidupan dalam masyarakatindustri. Dalam pola kehidupan industri perubahan sangat cepat terjadi. Perubahanini bukan saja karena adanya peralatan baru atau jenis pekerjaan yang baru, tetapikarena dunia industri berorientasi pada pasar. Dengan demikian, strategi, taktik,kebijakan baru yang melahirkan produk dan layanan baru selalu muncul. 2.

Perubahan peranan wanitaDewasa ini jumlah wanita yang berpendidikan relatif seimbang dengandengan pria, sebagai akibat ernansipasi yang membuka kesempatan kepada kaumwanita untuk memperoleh pendidikan. Diperkuat dengan perubahan pandangantentang kedudukan wanita, wanita tidak lagi hanya bekerja di rumah, mengurusanak dan keluarga seperti pada pola kehidupan lama. Wanita memiliki peluangyang sama dengan pria, bekerja hampir pada seluruh sektor pekerjaan. Keadaanini membawa beberapa implikasi, baik bagi kehidupan sosial-pribadi para wanita,kehidupan keluarga, maupun dalam situasi kerja.Dengan bekerja di luar rumah, wanita lebih bebas bergerak, berkarya, dan berkreasi dibandingkan apabila hanya bekerja di rumah tangga. Wawasan dan pengetahuan mereka menjadi lebih luas, potensi-potensi yang dimilikinya dapatdiwujudkan dan disalurkan. Memang banyak pekerjaan-pekerjaan tertentu yanglebih berhasil bila dikerjakan oleh wanita. Wanita yang bekerja juga dapatmenambah penghasilan keluarga, sehingga kesejahteraan ekonomi keluargamenjadi lebih baik. Kehadiran wanita dalam lingkungan kerja juga dapatmenimbulkan suasana lain dibandingkan apabila semua karyawannya pria.Di samping sejumlah kebaikan dari para wanita yang bekerja, sejumlahmasalah dan kesulitan juga muncul. Masalah pertama berkenaan dengankehidupan sosial-pribadi wanita. Wanita yang bekerja apabila telah menikahmempunyai tugas ganda, menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan dan tugas-tugaskeluarga. Penyelesaian kedua tugas tersebut bukan masalah ringan, membutuhkan pemikiran dan tenaga yang dengan sedikit ketidakmampuan membagi tugas dapatmembengkalaikan salah satu tugas, bahkan kedua- duanya.Masalah kedua berkenaan dengan kehidupan keluarga. Wanita betapapuntinggi tingkat pendidikan dan jabatan yang dipegangnya, tidak bisa dilepaskandari kodratnya sebagai wanita, sebagai istri dan ibu. Sampai batas tertentu masihtetap harus melayani suami, mendidik anak, dan mengatur rumah tangga. Tugasyang banyak menyita waktu, tenaga, dan perhatian dalam pekerjaan atau karier, bagaimanapun akan menelantarkan pelaksanaan tugas-tugasnya dalam rumahtangga. Hal itu bisa mengakibatkan keluarga tidak harmonis, pendidikan anak terbengkalai, kesejahteraan rumah tangga terabaikan, dan mungkin terjadi
perpecahan keluarga (brooken home). Perpecahan keluarga ada dua macam, pecahsecara struktur yaitu cerai antara suami dan istri, atau pecah secara lungsi tidak bercerai tetapi masing-masing pihak tidak melaksanakan lungsi yang semestinya.Rumah hanya berfungsi sebagai tempat parkir .1tau lebih parah sebagai tempat bertengkar.Masalah ketiga berkenaan dengan situasi pekerjaan. Pekerjaan atau karier bukan tempat beristirahat, tetapi tempat berkarya, berkreasi, berprestasi, dan berkompetisi. Situasi demikian menuntut sikap, penampilan, pemikiran, dan unjuk kerja yang optimal. Kalau karyawati itu belum berkeluarga atau melepaskan din idari tugas-tugas rumah tangga, mungkin tuntutan pekerjaan tersebut dapatdipenuhi secara optimal. Bila tidak maka hambatan karier yang akan terjadi.Situasi ini dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Masalah tersebut akan bertambah lagi apabila terjadi situasi-situasi yang tidak sehat atau menyimpang.Bagaimanapun dalam situasi kerja akan terjadi konkurensi, tidak semua priamenerima kedudukan di bawah wanita, apalagi bila latar belakang pendidikan dankemampuan terasa sama. Dalam lingkungan kerja yang ada wanita dan pria, bisasaja terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, mulai dari pelecehan sampai denganskandal. Hal ini tentu menimbulkan masalah, baik bagi wanita yang bersangkutan,keluarga, maupun unit kerja.3.

Perubahan kehidupan keluargaPerkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembanganmasyarakat. Pola kerja masyarakat modern (industri) menuntut waktu kerja yangtidak teratur, melebihi waktu biasa. Dalam masyarakat modern, orang tidak lagi bekerja dari pukul 7.00 sampai pukul 14.00. Walaupun ketentuan sampai pukul16.00, kenyataannya jam kerja kadang-kadang sampai pukul 22.00 bahkan lebih.Bekerja bukan lagi dari Senin sampai Jumat dan pulang tiap hari, melainkan dariSenin sampai Minggu dan pulang seminggu sekali, bahkan beberapa minggu tidak pulang. Hal seperti itu mungkin hanya dialami oleh para bapak/suami, tetapimungkin juga dialami oleh para ibu/istri, bahkan oleh kedua-duanya.Dalam keluarga, anak juga mempunyai masalah sendiri. Anak-anak yang belum bersekolah tinggal di rumah bersama pembantu. Mereka lebih banyak
hidup dan bergaul dengan pembantu daripada dengan orang tuanya. Anak yang bersekolah sebagian waktunya digunakan di sekolah, tetapi sebagian besar digunakan di rumah atau di luar rumah dengan teman-temannya. Kesempatananak remaja di rumah lebih sedikit, umumnya berada di luar rumah untuk menyelesaikan tugas sekolah atau bergaul dengan teman.\Banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja akan seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Apalagi bila suami dan istri bekerja, penghasilanmereka jauh lebih banyak. Penghasilan tinggi akan meningkatkan kemampuanekonomi dan kesejahteraan keluarga. Fasilitas keluarga lebih lengkap dan lebih baik, semua kebutuhan hidup terpenuhi, bahkan bisa menabung dan berlibur keluar kota secara berkala.Di samping memperoleh nilai lebih dari pola kerja pada masyarakatmodern, beberapa masalah juga dihadapi dalam kehidupan keluarga. Kesibukankerja/karier dalam batas-batas wajar memungkinkan anggota keluargamelaksanakan tugasnya dengan baik. Kesibukan di luar batas kewajaran bisamengorbankan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga. Bapak tidak lagimelaksanakan tugas sebagai kepala keluarga, demikian juga ibu dan anak.Hubungan harmonis antara suami dan istri, komunikasi pedagogis antara orangtua dan anak bisa sangat terbatas, bahkan mungkin hilang. Karena sangat sibuknyasetiap anggota keluarga, bisa terjadi rumah hanya berfungsi sebagai tempat parkinDalam situasi demikian, berbagai masalah keluarga bisa timbul.
C
.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Sejak abad pertengahan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat.Masa setelah abad pertengahan sering disebut zaman modern. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini banyak didasari oleh penemuan dan basil pemikiran para filsuf purba, seperti Thales, Phythagoras, Leucipos, Demokritos, Socrates,Plato, Aristoteles, Euclid, Archimides, Aristarhus yang hidup sebelum Masehi,sampai kepada A1-Khawarizmi yang hidup pada abad ke-9. Perkembangan ilmu pengetahuan modern tidak dapat dilepaskan dari peranan ilmuwan Muslim, sepertidikemukakan Briffault dalam Making of Humanity (dalam C.A. Qodir, 1995 : 2).
Orang Yunani mengadakan sistematisasi, generalisasi, dan menyusunteori, namun ketekunan melakukan pengamatan dan penyelidikan eksperimentalyang saksama dan lama bukanlah watak mereka « apa yang kita sebut ilmu pengetahuan muncul sebagai akibat metode eksperimen baru, yang diperkenalkanke Eropa oleh orang Arab …. Ilmu pengetahuan modern merupakan sumbangan paling penting bagi peradaban Islam.Selama beberapa abad, sampai dengan abad ke-13, pengembangan ilmu pengetahuan didominasi oleh ilmuwan muslim. Dalam bidang geografi dikenalnama Al-Kindi sampai dengan Musa Al-Khawarizmi dan Al-Beruni sebagai penemu geodesi. Ilmu pengetahuan alam dikembangkan oleh Al-Beruni, Al-Kindi, Jabin Ibn Hayan, Ibn Bajjah. Al-Bagdadi adalah ahli botani terkenal.Dalam matematika dikenal Jamshid Al-Kashmi (ahli matematika), A1-Khawarizmi dan Omar Khayyam (Aljabar). Bidang astronomi juga banyak dikembangan ilmuwan muslim di berbagai negara. Salah satu pusat penelitianastronomi terkenal, Observatorium Maragah, didirikan oleh Al-Tusi tahun 1259.Teleskop ditemukan oleh Ibn Yunus jauh sebelum Galileo. Dalam bidangkedokteran, Ibn Sina dan Al-Rani adalah dua tokoh yang sangat terkenal. Dalam bidang anatomi, nama Al-Baydawi tidak dapat dilupakan. Dalam ilmu kimia,Imam Jaffar dan Al-Razi adalah para ilmuwan pengembang pertama ilmu Kimia.Mulai akhir abad ke-13 ada kemunduran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di negara-negara Islam. Setelah perang antara negara-negara Islamdengan negara-negara Eropa, terjadi pergeseran perkembangan ilmu pengetahuandari Timur Tengah ke Eropa. Sejak awal abad ke-14 sampai dengan akhir abadke-19 terdapat perkembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuanmurni yang begitu pesat. Pada abad ke-20, perkembangan yang sangat pesatterjadi pada ilmu pengetahuan terapan dan teknologi.Perang antara negara Arab dan Eropa pada awal abad ke-14 banyak menimbulkan percampuran dan pertukaran kebudayaan dan ilmu pengetahuanantara Barat dan Timur.Berikut ini adalah beberapa perkembangan besar ilmu pengetahuan padazaman mi. Copernicus 1473-1543 M, seorang ahli astronomi, mengembangkanlebih jauh prinsip heliocentrisme. Semua planet dan bumi berputar mengelilingi
matahari. Teori Copernicus ini bukan hanya menyangkal teori geocentrisme, jugamembalikkan prinsip hornocentrisme dari ajaran agama. Homocentrismemerupakan padangan yang me- nganggap bahwa matahari, bulan, dan bintang- bintang berputar mengelilingi manusia sebagai tanda kasih Tuhan. Semua itudisediakan untuk manusia. Teori Copernicus ini mendapatkan banyak tantangandari golongan gereja.Tycho Brache (1546-1601), Johannes Keppler (1571-1630), dan Galileo(1546-1642) adalah para ahli astronomi. Mereka banyak dipengaruhi gagasanCopernicus dan melanjutkan gagasan itu. Tycho Brache dalam me- ngamati jalannya bintang-bin tang menggunakan teropong yang besar- besar. la jugamembangun observatorium yang dilengkapi alat, perpustakaan, serta pendukunglainnya. Usaha Tycho Brache itu diteruskan oleh Keppler.Dari dua sarjana tersebut banyak temuan baru tentang orbit planet. Galileomenemukan planet, hukum pergerakan, serta tata bulan planet Jupiter. Ia juga berhasil membuat teropong bintang yang lebih sempurna. Selain ahli astronomi,Galileo juga mendalami fisika. Ia banyak mempelajari tentang pergerakan.Temuannya tentang lintasan lengkung diterapkan dalam menentukan lintasan peluru. Dengan demikian, teori lintasan tersebut menjadi bagian ilmu peperangan.Galileo juga banyak mengadakan pengamatan langsung.Fermat (1601-1665) dan Pascal (16234662) adalah ahli matematika danfisika. Fermat mengembangkan teori Aljabar mengenai bilangan-bilangan, kiniterkenal dengan perhitungan diferensial integral (kalkulus). Fermat dan Pascalmengembangkan dasar-dasar statistika (teori kemungkinan). Newton (1643-1727) adalah seorang pujangga besar, ahli matematika,astronomi, dan fisika. Newton banyak menyumbangkan ilmunya bagi per-kembangan ilmu pengetahuan yang hingga sekarang banyak digunakan.Sumbangan terbesarnya adalah teori gravitasi, perhitungan kalkulus (diferensialintegral), serta teori cahaya atau optika.Lavoisier (1743-1794) adalah ahli fisika, yang mendasari ilmu kimia.Lavoisier berbeda dengan para ahli lainnya, ia melakukan percobaan dengan carakuantitatif. Percobaan-percobaan Lavoisier mendasari perkembangan kimiaanalitik dan kimia organik.
Perkembangan ilmu pengetahuan terus berlangsung, apakah menghasilkansuatu teori/ hukum baru atau menggugurkan teori/hukum yang ada. Einstein(1905-1911) menemukan teori kenisbian, teori relativitas. Dalton (1766-1844)menemukan dasar ilmu kimia yang ditekankan pada teori atom. Henry Becquerel(1852-1908), Curie (1859-1906), dan Thomson 1897 menemukan radium, logamyang dapat berubah menjadi logam lain.Thomson menemukan elektron, yang menggugurkan teori atom sebagai bagian terkecil yang tak dapat dibagi lagi. Dengan penemuanpenemuan tersebut berkembanglah ilmu baru dalam bidang kimia-fisika, yaitu ilmu fisika nuklir.Perkembangan selanjutnya menghasilkan teoriteori baru dalam kenisbian,elektron, dan energi.
D.

Perkembangan Teknologi
Dari para ahli, kita sering mendengar pernyataan bahwa ilmu bukan hanyauntuk ilmu. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa pengembangan suatu ilmu pengetahuan tidak hanya ditujukan kepada perkembangan ilmu pengetahuan itusendiri, melainkan juga diharapkan dapai mem herikan sumbangan kepada bidang-bidang kehidupan atau ilmu yang lainnya. Sumbangan yang berupa penggunaan atau penerapan suatu bidang ilmu pengetahuan terhadap bidang- bidang lain disebut teknologi, seperti dinyatakan Kast dan Rosenweig (1962, hlm.11) Technology is the art of utilizing scientific knowledge, sedangkan menurutCharles Susskind (1973: 1) … how we do things is technology. Iskandar Alisyahbana (1980, hlm. 1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentangteknologi, Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhanmanusia dengan bantuan alat dan akal (hardware dan software) sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera, dan otak manusia.Sebenarnya sejak dahulu, teknologi sudah ada atau manusia sudahmenggunakan teknologi. Kalau manusia zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakanteknologi yaitu teknologi sederhana. Mengapa manusia menggunakan teknologi,
karena manusia berakal. Dengan akalnya itu ia ingin hidup lebih baik, lebihmudah, lebih aman, lebih sejahtera.Penemuan teknologi pertama yang cukup penting adalah teknologi api.Dengan teknologi ini manusia mendapatkan penerangan pada malam hari, bisamenghangatkan badan, dan mengolah berbagai bahan makanan. Ilerkat api,makanan menjadi lebih lunak, lebih lezat, dan lebih sehat. Ienemuan teknologi apimendasari pengembangan teknologi lain pada masa-masa berikutnya, umpamanyateknologi penerangan, teknologi pemadam kebakaran, teknologi pembuanganasap, dan yang paling penting dan banyak mendasari pengembangan teknologilebih lanjut adalah teknologi logam. Dengan teknologi api, bijih timah, besi,mangan, lembaga, perak, mas, dan lain-lain, dapat diolah menjadi batangankemudian diolah lebih lanjut menjadi berbagai alat kebutuhan manusia. pengembangan suatu teknologi sering berdampak negatif, karena itu perlu Iemuanteknologi lain untuk mengatasinya, seperti teknologi untuk mengatasi kebakaran,mengurangi polusi, dan sebagainya.Teknologi penting lain yang ditemukan selanjutnya adalah teknologi pertanian. Dengan teknologi ini, manusia membudidayakan bermacam- macamtanaman dan binatang yang sebelumnya tumbuh liar di alam bebas. Teknologi inimemberikan kesejahteraan kepada manusia karena hasil pertanian lebih banyak dan mudah didapat. Teknologi budidaya ini mampu mengubah pola hidup berpindah-pindah menjadi menetap. Karena manusia hidup menetap, mereka berkumpul, kemudian berkembang tambah banyak, maka terbentuklah masyarakatdengan berbagai aturan dan sistem kehidupan sosial.Perkembangan teknologi lain yang sangat penting dan banyak membawa perkembangan pada teknologi lain adalah teknologi industri. Mulanya teknologiini berkembang secara individual dalam lingkungan kecil dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kemudian berkembang menjadi kongsi ditujukanuntuk memenuhi lingkungan yang makin meluas sampai bersekala ekspor.Penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan mempercepat pertumbuhanteknologi industri.Perkembangan yang begitu cepat pada beberapa dekade terakhir adalah perkembangan teknologi transportasi, teknologi komunikasi dan informatika, serta
teknologi media cetak. Perkembangan teknologi industri transportasi berkembang pesat, baik transportasi darat, laut, maupun udara. Berbagai jenis alat transportasiyang bermutu tinggi dengan perlengkapan mutakhir telah tersedia, memungkinkanorang dan barang bisa berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan mudahdan cepat. Jarak geografis tidak menjadi hambatan lagi untuk hubunganantarorang, antarkelompok, dan antarbangsa. Perkembangan alat transportasi bukan hanya ditujukan untuk mobilitas orang dan barang, melainkan untuk kepentingan penelitian dan penemuan-penemuan teknologi lebih lanjut. Alattransportasi yang banyak mendapat perhatian dari negara-negara maju adalah pesawat angkasa luar. Pengembangan teknologi angkasa luar ini, bukan sajamembuktikan bahwa manusia bisa ke luar dari orbit bumi, menuju planet lain,tetapi juga bisa menempatkan berbagai satelit untuk memantau apa yang terjadi di bumi dan memperlancar komunikasi antardaerah di bumi.Perkembangan teknologi terbesar dalam pertengahan abad ke-20 berkenaan dengan penjelajahan angkasa luar. Peluncuran Sputnik I tahun 1958oleh Uni Soviet (sebelum bubar – red) menarik banyak masyarakat dunia, danmerupakan awal babak baru dalam bidang angkasa luar. Program penerbanganangkasa luar Amerika Serikat yang dimulai dengan Mercury 1962, Gemini 1963-1965, Apollo yang dimulai tahun 1964 berhasil mendaratkan para astronot di bulan. Uni Soviet dengan program Soyus-nya selalu berlomba dengan AmerikaSerikat dalam menjelajahi angkasa luar.Eropa Barat juga tak mau kalah dalam pengembangan teknologi angkasaluar, dengan program Arian-nya yang dimotori oleh Perancis. Arian berhasilmenempatkan sejumlah satelit negara-negara Eropa dan beberapa negara lain,termasuk Indonesia yang berhasil mengorbitkan Palapa C2 pada tahun 1996 pada posisi yang direncanakan. Setelah berhasil dengan Apollo, Amerika Serikatmelaksanakan program Voyager. Voyager mengangkasa sejauh 680 juta kilometer dari bumi dan berhasil mendapatkan data gambar dan bentuk lain dari planetYupiter. Voyager II yang akan menyusul Voyager I akan meneruskan penerbangan ke Saturnus dan ken-Indian keluar dari tata surya kita. Pada tahun-tahun terakhir, Amerika Serikat mengembangkan program Challenger kemudianDiscovery dengan pesawat clang-aliknya walupun pernah mengalami kegagalan,
tetapi basil hasil van); dieapainya luar biasa. Dengan kemajuan teknologi angkasaluar ini, manusia berhasil meneliti planet- planet yang paling jauh bukan denganrenungan atau spekulasi atau peneropongan, melainkan dengan pesawatpesawatyang berawak manusia. Penerbangan angkasa luar bukan hanya ditujukan untuk meneliti planet-planet luar, juga digunakan untuk meneliti dan membuat beberapa peralatan bagi kepentingan bumi. Melalui penggunaan berbagai satelit, diadakan berbagai pengamatan dan penelitiaan tentang bumi. Umpamanya pengamatan dan penelitian daerahdaerah yang mengandung minyak atau bahan-bahan mineral,masalah arus laut, cuaca, dan iklim. Satelit merupakan sarana komunikasi massa,telekomunikasi, dan internet.Temuan-temuan di bidang fisika, kimia, dan matematika mengembangkanteknologi ruang angkasa dan kemiliteran. Perkembangan teknologi di bidangkemiliteran bukan hanya menghasilkan teknologi senjatasenjata biasa, jugateknologi senjata mutakhir, peluru kendali antarbenua, misil, born hidrogen, bornnuklir, dan lain-lain, merupakan perkembangan teknologi yang banyak menimbulkan ancaman dan kekhawatiran manusia.Teknologi lain yang perkembangannya sangat cepat pada beberapa dekadeterakhir adalah teknologi komunikasi dan informatika. Teknologi ini berkembangsangat pesat berkat temuan-temuan di bidang eletronika. Perkembangan radio dantelevisi telah membuka bagian-bagian dunia yang terbelakang menjadi daerahterbuka karena arus informasi. Apa yang terjadi di suatu daerah atau negara,dalam waktu beberapa menit, sudah dapat diketahui oleh orang-orang di bagiandunia lainnya.Selain kemajuan di bidang komuniksi massa, kemajuan bidangtelekomunikasi pun mengalami kemajuan yang begitu pesat. Kemajuan di bidangtelepon, faksimil, yang dikombinasikan dengan kemajuan di bidang komputer,menghasilkan sistem komunisikasi gaya baru, internet. Dengan komunikasimassa, kita hanya bisa memperoleh informasi yang disiarkan, artinya sangat bergantung pada jam siar. Tetapi dengan internet, jam siar ini hilang. Melalui internet, setiap saat orang bisa masuk, tanpa permisi, ke Library of Congres Amerika Serikat, ke Gedung Putih, bahkan kePentagon.Teknologi media cetak, walaupun jangkauan dan kecepatan sebarannyatidak seluas dan secepat komunikasi massa dan telekomunikasi, mempunyaikeunggulan sendiri. Penemuan alat-alat cetak modern, dengan kemampuan cetak yang sangat cepat, telah menghasilkan barang cetakan, seperti buku, majalah, dansurat kabar, yang bermutu tinggi. Barang- barang cetakan ini bisadidokumentasikan untuk waktu yang lama, kalau bahannya cukup baik, tahansampai ratusan tahun. Untuk dokumentasi- dokumentasi yang menggunakantempat terlalu besar, sekarang ada teknologi microfilm dan microfiche untuk mengecilkannya.Dalam bahasan tentang perkembangan teknologi pada awal bagian ini, banyak dikemukakan contoh-contoh perkembangan teknologi yang berbentuk material. Sesungguhnya teknologi tidak hanya menyangkut halhal material, tetapi juga yang immaterial, konsep, kaidah, pendekatan, sistem kerja, dan polahubungan.Santoso S. Hamijoyo (1975, hlm. 2) membedakan teknologi tersebutmenjadi teknologi jenis hardware, software, dan hubungan antarorang.1.

Transformasi teknologiPengembangan ilmu dan teknologi tidak berarti harus mencari danmenemukan sendiri serta harus mulai dari awal. Apabila cara itu ditempuh, akan banyak waktu terbuang dan kita akan semakin jauh tertinggal. Cara yang lebihtepat dan memungkinkan untuk mengejar ketinggalan adalah dengan transformasiteknologi. Transformasi teknologi merupakan suatu proses pengalihan, penerapan,dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara teratur (B.J. Habibie,1983). Proses pengalihan tidak berarti mengambil dan menerapkan teknologi,seperti keadaan aslinya di negara yang mengembangkannya, tetapi mencakup juga penyesuaian, modifikasi, dan pengembangannya lebih lanjut.Menurut B.J. Habibie (1983), ada lima prinsip yang menjadi pegangandalam transformasi teknologi (industri): 1) perlu diselenggarakan pendidikan dan

pelatihan di dalam dan luar negeri untuk menyiapkan para pelaku transformasi; 2) perlu dikembangkan konsep yang jelas dan realistic tentang masyarakat yang akandibangun serta teknologi-teknologi yang diperlukan untuk mewujudkannya; 3)teknologi hanya dapat dialihkan, diterapkan, dan dikembangkan lebih lanjut jika benar-benar diterapkan; 4) bangsa yang ingin mengembangkan diri secarateknologis harus berusaha sendiri memecahkan setiap masalahnya; 5) pada tahap-tahap awal transformasi, setiap negara harus melindungi perkembangankemampuan nasionalnya, hingga saat tercapainya kemampuan bersaing secarainternasional.Transformasi teknologi tidak bisa dilakukan secara serempak dan langsung pada tahap akhir, disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan kemampuan. Adatiga tahap penting transformasi teknologi menurut B.J. Habibie (1983). Tahap pertama, penggunaan teknologi yang ada digunakan untuk proses nilai tambah produksi barang di pasaran. Teknologi produksi dan manajemen digunakan untuk mengubah bahan baku atau barang setengah jadi menjadi barang-barang yang bernilai jual lebih tinggi. Proses ini disebut proses nilai tambah.Tahap kedua, tahap integrasi teknologi digunakan untuk desain dan produksi barang baru. Pada tahap ini dikembangkan desain dan cetak birusehingga ada elemen baru, elemen penciptaan.Tahap ketiga, adalah tahap pengembangan teknologi itu sendiri. Dalamtahap ini teknologi-teknologi yang ada dikembangkan lebih lanjut, begitupunteknologi baru. Tahap ini merupakan tahap dilaksanakannya inovasi-inovasi,diciptakannya teknologi untuk komponen produk-produk teknologi terbaik dalam bidang masing-masing.Tahap keempat, adalah tahap pelaksanaan penelitian dasar secara besar- besaran. Tahap ini penting bagi negara-negara berkembang yang menghadapikendala keuangan, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana. Oleh karenaitu, banyak negara berkembang melakukan penelitian dasar melalui perjanjiankerja sama dengan negara-negara maju di bidang ilmu dan teknologi. 2.

Perkembangan teknologi di IndonesiaPerkembangan teknologi terjadi di mana-mana, asal manusia meng-gunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.Sejak lama teknologi di Indonesia berkembang, tetapi yang dikembangkannyaadalah teknologi sederhana. Dalam beberapa hal mungkin dikembangkanteknologi madya, namun jumlahnya masih terbatas. Perkembangan teknologitinggi yang cukup pesat terjadi pada masa pembangunan, sejak dilaksanakannyaPelita I. Perkembangan teknologi ini diawali dengan diluncurkannya SistemKomunikasi Satelit Domestik Palapa Al, yang sekarang sudah mencapai generasiC2. Pada mulanya, pemanfaatan satelit ini terbatas pada bidang komunikasi massadan jangkauannya terbatas pada beberapa wilayah saja. Dewasa ini pemanfaatansatelit tersebut semakin luas, misalnya untuk kepentingan telekomunikasi dan jaringan internet, dengan jangkauan bukan hanya negara-negara ASEAN dannegara-negara di sekitar Indonesia.Perkembangan teknologi yang lebih terencana dan terarah tampaknyadimulai setelah B.J. Habibie menjabat sebagai menteri sekaligus pemikiran pemimpin pengembangan teknologi di Indonesia. Di bawah pimpinan Habibie pengembangan teknologi benar-benar bertolak dari kondisi dan karakteristik wilayah dan kebutuhan pembangunan Indonesia. Pengemkmgan teknologidiarahkan bukan hanya pada kepentingan kemajuan ekonomi, melainkan juga pada kepentingan politik (integritas bangsa), social budaya, serta aspek-aspek lain.Menurut B.J. Habibie (1983), ada delapan wahana transformasi yangmenjadi prioritas pengembangan teknologi terutama teknologi industri, yaitu: 1)industri pesavvat terbang, 2) industri maritim dan perkapalan, 3) industri alat-alattransportasi darat, laut, dan udara, 4) industri elektronika dan telekomunikasi, 5)industri energi, 6) industri rekayasa, 7) industri alat- alat dan mesin-mesin pertanian, dan 8) industri pertahanan dan keamanan.Indonesia juga telah memiliki pusat-pusat pengembangan ilmu danteknologi. Pusat pengembangan terbesar adalah Pusat Pengembangan PenelitianIlmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Tanggerang, Jawa Barat. Pusat pengembangan ini memiliki bidang dan fasilitas yang sangat lengkap. Adasejumlah laboratorium yang dimiliki Puspitek, antara lain: laboratorium uji
konstruksi; laboratorium aerodinamika, gas dinamika, dan getaran; laboratoriumtermodinamika elan propulsi; laboratorium teknologi proses; laboratorium fisika;laboratorium kimia; laboratorium kalibrasi dan instrumentasi; laboratoriumenergi; laboratorium metalurgi; serta reaktor penelitian serba guna dengan beberapa laboratorium penunjangnya.Untuk pengkajian dan penerapan teknologi, Indonesia mempunyai badankhusus, yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yangkepemimpinannya dirangkap oleh Menteri Riset dan Teknologi. Lembaga lainyang juga mengadakan pengkajian tentang ilmu pengetahuan adalah LembagaIlmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Jauh sebelum didirikan Puspitek dan BPPT,Indonesia juga memiliki pusat penelitian astronomi di Lembang, Bandung, lebihdikenal dengan nama Peneropong Bintang. Di bidang tenaga atom, Indonesiamemiliki dua pusat reaktor atom, yaitu Pusat Reaktor Atom Bandung dan PusatReaktor Atom Kartini di Yogyakarta.Perguruan tinggi juga berperan dalam pengkajian dan pengembangan ilmudan teknologi sebagai realisasi dari salah satu tridharmanya, yaitu dharma penelitian. Walaupun tahap pengembangannya belum sama, fungsi penelitian dan pengembangan pada perguruan tinggi telah berjalan. Ada beberapa perguruantinggi yang terkemuka dan ada pula perguruan tinggi yang masih miskin dengan penelitian dan pengembangan yang berarti. Beberapa perguruan tinggi yang cukupmaju dalam penelitian dan pengembangan adalah Universitas Indonesia untuk bidang kedokteran dan ekonomi; Institut Pertanian Bogor untuk bidang pertanian,kehutanan, dan peternakan; Institut Teknologi Bandung untuk bidang rekayasadan teknologi; Universitas Padjadjaran, Universitas Gajah Mada, dan UniversitasAirlangga untuk bidang ekonomi.
E.

Pengaruh Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi cukup luas, meliputi semuaaspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, etika, dan estetika, bahkan keamanan dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pada bagi.in ini pembahasandibatasi pada pengaruh perkembangan ilmu pengetalimm din teknologi terhadapkehidupan masyarakat dan pendidikan.
Ada beberapa bidang ilmu dan teknologi yang mempunyai pengaruh yang baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap kehidupan masyarakat.Bidang-bidang tersebut adalah komunikasi, transportasi, mekanisasi industri dan pertanian, serta persenjataan.Komunikasi cukup berkembang pesat di Indonesia dan berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Dewasa ini di Indonesia terdapat sejumlah mediakomunikasi massa yang perkembangannya sudah cukup maju dan dapatmenjangkau hampir seluruh pelosok tanah air. Media komunikasi massa tersebutadalah surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Di antara keempat mediakomunikasi massa tersebut yang paling luas jangkauannya adalah radio. Denganadanya teknologi transistor yang diproduksi secara massal dengan harga yangrelatif murah, maka radio transistor telah dapat dimiliki oleh rakyat kecil yangtinggal di daerah terpencil sekalipun. Urutan kedua yang juga cukup luas jangkauannya adalah televisi. Setelah diluncurkannya SKSD Palapa, seluruh kotadi Nusantara dapat dijangkau oleh televisi. Sebagian besar ibu kota propinsi telahmempunyai stasiun siaran TV sendiri. Tempat ketiga dan keempat diduduki olehsurat kabar dan majalah. Surat kabar dan majalah belum dapat terserap olehseluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok tanah air. Hal itu disebabkan karenakemampuan ekonomi serta motif membaca yang masih kurang, di samping masihkurangnya kemampuan membaca serta adanya kendala geografis karena banyak pulau-pulau terpencil.Komunikasi massa terutama melalui radio dan teleyisi mempunyai peranandan pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat. Hal itu karena kedua mediatersebut bukan hanya berfungsi memberikan informasi tetapi juga memberikanhiburan. Melalui situasi hiburan tersebut secara tidak disadari banyak informasi, program dan kegiatan pem- bangunan, mungkin juga konsep-konsep, gagasan-gagasan, nilai-nilai yang terserap oleh masyarakat. Melalui media tersebut, budaya, tradisi, kegiatan, kemajuan dart sebagainya yang telah dicapai oleh suatugolongan masyarakat atau daerah tertentu dapat diketahui oleh masyarakat ataudaerah lain. Dengan demikian komunikasi massa dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, bahkan sampai batas tertentu dapat mengubah sikapmasyarakat. Sudah pula menimbulkan efek negatif. Tentang efek negatif acara TV beberapa ahli danhasil penelitian menyatakan: banyak orang yang membuang waktunya antara 4-6 jam tiap hari untuk mengikuti semua acara TV; film-film banyak yangmempertunjukkan kejahatan, pembunuhan, perampokan, dan sebagainya, iklanTV dapat menimbulkan penyakit the gimmees terutama pada anak (penyakitmerengek ingin dibelikan).Perkembangan teknologi transportasi meningkatkan mutu dan kecepa tanlalu lintas orang dan barang, mempermudah perhubungan baik lokal, antara kota,antara pulau maupun antara negara, menyebabkan terbukanya perhubungandengan daerah-daerah yang asalnya terpencil. Pembukaan perhubungan tersebutdapat memperlancar arus perdagangan dan meningkatkan mobilitas penduduk.Kelancaran arus perdagangan berarti barang-barang hasil bumi dari desa dapatdengan segera dikirimkan dan dijual ke kota, dan sebaliknya penduduk desa jugadapat dengan mudah mendapatkan barang-barang hasil industri. Mobilitas penduduk memungkinkan terjadinya akulturasi, terutama penduduk desa dengancara-cara dan kehidupan orang-orang kota. Mobilitas penduduk atau masyarakat bukan hanya dari desa ke kota tetapi juga dari kota atau daerah yang satu ke kotaatau daerah yang lain atau dari pulau yang satu ke pulau yang lain. Hal itu, jugaakan memberikan sumbangan dalam pembentukan persatuan nasional,menghilangkan kesukuan, kedaerahan ataupun sikap eksklusivisme.Perkembangan transportasi juga dapat memberi beberapa efek sampingandi antaranya: daerah-daerah pedesaan lebih konsumtif terhadap barang-baranghasil industri, memperbesar terjadinya urbanisasi, masuknya kebiasaan, cara-carahidup, norma-norma kota yang belum tentu sesuai dengan kehidupan di desa(menggeser kebiasaan desa yang baik), naiknya harga-harga produksi desa didesanya.Perkembangan teknologi di bidang pertanian belum sepesat bidangindustri, namun dampaknya terhadap peningkatan produksi dan kesejahteraan para petani telah dirasakan. Ada beberapa hambatan yang dihadapi dalam penerapanteknologi di bidang pertanian antara lain: terutama di Pulau Jawa tidak banyak lahan pertanian yang luas, pemilikan lahan pertanian yang sempit yang kurangmenguntungkan bila diolah secara mekanis, keadaan alam yang banyaktentu di samping nilai-nilai yang positif, med pula menimbulkan efek negatif. Tentang efek negatif acara TV beberapa ahli danhasil penelitian menyatakan: banyak orang yang membuang waktunya antara 4-6 jam tiap hari untuk mengikuti semua acara TV; film-film banyak yangmempertunjukkan kejahatan, pembunuhan, perampokan, dan sebagainya, iklanTV dapat menimbulkan penyakit the gimmees terutama pada anak (penyakitmerengek ingin dibelikan).Perkembangan teknologi transportasi meningkatkan mutu dan kecepa tanlalu lintas orang dan barang, mempermudah perhubungan baik lokal, antara kota,antara pulau maupun antara negara, menyebabkan terbukanya perhubungandengan daerah-daerah yang asalnya terpencil. Pembukaan perhubungan tersebutdapat memperlancar arus perdagangan dan meningkatkan mobilitas penduduk.Kelancaran arus perdagangan berarti barang-barang hasil bumi dari desa dapatdengan segera dikirimkan dan dijual ke kota, dan sebaliknya penduduk desa jugadapat dengan mudah mendapatkan barang-barang hasil industri. Mobilitas penduduk memungkinkan terjadinya akulturasi, terutama penduduk desa dengancara-cara dan kehidupan orang-orang kota. Mobilitas penduduk atau masyarakat bukan hanya dari desa ke kota tetapi juga dari kota atau daerah yang satu ke kotaatau daerah yang lain atau dari pulau yang satu ke pulau yang lain. Hal itu, jugaakan memberikan sumbangan dalam pembentukan persatuan nasional,menghilangkan kesukuan, kedaerahan ataupun sikap eksklusivisme.Perkembangan transportasi juga dapat memberi beberapa efek sampingandi antaranya: daerah-daerah pedesaan lebih konsumtif terhadap barang-baranghasil industri, memperbesar terjadinya urbanisasi, masuknya kebiasaan, cara-carahidup, norma-norma kota yang belum tentu sesuai dengan kehidupan di desa(menggeser kebiasaan desa yang baik), naiknya harga-harga produksi desa didesanya.Perkembangan teknologi di bidang pertanian belum sepesat bidangindustri, namun dampaknya terhadap peningkatan produksi dan kesejahteraan para petani telah dirasakan. Ada beberapa hambatan yang dihadapi dalam penerapanteknologi di bidang pertanian antara lain: terutama di Pulau Jawa tidak banyak lahan pertanian yang luas, pemilikan lahan pertanian yang sempit yang kurangmenguntungkan bila diolah secara mekanis, keadaan alam yang banyakia massa dapat pula menimbulkan efek negatif. Tentang efek negatif acara TV beberapa ahli danhasil penelitian menyatakan: banyak orang yang membuang waktunya antara 4-6 jam tiap hari untuk mengikuti semua acara TV; film-film banyak yangmempertunjukkan kejahatan, pembunuhan, perampokan, dan sebagainya, iklanTV dapat menimbulkan penyakit the gimmees terutama pada anak (penyakitmerengek ingin dibelikan).Perkembangan teknologi transportasi meningkatkan mutu dan kecepa tanlalu lintas orang dan barang, mempermudah perhubungan baik lokal, antara kota,antara pulau maupun antara negara, menyebabkan terbukanya perhubungandengan daerah-daerah yang asalnya terpencil. Pembukaan perhubungan tersebutdapat memperlancar arus perdagangan dan meningkatkan mobilitas penduduk.Kelancaran arus perdagangan berarti barang-barang hasil bumi dari desa dapatdengan segera dikirimkan dan dijual ke kota, dan sebaliknya penduduk desa jugadapat dengan mudah mendapatkan barang-barang hasil industri. Mobilitas penduduk memungkinkan terjadinya akulturasi, terutama penduduk desa dengancara-cara dan kehidupan orang-orang kota. Mobilitas penduduk atau masyarakat bukan hanya dari desa ke kota tetapi juga dari kota atau daerah yang satu ke kotaatau daerah yang lain atau dari pulau yang satu ke pulau yang lain. Hal itu, jugaakan memberikan sumbangan dalam pembentukan persatuan nasional,menghilangkan kesukuan, kedaerahan ataupun sikap eksklusivisme.Perkembangan transportasi juga dapat memberi beberapa efek sampingandi antaranya: daerah-daerah pedesaan lebih konsumtif terhadap barang-baranghasil industri, memperbesar terjadinya urbanisasi, masuknya kebiasaan, cara-carahidup, norma-norma kota yang belum tentu sesuai dengan kehidupan di desa(menggeser kebiasaan desa yang baik), naiknya harga-harga produksi desa didesanya.Perkembangan teknologi di bidang pertanian belum sepesat bidangindustri, namun dampaknya terhadap peningkatan produksi dan kesejahteraan para petani telah dirasakan. Ada beberapa hambatan yang dihadapi dalam penerapanteknologi di bidang pertanian antara lain: terutama di Pulau Jawa tidak banyak lahan pertanian yang luas, pemilikan lahan pertanian yang sempit yang kurangmenguntungk bergunung-gunung atau berawa-rawa, kemampuan permodalan dan pengelolaan, pemasaran hasil pertanian dan sebagainya. Meskipun demikian, pemerintah telah berusaha mengembangkan teknologi tepat guna di bidang pertanian, untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Beberapa pertanian besar seperti riceestate di Palembang dan lain-lain yang merupakan joint venture sudahmenggunakan teknologi maju yang serba mekanik. Penggunaan teknologi majuyang paling banyak adalah di bidang industri, baik industry maupun hilir, industri besar, menengah bahkan industri kecil. Dalam pengembangan teknologi industriini, kebijaksanaan yang diambil pemerintah tidak hanya diarahkan pada pengembangan teknologi maju, tetapi juga teknologi tepat guna, yang mungkindapat diterapkan pada industri-industri menengah dan kecil. Walaupun dalam beberapa kasus tidak dapat dihindari terjadinya ketersisihan industri kecil olehindustri besar.Mengenai ketersisihan industri-industri kecil yang menggunakan teknologitradisional oleh industri-industri besar yang mengginiakan teknologi modern,Filino Harapah (1975, hlm. 8) mengemukakan pandangannya sebagai berikut:Dalam Pelita I kita telah melihat.terjadinya suatu eksperimentasi yang mcukup berani, di mana teknologi modern yang belum kita miliki berada berdampingan dengan teknologi tradisional yang masih terbelakang. Teknologimodern tersebut masih sangat bergantung kepada unsurunsur non-Indonesia.Dalam proses sudah berlangsung, kelihatan bahwa teknologi tradisional bukannyakian meningkat, malahan sebaliknya; seolah-olah terdesak. Bukti-bukti yangmemperkuat pengamatan ini adalah terdesaknya pabrik-pabrik rokok gulung(linting), usaha tenun bukan mesin dan perusahaan minuman yangmempergunakan teknologi tradisional sederhana, akibat saingan pabrik yang lebihmodern dan unggul teknologinya.Penggunaan teknologi maju dalam industri mempunyai beberapa pengaruhterhadap kehidupan masyarakat. Sebagai konsumen, masyarakat mempunyai beberapa keuntungan dari industri besar tersebut, yaitu barang-barang cukup banyak tersedia, kualitas barang cukup baik, harga kemungkinan juga sedikit lebihrendah bila dibandingkan dengan produksi pabrik kecil. Masyarakat sebagaisumber tenaga kerja banyak menderita kesulitan dengan adanya industri-industri an bila diolah secara mekanis, keadaan alam yang banyak eknologi maju tersebut. Suatu pekerjaan yang sebelum menggunakan teknologimaju mungkin membutuhkan 15-20 orang pegawai/buruh maka setelahmenggunakan teknologi maju dapat dikerjakan oleh 1 atau 2 orang saja. Dengandemikian dapat memperbesar angka pengangguran. Bagi orang-orang yang secarakebetulan dapat bekerja dengan teknologi maju tersebut dapat menikmatikeberuntungannya, tetapi sejumlah besar anggota masyarakat yang lain menderitakarena tidak mendapat pekerjaan. Mengenai pengangguran atau kesempatan kerjatersebut, M. Ziemek mengemukakan pendapat sebagai berikut:Melihat angka-angka terakhir mengenai kesempatan kerja di Indonesiayang menunjukkan bahwa 30% dari jumlah 44 juta angkatan kerja yang benar- benar, memperoleh kesempatan kerja penuh, jelas bahwa untuk mengurangi jumlah ini secara cukup berarti akan hampir tidak mungkin dicapai dengan jalanmengadakan industrialisasi perekonomian menurut pola di Barat.Pendidikan, juga menda pat pen garuh yang cukup besar dari ilmu danteknologi. Pendidikan sangat erat hubungan dengan kehidupan sosial, sebab, pendidikan merupakan salah satu aspek sosial. Pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal saja, melainkan juga pendidikan nonformal, sebab pendidikanmeliputi segala usaha sendiri atau usaha pihak luar untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapan, memperoleh keterampilan dan membentuk sikap-sikap tertentu.Pada bagian sebelum ini telah diungkapkan bahwa kemajuan di bidangkomunikasi massa sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Sebab media massa juga merupakan juga media pendidikan. Dengan kata lain, melalui media massadapat berlangsung proses pendidikan. Baik tayangantayangan yang berbentuk informasi ataupun tayangan yang bersifat hiburan juga mempunyai nilai-nilai pendidikan. Kami kira tidak ada seorang penulis skenario film, sinetron, atausandiwara TV, ataupun penulis berita atau cerita yang sengaja menulis suatu temacerita atau tulisan dengan tujuan merusak masyarakat. Meskipun penulis membuatceritera tentang kejahatan atau kekejaman, namun tujuannya justru menyadarkanmasyarakat bahwa perbuatan seperti itu tidak baik, yang jahat pasti dihukum dansebagainya. Dengan demikian semua acara tersebut sebenarnya mempunyaimaksud dan pesan yang positif, namun yang diterima oleh pemirsa tidak selalu seperti maksud dan pesan tersebut (tidak komunikatif). Sebagai penyebabnyamungkin saja karena adeganadegan yang kurang terpuji tersebut lebihmendominasi dibandingkan degnan adegan-adegan yang mengandung maksuddan pesan luhur. Dari pihak pemirsa kebanyakan lebih memperhatikan adegan-adegan yang ramai daripada mencari makna pesan luhur yang dibawa dengankeramaian tersebut.Bagaimanapun media massa mempunyai fungsi pendidikan. Tiap acara TVatau radio, tiap berita atau tulisan dalam surat kabar atau majalah dapat menambah pengetahuan pendengar, penonton, atau pembacanya, memberikan kecakapan atauketerampilan serta membina sikap tertentu. Dalam hal ini media massamempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan belajar dalam kelas, sebabdalam kelas, belajar berlangsung secara disadari, diperintah dan diuji tetapimelalui media massa belajar terjadi secara tidak sadar, tanpa paksaan atau perintah orang lain dan tidak ada tekanan untuk ulangan atau ujian. Mar’at seorang psikolog dari Unpad mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:”TV mampu mengubah sikap, pandangan, dan perasaan seseorang. Danyang penting adalah fungsi TV-nya sendiri yang disesuaikan dengan kemampuanmasyarakat, sebagai media komunikasi visual dalam meningkatkan pengetahuan,cara berpikir, dan cara menyelesaikan masalah”.Segi negatif yang lain dari media TV untuk pendidikan anak selain yangtelah diungkapkan terdahulu adalah kecenderungan anak untuk mengadakan peniruan dan identifikasi. Kita mengetahui bahwa anak suka tneniru; dan padamasa tertentu terutama pada awal masa pubertas ada masa anak untuk beridentifikasi dengan tokoh-tokoh pujaan tertentu. Mudah kita pahami bahwayang menjadi idola anak adalah tokoh-tokoh terkenal atau jagoan-jagoan tertentu.Sering terjadi kalau anak sudah menntio seorang tokoh, apa saja yang dilakukanoleh tokoh tersebut selalu baik. Padahal mungkin saja tidak semua tingkah lakutokoh tersebut baik, apalagi idolanya itu adalah tokoh dalam film-film Barat yangmungkin tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.Perkembangan teknologi di bidang industri mempunyai hubungan timbal balik dengan pendidikan. Industri dengan teknologi maju memproduksi berbagaimacam alat-alat dan bahan yang secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan dalam pendidikan. Kegiatan pendidikan membutuhkan dukungan dari penggunaanalat-alat hasil industri seperti komputer, televisi, radio, cassete tape recorder,video tape, buku-buku, gambar-gambar, peta, berbagai bentuk alat peraga, alat-alat permainan, alat tulis menulis, alat-alat berhitung, dan sebagainya.Peningkatan pendidikan sangat membutuhkan bantuan hasil-hasilteknologi industri tidak hanya yang bersifat hardware, tetapi juga membutuhkan bantuan penggunaan hasil pengembangan teknologi yang bersifat software. Sudahtentu penggunaan alat-alat hasil industri maju dalam bidang pendidikan, menuntut pengetahuan dan kecakapan gurugurunya. Hal itu berkenaan dengan segi softwaresebagai hasil pengembangan teknologi. Penggunaan alat-alat belajar yang moderndalam pendidikan akan mempengaruhi proses belajar. Dengan menggunakan alat-alat belajar yang modern anak akan lebih aktif belajar. Aktivitas belajar anak akan bergantung pada metode belajar-mengajar yang digunakan, anak akan lebih aktif dibandingkan dengan kalau hanya menggunakan kapur dan papan tulis saja.Ada segi lain mengenai hubungan antara pendidikan dengan perkembangan teknologi dalam industri. Perkembangan teknologi industrimenuntut peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilansumber daya manusianya. Hal itu berarti membuka pekerjaan baru dan jugamenuntut keahlian baru yang harus dipersiapkan dalam pendidikan. Untuk menyelenggarakan suatu sekolah kejuruan tertentu dituntut banyak hal. Sekolahkejuruan yang baru menuntut penyediaan guru-guru dalam kejuruan tersebut,menuntut peralatan pendidikan atau latihan yang baru yang mungkin tidak samadengan peralatan bagi pendidikan atau kejuruan yang telah ada. Sekolah kejuruanyang baru juga mungkin menuntut sistem atau program yang baru, metodemengajar yang baru, sistem penilaian yang baru, dan sebagainya. Dengan perkataan lain perkembangan teknologi dalam industri dapat memberikan tuntutan pembaharuan dalam pendidikan.Telah dibicarakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologimembawa beberapa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Beberapamasyarakat terpencil, yang tertutup dengan adanya transportasi dan komunikasiyang luas, berubah menjadi masyarakat yang terbuka dan cukup berkomunikasidengan daerah-daerah lain. Masyarakat yang pada mulanya hanya konsumtif
terhadap hasil-hasil pertanian telah berubah menjadi masyarakat yang lebihkonsumtif terhadap produksi industri.Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah menimbulkan banyak perubahan dalam nilai-nilai, baik nilai sosial, budaya, spiritual, intelektual,maupun material. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jugamenimbulkan kebutuhan barn, aspirasi baru, sikap hidup baru. Hal-hal di atasmenuntut perubahan pada sistem dan isi pendidikan. pendidikan bukan hanyamewariskan nilai-nilai dan hasil kebudayaan lama, tetapi juga mempersiapkangenerasi muda agar mampu hidup pada masa kini dan yang akan datang.Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologimeyebabkan perkembangan pula pada dunia pendidikan. Pengaruh perkembanganilmu dan teknologi terhadap pendidikan selain yang bersifat tidak langsung sepertiyang telah dikemukakan terdahulu, juga yang bersifat langsung. Perkembanganilmu dan teknologi bukan hanya yang bentuk hardware tetapi juga software danhubungan antarmanusia. Sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya,merupakan tempat pemindahan teknologi yang bersifat software dan hubunganantarmanusia. Di sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan lainnya,dipelajari konsep-konsep, prinsip-prinsip, kaidah-kaidah, cara-cara dan pendekatanpendekatan baru, untuk memahami dan memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan di rumah dan di masyarakat, dalam pekerjaan sertadalam hubungan-hubungan yang lebih luas. Hal-hal tersebut juga menuntut selaluadanya perkembangan dari pendidikan.Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung, maupuntidak langsung menuntut perkembangan pendidikan. Pengaruh langsung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan. Pengaruh tak langsung adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan perkembanganmasyarakat, dan perkembangan masyarakat menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan dengan pengetahuan, kemampuan, danketerampilan barn yang dikembangkan dalam pendidikan.
BAB 5MA
C
AM-MA
C
AM MODEL KONSEP KURIKULUM
Pada Bab 1 telah ungkapkan empat aliran pendidikan yaitu pendidikanklasik, pribadi, teknologi, dan interaksionis. Empat aliran itu bertolak dari asumsiyang berbeda dan mempunyai pandangan yang berbeda pula lentang kedudukandan peranan pendidik, peserta didik, isi, maupun proses pendidikan. Empat aliranatau teori pendidikan tersebut memiliki model konsep kurikulum dan praktik pendidikan yang berbeda. Model konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulumhumanistik, teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis dan dari pendidikan interaksionis, disebut kurikulum rekonstruksi sosial.
A.

Kurikulum Subjek Akademis
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Sampai sekarang,%valaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapatwelepaskan tipe ini. Mengapa demikian? Kurikulum ini sangat praktis, imidahdisusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya.Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua Woo pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya ilia.,a lalu tersebut.Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. liciajar adalah berusahamenguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalahorang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikanatau disiapkan oleh guru.Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu. Sesuai dengan bidangdisiplinnya para ahli, masing-masing telah mengembangkan ilmu secarasistematis, logis, dan solid. Para pengembang kurikulum tidak perlu susah- susahmenyusun dan mengembangkan bahan sendiri. Mereka tinggal memilih bahan
materi ilmu yang telah dikembangkan para ahli disiplin ilmu, kemudianmereorganisasinya secara sistematis, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya. Guru sebagai penyampai bahanajar memegang peranan penting. Mereka harus menguasai semua pengetahuanyang ada dalam kurikulum. Ia harus menjadi ahli dalam bidang-bidang studi yangdiajarkannya. Lebih jauh guru dituntut bukan hanya menguasai materi pendidikan,tetapi ia juga menjadi model bagi para siswanya. Apa yang disampaikan dan cara penyampaiannya harus menjadi bagian dari pribadi guru. Guru adalah yang”digugu dan “ditiru (diikuti dan dicontoh).Karena kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual. Nama-nama mata pelajaran yang menjadiisi kurikulum hampir sama dengan nama disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra,geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah, dan sebagainya.Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materiyang disampaikan, dalam perkembangannya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.Jerome Bruner dalam The Process of Education menyarankan bahwadesain kurikulum hendaknya didasarkan atas struktur disiplin ilmu. Selanjutnya,ia menegaskan bahwa kurikulum suatu mata pelajaran harus didasarkan atas pemahaman yang mendasar yang dapat diperoleh dari prinsip-prinsip yangmendasarinya dan yang memberi struktur kepada suatu disiplin ilmu.Beberapa kegiatan belajar memungkinkan untuk mengadakan generalisasi,suatu pengetahuan dapat digunakan dalam konteks lain daripada sekadar yangdipelajarinya, dapat merangsang ingatan apabila siswa diminta untuk menghubungkannya dengan masalah lain. Seorang siswa yang belajar fisika,umpamanya, harus melakukan kegiatan belajar sebagaimana seorang ahli fisikamelakukannya. Hal seperti itu akan mempermudah proses belajar fisika bagisiswa.Penekanan pada segi intelektual ini dianut oleh hampir seluruh proyek pengembangan kurikulum pada tahun 1960-an di sekolah-sekolah negara bagianAmerika Serikat. Para pengembang kurikulum pada masa adalah para ahli mata
pelajaran yang menyusun bahan ajar di sekitar unsur-unsur struktural mendasar dari disiplin ilmunya, menyangkiii problema, konsep-konsep inti, prinsip-prinsip,dan cara-cara bagaimana berinkuiri.Salah satu contoh kurikulum yang berdasarkan atas struktur pengetahuanadalah Man: A Course of Study (MACOS) Macos adalah kurikulum untuk sekolah dasar, terdiri atas buku-buku, film, poster, rekaman, permainan, dan perlengkapan kelas lainnya. Kurikulum ini ditujukan untuk mengadakan penyempurnaan tentang pengajaran ilmu sosial dan humanitas, dengan pengarahan dan bimbingan Bruner.Para pengembang kurikulum mengharapkan anak-anak dapat menggalifaktor-faktor penting yang akan menjadikan manusia sebagai manusia. Melalui perbandingan dengan binatang, anak mengetahui keadaan biologis manusia.Dengan membandingkan manusia dari suatu masyarakat dengan masyarakatlainnya, anak-anak akan mempelajari aspek-aspek universal dari kebudayaanmanusia.Sasaran utama kurikulum model MACOS adalah perkembangankemampuan intelektual, yaitu membangkitkan penghargaan dan keyakinan akankemampuan sendiri dan memberikan serangkaian cara kerja yang memungkinkananak walaupun dengan cara sederhana mampu menganalisis kehidupan sosial.Melalui serangkaian kegiatan ilmiah seperti observasi, percobaan, penyusunan,dan pengujian hipotesis, pemahaman disiplin ilmu-ilmu sosial, kegiatan diskaveridan sebagainya, diharapkan anak dapat mengambil banyak manfaat. Pada tahun1970-an pendekatan struktur pengetahuan dalam pengembangan kurikulum inimengalami kemunduran, sebab para ahli lebih tertarik pada pemecahan masalahkemanusiaan.Sekurang-kurangnya ada tiga pendekatan dalam perkembangan KurikulumSubjek Akademis. Pendekatan pertama, melanjutkan penih struktur pengetahuan.Murid-murid belajar ba.gaimana memperoleh dan menguji fakta-fakta dan bukansekadar mengingat-ingatnya.Pendekatan kedua, adalah studi yang bersifat integratif. Pendekatan inimerupakan respons terhaclap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model pengetahuan yang lebih komprehensif-terpadu. Pelajaran tersusun atas
satuan-satuan pelajaran, dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmumenjadi hilang. Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atasfenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada.Mereka mengembangkan suatu model kurikulum yang terintegrasi (integratedcurriculum). Ada beberapa ciri model kurikulum yang dikembangkan.1.

Menentukan tema-tema yang membentuk satu kesatuan (unifying theme),yang dapat terdiri atas ide atau konsep besar yang dapat mencakup semuailmu atau suatu proses kerja ilmu, fenomena alam, atau masalah sosial yangmembutuhkan pemecahan secara ilmiah.2.

Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa disiplin ilmu. Kegiatan belajar melibatkan isi dan proses dari satu atau beberapa ilmu sosial atau perilakuyang mempunyai hubungan dengan tema yang dipilih/ dikerjakan.3.

Menyatukan berbagai cara/metode belajar. Kegiatan belajar ditekankan pada pengalaman konkret yang bertolak dari minat dan kebutuhan murid sertadisesuaikan dengan keadaan setempat.Pendekatan ketiga, adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan matamata pelajarandengan menekankan membaca, menulis, dan memecahkan masalah-masalahmatematis. Pelajaran-pelajaran lain seperti ilmu kealaman, ilmu sosial, dan lain-lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecahan masalahdalam kehidupan.1.

Ciri-ciri kurikulum subjek akademisKurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengantujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademisadalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakanide-ide dan proses “penelitian”. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplinilmu, para siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapatterus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Para siswa harus belajar menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Sekolahharus memberikan kesempatan kepada para siswa untuk merealisasikankemampuan mereka menguasai warisan budaya dan jika mungkinmemperkayanya.

Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalahmetode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi(dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun secarasistematis, dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Dalam materidisiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting, kemudiandirumuskan dan dicari cara pemecahannya.Melalui proses tersebut para siswa akan menemukan, bahwa kemampuan berpikir dan mengamati digunakan dalam ilmu kealaman, logika digunakan dalammatematika, bentuk dan perasaan digunakan dalam seni dan koherensi dalamsejarah. Mereka mempelajari buku-buku standar untuk memperkaya pengetahuan,dan untuk memahami budaya masa lalu dan mengerti keadaan masa kini.Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:1.

Correlated curriculum adalah pola organisasi materi atau konsep yangdipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.2.

Unified atau Concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan pelajarantersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.3.

Integrated curriculum. Kalau dalam unified masih tampak warna iliciplinilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebutsudah tidak kelihatan lagi. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan,kegiatan atau segi kehidupan tertentu.4.

Problem Solving curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan denganmenggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagaimata pelajaran atau disiplin ilmu.Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang studi humaniora lebih banyak digunakan bentuk uraian(essay test) daripada tes objektif. Bidang studi tersebut membutuhkan jawabanyang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara menyeluruh. Bidangstudi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian subjektif yang jujur, di
samping standar keindahan dan cita rasa. Lain halnya dengan matematika, nilaitertinggi diberikan bila siswa menguasai landasan aksioma serta cara penghitungannya benar. Dalam ilmu kealaman penghargaan tertinggi bukan hanyadiberikan kepada jawaban yang benar tetapi juga pada proses berpikir yangdigunakan siswa.Para ahli disiplin ilmu sering memiliki sifat ainbivalen terhadap evaluasi.Satu pihak melihatnya sebagai suatu kegiatan yang sangat berharga, yang dapatmemberikan informasi yang dibutuhkan. Pada pihak lain merekamengkhawatirkan kegiatan evaluasi dapat mempengaruhi hubungan antara gurudan siswa. Evaluasi yang dilakukan dalam waktu singkat tidak akan memberikangambaran yang benar tentang perkemhangan dan penguasaan siswa.Kekhawatiran mereka dapat sedikit dikurangi dengan dikembangkannya modelevaluasi formatif dan sumatif.2.

Pemilihan disiplin ilmuMasalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplinilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan yang cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempelajari sedikit disiplinilmu maka penguasaan para siswa akan sangat Ierbatas, sukar menerapkannyadalam kehidupan masyarakat secara luas. apabila disiplin ilmunya cukup banyak,maka tahap penguasaannya akan mendangkal. Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit- dikit (tidak mendalam).Ada beberapa saran untuk mengatasi masa lah tersebut, yaitu:1.

Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensive- ness)dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran ataumendapatkan pengetahuan.2.

Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility), memilih danmenentukan aspek-aspek dari dari disiplin ilmu yang sangat diperlukandalam kehidupan masyarakat
3.

Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yangmenjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan disiplin-disiplin ilmu yanglainnya.
3.

Penyesuaian mata pelajaran dengan perkembangan anak
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan bahan secara logis dan sistematis daripada menyelaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Mereka umumnya kurangmemperhatikan bagaimana siswa belajar dan lebih mengutamakan susunan isi,yaitu apa yang akan diajarkan. Proses belajar yang ditempuh oleh siswa sama pentingnya dengan penguasaan konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi. Para ahlikurikulum subjek akademis juga memandang materi yang akan diajarkan bersifatuniversal, mereka mengabaikan karakteristik siswa dan kebutuhan masyarakatsetempat.Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembanganselanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan. Pertama, untuk mengimbangi penekanannya pada proses berpikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisidan tebakan-tebakan. Kedua adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajarandengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat. Ketiga, pemanfaatan fasilitasdan sumber yang ada pada masyarakat.
B.

Kurikulum Humanistik
1.

Konsep dasar Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikanhumanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi(personalized education) yaitu John Dewey (Progressive Education) dan J.J.Rousseau (Romantic Education). Aliran ini lebih memberikan tempat utamakepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. la adalah subjek yang menjadi pusatkegiatan pendidikan. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, punyakemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu
kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yangutuh bukan saja segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi,sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain).Pandangan mereka berkembang sebagai reaksi terhadap pendidikan yanglebih menekankan segi intelektual dengan peran utama dipegang oleh guru.Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakan suatuupaya untuk menciptakan situasi yang permisif, rileks, akrab. Berkat situasitersebut anak mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Menurut Mc Neil”The nezv humanists are self actualizers who see curriculum as a liberating process that can meet the need for growth and personal integrity (John D. Mc Neil, 1977, hlrn. 1). Tugas guru adalah menciptakan situasi yang permisif danmendorong siswa untuk mencari dan mengembangkan pemecahan sendiri.Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa(mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu.Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangikerenggangan dan keterasingan dari lingkungan. Ada beberapa aliran yangtermasuk dalam pendidikan humanistik yaitu pendidikan: Konfluen, KritikismeRadika I, dan Mistikisme modern.Pendidikan konfluen menekankan keutuhan pribadi, individu harusmerespons secara utuh (baik segi pikiran, perasaan, maupun tindakan), terhadapkesatuan yang menyeluruh dari lingkungan.Kritikisme radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantismeRousseau. Mereka memandang pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.Pendidikan merupakan upaya untuk menciptakan situasi yang memungkinkananak berkembang optimal. Pendidik adalah ibarat petani yang berusahamenciptakan tanah yang gembur, air dan udara yang ‡ukup, terhindar dari berbagai hama, untuk tumbuhnya tanaman yang penuh dengan berbagai potensi.Dalam pendidikan tidak ada pemaksaan, yang ada adalah dorongan danrangsangan untuk berkembang
Mistikisme modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivitytraining, yoga, meditasi, dan sebagainya.2.

Kurikulurn konfluenKurikulum konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen,yang ingin menyatukan segi-segi afektif (sikap, perasaan, nilai) dengan segi-segikognitif (kemampuan intelektual). Pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung segi afektif). Menurut mereka kurikulum tidak menyiapkan pendidikan tentang sikap, perasaan, dan nilai yang harus dimilikimurid-murid. Kurikulum hendaknya mempersiapkan berbagai alternatif yangdapat dipilih murid-murid dalam proses bersikap, berperasaan dan memberi pertimbangan nilai. Murid-murid hendaknya diajak untuk menyatakan pilihan danmempertanggungjawabkan sikap-sikap, perasaan-perasaan, dan pertimbangan- pertimbangan nilai yang telah dipilihnya.3.

Beberapa ciri kurikulum konfluenKurikulum konfluen mempunyai beberapa ciri utama yaitu:a.

Partisipasi. Kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam belajar.Kegiatan belajar adalah belajar bersama, melalui berbagai bentuk aktivitaskelompok. Melalui partisipasi dalam kegiatan bersama, murid-murid dapatmengadakan perundingan, persetujuan, pertukaran kemampuan, bertanggung jawab bersama, dan lain-lain. Ini menunjukkan ciri yang non-otoriter dari pendidikan konfluen. b.

Integrasi. Melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok terjadiinteraksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan dan jugatindakan.c.

Relevansi. Isi pendidikan relevan dengan kebutuhan, mina t dan kehidupanmurid karena diambil dari dunia murid oleh murid sendiri. Hal demikiansudah tentu akan lebih berarti bagi murid baik secara intelektual maupunemosioanal
d.

Pribadi anak. Pendidikan ini memberi tempat utama pada pribadi anak.Pendidikan adalah pengembangan pribadi, pengaktualisasian segala potensi pribadi anak secara utuh.e.

Tujuan. Pendidikan ini bertujuan mengembangkan pribadi yang utuh, yangserasi baik di dalam dirinya maupun dengan lingkungan secaramenyeluruh.Dasar dari kurikulum konfluen adalah Psikologi Gestalt yang menekankankeutuhan, kesatuan, keseluruhan. Teori yang mendukung pandangan ini adalahEksistensialisme yang memusatkan perhatiannya pada apa yang terjadi sekarangdi tempat ini. Apa yang menjadi isi kurikulum diukur oleh apakah hal itu bermanfaat bagi kita sekarang? Apakah hal itu akan memperbaiki kehidupan kitasekarang.Prinsip pengajarannya menerapkan prinsip terapi Gestalt, yangmenekankan keterbukaan, kesadaran, keunikan, dan tanggung jawab pribadi. Hal-hal di atas sangat esensial dalam perkembangan individu yang sehat, yang matang.Pengajaran lebih menekankan kepada tanggung jawab pribadi daripada kompetisi.Tidak ada jawaban yang salah atau benar dalam pengajaran konfluen. Melaluilatihan kesadaran/kepekaan perkembangan yang sehat akan tercapai, karenadengan cara itu ia lebih sadar akan eksistensinya dan kemungkinannya untuk berkembang.Kurikulum konfluen menyatukan pengetahuan objektif dan subjektif, berhubungan dengan kehidupan siswa dan bermanfaat baik bagi individu maupunmasyarakat. Hal itu sesuai dengan konsep Gestalt bahwa sesuatu itu dikatakan berarti (penting – red) apabila bermanfaat bagi keseluruhan. Pendidikan konfluensangat mengutamakan kesatuan dari keseluruhan.4.

Metode-metode belajar konfluenPara pengembang kurikulum konfluen telah menyusun kurikulum untuk berbagai bidang pengajaran. Kurikulum tersebut mencakup tujuan, topic- topik yang akan dipelajari, alat-alat pelajaran, dan buku teks. Pengajaran konfluen jugatelah tersusun dalam bentuk rencana-rencana pelajaran, unit- unit pelajaran yangtelah diujicobakan. Kebanyakan bahan tersebut diajarkan dengan teknik afektif.
George Issac Brown telah memberikan sekitar 40 macam teknik pengajaran konfluen, di antaranya: dyads yang merupakan latihan komunikasiafektif antara dua orang, fantasy body trips merupakan pemahaman tentang badandan diri individu, rituals yaitu suatu kegiatan untuk menciptakan kebiasaan,kegiatan atau ritual baru.Berbeda dengan pengembang kurikulum yang lain, para penyusunkurikulum konfluen tidak menuntut para guru melaksanakan pengajaran sepertiyang mereka kerjakan. Mereka mengharapkan setiap guru mengembangkan kreasisendiri. Dalam menciptakan kreasi ini, yang terpenting mereka memahami tujuandan kegunaan kegiatan yang mereka ciptakan.Dalam memilih kegiatan belajar beberapa cara dapat ditempuh. Pertama,mengidentifikasi tema-tema atau topik-topik yang mengandung self judgment.Untuk setiap tema atau topik hendaknya dipilih prosedur atau bentuk-bentuk kegiatan atau teknik yang sesuai. Kedua, materi disajikan dalam bentuk yang belum selesai (open ended), tema atau issue-iswre diharapkan muncul secaraspontan dari prosedur serta perlengkapan pengajaran yang ada. Cara yang keduaini menuntut keterbukaan dari peristiwa tetapi juga guru perlu mengusahakankerahasiaan.Pengajaran humanistik memfokuskan proses aktualisasi din i (self actual-ization). Setiap orang mempunyai self (aku = din) yang tidak selalu disadari,tersembunyi atau tertutup. Aku atau diri ini perlu dibuka, atau diba- ngunkanmelalui pendidikan.Kurikulum perlu merencanakan program untuk membantu para siswamenemukan dan menampakan dirinya. Kurikulum humanistik dapat membantumereka memperlancar proses aktualisasi diri ini. Melalui berbagai kegiatan pengajaran model humanistik para siswa dapat menyatakan din, berekspresi, bereksperimen, berbuat, memperoleh umpan balik dan menemukan dirinya.Menurut Abraham Maslow (1968, him. 685- 686) kita dapat belajar lebih banyak tentang diri kita melalui pengujian respons-respons menuju puncak pengalaman(peak experiences). Puncak pengalaman adalah pengalaman-pengalaman yangmembangkitkan rasa sayang, benci, cemas, duka, senang dsb. Menurut Maslow puncak pengalaman ini merupakan awal dan juga akhir da ri pendidikan.
Menurut Philip H. Phenix (1971, him. 271-283) kurikulum harus dapatmengembangkan kesadaran dan mendorong kreativitas murid-murid. Bagi Phenixkesadaran merupakan kunci perkembangan diri dalam membina hubungan dan penycsuaian diri dengan orang lain, kelompok, budaya, dan lain-lain.5.

Karakteristik kurikulum humanistik Kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik, berkenaandengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Menurut para humanis,kurikulum befungsi menyediakan pengalaman (pengetahuanred) berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi mu- rid. Bagi mereka tujuan pendidikan adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang diarahkan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian, sikap yang sehat terhadapdiri sendiri, orang lain, dan belajar. Semua itu merupakan bagian dari cita-cita perkembangan manusia yang teraktualisasi (self actualizing person). Seseorangyang telah mampu mengakutalisasikan diri adalah orang yang telah mencapaikeseimbangan (harmoni) perkembangan seluruh aspek pribadinya baik aspek kognitif, estetika, maupun moral. Seorang dapat bekerja dengan baik bilamemiliki karakter yang baik pula.Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antaraguru dan murid. Guru selain harus mampu menciptakan hubungan yang hangatdengan murid, juga mampu menjadi sumber. Ia harus mampu memberikan materiyang menarik dan mampu menciptakan situasi yang memperlancar proses belajar.Guru harus memberikan dorongan kepada murid atas dasar saling percaya. Peranmengajar bukan saja dilakukan oleh guru tetapi juga oleh murid. Guru tidak memaksakan sesuatu yang tidak disengani murid.Sesuai dengan prinsip yang dianut, kurikulum humanistik menekan- kanintegrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi jugaemosional dan tindakan. Kurikulum humanistik juga menekankan keseluruhan.Kurikulurn harus mampu memberikan penga- laman yang menyeluruh, bukan pengalaman yang terpenggal-penggal. Kurikulum ini kurang menekankansekuens, karena dengan sekuens mu- rid-murid kurang mempunyai kesempatanuntuk memperluas dan memperdalam aspek-aspek perkembangannya
Penyusunan sekuens dalam pengajaran yang sifatnya afektif, dilakukan olehShiflett (1975, hlm. 121- 139) dengan langkah-langkah sebagai berikut.a.

Menyusun kegiatan yang dapat memunculkan sikap, minat atau perhatiantertentu. b.

Memperkenalkan bahan-bahan yang akan dibahas dalam setiap kegiatan. Didalamnya tercakup topik-topik, bahan ajar serta kegiatan belajar yang akanmembantu siswa dalam merumuskan apa yang ingin mereka pelajari. Kegiatanyang diutamakan adalah yang akan membangkitkan rasa ingin tahu dari pemahaman.c.

Pelaksanaan kegiatan, para siswa diberi pengalaman yang menyenangkan baik yang berupa gerakan-gerakan maupun penghayatan.d.

Penyempurnaan, pembahasan hasil-hasil yang telah dicapai, penyempurnaanhasil serta upaya tindak lanjutnya.Dalam evaluasi, kurikulum humanistik berbeda dengan yang biasa. Modellebih mengutamakan proses daripada hasil. Kalau kurikulum yang hiasa terutamasubjek akademis mempunyai kriteria pencapaian, maka dalam kurikulumhumanistik tidak ada kriteria. Sasaran mereka adalah perkembangan anak supayamenjadi manusia yang lebih terbuka, lebih berdiri sendiri. Kegiatan yang merekalakukan hendaknya bermanfaat bagi siswa. Kegiatan belajar yang baik adalahyang memberikan pengalaman yang akan membantu para siswa memperluaskesadaran akan dirinya dan orang lain dan dapat mengembangkan potensi-potensiyang dimilikinya. l’onilaiannya bersifat subjektif baik dari guru maupun parasiswa.
C
.

Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulumlainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema- problemayang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri,melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama. Kerja sama atau interaksi bukan hanya terjadi antara sisvva dengan guru, tetapi juga antara siswa dengansiswa, siswa dengan orang-orang di lingkungan- nya, dan dengan sumber belajar
lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukanmasyarakat yang lebih baik.Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun1920-an. Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan- kawannya bahvvaselama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Iamenginginkan para siswa dengan pengetahuan dan konsep- konsep baru yangdiperolehnya dapat mengidentifikasi dan memcahkan masalah-masalah sosial.Setelah diharapkan dapat menciptakan masya- rakat baru yang lebih stabil.Theodore Brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannyatentang rekonstruksi sosial. Dalam masyarakat demokratis, seluruh wargamasyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat.Untuk melaksanakan hal itu sekolah mempunyai posisi yang cukup penting.Sekolah bukan saja dapat membantu individu memperkembangkan kemampuansosialnya, tetapi juga dapat membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknyadalam kegiatan sosial.Para rekonstruksionis sosial tidak mau terlalu menekankan kebebasanindividu. Mereka ingin meyakinkan murid-murid bagaimana masyarakat membuatwarganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana masyarakat metnenuhikebutuhan pribadi warganya melalui konsensus sosial. Brameld juga inginmemberikan keyakinan tentang pentingnya perubahan sosial. Perubahan sosialtersebut harus dicapai melalui prosedur demokrasi. Para rekonstruksionis sosialmenentang intimidasi, menakut-nakuti dan kompromi semu. Mereka mendorongagar para siswa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalahsosial yang mendesak (crucial) dan kerja sama atau bergotong royong untuk memecahkannya.1.

Desain kurikulum rekonstruksi sosialAda beberapa ciri dari desain kurikulum ini.a.

Asumsi. Tujuan utama kurikulum rekonstruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Tantangan-tantangan tersebut merupakan
bidang garapan studi sosial, yang perlu didekati dari bidang-bidang lainseperti ekonomi, sosiologi psikologi, estetika, bahkan pengetahuan alam, danmatematika. Masalah-masalah masyarakat bersifat universal dan hal inidapat dikaji dalam kurikulum. b.

Masalah-masalah sosial yang mendesak. Kegiatan belajar dipusatkan padamasalah-masalah sosial yang mendesak. Masalah-masalah tersebutdirumuskan dalam pertanyaan, seperti: Dapatkah kehidupan seperti sekarangini memberikan kekuatan untuk menghadapi ancaman ancaman yang akanmengganggu integritas kemanusiaan? Dapatkah tata ekonomi dan politik yang ada dibangun kembali agar setiap orang dapat memanfaatkan sumber-sumber daya alam dan cumber daya manusia seadil mungkin. Pertanyaan- pertanyaan tersebut mengundang pengungkapan lebih mendalam, bukan sajadari buku-buku dan kegiatan laboratorium tetapi juga dari kehidupan nyatadalanl masyarakat.c.

Pola-pola organ isasi. Pada tingkat sekolah menengah, pola organisasikurikulum disusun seperti sebuah roda. Di tengah-tengahnya sebagai porosdipilih sesuatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahassecara pleno.Dan tema utama dijabarkan sejumlah topik yang dibahas dalam diskusi-diskusi kelompok, latihan-latihan, kunjungan dan lain- lain. Topik-topik dengan berbagai kegiatan kelompok ini merupakan jar-jar. Semua kegiatan jar-jari tersebut dirangkum menjadi satu kesatuan sebagai bingkai atau velk.BAGAN 5. Pola desain kurikulum rekonstruksi sosial

1.

Komponen-komponen kurikulumKurikulum rekonstruksi sosial memiliki komponen-komponen yang samadengan model kurikulum lain tetapi isi dan bentuk-bentuknya berbeda.a)

Tujuan dan isi kurikulum. Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah.Dalam program pendidikan ekonomi-politik, umpamanya untuk tahun pertamatujuannya membangun kembali dunia ekonomipolitik. Kegiatan yangdilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah ( I) mengadakan survaisecara kritis terhadap masyarakat (2) mengadakan studi tentang hubunganantara keadaan ekonomi lokal dan ekonomi nasional serta dunia, (3)mengadakan studi tentang latar belakang nkloris dan kecenderungan-kecenderungan perkembangan ekonomi, Illihungannya dengan ekonomi lokal,(4) mengkaji praktik politik dalam Ind,mT.Innyo dengan faktor ekonomi, (5)memantapkan rencana perubahan praktik politik, (6) mengevaluasi semuarencana dengan criteria, apakah telah mempengaruhi kepentingan sebagian besar orang. b)

Metode. Dalam pengajaran rekonstruksi social para pengembang kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan- tujuan nasional dengan tujuansiswa. Guru-guru berusaha membantu para siswa menemukan minat dankebutuhannya. Sesuai dengan minat masingmasing siswa, baik dalam kegiatan pleno maupun kelompok-kelompok berusaha memecahkan masalah sosialyang dihadapinya. Kerja sama baik antara individu dalam kegiatan kelompok,maupun antarkelompok dalam kegiatan pleno sangat mewarnai metoderekonstruksi sosial. Kerja sama ini juga terjadi antara para siswa denganmanusia sumber dari masyarakat. Bagi rekonstruksi sosial, belajar merupakankegiatan bersama, ada kebergantungan antara seorang dengan yang lainnya.Dalam kegiatan belajar tidak ada kompetisi yang ada adalah kooperasi ataukerja sama, saling pengertian dan konsensus. Anakanak sejak sekolah dasar pun diharuskan turut serta dalam survai kemasyarakatan serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Untuk kelaskelas tinggi selain mereka dihadapkankepada situasi nyata juga mereka diperkenalkan dengan situasi-situasi ideal.Dengan hal itu diharapkan para siswa dapat menciptakan model-model kasar dari situasi yang akan datang.
c)

Evaluasi. Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga libatkan. Keterlibatanmereka terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akandiujikan. Soal-soal yang akan diujikan dinilai lebih dulu baik ketepatanmaupun keluasan isinya, juga keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanyamenilai apa yang telah dikuasai siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatansekolah terhadap masyarakat. Pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.2.

Pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosialPengajaran rekonstruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yangtergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Sesuaidengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensitersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah sekolah berusahamengembangkan poterisi tersebut. Di daerah pertanian umpamanya sekolahmengembangkan bidang pertanian dan peternakan, di daerah industrimengembangkan bidang-bidang industri.Salah satu badan yang banyak mengembangkan baik teori maupun praktik pengajaran rekonstruksi sosial adalah Paulo Freize. Mereka banyak membantu pengembangan daerah-daerah di Amerika Latin. Untuk memerangi kebodohandan keterbelakangan mereka menggalakkan gerakan budaya akal budi(conscientization). Conscientization merupakan suatu proses pendidikan atau pengajaran di mana siswa tidak diperlakukan sebagai penerima tetapi sebagai pelajar yang aktif. Mereka berusaha membuka diri, memperluas kesadaran tentangrealitas sosial budaya dan dengan segala kemampuannya berupaya mengubah danmeningkatkannya.Sekolah berusaha memberikan penerangan dan melatih kemampuan untuk melihat dan mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi, meningkatkankemampuan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan gerakanconscientization mereka membantu masyarakat memahami fakta-fakta danmasalah-masalah yang dihadapinya dalam konteks kondisi masyarakat mereka
Keterbatasan dan potensi yang mereka miliki. Bertolak dari kenyataan-kenyataantersebut mereka membina diri dan membangun masyarakat.Harold G. Shane seorang profesor dari Universitas Indiana AmerikaSerikat, mewakili teman-temannya para Futurolog menggunakan perencanaanmasa yang akan datang (future planning) sebagai dasar penyusunan kurikulum. Iamenggalakkan perencanaan masa akan datang, dari bukan perencanaan untuk masa yang akan datang. Shane menegaskan peranan individu dalam menemukanmasa depannya sendiri, mereka tidak dapat melepaskan din dari perkembangantetapi harus menyesuaikannya.Shane menyarankan para pengembang kurikulum, agar mempelajarikecenderungan (trends) perkembangan. Kecenderungan utama adalah perkembangan teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap kondisi dan perkembangan masyarakat. Kecenderungan lain adalah perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dalam perkembangan sosial yang perlu mendapatkan perhatian utama adalah perkembangan manusia, baik bagai individu maupundalam interaksinya dengan yang lain. Untuk iiiengidentifikasi dan menganalisiskecenderungan-kecenderungan tersebut diperlukan bantuan dari para ahli disiplinilmu. Dalam pemecahan problema sosial dan membuat kebijaksanaan sosialdiperlukan musyawarah tiengan warga masyarakat.Para ahli kurikulum yang berorientasi ke masa depan menyarankan agar isikurikulum difokuskan pada: penggalian sumber-sumber alam dan htikan alam, populasi, kesejahteraan masyarakat, masalah air, akibat pertambahan penduduk,ketidakseragaman pemanfaatan sumber-sumber dan lain-lain.Pandangan rekonstruksi sosial berkembang karena keyakinannya padakemampuan manusia untuk membangun dunia yang lebih baik. Juga penekanannya tentang peranan ilmu dalam memecahkan masalah-masalah sosial.Beberapa kritikus pendidikan menilai pandangan ini sukar diterapkan langsungdalam kurikulum (pendidikan). Penyebabnya adalah interpretasi para ahli tentang perkembangan dan masalah-masalah sosial berbeda. Kemampuan warga untuk ikut serta dalam pemecahan masalah juga bervariasi.
D.

Teknologi dan Kurikulum
Abad dua puluh ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu teknologi telah diterapkandalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grip, dan lain-lain.Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang digunakan adalahteknologi maju, seperti audio dan video casssette, overhead projector, film slide,dan motion film, mesin pengajaran, komputer, CD-rom dan internet.Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi.Suatu kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebihsempit/khusus dan akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati ataudiukur.Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulumadalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkatkeras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenalsebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat danmedia, juga model-model pengajaran yang banyak melibatkan penggunaan alat.Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan filmdan video, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul.Pengajaran dengan bantuan komputer, dan lain-lain.Dalam arti teknologi sistem, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program sistem, bisa
program sistem yang ditunjang dengan alat dan media, dan bisa juga programsistem yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran.Pada bentuk pertama, pengajaran tidak membutuhkan alat dan med id yangcanggih, tetapi bahan ajar dan proses pembelajaran disusun secai sistem. Alat danmedia digunakan sesuai dengan kondisi tetapi tidal terlalu dipentingkan. Pada bentuk kedua, pengajaran disusun secara system. Alat dan media digunakan sesuaidengan kondisi tetapi tidak terlalu dipentingkan. Pada bentuk kedua, pengajarandisusun secara system dan ditunjang dengan penggunaan alat dan media pembelajaran. Penggunaan alat dan media belum terintegrasi dengan program pembelajaran, bersifat “on-off’, yaitu bila digunakan alat dan media akan lebih baik, tetapi bila tidak menggunakan alat pun pengajaran masih tetap berjalan.Pada bentuk ketiga program pengajaran telah disusun secara terpadu antara bahandan kegiatan pembelajaran dengan alat dan media. Bahan ajar telah disusun dalamkaset audio, video atau film, atau diprogramkan dalamkomputer. Pembelajarantidak bisa berjalan tanpa melibatkan penggunaan alat-alat dan program tersebut.1.

Beberapa ciri kurikulum teknologisKurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan,memiliki beberapa ciri khusus, yaitu:a.

Tujuan. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskandalam bentuk perilaku. Tujuan-tujuan yang bersifat umum yaitu kompetensidirinci menjadi tujuan-tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuaninstruksional. Objektif ini menggambarkan perilaku, perbuatan ataukecakapan-keterampilan yang dapat diamati atau diukur. b.

Metode. Metode yang merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandangsebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan danapabila terjadi respons yang diharapkan maka respons tersebut diperkuat.Tujuan-tujuan pengajaran telah ditentukan sebelumnya. Pengajaran bersifatindividual, tiap siswa menghadapi serentetan tugas yang harusdikerjakannya, dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. Pada saattertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Setiap
siswa harus menguasai secara tuntas tujuan-tujuan program pengajaran.Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.1)

Penegasan tujuan. Para siswa diberi penjelasan tentang pentingnya bahanyang harus dipelajari. Sebagai tanda menguasai bahan mereka harusmenguasai seara tuntas tujuan-tujuan dari suatu program.2)

Pelaksanaan pengajaran. Para siswa belajar secara individual melalui media buku-buku ataupun media elektronik. Dalam kegiatan belajarnya merekadapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar ataupun perilaku-perilakuyang dinyatakan dalam tujuan program. Mereka belajar dengan caramemberikan respons secara cepat terhadap persoalan-persoalan yangdiberikan.3)

Pengetahuan tentang hasil. Kemajuan siswa dapat segera diketahui olehsiswa sendiri, sebab dalam model kurikulum ini umpan balik selaludiberikan. Para siswa dapat segera mengetahui apa yang telah mereka kuasaidan apa yang masih harus dipelajari lebih serius.c.

Organisasi Indian ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil daridisiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan sesuatu kompetensi. Bahan ajar atau kompetensi yang luas/besar dirinci menjadi bagian-bagian atau subkompetensi yang lebih kecil, yangrnenggambarkan objektif. Urutan dari objektifobjektif ini pada dasarnyamenjadi inti organisasi bahan.d.

Evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit ataupun semester. Fungsi evaluasi ini bermacam-macam, sebagai umpan balik bagi siswa dalam penyempurnaan penguasaansuatu satuan pelajaran (evaluasi formatif), umpan balik bagi siswa pada akhir suatu program atau semester (evaluasi sumatif). Juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan pengembang kurikulum untuk penyempurnaankurikulum. Evaluasi yang mereka gunakan umumnya berbentuk tes objektif.Sesuai dengan landasan pemikiran mereka, bahwa model pengajarannyamenekankan sifat ilmiah, bentuk ini tes dipandang yang paling cocok.
Program pengajaran teknologis sangat menekankan efisiensi danefektivitas. Program dikembangkan melalui beberapa kegiatan uji coba dengansampel-sampel dari suatu populasi yang sesuai, direvisi beberapa kali sampaistandar yang diharapkan dapat dicapai. Dengan model pengajaran ini tingkat penguasaan siswa dalam standar konvensional jauh lebih tinggi dibandingkandengan model-model lain. Apalagi kalau digunakan program-program yang lebih berstruktur seperti pengajaran berprogram, pengajaran modul atau pengajarandengan bantuan video dan komputer, yang dilengkapi dengan sistem umpan balik dan bimbingan yang teratur dari dapat mempercepat dan meningkatkan penguasaan siswa.Meskipun memiliki kelebihan-kelebihan, kurikulum teknologis tidak terlepas dari beberapa keterbatasan atau kelemahan. Model ini terbataskemampuannya untuk mengajarkan bahan ajar yang kompleks atau membutuhkan penguasaan tingkat tinggi (analisis, sintetis, evaluasi) juga bahan-bahan ajar yang bersifat afektif. Beberapa percobaan menunjukkan kemampuan siswa untuk mentransfer hasil belajar cukup rendah. Pengajaran teknologis sukar untuk dapatmelayani bakat-bakat siswa belajar dengan metode-metode khusus. Metodemengajar mereka cenderung seragam. Keberhasilan belajar siswa juga sangatdipengaruhi oleh sikap mereka, bila sikapnya positif maka siswa akan berhasil,tetapi bila sikapnya negatif, tingkat penguasaannya pun relatif rendah. Masalahkebosanan juga berpengaruh terhadap proses belajar.2.

Pengembangan kurikulumDalam pengembangan kurikulum model lama, menurut para ahli teknologi pendidikan, penyusunan kurikulum, penyusunan buku-buku serta perangkatkurikulum lainnya lebih bersifat seni dan didasarkan atas kepentingan politik daripada landasan-landasan ilmiah dan teknologis. Pengembangan kurikulumdiarahkan pada pencapaian nilai-nilai umum, konsep-konsep, masalah danketerampilan yang akan menjadi isi kurikulum disusun dengan fokus pada nilai-nilai tadi.Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa kriteria,yaitu: 1) Prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh
pengembang kurikulum yang lain, 2) Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikanhasil yang sama.Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan padakompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran bukanhanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.Pengembangan kurikulum ini membutuhkan kerjasama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik dan media cetak. Di pihak lainharus dicegah jangan sampai pengembangan kurikulum ini menjadi objek bisnis.Pengembangan pengajaran yang betul-betul berstruktur dan bersatu dengan alatdan media membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Inilah hambatan utama pengembangan kurikulum ini, terutama bagi sekolah atau daerah-daerah yangkemampuan finansialnya masih rendah.Pemecahan masih dapat dilakukan dengan menerapkan model kurikulumteknologis yang lebih menekankan pada teknologi sistem dan kurang menekankan pada teknologi alat. Dengan pendekatan ini biaya dapat lebih ditekan, di sampingmemberi kesempatan kepada pelaksana pengajaran, terutama guru-guru untuk mengembangkan sendiri program pengajarannya. Model ini di Indonesia dikenaldengan nama Satuan Pelajaran dalam lingkungan Pendidikan Dasar danMenengah atau Satuan Acara Perkuliahan pada Perguruan Tinggi, sebagai bagman dari. Sistem Instruksional atau Desain Instruksional.Pengembangan kurikulum teknologis terutama yang menekankanteknologi alat, perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, formulasi perludirumuskan terlebih dahulu apakah pengembangan alat atau media tersebut benar- benar diperlukan. Hal ini menyangkut pasaran. Kedua spesifikasi, diperlukanadanya spesifikasi dari alat atau media yang akan dikembangkan, baik dilihat darisegi kegunaannya maupun ketepatan penggunaannya.Spesifikasi juga meliputi spesifikasi situasi lingkungan tempat belajar,standar perilaku belajar, serta keterampilan-keterampilan untuk mencapai tujuan.Ketiga prototipe, sekuens-sekuens pengajaran perlu diujicobakan dalam bentuk prototipe-prototipe, demikian juga format-format media, dan organisasi. Keempat
percobaan pertama, unit-unit pengajaran diujicobakan pada sejumlah sampelsiswa untuk mengetahui keberhasilan dan kelemahannya. Data tentang kebaikandan kekurangan-kekurangan sangat diperlukan bagi penyempurnaan. Kelimamencoba hasil, hasil dari pengembangan dicoba diterapkan di dalam sistem pengajaran yang berlaku. Proses pelaksanaan, hasil dan kesulitan-kesulitan yangdihadapi dicatat sebagai umpan balik bagi penyempurnaan selanjutnya.
E.

Buku Acuan
Brown, George Isaac (ed). (1975). The Live Classroom. New York: TheViking Press.Buku ini menguraikan pendidikan dan pengajaran yang didasarkan atasteori Gestalt, yang disebut Confluent Education. Dengan pendekatan ini merekaingin memperbaiki pelaksanaan yang mereka sebut sebagai kelas yang mati.Suasana kelas dapat dihidupkan melalui pelaksanaan Confluent Education, sebabdalam pendekatan ini faktor afektif mendapatkan tempat yang sama dengan faktor kognitif. Dalam buku ini para penulis tidak hanya menguraikan segi-segi teoretis,tetapi juga dilengkapi dengan ilustrasi dalam praktik. Dengan ConfluentEducation bukan saja kelas menjadi lebih hidup, tetapi perkembangan yangmenyeluruh dari pribadi anak dapat tercapai, sehingga perkembangannya lebihoptimal. Buku ini sangat berfaidah bagi para pendidik, ahli kurikulum dan pengajaran, serta para guru di sekolah. Pokok-pokok yang diuraikan dalam bukuini meliputi, dasar-dasar teori Gestalt, konsep-konsep Confluent Education,contoh-contoh rencana serta pelaksanaan pelajarannya.Gilchrist, Robert S. & Roberts, Bernice B. (1974). Curriculum Development: AHumanized System Approach. Belmont California: A Phi Delta Kappa Book.Apa yang dikupas dalam buku ini, merupakan reaksi dan sekaligus inginmemperbaiki sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan yang ada umumnyakurang memperhatikan kebutuhan siswa dan kurang melibatkan partisipasi gurudan siswa. Sistem pendidikan, kurikulum, buku, alat pelajaran dan lain-lain,umumnya ditentukan oleh pihak lain, pemegang kebijaksanaan pendidikan, suatukomisi dan sebagainya, tanpa melibatkan siswa dan guru. Pengajaran bersifat
mekanis dan satu komponen terlepas dari komponen lainnya. Melihat kelemahan-kelemahan di atas para penulis melalui buku ini ingin memperbaikinya. Perbaikantersebut bertolak dari pendekatan humanisme, suatu pandangan pendidikan yangmenekankan kebutuhan perkembangan pribadi siswa seutuhnya. Segi afektif berjalan sejajar dengan segi kognitif dan psikomotor. Dalam buku ini secarasistematis dikemukakan; hakikat manusia, nilai dan tujuan perkembanganmanusia; bagaimana mengorganisasi pendidikan sehingga tercipta kegia tan belajar yang efektif, bagaimana mempersiapkan dan melaksanakan pengajaranyang efektif dan terakhir bagaimana mengembangkan sistem sekolah yang bersifathumanistik. Buku ini sangat berguna bagi perencana dan pelaksana kurikulum dan pengajaran.
BAB 6ANATOMI DAN DESAIN KURIKULUM
Pada bab-bab sebelum ini telah dikemukakan bahwa terdapat variasi dalammendepinisikan kurikulum. Ada yang memandangnya secara sempit, yaitukurikulum sebagai kumpulan mata pelajaran atau bahan ajar. Ada yangmengartikannya secara luas, meliputi semua pengalaman yang diperoleh siswakarena pengarahan-bimbingan dan tanggung jawab sekolah. Kurikulum jugadiartikan sebagai dokumen tertulis dari suatu rencana atau program pendidikan(written curriculum), dan juga sebagai pelaksanaan dari rencana di atas (actualcurriculum). Tidak semua yang ada dalam kurikulum tertulis, kemungkinandilaksanakan di kelas.Kurikulum dapat mencakup lingkup yang sangat luas, yaitu sebagai program pengajaran pada suatu jenjang pendidikan, dan dapat pula menyangkutlingkup yang sangat sempit, seperti program pengajaran suatu mata pelajaranuntuk beberapa jam pelajaran. Apakah dalam lingkup yang luas ataupun sempit,kurikulum membentuk desain yang menggambarkan pola organisasi darikomponen-komponen kurikulum dengan perlengkapan penunjangnya.
A.

Komponen-Komponen Kurikulum
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah: tujuan, isi ataumateri, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempatkomponen tersebut berkaitan erat satu sama lain.Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian inimeliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan,kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua kesesuaianantarkomponen-komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan, prosessesuai dengan isi dan tujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan proses, isi dantujuan kurikulum.

Telah dikemukakan bahwa, dalam kurikulum atau pengajaran, tujuanmemegang peranan penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran danmewarnai komponen-komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulumdirumuskan berdasarkan dua hal. Pertama perkembangan tuntutan, kebutuhan dankondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Kita mengenal beberapakategori tujuan pendidikan, yaitu tujuan umum dan khusus, jangka panjang,menengah, dan jangka pendek.Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 dikenalkategori tujuan sebagai berikut. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia. Tujuan institusional,merupakan sasaran pendidikan sesuatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler,adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sesuatu program studi. Tujuan instruksionalyang merupakan target yang harus dicapai oleh sesuatu mata pelajaran. Yangterakhir ini, masih dirinci lagi menjadi tujuan instruksional umum dan khusus ataudisebut juga objektif, yang merupakan tujuan pokok bahasan. Tujuan pendidikannasional yang berjangka panjang merupakan suatu tujuan pendidikan umum,sedangkan tujuan isntruksional yang berjangka waktu cukup pendek merupakantujuan yang bersifat khusus. Tujuan-tujuan khusus dijabarkan dari sasaran-sasaran pendidikan yang bersifat umum yang biasanya abstrak dan luas, menjadi sasaran-sasaran khusus yang lebih konkret, sempit, dan terbatas.Dalam kegiatan belajar-mengajar di-dalam kelas, tujuan-tujuan khususlebih diutamakan, karena lebih jelas dan mudah pencapaiannya. Dalammempersiapkan pelajaran, guru menjabarkan tujuan mengajarnya dalam bentuk tujuan-tujuan khusus atau objectives yang yang bersifat operasional. Tujuandemikian akan menggambarkan
“what will the student he able to do as a result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree, 1974: 5)
. Mengajar dalam kelas lebih menekankan tujuan khusus, sebab hal itu akan dapatmemberikan gambaran yang lebih konkret, dan menekankan pada perilaku siswa,sedang perumusan tujuan umum lebih bersifat abstrak, pencapaiannyamemerlukan waktu yang lebih lama dan lebih sukar diukur.
Tujuan-tujuan mengajar dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gage dan Briggs mengemukakan lima kategoritujuan, yaitu intellectual skills, cognitive strategies, verbal information, motor skills and attitudes (1974, hlm. 23-24). Bloom mengemukakan tiga kategoritujuan mengajar sesuai dengan domain-domain perilaku individu, yaitu domainkognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif berkenaan dengan penguasaankemampuan-kemampuan intelektual atau berpikir. Domain afektif berkenaandengan penguasaan dan pengembangan perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai.Domain psikomotor menyangkut penguasaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan motorik.Tujuan-tujuan khusus mengajar juga memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda. Bloom, (1975) membagi domain kognitif atas enam tingkatan dariyang paling rendah, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,dan evaluasi. Untuk domain afektif Krathwohl dan kawan-kawan (1974)membaginya atas lima tingkatan yang juga berjenjang, yaitu: menerima,merespons, menilai, mengorganisasi nilai, dan karakterisasi nilai-nilai. Untuk domain psikomotor Anita Harrow (1971) membaginya atas enam jenjang, yaitu:gerakan refleks, gerakan-gerakan dasar, kecakapan mengamati, kecakapan jasmaniah, gerakan-gerakan keterampilan dan komunikasi yang berkesinambungan.Perumusan tujuan mengajar yang berbentuk tujuan khusus (objective),memberikan beberapa keuntungan:a.

Tujuan khusus memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatanmengajar-belajar kepada siswa. Berdasarkan penelitian Mager dan Clark (1963) siswa yang mengetahui tujuan-tujuan khusus suatu pokok bahasan,diberikan referensi dan sumber yang memadai, dapat belajar sendiri dalamwaktu setengah dari waktu belajar dalam kelas biasa. b.

Tujuan khusus, membantu memudahkan guru-guru memilih danmenyusun bahan ajar.c.

Tujuan khusus memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan mediamengajar.

.

Tujuan khusus memudahkan guru mengadakan penilaian. Dengan tujuankhusus guru lebih mudah menentukan bentuk tes, lebih mudahmerumuskan butir tes dan lebih mudah menentukan kriteria pen-capaiannya.Di samping keuntungan-keuntungan di atas pengembangan tujuantujuanmengajar yang bersifat khusus menghadapi beberapa kesukaran, yaitu: 1) Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus untuk domain afektif, 2) Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus pada tingkat tinggi. Untuk mengatasi kedua kesukaran di atasdiperlukan keahlian, latihan dan pengalaman yang mencukupi dari guru-guru.Kekurangan keahlian, latihan dan pengalaman akan membawa guru-guru pada perumusan tujuan-tujuan yang bertaraf rendah, yang mudah diukur. Kelemahan diatas akan menyebabkan penyusunan tujuan-tujuan khusus bersifat mekanistis,dengan jumlah tujuan yang sangat banyak. Bagaimana perumusan sesuatu tujuankhusus atau objective yang baik?Beberapa ahli seperti Mager (1962), Banathy (1968), Rowntree (1974),Gagne (1974), De Cecco (1977) dan Davies (1981) sepakat bahwa, tujuan khususmerupakan suatu perilaku yang diperlihatkan siswa pada akhir suatu kegiatan belajar. Ahli-ahli di atas juga memberikan beberapa spesifikasi dari tujuan-tujuanmengajar khusus, yaitu:a.

Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa, dengan:1) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan tingkah laku yang dapatdiamati, 2) menunjukkan stimulus yang membangkitkan tingkah laku siswa,3) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakansiswa dan orang-orang yang dapat diajak bekerjasama. b.

Menunjukkan mutu tingkah laku yang diharapkan dilakukan oleh siswa,dalam bentuk: 1) ketepatan atau ketelitian respons, 2) kecepatan, panjangnyadan frekeunsi respons.c.

Menggambarkan kondisi atau lingkungan yang menunjang tingkah lakusiswa, berupa: 1) kondisi atau lingkungan fisik, 2) kondisi atau lingkungan psikologis.
2.

Bahan ajar Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkunganorang-orang, alat-alat dan ide-ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakanlingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan. Kegiatan dan lingkungandemikian dirancang dalam suatu rencana mengajar, yang mencakup komponen-komponen: tujuan khusus, sekuens bahan ajaran, strategi mengajar, media dansumber belajar, serta evaluasi hasil mengajar. Karena perumusan tujuan khususstrategi, dan evaluasi hasil mengajar dibahas secara tersendiri, maka dalam bagianini yang akan diuraikan hanya sekuens bahan ajar.a.

Sekuens bahan ajar Untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan diperlukanhahan ajar. Bahan ajar tersusun atas topik-totpik dan sub-subtopik tertentu. Haptopik atau subtopik mengandung ide-ide pokok yang relevan dengan tujuan yangtelah ditetapkan. Topik-topik atau sub-subtopik tersebut terusun sekuens tertentuyang membentuk suatu sekuens bahan ajar.Ada beberapa cara untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu:1)

Sekuens kronologis. Untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutanwaktu, dapat digunakan sekuens kronologis. Peristiwaperistiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi, penemuanpenemuan ilmiah dansebagainya dapat disusun berdasarkan sekuens kronologis.2)

Sekuens kausal. Masih berhubungan erat dengan sekuens kronologis adalahsekuens kausal. Siswa dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yangmenjadi sebab atau pendahulu dari sesuatu peristiwa atau situasi lain. Denganmempelajari sesuatu yang menjadi sebab atau pendahulu para siswa akanmenemukan akibatnya. Menurut Rowntree (1974: 75) “sekuens kausal cocok untuk menyusun bahan ajar dalam bidang meteorologi dan geomorfologi”.3)

Sekuens struktural. Bagian-bagian bahan ajar suatu bidang studi telahmempunyai struktur tetentu. Penyusunan sekuens bahan ajar bidang studitersebut perlu disesuaikan dengan strukturnya. Dalam fisika tidak mungkinmengajarkan alat-alat optik, tanpa terlebih dahulu mengajarkan pemantulan
dan pembiasan cahaya, dan pemantulan dan pembiasan cahaya tidak mungkindiajarkan tanpa terlebih dahulu mengajarkan masalah cahaya. Masalah cahaya, pemantulan-pembiasan, dan alat-alat optik tersusun secara struktural.4)

Sekuens logis dan psikologis. Bahan ajar juga dapat disusun berdasarkanurutan logis. Rowntree (1974: 77) melihat perbedaan antara sekuens logisdengan psikologis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagianmenuju pada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang kompleks, tetapimenurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian, dariyang kompleks kepada yang sederhana. Menurut sekuens logis bahan ajar disusun dari yang nyata kepada yang abstrak, dari benda-benda kepada teori,dari fungsi kepada struktur, dari masalah bagaimana kepada masalahmengapa.5)

Sekuens spiral, dikembangkan oleh Bruner (1960). Bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu. Dari topik atau pokok tersebut bahandiperluas dan diperdalam. Topik atau pokok bahan ajar tersebut adalah sesuatuyang populer dan sederhana, tetapi kemudian diperluas dan diperdalamdengan bahan yang lebih kompleks.6)

Rangkaian ke belakang. (backward chaining), dikembangkan oleh ThomasGilbert (1962). Dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang. Contoh, proses pemecahan masalah yang besifatilmiah, meliputi 5 langkah, yaitu: (a) Pembatasan masalah (b) Penyusunanhipotesis, (c) Pengumpulan data, (d) Pengetesan hipotesis, (e) Interpretasi basil tes. Dalam mengajarnya mulai dengan langkah (e), kemudian gurumenyajikan data tentang sesuatu masalah dari langkah (a) sampai (d), dansiswa diminta untuk membuat interpretasi hasilnya (e). Pada kesempatan lainguru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dansiswa diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.7)

Sekuens berdasarkan hierarki belajar. Model ini dikembangkan oleh Gagne(1965), dengan prosedur sebagai berikut: tujuan-tujuan khusus utama pembelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Hierarki tersebut menggambarkanurutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai siswa, berturut-turut
sampai dengan perilaku terakhir. Untuk bidang studi tertentu dan pokok- pokok bahasan tertentu hierarki juga dapat mengikuti hierarki tipe-tipe belajar dari Gagne. Gagne mengemukakan 8 tipe belajar yang tersusun secarahierarkis mulai dari yang paling sederhana: signal learning, stimulus-responslearning, motor-chain learning, verbal association, multiple discrimination,concept learning, principle learning, dan problem-solving learning. (Gagne,1970: 63-64).3.

Strategi mengajar Penyusunan sekuens bahan ajar berhubungan erat dengan strategi ataumetode mengajar. Pada waktu guru menyusun sekuens suatu bahan ajar, is jugaharus memikirkan strategi mengajar mana yang sesuai untuk menyajikan bahanajar dengan urutan seperti itu.Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar. Rowntree(1974: 93-97) membagi strategi mengajar itu atas Exposition – DiscoveryLearning dan Groups – Individual Learning. Ausubel and Robinson (1969 : 43-45)membaginya atas strategi Reception Learning- Discovery Learning dan RoteLearning- Meaningful Lerning.a.

Reception/Exposition Learning – Discovery Learning.Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama,hanya berbeda dalam pelakunya. Reception learning dilihat dari sisi siswasedangkan exposition dilihat dari sisi guru. Dalam exposition atau receptionlearning keseluruhan bahan ajar disampaikan kepada siswa dalam bentuk akhir atau bentuk jadi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Siswa tidak dituntutuntuk mengolah, atau melakukan aktivitas lain kecuali menguasainya. Dalamdiscovery learning bahan ajar tidak disajikan dalam hentuk akhir, siswa dituntutuntuk melakukan berbagai kegiatan flienghimpun informasi, membandingkan,mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan sertamembuat kesimpulankosimpulan. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut siswa akanmenguasainya, menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagidirinya
b.

Rote learning – Meaningful Learning.Dalam rote learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpamemperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan menghafalkannya. Dalam meaningful learning penyampaian bahanmengutamakan maknanya bagi siswa. Menurut Ausubel and Robinson (1970: 52-53) sesuatu bahan ajar bermakna bila dihubungkan dengan struktur kognitif yangada pada siswa. Struktur kognitif terdiri atas fakta-fakta, data, konsep, proposisi,dalil, hukum dan teori-teori yang telah dikuasai siswa sebelumnya, yang tersusunmembentuk suatu struktur dalam pikiran anak. Lebih lanjut Ausubel andRobinson menekankan bahwa reception-discovery learning dan rote-meaningfullearning dapat dikombinasikan satu sama lain sehingga membentuk 4 kombinasistrategi belajar-mengajar, yaitu: a) meaningful-reception learning, b) rote-reception learning, c) meaningful-discovery learning, dan d) rote-discoverylearning.c.

Group Learning – Individual Learning.Pelaksanaan discovery learning menuntut aktivitas belajar yang bersifatindividual atau dalam kelompok-kelompok kecil. Discovery learning dalam bentuk kelas pelaksanaannya agak sukar dan mempunyai beberapa masalah.Masalah pertama, karena kemampuan dan kecepatan belajar siswa tidak sama,maka kegiatan discovery hanya akan dilakukan oleh siswa-siswa yang pandai dancepat, siswa-siswa yang kurang dan lambat, akan mengikuti saja kegiatan danmenerima temuan-temuan anak-anak cepat. Di pihak lain anak-anak lambat akanmenderita kurang motif belajar, acuh tak acuh, dan kemungkinan menjadi pengganggu kelas. Masalah lain adalah kemungkinan untuk bekerja sama, dalamkelas besar tidak mungkin semua anak dapat bekerja sama. Kerja sama hanyaakan dilakukan oleh anak-anak yang aktif, yang lain mungkin hanya akan menantiatau menonton. Dengan demikian akan terjadi perbedaan yang semakin jauhantara anak pandai dengan yang kurang.
4.

Media mengajar Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alatyang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Perumusan di atasmenggambarkan pengertian media yang cukup luas, mencakup berbagai bentuk perangsang belajar yang sering disebut sebagai audio visual aid, serta berbagai bentuk alat penyaji perangsang belajar, berupa alat-alat elektronika seperti mesin pengajaran, film, audio cassette, video cassette, televisi, dan komputer.Rowntree (1974: 104-113) mengelompokkan media mengajar menjadi limamacam dan disebut Modes, yaitu Interaksi insani, realita, pictorial, simbol tertulis,dan rekaman suara.a.

Interaksi insani. Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orangatau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiran sesuatu pihak secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi perilaku yang lainnya. Terutama kehadiranguru mempengaruhi perilaku siswa atau siswasiswanya. Interaksi insani dapat bcrlangsung melalui komunikasi verbal atau nonverbal. Komunikasi yang bersifat verbal memegang peranan penting, terutama dalam perkembangansegi kognitif siswa. Untuk pengembangan segi-segi afektif, bentuk-bentuk komunikasi nonverbal seperti: perilaku, penampilan fisik, roman muka, gerak-gerik, sikap, dan lain-lain lebih memegang peranan penting sebagai contoh-contoh nyata. Intensitas interaksi insani dalam berbagai metode mengajar tidak selalu sama. Intensitas interaksi insani dalam metode ceramah lebihrendah dibandingkan dengan metode diskusi, permainan, simulasi,sosiodrama, dan lain-lain. b.

Realia. Realita merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang-orang, binatang, benda-benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa. Dalaminteraksi insani siswa berkomunikasi dengan orang-orang, sedangkan dalamrealita orang-orang tersebut hanya menjadi objek pengamatan, objek studisiswa.c.

Pictorial. Media ini menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat di atas kertas,film, kaset, disket, dan media lainnya. Media pictorial mempunyai banyak keuntungan karena hampir semua bentuk, ukuran, kecepatan, benda, makhluk,
dan peristiwa dapat disajikan dalam media ini. Juga penyajiannya dapat bervariasi dari bentuk yang paling sederhana seperti sketsa dan bagan sampaidengan yang cukup sempurna seperti film bergerak yang berwarna dan bersuara, atau bentuk-bentuk animasi yang disajikan dalam video ataukomputer.d.

Simbol tertulis. Simbol tertulis merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif. Ada beberapa macam bentuk media simboltertulis seperti buku teks, buku paket, paket program belajar, modul, danmajalah-majalah. Penulisan simbol-simbol tertulis biasanya dilengkapi denganmedia pictorial seperti gambar-gambar, bagan, grafik, dan sebagainya.e.

Rekaman suara. Berbagai bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak dalam bentuk rekaman suara. Rekaman suara dapat disajikan secara tersendiriatau digabung dengan media pictorial. Penggunaan rekaman suara tanpagambar dalam pengajaran bahasa cukup efektif.Dale (1969), mengemukakan 12 macam media mengajar atau audio visualaid, yang disebutnya Cone of Experience, atau kerucut pengalaman, yaitu:BAGAN 6. Kerucut pengalaman dari Edgar Dale

5. Evaluasi pengajaranKomponen utama selanjutnya setelah rumusan tujuan, bahan ajar, strategimengajar, dan media mengajar adalah evaluasi dan penyempurnaan. Evaluasiditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan sertamenilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Tiap kegiatan akanmemberikan umpan balik, demikian juga dalam pencapaian tujuan-tujuan belajar dan proses pelaksanaan mengajar. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengadakan berbagai usaha penyempurnaan baik bagi penentuan dan perumusantujuan mengajar, penentuan sekuens bahan ajar, strategi, dan media mengajar.a.

Evaluasi hasil belajar-mengajar Untuk menilai keberhasilan penguasaan siswa atau tujuan-tujuan khususyang telah ditentukan, diadakan suatu evaluasi. Evaluasi ini disebut juga evaluasihasil belajar-mengajar. Dalam evaluasi ini disusun butir-butir soal untuk mengukur pencapaian tiap tujuan khusus yang telah ditentukan. Untuk tiap tujuankhusus minimal disusun satu butir soal. Menurut lingkup luas bahan dan jangkawaktu belajar dibedakan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.Evaluasi formatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadaptujuan-tujuan belajar dalam jangka waktu yang relatif pendek. Tujuan utama darievaluasi formatif sebenarnya lebih besar ditujukan untuk menilai proses pengajaran. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah evaluasi formatif digunakan untuk menilai penguasaan siswa setelah selesai mempelajari satu pokok bahasan. Hasil evaluasi formatif ini terutama digunakan untuk
memperbaiki proses belajar-mengajar dan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa. Dengan demikian evaluasi formatif, selain berfungsimenilai proses, juga merupakan evaluasi atau tes diagnostik. Gronlund (1976:489) mengemukakan fungsi tes formatif sebagai berikut: (1) to plan correctiveaction for overcoming learning deficiences, (2) to aid in motivating learning, dan(3) to increase retention and transfer or learning.Evaluasi sumatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadaptujuan-tujuan yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam jangka waktuyang cukup lama, satu semester, satu tahun atau selama jenjang pendidikan.Evaluasi sumatif mempunyai fungsi yang lebih luas daripada evaluasi formatif.Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, evaluasi sumatif dimaksudkanuntuk menilai kemajuan belajar siswa (kenaikan kelas, kelulusan ujian) sertamenilai efektivitas program secara menyeluruh. Ini sesuai dengan pendapatGrondlund (1976: 499) bahwa evaluasi sumatif berguna bagi: (1) assigninggrades, (2) reporting learning progress to parents, pupils, and school personnel,and (3) improving learning and instruction.Untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan yangtelah ditentukan atau bahan yang telah diajarkan ada dua macam norma yangdigunakan, yaitu norm referenced dan criterion referenced (Chauhan, 1979: 170-177, Gronlund, 1976: 18-19, Thorndike, 1976: 654). Dalam cirterion referenced penguasaan siswa yang diukur dengan sesuatu tes hasil belajar dibandingkandengan sesuatu kriteria tertentu umpamanya 80% dari tujuan atau bahanyangdiberikan. Dengan demikian dalam cirterion referenced ada suatu kriteria standar.Dalam norm referenced, tidak ada suatu kriteria sebagai standar, penguasaansiswa dibandingkan dengan tingkat penguasaan kawan-kawannya satu kelompok.Dengan demikian norma yang digunakan adalah norma kelompok, yang lebih bersifat relatif. Kelompok ini dapat berupa kelompok kelas, sekolah, daerah,ataupun nasional. Dalam implementasi kurikulum atau pelaksanaan pengajaran,criterion referenced digunakan pada evaluasi formatif, sedangkan norm referenceddigunakan pada evaluasi sumatif.
b.

Evaluasi pelaksanaan mengajar Komponen yang dievaluasi dalam pengajaran bukan hanya hasil belajar-mengajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasikomponen tujuan mengajar, bahan pengajaran (yang menyangkut sekuens bahanajar), strategi dan media pengajaran, serta komponen evaluasi mengajar sendiri.Stufflebeam dan kawan-kawan (1977: 243) mengutip Model Evaluasi dari EPIC, bahwa dalam program mengajar komponen-komponen yang dievaluasi meliputi:komponen tingkah laku yang mencakup aspek-aspek (subkomponen): kognitif,afektif dan psikomotor; komponen mengajar mencakup subkomponen: isi,metode, organisasi, fasilitas dan biaya; dan komponen populasi, yang mencakup:siszva, guru, administrator, spesialis pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Untuk mengevaluasi komponenkomponen dan proses pelaksanaan mengajar bukanhanya digunakan tes tetapi juga digunakan bentuk-bentuk nontes, sepertiobservasi, studi dokumenter, analisis hasil pekerjaan, angket dan checklist.Evaluasi dapat dilakukan oleh guru atau oleh pihak-pihak lain yang berwenangatau diberi tugas, seperti Kepala Sekolah dan Pengawas, tim evaluasi Kanwil atauPusat. Sesuai dengan prinsip sistem, evaluasi dan umpan balik diadakan secaraterus menerus, walupun tidak semua komponen mendapat evaluasi yang samakedalaman dan keluasannya. Karena sifatnya menyeluruh dan terus menerustersebut maka evaluasi pelaksanaan sistem mengajar dapat dipandang sebagaisuatu monitoring.6.

Penyempurnaan pengajaranHasil-hasil evaluasi, baik evaluasi hasil belajar, maupun evaluasi pelaksanaan mengajar secara keseluruhan, merupakan umpan balik bagi penyempurnaan-penyempurnaan lebih lanjut. Komponen apa yangdisempurnakan, dan bagimana penyempurnaan tersebut dilaksanakan’ Sesuaidengan komponen-komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponenmengajar mempunyai kemungkinan untuk disempurna kan. Suatu komponenmendapatkan prioritas lebih dulu atau mendapatkan penyempurnaan lebih banyak,dilihat dari peranannya dan tingkat kelemahannya (Rowntree, 1974: 150-151).Penyempurnaan juga mungkin dilakukan secara langsung begitu didapatkan
sesuatu informasi umpan balik, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu bergantung pada urgensinya dan kemungkinannya mengadakan penyempurnaan.Penyempurnaan mungkin dilaksanakan sendiri oleh guru, tetapi dalam hal-haltertentu mungkin dibutuhkan bantuan atau saran-saran orang lain baik sesama personalia sekolah atau ahli pendidikan dari luar sekolah. Penyempurnaan jugamungkin bersifat menyeluruh atau hanya menyangkut bagian-bagian tertentu.Semua hal tersebut bergantung pada kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi.
B.

Desain Kurikulum
Desain kurikulum menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur ataukomponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari duadimensi, yaitu dimensi horisontal dan vertikal. Dimensi horisontal berkenaandengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Susunan lingkup ini seringdiintegrasikan dengan proses belajar dan mengajarnya. Dimensi vertikalmenyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.Bahan tersusun mulai dari yang mudah, kemudian menuju pada yang lebih sulit,atau mulai dengan yang dasar diteruskan dengan yang lanjutan.Berdasarkan pada apa yang menjadi fokus pengajaran, sekurangkurangnya dikenaltiga pola desain kurikulum, yaitu:1.

Subject centered design, suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahanajar.2.

Learner centered design, suatu desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa.3.

Problems centered design, desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarakat.Walaupun bertolak dari hal yang sama, dalam suatu pola desain terdapat beberapa variasi desain kurikulum. Dalam subject centered design dikenal ada: thesubject design, the disciplines design dan the broad fields design. Pada problemscentered design dikenal pula the areas of living design dan the core design.
1.

Subject centered designSubject centred design curriculum merupakan bentuk desain yang paling populer, paling tua dan paling banyak digunakan. Dalam subject centered design,kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulumtersusun atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebutdiajarkan secara terpisah-pisah. Karena terpisahpisahnya itu maka kurikulum inidisebut juga separated subject curriculum.Subject centered desain berkembang dari konsep pendidikan klasik yangmenekankan pengetahuan, nilai-nilai dan warisan budaya masa lalu, dan berupayauntuk mewariskannya kepada generasi berikutnya. Karena mengutamakan isi atau bahan ajar atau subject matter tersebut, maka desain kurikulum ini disebut jugasubject academic curriculum.Model design curriculum ini mempunyai beberapa kelebihan dankekurangan. Beberapa kelebihan dari model desain kurikulum ini adalah: 1)mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi, dan disempurnakan, 2) para pengajarnyatidak perlu dipersiapkan khusus, asal menguasai ilmu atau bahan yang akandiajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya. Beberapa kritik yang juga merupakan kekurangan model desain ini, adalah: 1) karena pengetahuandiberikan secara terpisah-pisah, hal itu bertentangan dengan kenyataan, sebabdalam kenyataan pengetahuan itu merupakan satu kesatuan, 2) karenamengutamakan bahan ajar maka peran peserta didik sangat pasif, 3) pengajaranlebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, dengan demikian pengajaran lebih bersifat verbalistis dan kurang praktis. Atas dasar tersebut, para pengkritik menyarankan perbaikan ke arah yang lebih terintegrasi, praktis, dan bermakna serta memberikan peran yang lebih a ktif kepada siswa.a.

The Subject DesignThe subject design curriculum merupakan bentuk desain yang palingmurni dari subject centered design. Materi pelajaran disajikan secara terpisah- pisah dalam bentuk mata-mata pelajaran. Model desain ini telah ada sejak lama.Orang-orang Yunani dan kemudian Romawi mengembangkan Trivium danQuadrivium. Trivium meliputi gramatika, logika, dan retorika, sedangkan
Quadrivium, matematika, geometri, astronomi, dan musik. Pada saat itu pendidikan tidak diarahkan pada mencari nafkah, tetapi pada pembentukan pribadidan status sosial (Liberal Art). Pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak-anak golongan bangsawan yang tidak usah bekerja mencari nafkah.Pada abad 19 pendidikan tidak lagi diarahkan pada pendidikan umum(Liberal Art), tetapi pada pendidikan yang lebih yang bersifat praktis, berkenaandengan mata pencaharian (pendidikan vokasional). Pada saat itu mulai berkembang mata-mata pelajaran fisika, kimia, biologi, bahasa yang masih bersifat teoretis, juga berkembang mata-mata pelajaran praktis seperti pertanian,ekonomi, tata buku, kesejahteraan keluarga, keterampilan, dan lain-lain. Isi pelajaran diambil dari pengetahuan, dan nilai-nilai yang telah ditemukan oleh ahli-ahli sebelumnya. Para siswa dituntut untuk menguasai semua pengetahuan yangdiberikan, apakah mereka menyenangi atau tidak, membutuhkannya atau tidak.Karena pelajaran-pelajaran tersebut diberikannya secara terpisah-pisah, makasiswa menguasainya pun terpisah-pisah pula. Tidak jarang siswa menguasai bahanhanya pada tahap hafalan, bahan dikuasai secara verbalistis.Lebih rinci kelemahan-kelemahan bentuk kurikulum ini adalah:1)

Kurikulum memberikan pengetahuan terpisah-pisah, satu terlepas dari yanglainnya.2)

Isi kurikulum diambil dari masa lalu, terlepas dari kejadian-kejadian yanghangat, yang sedang berlangsung saat sekarang.3)

Kurikulum ini kurang memperhatikan minat, kebutuhan dan pengalaman para peserta didik.4)

Isi kurikulum disusun berdasarkan sistematika ilmu sering menimbulkankesukaran di dalam mempelajari dan menggunakannya.5)

Kurikulum lebih mengutamakan isi dan kurang memperhatikan cara penyampaian. Cara penyampaian utama adalah ekspositori yang menyebabkan peranan siswa pasif.Meskipun ada kelemahan-kelemahan di atas, bentuk desain kurikulum inimempunyai beberapa kelebihan. Karena kelebihan-kelebihan tersebut bentuk kurikulum ini lebih banyak dipakai.
1.

Karena materi pelajaran diambil dari ilmu yang sudah tersusun secarasitematis logis, maka penyusunannya cukup mudah.2.

Bentuk ini sudah dikenal lama, baik oleh guru-guru maupun orang tua,sehingga lebih mudah untuk dilaksanakan.3.

Bentuk ini memudahkan para peserta didik untuk mengikuti pendidikan diPerguruan Tinggi, sebab pada Perguruan Tinggi umumnya digunakan bentuk ini.4.

Bentuk ini dapat dilaksanakan secara efisien, karena metode utamanyaadalah metode ekspositori yang dikenal tingkat efisiennya cukup tinggi.5.

Bentuk ini sangat ampuh sebagai alat untuk melestarikan dan mewariskanwarisan budaya masa lalu.Dengan adanya kelemahan-kelemahan di atas pengembang kurikulumsubject design tidak tinggal diam, mereka berusaha untuk memperbaikinya.Dalam rumpun subject centerd, the broad field design merupakan pengembangandari bentuk ini. Begitu juga pengembangan bentuk-bentuk lain di luar subjectcentered, seperti activity atau experience design, areas of living design dan coredesign. b.

The Disciplines DesignBentuk ini merupakan pengembangan dari subject design, keduanya masihmenekankan kepada isi atau materi kurikulum. Walaupun bertolak dari hal yangsama tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Pada subject design belum adakriteria yang tegas tentang apa yang disebut subject (ilmu). Belum ada perbedaanantara matematika, psikologi dengan teknik atau cara mengemudi, semuanyadisebut subject. Pada disciplines design kriteria tersebut telah tegas, yangmembedakan apakah suatu pengetahuan itu ilmu atau subject dan bukan adalah batang tubuh keilmuannya. Batang tubuh keilmuan menentukan apakah suatu bahan pelajaran itu disiplin ilmu atau bukan. Untuk menegaskan hal itu merekamenggunakan istilah disiplin.Isi kurikulum yang diberikan di sekolah adalah disiplin-disiplin ilmu.Menurut pandangan ini sekolah adalah mikrokosmos dari dunia intelek, batu pertama dari hal itu adalah isi dari kurikulum. Para pengembang kurikulum dari
aliran ini berpegang teguh pada disiplin-disiplin ilmu seperti: fisika, biologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya.Perbedaan lain adalah dalarn tingkat penguasaan, disciplines design tidak seperti subject design yang menekankan penguasaan fakta-fakta dan informasitetapi pada pemahaman (understanding). Para peserta didik didorong untuk memahami logika atau struktur dasar suatu disiplin, memahami konsep-konsep,ide-ide dan prinsip-prinsip penting, juga didorong untuk memahami cara mencaridan menemukannya (modes of inquiry and discovery). Hanya dengan menguasaihal-hal itu, kata mereka, peserta didik akan memahami masalah dan mampumelihat hubungan berbagai fenomena baru.Proses belajarnya tidak lagi menggunakan pendekatan ekspositori yangmenyebabkan peserta didik lebih banyak pasif, tetapi menggunakan pendekataninkuiri dan diskaveri. Disciplines design sudah mengintegrasikan unsur-unsur progresifisme dari Dewey. Bentuk ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkandengan subject design. Pertama, kurikulum ini bukan hanya memiliki organisasiyang sistematik dan efektif tetapi juga dapat memelihara integritas intelektual pengetahuan manusia. Kedua, peserta didik tidak hanya menguasai serentetanfakta, prinsip hasil hafalan tetapi menguasai konsep, hubungan dan proses-prosesintelektual yang berkembang pada siswa.Meskipun telah menunjukkan beberapa kelebihan bentuk, desain ini masihmemiliki beberapa kelamahan. Pertama, belum dapat memberikan pengetahuanyang terintegrasi. Kedua, belum mampu mengintegrasikan sekolah denganmasyarakat atau kehidupan. Ketiga, belum bertolak dari minat dan kebutuhan atau pengalaman peserta didik. Keempat, susunan kurikulum belum efisien baik untuk kegiatan belajar maupun untuk penggunaannya. Kelima, meskipun sudah lebihluas dibandingkan dengan subject design tetapi secara akademis dan intelektualmasih cukup sempit.c.

The Broad Fields DesignBaik subject design maupun disciplines design masih menunjukkan adanya pemisahan antar-mata pelajaran. Salah satu usaha untuk menghilangkan pemisahan tersebut adalah mengembangkan the broad filed design. Dalam model
aliran ini berpegang teguh pada disiplin-disiplin ilmu seperti: fisika, biologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya.Perbedaan lain adalah dalarn tingkat penguasaan, disciplines design tidak seperti subject design yang menekankan penguasaan fakta-fakta dan informasitetapi pada pemahaman (understanding). Para peserta didik didorong untuk memahami logika atau struktur dasar suatu disiplin, memahami konsep-konsep,ide-ide dan prinsip-prinsip penting, juga didorong untuk memahami cara mencaridan menemukannya (modes of inquiry and discovery). Hanya dengan menguasaihal-hal itu, kata mereka, peserta didik akan memahami masalah dan mampumelihat hubungan berbagai fenomena baru.Proses belajarnya tidak lagi menggunakan pendekatan ekspositori yangmenyebabkan peserta didik lebih banyak pasif, tetapi menggunakan pendekataninkuiri dan diskaveri. Disciplines design sudah mengintegrasikan unsur-unsur progresifisme dari Dewey. Bentuk ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkandengan subject design. Pertama, kurikulum ini bukan hanya memiliki organisasiyang sistematik dan efektif tetapi juga dapat memelihara integritas intelektual pengetahuan manusia. Kedua, peserta didik tidak hanya menguasai serentetanfakta, prinsip hasil hafalan tetapi menguasai konsep, hubungan dan proses-prosesintelektual yang berkembang pada siswa.Meskipun telah menunjukkan beberapa kelebihan bentuk, desain ini masihmemiliki beberapa kelamahan. Pertama, belum dapat memberikan pengetahuanyang terintegrasi. Kedua, belum mampu mengintegrasikan sekolah denganmasyarakat atau kehidupan. Ketiga, belum bertolak dari minat dan kebutuhan atau pengalaman peserta didik. Keempat, susunan kurikulum belum efisien baik untuk kegiatan belajar maupun untuk penggunaannya. Kelima, meskipun sudah lebihluas dibandingkan dengan subject design tetapi secara akademis dan intelektualmasih cukup sempit.c.

The Broad Fields DesignBaik subject design maupun disciplines design masih menunjukkan adanya pemisahan antar-mata pelajaran. Salah satu usaha untuk menghilangkan pemisahan tersebut adalah mengembangkan the broad filed design. Dalam model
ini mereka menyatukan beberapa mata pelajaran yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang studi seperti Sejarah, Geografi, dan Ekonomidigabung menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial, Aljabar, Ilmu Ukur, dan Berhitungmenjadi Matematika, dan sebagainya.Tujuan pengembangan kurikulum broad field adalah menyiapkan parasiswa yang dewasa ini hidup dalam dunia informasi yang sifatnya spesialistis,dengan pemahaman yang bersifat menyeluruh. Bentuk kurikulum ini banyak digunakan di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, di sekolah menengahatas penggunaannya agak terbatas apalagi di perguruan tinggi sedikit sekali.Ada dua kelebihan penggunaan kurikulum ini. Pertama, karena dasarnya bahan yang terpisah-pisah, walaupun sudah terjadi penyatuan beberapa matakuliah masih memungkinkan penyusunan warisan-warisan budaya secarasistematis dan teratur. Kedua, karena mengintegrasikan beberapa mata kuliahmemungkinkan peserta didik melihat hubungan antara berbagai hal.Di samping kelebihan tersebut, ada beberapa kelemahan model kurikulumini. Pertama kemampuan guru, untuk tingkat sekolah dasar guru mampumenguasai bidang yang luas, tetapi untuk tingkat yang lebih tinggi, apalagi di perguruan tinggi sukar sekali. Kedua, karena bidang yang dipelajari itu luas, makatidak dapat diberikan secara mendetil, yang diajarkan hanya permukaannya saja.Ketiga, pengintegrasian bahan ajar terbatas sekali, tidak menggambarkankenyataan, tidak memberikan pengalaman yang sesungguhnya bagi siswa, dengandemikian kurang membangkitkan minat belajar. Keempat, meskipun kadarnyalebih rendah dibandingkan dengan subject design, tetapi model ini tetapmenekankan tujuan penguasaan bahan dan informasi. Kurang menekankan proses pencapaian tujuan ya.lg sifatnya afektif dan kognitif tingkat tinggi.2.

Learner-centered designSebagai reaksi sekaligus penyempurnaan terhadap beberapa kelemahansubject centered design berkembang learner centered design. Desain ini berbedadengan subject centered, yang bertolak dari cita-cita untuk melestarikan danmewariskan budaya, dan karena itu mereka mengutamakan peranan isi darikurikulum.
Learner centered, memberi tempat utama kepada peserta didik. Di dalam pendidikan atau pengajaran yang belajar dan berkembang adalah peserta didik sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan menciptakan situasi belajar-mengajar,mendorong dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Peserta didik bukanlah tiada daya, dia adalah suatu organisme yang punya potensiuntuk berbuat, berperilaku, belajar dan juga berkembang sendiri. Learner centereddesign bersumber dari konsep Rousseau tentang pendidikan alam, menekankan perkembangan peserta didik. Pengorganisasian kurikulum didasarkan atas minat,kebutuhan dan tujuan peserta didik.Ada dua ciri utama yang membedakan desain model learner centreddengan subject centered. Pertama, learner centered design mengembangkankurikulum dengan bertolak dari peserta didik dan bukan dari isi. Kedua, learner centered bersifat not-preplanned (kurikulum tidak diorganisasikan sebelumnya)tetapi dikembangkan bersama antara guru dengan siswa dalam penyelesaiantugas-tugas pendidikan. Organisasi kurikulum didasarkan atas masalah-masalahatau topik-topik yang menarik perhatian dan dibutuhkan peserta didik dansekuensnya disesuaikan dengan tingkat perkembangan mereka.Ada beberapa variasi model ini yaitu the activity atau experience design,humanistic design, the open, free design, dan lain-lain. Pada tulisan ini akandikemukakan sebagian saja.a.

The Activity atau Experience DesignModel desain ini berawal pada abad 18, atas hasil karya dari Rousseau danPestalozzi, yang berkembang pesat pada tahun 1920/1930-an pada masa kejayaanPendidikan Progresif.Berikut beberapa ciri utama activity atau experience design. Pertama,struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik. Dalammengimplementasikan ciri ini guru hendaknya: a) Menemukan minat dankebutuhan peserta didik, b) Membantu para siswa memilih mana yang paling penting dan urgen. Hal ini cukup sulit, sebab harus dapat dibedakan mana minatdan kebutuhan yang sesungguhnya dan mana yang hanya angan-angan. Untuk ituguru perlu menguasai benar perkembangan dan karakteristik peserta didik.
Kedua, karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum tidak dapat disusun jadi sebelumnya, tetapi disusun bersama oleh guru dengan para siswa. Demikian juga tujuan yang akan dicapai,sumber-sumber belajar, kegiatan belajar dan prosedur evaluasi, dirumuskan bersama siswa. Istilah yang mereka gunakan adalah teacher-student planning.Seperti dikemukakan oleh Smith, Stanley and Shores (1977: 274-1725) bahwatugas guru adalah:
… discovering students interest, guiding students in selection of interest, helping groups and individuals to plan and carryout learning activi ties, and assisting learners to appraise their experience. In short, the teacher must prepare inadvance to help learners decide what to to do, how to do it, and how to evaluatethe results.
Ketiga, desain kurikulum tersebut menekankan prosedur pemecahanmasalah. Di dalam proses menemukan minatnya peserta didik menghadapihambatan atau kesulitan-kesulitan tertentu yang harus diatasi. Kesulitankesulitantersebut menunjukkan problema nyata yang dihadapi peserta didik. Dalammenghadapi dan mengatasi masalah-masalah tersebut, peserta didik melakukan proses belajar yang nyata, sungguh-sungguh bermakna, hidup dan relevan dengankehidupannya. Berbeda dengan subject design yang menekankan isi, activitydesign lebih mengutamakan proses (keterampilan memecahkan masalah).

Ada beberapa kelebihan dari desain kurikulum ini. Pertama, karenakegiatan pendidikan didasarkan atas kebutuhan dan minat peserta didik, makamotivasi belajar bersifat intrinsik dan tidak perlu dirangsang dari luar. Fakta-fakta,konsep, keterampilan dan proses pemecahan dipelajari peserta didik karena hal itumereka perlukan. jadi belajar benar-benar relevan dan bermakna. Kedua, pengajaran memperhatikan perbedaan individual. Mereka turut dalam kegiatan belajar kelompok karena membutuhkannya, demikian juga kalau merekamelakukan kegiatan individual. Ketiga, kegiatan-kegiatan pemecahan masalahmemberikan bekal kecakapan dan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan diluar sekolah.

Beberapa kritik yang menunjukkan kelemahan dilontarkan terhadap modeldesain kurikulum
Pertama, penekanan pada minat dan kebutuhan peserta didik belum tentucocok dan memadai untuk menghadapi kenyataan dalam kehidupan. Kehidupandunia modern sangat kompleks, peserta didik belum tentu mampu melihat danmerasakan kebutuhan-kebutuhan esensial.

Kedua, kalau kurikulum hanya menekankan minat dan kebutuhan pesertadidik, dasar apa yang digunakan untuk menyusun struktur kurikulum. Kurikulumtidak mempunyai pola dan struktur. Kedua kritik ini tidak semuanya benar, sebab beberapa tokoh activity design telah mengembangkan struktur ini. Dewey dalamsekolah laboratoriumnya menyusun struktur di sekitar kebutuhan manusia,kebutuhan sosial, kebutuhan untuk membangun, kebutuhan untuk meneliti dan bereksperimen dan kebutuhan untuk berekspresi dan keindahan.Ketiga, activity design curriculum sangat lemah dalam kontinuitas dansekuens bahan. Dasar minat peserta didik tidak memberikan landasan yang kuatuntuk menyusun sekuens, sebab minat mudah sekali berubah karena pengaruh perkembangan, kematangan dan faktor-faktor lingkungan. Beberapa usaha telahdilakukan untuk mengatasi kelemahan ketiga ini: 1) usaha untuk menemukansekuens perkembangan kemampuan mental peserta didik, seperti perkembangankemampuan kognitif dari Piaget, 2) penelitian tentang pusat-pusat minat pada berbagai tingkat usia. Penemuan tentang pusat-pusat minat yang lebih terincidijadikan dasar penyusunan sekuens kurikulum.Keempat, kritik terhadap model desain kurikulum ini dikatakan tidak dapatdilakukan oleh guru biasa. Kurikulum ini menuntut guru ahli general education plus ahli psikologi perkembangan dan human relation. Model desain ini sulitmenemukan buku-buku sumber, karena buku yang ada disusun berdasarkansubject atau discipline design. Kesulitan lain adalah apabila peserta didik akanmelanjutkan studi ke perguruan tinggi, sebab di perguruan tinggi digunakanmodel subject atau discipline design.3.

Problem centered designProblem centered design berpangkal pada filsafat yang mengutamakan peranan manusia (man centered). Berbeda dengan learner centered yangmengutamakan manusia atau peserta didik secara individual, problem centered
design menekankan manusia dalam kesatuan kelompok yaitu kesejahteraanmasyarakat.Konsep pendidikan para pengembang model kurikulum ini berangkat dariasumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama. Dalamkehidupan bersama ini manusia menghadapi masalah-masalah bersama yangharus dipecahkan bersama pula. Mereka berinteraksi, berkooperasi dalammemecahkan masalah-masalah sosial yang mereka hadapi untuk mcningkatkankehidupan mereka.Konsep-konsep ini menjadi landasan pula dalam pendidikan dan pengembangan kurikulum. Berbeda dengan learner centered, kurikulum merekadisusun sebelumnya (preplanned). Isi kurikulum berupa masalahmasalah sosialyang dihadapai peserta didik sekarang dan yang akan datang. Sekuens bahandisusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan peserta didik.Problem centered design menekankan pada isi maupun perkembangan pesertadidik. Minimal ada dua variasi model desain kurikulum ini, yaitu The Areas of living design, dan The Core design.a.

The Areas of Living DesignPerhatian terhadap bidang-bidang kehidupan sebagai dasar penyusunankurikulum telah dimulai oleh Herbert Spencer pada abad 19, dalam tulisan yang berjudul What knowledge is of most Worth? Areas of living design seperti learner centered design menekankan prosedur belajar melalui pemecahan masalah. Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses (process objectives) dan yang bersifat isi (content objectives) diintegrasikan. Penguasaan informasi-informasiyang lebih bersifat pasif tetap dirangsang. Ciri lain dari model desain ini adalahmenggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari peserta didik sebagai pembuka dan mempelajari bidang-bidang kehidupan.Strategi yang sama juga digunakan dalam subject centered design, tetapi pelaksanaannya mengalami kesulitan, sebab dalam desain tersebut hubungan mata pelajaran dengan bidang dan pengalaman hidup peserta didik sangat kecil.Sebaliknya dalam the areas of living hubungannya besar sekali. Tiap pengalaman peserta didik sangat erat hubungannya dengan bidang-bidang kehidupan sehingga
dapat dikatakan suatu desain kurikulum bidang-bidang kehidupan yangdirumuskan dengan baik akan merangkumkan pengalaman-pengalaman sosial peserta didik. Dengan demikian, desain ini sekaligus menarik minat peserta didik dan mendekatkannya pada pemenuhan kebutuhan hidupnya dalam masyarakat.Desain ini mempunyai beberapa kebaikan dibandingkan dengan bentuk desain-desain lainnya.Pertama, the areas of living design merupakan the subject matter designtetapi dalam bentuk yang terintegrasi. Pemisahan antara subject dihilangkan oleh problema-problema kehidupan sosial. Kedua, karena kurikulum diorganisasikan disekitar problema-problema peserta didik dalam kehidupan sosial, maka desain inimendorong penggunaan prosedur belajar pemecahan masalah. Prinsip-prinsip belajar aktif dapat diterapkan dalam model desain ini. Ketiga, menyajikan bahanajar dalam bentuk yang relevan, yaitu untuk memecahkan masalah-masalah dalamkehidupan. Melalui kurikulum ini para peserta didik akan mcmperoleh pengetahuan, dan dapat menginternalisasi artinya. Keempat desain tersebutmenyajikan bahan ajar dalam bentuk yang fungsional, sebab diarahkan pada pemecahan masalah peserta didik, secara langsung dipraktikkan dalam kehidupan.Lebih dari itu kurikulum ini membawa peserta didik dalam hubungan yang lebihdekat dengan masyarakat. Kelima, motivasi belajar datang dari dalam din pesertadidik, tidak perlu dirangsang dari luar.Beberapa kritik dilontarkan dan menunjukkan kelemahan model desain ini.Pertama, penentuan lingkup dan sekuens dari bidang-bidang kehidupan yangsangat esensial (penting) sangat sukar, timbul organisasi isi kurikulum yang berbeda-beda. Kedua, sebagai akibat dari kesulitan pertama, maka lemahnya ataukurangnya integritas dan kontinuitas organisasi isi kurikulum. Ketiga, desaintersebut sama sekali mengabaikan warisan budaya, padahal apa yang telahditemukan pada masa lalu penting untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah masa kini. Keempat, karena kurikulum hanya memusatkan perhatian pada pemecahan masalah sosial pada saat sekarang, ada kecenderungan untuk mengindoktrinasi peserta didik dengan kondisi yang ada, peserta didik tidak tovIlhat alternatif lain, baik mengenai masa lalu maupun masa yang akan ‘Wang,desain tersebut akan mempertahankan status quo. Kelima, sama hainva dengan
kritik terhadap learner centered design, baik guru maupun buku dan media laintidak banyak yang disiapkan untuk model tersebut sehingga di dalam pelaksanaannya akan mengalami beberapa kesulitan. b.

The Core DesignThe core desgin kurikulum timbul sebagai reaksi utama kepada separatesubjects design, yang sifatnya terpisah-pisah. Dalam mengintegrasikan bahan ajar,mereka memilih mata-mata pelajaran/bahan ajar tertentu sebagai inti (core).Pelajaran lainnya dikembangkan di sekitar core tersebut. Karena pengaruhPendidikan Progresif, berkembang teori tentang core design yang didasarkan atas pandangan Progresif. Menurut konsep ini inti-inti bahan ajar dipusatkan padakebutuhan individual dan sosial.Terdapat banyak variasi pandangan tentang the core design. Mayoritasmemandang core curriculum sebagai suatu model pendidikan atau program pendidikan yang memberikan pendidikan umum. Pada beberapa kurikulum yang berlaku di Indonesia dewasa ini, core curriculum disebut kelompok mata kuliahatau pelajaran dasar umum, dan diarahkan pada pengembangan kemampuan-kemampuan pribadi dan sosial. Kalau kelompok mata kuliah/pelajaran spesialisasidiarahkan pada pengusaan keahlian/kejuruan tertentu, maka kelompok mata pelajaran ini ditujukan pada pembentukan pribadi yang sehat, baik, matang, danwarga masyarakat yang mampu membina kerja sama yang baik pula.The core curriculum diberikan guru-guru yang memiliki penguasaan dan berwawasan luas, bukan spesialis. Di samping memberikan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan sosial, guru-guru tersebut juga memberikan bimbinganterhadap perkembangan sosial pribadi peserta didik.Ada beberapa variasi desain core curriculum yaitu
: (1) the separate subject core, (2) the correlated core, (3) the fused core, (4) the activity/experience core,(5) the areas of living core, dan (6) the social problems core.
The separate subjects core. Salah satu usaha untuk mengatasi keterpisahanantar-mata pelajaran, beberapa mata pelajaran yang dipandang mendasari ataumenjadi inti mata pelajaran lainnya dijadikan core
The correlated core. Model desain ini pun berkembang dari the separatesubjects design, dengan jalan mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang erathubungannya.The fused core. Kurikulum ini juga berpangkal dari separate subject, pengintegrasiannya bukan hanya antara dua atau tiga pelajaran tetapi lebih banyak. Sejarah, Geografi, Antropologi, Sosiologi, Ekonomi dipadukan menjadiStudi Kemasyarakatan. Dalam studi ini dikembangkan tema-tema masalah umumyang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang.The activity/experience core. Model desain ini berkembang dari pendidikan progresif dengan learner centerd design-nya. Seperti halnya padalearner centered, the acitivity /experience core dipusatkan pada minat-minat dankebutuhan peserta didik.The areas of living core. Desain model ini berpangkal juga pada pendidikan progresif, tetapi organisasinya berstruktur dan dirancang sebelumnya.Berbentuk pendidikan umum yang isinya diambil dari masalah-masalah yangmuncul di masyarakat. Bentuk desain ini dipandang sebagai core design yang paling murni dan paling cocok untuk program pendidikan umum.The social problems core. Model desain ini pun merupakan produk dari pendidikan progresif. Dalam beberapa hal model ini sama dengan the areas of living core. Perbedaannya terletak pada the areas of living core didasarkan ataskegiatan-kegiatan manusia yang unviversal tetapi tidak berisi hal yangkontroversial, sedangkan the social problems core didasarkan atas problema- problema yang mendasar dan bersifat kontroversial. Beberapa contoh masalahsosial yang menjadi tema model core design ini adalah kemiskinan, kelaparan,inflasi, rasialisme, perang senjata nuklir, dan sebagainya. Halhal di atas adalahsesuatu yang mendesak untuk dipecahkan dan berisi suatu kontroversial bersifat pro dan kontra. The areas of living core cenderung memelihara danmempertahankan kondisi yang ada, sedang the social problems core mencobamemberikan penilaian yang sifatnya kritis dari sudut sistem nilai sosial dan pribadi yang berbeda.Penyusunan kurikulum the social problems core, mengikuti pola sepertiyang digambarkan dengan urutan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.

Bagaimana gambaran masyarakat yang ada dewasa ini?2.

Apa akibatnya bila kita torus mempertahankan kondisi yang ada ini?3.

Bagaimana gambaran keadaan masyarakat yang ideal?4.

Jika gambaran pada pertanyaan 3 berbeda dengan pertanyaan 2, usaha apayang dapat dilakukan untuk mengatasinya, baik secara kelompok maupunindividual.Kurikulum the social problems core tidak bersifat kaku, terbuka untuk penyempurnaan pada setiap saat, agar tetap mutakhir dan relevan dengan perkembangan masyarakat. Sekuens kurikulum disusun dengan memperhatikan prinsip-prinsip psikologis, seperti: kematangan, minat, tingkat kesukaran, pengalaman dan penguasaan sebelumnya.Terhadap model-model desain di atas dapat ditambahkan dua model lainyang juga menekankan pendidikan umum yaitu the unencapsulation design danBecker’s Humanistic design.The Unencapsulation design. Model desain ini merupakan reaksi terhadapencapsulation. Menurut konsep encapsulation manusia memiliki kemampuanuntuk mengamati dan memahami seluruh yang ada di dunia ini, tetapi kenya-taannya karena berbagai hambatan, hanya sebagian kecil yang mereka kuasai. TheUnencapsulation design diarahkan pada pengembangan manusia yang lebih baik,yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih lengkap, tepat danseimbang. Menu rut Joseph Royce, pencetus konsep ini, pengetahuan dankemampuan yang demikian akan tercapai melalui penggunaan empat cara penguasaan, yaitu melalui: pemikiran (rasionalisme), pengamatan (empirisme), perasaan (intuisisme), dan kepercayaan (otoritarianisme).Beckers’s Humanistic Design. Desain ini juga sama dengan uncaptulsationmenekankan pendidikan umum. Becker ingin mengembangkan suatu model pendidikan yang dapat menghilangkan “keterasingan” (alination yang mempunyaimakna yang sama dengan encapsulation). Ia bercita-cita ingin mendidik anak menjadi manusia “ideal” yaitu manusia sejati (authentic) tidak palsu atau pura- pura, percaya kepada diri sendiri (self reliant) dan menyatu denganmasyarakatnya. Desain kurikulum dari Becker lebih menekankan pada isi
daripada proses. Isi kurikulumnya dipusatkan pada tiga bidang, yaitu 1) Dimensiindividu, 2) Dimensi sosial dan historis, dan 3) Dimensi teologis.Dimensi individu membahas keadaan dan keberadaan manusia, dimensisosial dan historis membahas kehidupan kemasyarakatan dan sejarah perkembangan manusia, sedangkan dimensi teologis membahas keharusanmanusia beragama dan bahaya-bahaya sekulerisme
BAB 7PROSES PENGAJARANA.

Keseimbangan Antara Isi dan Proses
Baik dalam uraian tentang model-model konsep kurikulum, maupun dalammacam-macam desain kurikulum, masalah isi dan proses pengajaran selalumenjadi tema dan titik tolak. Hal itu disebabkan kedudukan kedua komponenkurikulum tersebut sangat penting. Dengan demikian, tidak mengherankan apabilaada yang berpendapat bahwa kurikulum itu tidak lain dari suatu program pendidikan yang berisi jalinan antara isi dengan proses penyampaiannya.Pendapat demikian tidak seluruhnya benar tetapi mengandung kebenaran,mengingat kedua komponen tersebut berperanan sebagai kunci.Telah kita ketahui dalam uraian-uraian yang terdahulu bahwa ada konsep-konsep kurikulum yang lebih mengutamakan isi dan ada pula yangmengutamakan proses. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.Mengingat kelebihan dan kekurangan masing-masing maka keseimbanganataupun keserasian antara keduanya merupakan pemecahan yang paling praktis,walaupun bukan berarti tanpa menghadapi kesulitan-kesulitan, Kedua komponenkurikulum tersebut dapat saling menghambat, yang satu mengurangi kualitas yanglainnya. Di dalam pelaksanaan kurikulum kita mengharapkan para siswamenguasai sebanyak-banyaknya bahan yang terbaik dan diperoleh dengan carayang terbaik pula. Meskipun ideal hal tersebut sangat sulit kita capai, namun bukan sesuatu yang mustahil Kesulitannya bukan saja disebabkan adanya ciriyang cenderung kontradiktif antara keduanya, tetapi juga karena banyaknya faktor yang turut mempengaruhi pelaksanaan kurikulum atau pengajaran Keberhasilan pengajaran atau pelaksanaan suatu kurikulum sangat dipengaruhi kondisi danaktivitas siswa, guru, serta para pelaksana kurikulum lainnya; oleh kondisilingkungan fisik, sosial budaya dan psikologis sekitar, oleh kondisi dankelengkapan sarana dan prasarana baik di sekolah maupun dalam keluarga.Pendidikan dan pengajaran selaln berlangsung dalam keterbatasan-keterbatasan,kemampuan, fasilitas, waktu, tempat maupun biaya. Yang harus selalu diupayakan

oleh para penyusun, pengembang dan pelaksana pendidikan umumnya, kurikulumkhususnya, adalah mengoptimalkan hasil sesuai dengan kondisi yang ada, disamping mengoptimalkan isi dan prosesnya sendiri.
B.

Isi Kurikulum
Pertanyaan yang selalu muncul pada para perencana pendidikan dan pengembang kurikulum adalah, bahan apakah yang harus diajarkan kepada siswa,dan apa tujuannya? Pertanyaan ini menyangkut isi kurikulum atau isi pengajaran.Isi kurikulum atau pengajaran bukan hanya terdiri atas sekumpulan pengetahuanatau kumpulan informasi, tetapi harus merupakan kesatuan pengetahuan terpilihdan dibutuhkan, baik bagi pengetahuan itu sendiri maupun bagi siswa danlingkungannya.Beberapa program pengembangan pendidikan, terutama pengembangankurikulum pada sekolah dasar dan menengah, telah dilakukan denganmengikutsertakan para sarjana, dosen, ahli-ahli pendidikan selain guru, dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mereka telah berusaha menyusun isikurikulum atau pengajaran, bukan saja didasarkan atas perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak dankonsep-konsep modern tentang hakikat pengalaman belajar. Meskipun demikian pertanyaan tentang karakteristik bahan yang akan diajarkan masih selalu timbul.Ahli pendidikan, Jerome S. Bruner dari Amerika Serikat mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu dengan mengemukakan konsep struktur bahan pengajaran. Pengembangan konsep ini tidaklah terjadi begitu saja, tetapidilatarbelakangi oleh keadaan dan perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat.Salah satu faktor yang mendorong diperlukannya pengembangankurikulum adalah karena perkembangan universitas di Amerika Serikat pada pertengahan pertama abad 20 sangat menekankan pada pengembangan ilmu dan penelitian. Hasil-hasil perkembangan ilmu dan penelitian hanya menjadi santapan para sarjana dan cendekiawan. Anak-anak sekolah menengah, apalagi anak sekolah dasar bahkan para mahasiswa tingkat persiapan tidak pernah memperoleh pengetahuan tersebut. Para sarjana dan cendekiawan tidak pernah turut serta
dalam pengembangan kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah. Dengandemikian, program sekolah kurang berbobot dan jauh ketinggalan dari perkembangan ilmu pengetahuan tiekarang hal itu telah dapat diatasi, para sarjanadan cendekiawan yang turut serta dalam penyusunan kurikulum dan perencanaan program sekolah, menyiapkan buku teks serta berbagai media pendidikan.Dewasa ini para ahli psikologi di Amerika Serikat, banyak yang mulai beralih membahas masalah-masalah belajar di sekolah. Sayangnya perhatian paraahli tersebut masih lebih banyak tercurah pada studi tentang bakat dan kecakapan,serta aspek-aspek sosial dan psikologis dalam pendidikan, dan kurangmemperhatikan masalah struktur intelek dari kegiatan dalam kelas.Dalam tujuan pendidikan di Amerika Serikat, ada dualisme yangmembutuhkan keseimbangan, yaitu antara kegunaan (useful), dengan keindahan(ornamental). Sekolah diharapkan dapat mengajarkan semua yang berguna dansemua yang indah. Pengertian berguna mengandung dua pengertian, pertamadalam bentuk penguasaan keterampilan (skill), dan kedua pemahaman umum(general understanding). Keterampilan merupakan kecakapan-kecakapan khususyang dikuasai seseorang. Keterampilan sangat berhubungan erat dengan profesiseseorang. Pemahaman umum, merupakan penguasaan hal-hal yang berhubunganerat dengan masalah kehidupan, baik sebagai pribadi maupun sebagai wargamasyarakat. Menyusun program pendidikan yang seimbang antara pendidikanumum dengan pendidikan keterampilan sering cukup sukar.Dewasa ini konsep proses belajar berangsur-angsur pindah dari pemahaman umum pada penguasaan keterampilan khusus. Studi tentang transfer belajar, dahulu berkenaan dengan disiplin-disiplin formal bagaimana menguasaikemampuan analisis, sintesis, penilaian, dan sebagainya melalui berbagai bentuk latihan, sekarang transfer lebih banyak berkenaan dengan latihan keterampilankhusus. Akibatnya selama pertengahan pertama abad 20, sangat kurang penekanan pada penguasaan struktur atau penguasaan pengetahuan secara menyeluruh.Apa yang dimaksud dengan penguasaan struktur? Penguasaan struktur merupakan pemahaman suatu bahan pelajaran secara menyeluruh dan penuh arti.Belajar struktur adalah belajar secara keseluruhan (utuh), yakni hal-hal yangsaling berhubungan terintegrasi menjadi satu kesa tuan. Penguasaan struktur dalam
penyusunan kalimat, umpamanya, memungkinkan anak dengan cepat menyusun banyak kalimat didasarkan atas model struktur yang dipelajari, walaupun tidak mengetahui aturannya.Dalam penyusunan kurikulum, masalah mengajarkan struktur perlumendapatkan perhatian utama, sebab keberhasilan pelaksanaan suatu kurikulumsangat dipengaruhi oleh hal tersebut. Ada beberapa pertanyaan umum, sebelumseseorang sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih khusus. Contoh pertanyaan umum, apakah tujuan pendidikan suatu sekolah. Setelah merumuskan jawaban pertanyaan tersebut, baru mengajukan pertanyaan yang lebih khusus,umpamanya, apakah manfaat mata-mata pelajaran yang diberikan. Jawabanterhadap pertanyaan pertama dapat dihubungkan dengan sifat masyarakat yaitutuntutan dan kebutuhannya, juga dapat dihubungkan dengan pemenuhankebutuhan pribadi dan masyarakat (kesejahteraan individu dan masyarakat).Pendidikan yang menekankan struktur, mengutamakan pendidikan intelek,tetapi tidak berarti pendidikan segi lain diabaikan. Pendidikan yang menekankanstruktur bukan saja dapat berhasil dengan baik pada anak-anak yang cerdas, tetapi juga pada anak-anak biasa bahkan anak-anak yang kurang mampu. Ini tidak berarti urutan dan isi bahan pelajaran bagi mereka sama.Ada empat hal pokok penting dalam proses pendidikan. Pertatna, perananstruktur bahan, dan bagaimana hal tersebut menjadi pusat kegiatan belajar. Halyang sangat penting dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum adalah bagaimana memberikan pengertian kepada siswa tentang struktur yang mendasar terhadap tiap mata pelajaran. Bagaimana mengajarkan struktur mendasar secaraefektif, serta bagaimana menciptakan kondisi belajar yang mendukung haltersebut. Kedua, proses belajar menekankan pada berpikir intuitif. Berpikir intuitif merupakan teknik intelektual untuk mencapai formulasi tentatif tanpamengadakan analisis langkah demi langkah. Ketiga, masalah kesiapan (readiness)dalam belajar. Pada masa lalu, sekolah banyak membuang vvaktu untuk mengajarkan hal-hal yang terlalu sulit bagi anak, karena kurang memperhatikankesiapan belajar. Keempat, dorongan untuk belajar (learning motives) serta bagaimana membangkitkan motif tersebut.
Tujuan belajar lebih dari sekadar untuk mendapatkan kepuasan ataumenguasai pengetahuan. Belajar menyiapkan peserta didik untuk menghadapimasa yang akan datang. Ada dua macam belajar untuk menghadapi masa yangakan datang. Pertama, aplikasi belajar dalam tugastugas khusus, atau pekerjaan- pekerjaan khusus. Hal itu merupakan transfer belajar dalam berbagai bentuk keterampilan. Kedua, transfer belajar dalam bentuk prinsip-prinsip dan sikap-sikap. Tipe belajar yang kedua bukan merupakan belajar keterampilan tetapi belajar ide-ide yang bersifat umum, yang dapat digunakan untuk mengenal danmemecahkan berbagai masalah kehidupan. Jenis transfer yang kedua merupakaninti proses pendidikan, merupakan proses perluasan dan pendalaman yang terusmenerus dari ide-ide dasar dan ide-ide umum. Keberlanjutan proses belajar tersebut sangat bergantung pada tingkat penguasaan struktur bahan yang akandiajarkan. Agar seorang siswa mampu mengenal apakah suatu ide dapatdiaplikasikan atau tidak terhadap situasi baru, is harus mempunyai gambaran yang jelas tentang hakikat fenomena yang dihadapinya. Sebab yang terpenting dalam belajar ide-ide adalah yang dipelajarinya harus 1.ipat diaplikasikan secara luas pada masalah-masalah baru.Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dan inimerupakan hal yang sangat penting, bagaimana menyusun kurikulum yang dapatdiajarkan oleh guru biasa, terhadap murid biasa, yang dapat merefleksikan prinsip-prinsip dasar dari berbagai bentuk inkuiri. Hal itu meyangkut dua masalahyaitu bagaimana memilih bahan yang akan diajarkan serta alat-alat pelajaran yangdapat memberikan tekanan utama pada pengembangan ide-ide dan sikap.Kemudian, bagaimana menentukan tingkat-tingkat bahan yang akan diajarkan itusesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan para siswa. Agar dapatmemenuhi kedua hal tersebut, dibutuhkan partisipasi dari ahli-ahli yang terbaik dalam bidangnya dalam penyusunan kurikulum sekolah. Kedua, yang perlumendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh adalah bagaimana para siswamenguasai ide-ide dasar dari berbagai bidang studi, bukan saja berkenaan dengan pengetahuan umum, tetapi juga dengan perkembangan sikap berinkuiri, perkembangan kemampuan memperkirakan (predictive ability) dan pemecahanmasalah oleh anak sendiri.
Seorang ahli fisika memiliki sikap tertentu terhadap alam semesta sertamenguasai cara memahami sistem alam semesta. Siswa yang belajar fisika juga perlu memiliki sikap tersebut, bila is belajar fisika, tentunya agar yangdipelajarinya itu berguna bagi proses berpikirnya. Untuk mencapai hal tersebutyang terpenting adalah menyediakan bahan, memberikan kesempatan danmendorong anak untuk mencari dan menemukan aturan yang sebelumnya tidak diketahui. Menemukan hubungan, persamaan, perbc.- daan di antara ide-ide, halitu bukan saja menghasilkan pemahaman ten- tang suatu masalah tetapi juga akanmenumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri. Para ahli berpendapat bahwa halitu tidak mungkin dapat dicapai hanya dengan memperhatikan penyusunansekuens bahan ajar saja, tetapi juga harus memperhatikan metode untuk mengajarkan hal tersebut.Metode utama mengajarkan konsep belajar seperti di atas adalah denganmenggunakan metode inkuiri. Metode inkuiri banyak digunakan dalammengajarkan EPA dan Matematika, tetapi sesungguhnya metodi. inkuiri cukupmemberikan hasil yang baik bila digunakan dalam mengajarkan ilmu-ilmu sosial.Bagaimana pengetahuan-pengetahuan dasar dijalin dengan minat don kemampuananak. Hal itu membutuhkan pemahaman yang dalam serta kejujuran yangsungguh-sungguh untuk menyajikan fenomena-fenomena baik dalam penyusunankurikulum maupun dalam penyajian di kelas. Pengetahuan dasar yangdihubungkan dengan fenomena-fenomena tersebut harus disajikan dengan benar,menarik minat dan memberikan manfaat.Minimal ada empat hal yang merupakan manfaat belajar atau mengajarkanstruktur dasar: Pertama, pemahaman tentang hal-hal yang bersifat fundamentalmemungkinkan penguasaan bahan ajar secara lebih komprehensif. Hal itu bukanhanya berlaku bagi IPA dan Matematika tetapi juga bagi ilmu-ilmu sosial. Anak yang sudah memahami latar belakang, tujuan dan dasar-dasar pembentukanASEAN akan d’engan mudah memahami berbagai bentuk kerja sama dan kegiatanASEAN.Kedua, berhubungan dengan kemampuan ingatan manusia. Menurut beberapa hasil penelitian, ingatan manusia tentang hal-hal yang detail yangditempatkan dalam suatu hubungan pola struktur, mudah sekali dilupakan. Agar
esuatu bahan ajar dapat mudah dan lama dikuasai perlu disimpan atau disajikandalam bentuk yang sederhana yang mewakili hal yang lebih kompleks. Perwakilanyang sederhana tersebut disebut regenerative. Contoh regenerative dalam IPA danMatematika adalah rumus-rumus. Suatu rumus yang sederhana merupakan prasarana dan representasi dari hal yang cukup kompleks. Dalam ilmu sosial jugadikenal rumus, kaidah, prinsip tertentu. Selain hal-hal tersebut regerative jugadapat berupa peta, bagan, model, dan sebagainya.Belajar struktur dasar dapat menjamin berbagai bentuk lupa ataukehilangan penguasaan. Dengan belajar struktur dasar suatu kehilangan tidak akan berbentuk kehilangan total, hal-hal yang tersisa dapat membantu menyusunkembali apa-apa yang sudah hilang atau terlupakan. Suatu teori yang baik bukanhanya merupakan alat untuk memahami fenomena yang dihadapinya sekarang,tetapi juga untuk mengingatnya besok.Ketiga, pemahaman prinsip-prinsip dan ide-ide fundamental merupakansyarat utama untuk mengadakan transfer. Pemahaman tentang hal yang umummemungkinkan menguasai banyak hal yang sifatnya khusus, sebab penguasaanhal umum memungkinkan penguasaan model pemahaman. Ide, bahwa prinsip dankonsep merupakan dasar bagi transfer merupakan hal yang sudah lama dikenal.Keempat, penekanan pada struktur dan prinsip-prinsip mengajar yangfundamental dapat mempersempit jarak antara pengetahuan elementer dengan pengetahuan yang lebih lanjut.
C
.

Proses Belajar
Kegiatan mengajar tidak dapat dilepaskan dari belajar, sebab keduanyamerupakan dua sisi dari sebuah mata uang. Mengajar merupakan suatu upayayang dilakukan guru agar siswa belajar. Apabila kita mengkaji teoriteori mengajar yang ada, hampir seluruhnya dikembangkan atau bertolak dari teori belajar.1.

Belajar intuitif Ada suatu pertanyaan mendasar berkenaan dengan proses belajar, yaituapakah proses belajar lebih baik menekankan pada berpikir intuitif atau berpikir analitik?
esuatu bahan ajar dapat mudah dan lama dikuasai perlu disimpan atau disajikandalam bentuk yang sederhana yang mewakili hal yang lebih kompleks. Perwakilanyang sederhana tersebut disebut regenerative. Contoh regenerative dalam IPA danMatematika adalah rumus-rumus. Suatu rumus yang sederhana merupakan prasarana dan representasi dari hal yang cukup kompleks. Dalam ilmu sosial jugadikenal rumus, kaidah, prinsip tertentu. Selain hal-hal tersebut regerative jugadapat berupa peta, bagan, model, dan sebagainya.Belajar struktur dasar dapat menjamin berbagai bentuk lupa ataukehilangan penguasaan. Dengan belajar struktur dasar suatu kehilangan tidak akan berbentuk kehilangan total, hal-hal yang tersisa dapat membantu menyusunkembali apa-apa yang sudah hilang atau terlupakan. Suatu teori yang baik bukanhanya merupakan alat untuk memahami fenomena yang dihadapinya sekarang,tetapi juga untuk mengingatnya besok.Ketiga, pemahaman prinsip-prinsip dan ide-ide fundamental merupakansyarat utama untuk mengadakan transfer. Pemahaman tentang hal yang umummemungkinkan menguasai banyak hal yang sifatnya khusus, sebab penguasaanhal umum memungkinkan penguasaan model pemahaman. Ide, bahwa prinsip dankonsep merupakan dasar bagi transfer merupakan hal yang sudah lama dikenal.Keempat, penekanan pada struktur dan prinsip-prinsip mengajar yangfundamental dapat mempersempit jarak antara pengetahuan elementer dengan pengetahuan yang lebih lanjut.
C
.

Proses Belajar
Kegiatan mengajar tidak dapat dilepaskan dari belajar, sebab keduanyamerupakan dua sisi dari sebuah mata uang. Mengajar merupakan suatu upayayang dilakukan guru agar siswa belajar. Apabila kita mengkaji teoriteori mengajar yang ada, hampir seluruhnya dikembangkan atau bertolak dari teori belajar.1.

Belajar intuitif Ada suatu pertanyaan mendasar berkenaan dengan proses belajar, yaituapakah proses belajar lebih baik menekankan pada berpikir intuitif atau berpikir analitik?
Pengamatan menunjukkan bahwa dalam berbagai kegiatan belajar penilaian di sekolah, tekanan lebih banyak diberikan pada kemampuan untuk memformulasikan secara eksplisit, dan pada kemampuan anak memreproduksikan penguasaan secara verbal dan numerikal. Belum banyak diketahui apakah penekanan tersebut menghambat perkembangan pemahaman intuitif atau tidak.Kita dapat membedakan antara inarticulate genius dengan articulate idiocy.Inarticulate genius diperlihatkan oleh anak yang menguasai secara mendalamkonsep-konsep bahan ajar, tetapi kurang mampu menyatakan secara verbal. Padaarticulate ideocy anak pandai menyatakan dengan kata-kata tetapi tak punyakemampuan untuk menggunakan konsep-konsep tersebut. Dua contoh pemahaman intuitif, pertama seseorang telah cukup lama menghadapi suatu persoalan, tiba-tiba ia menemukan pemecahan walaupun belum didasarkan atas pembuktian formal, kedua, seorang dapat dengan cepat memberikan jawabandugaan terhadap sesuatu persoalan dengan benar. Seseorang pemikir intuitif yang baik dilahirkan dengan kekhususan tertentu, tetapi efektivitas intuitifnya dilandasioleh pengetahuan yang kuat tentang bidang yang berhubungan dengan kekhususantersebut. Pengetahuan yang secara sistematis dikuasainya dapat menunjang berpikir intuitif, atau variabel-variabel yang mempengaruhinya.
A
pakah berpikir intuitif?
Orang lebih mudah membahas atau melakukan pemikiran analitik yanglebih bersifat konkret daripada berpikir intuitif yang lebih abstrak. Berpikir analitik meliputi suatu rentetan langkah-langkah. Langkah-langkah tersebut bersifat eksplisit dan biasanya dapat disampaikan kepada orang lain. Hasil-hasil pemikiran ini berupa informasi atau suatu operasi. Model pemikiran inimenggunakan proses pemikiran secara deduktif dengan bantuan model konsepmatematika atau logika, menggunakan prinsip penelitian, eksperimen dananalisisstatistik.Berpikir intuitif tidak memiliki langkah-langkah yang dapat dirumuskansecara pasti dan teliti, lebih merupakan suatu manuver yang didasarkan atas persepsi implisit dari keseluruhan masalah. Pemikir sampai pada suatu jawabanmungkin benar mungkin juga tidak, dengan sedikit pernyataan tentang proses
pencapaiannya. Ia sering jarang dapat menjelaskan bagaimana memperoleh jawaban, mungkin juga ia tidak menyadari aspek-aspek dari situasi masalah yangia hadapi/kerjakan. Biasanya proses pemikiran intuitif ini berkenaan dengandomain kognitif, terutama dengan struktur pengetahuan, yang memungkinkan iamelangkah atau meloncat atau memotong jalan pendek untuk sampai pada suatu jawaban atau pemecahan. Hasil berpikir intuitif dapat dicek dengan kesimpulandari hasil analitik, apakah induktif atau deduktif.Kedua model pemikiran ini dapat saling komplemen. Melalui berpikir intuitif seseorang memungkinkan sampai pada jawaban atau pemecahan yangsama sekali tak dapat dipecahkan atau lambat sekali bila menggunakan pemecahan melalui proses analitik. Kemungkinan dapat teijadi pada suatu saat pemikir intuitif dapat menemukan masalah yang sama sekali tak dapat ditemukanoleh pemikir analitik. Pemecahan intuitif mungkin dapat lebih cepat dibandingkandengan pemecahan analitik. Hasil pemecahan intuitif dapat dicek oleh hasil pemecahan analitik.Intuisi sering diartikan sebagai immediate apprehension atau cognition.Immediate apprehension merupakan lawan dari mediate apprehension. Mediateapprehension menunjukkan penguasaan dan pengenalan tak langsung melalui penggunaan metode formal, analitis dan pembuktian-pembuktian. Immediateapprehension merupakan pengenalan atau penguasaan langsung tanpa mengikutilangkah-langkah formal. Menangkap pengertian dan struktur masalah atau situasitanpa menggunakan alat atau cara analitis. Dalam berpikir intuitif, hipotesisdirumuskan dengan cepat, mengkombinasikan beberapa konsep sebelum diketahuifaedahnya.Di sekolah terutama dalam bidang science dan matematika dewasa inisangat dipentingkan proses-proses berpikir analitik. Para perencana kurikulum perlu berusaha menemukan bagaimana mengembangkan pemikiran intuitif padamurid-murid seawal mungkin. Seharusnya sebelum murid-murid diperkenalkandengan metode analitik terlebih dahulu ditanamkan pemahaman intuitif. Situasi belajar intuitif di sekolah akan sangat ditentukan oleh sifat bahan pelajaran. Bahan pelajaran yang berisi banyak perkiraan, memberikan kemungkinan pemahaman
Makna merupakan hasil suatu proses belajar bermakna. Hal itu juga akanmenjadi isi kognitif atau isi dari penyadaran yang muncul bila materi yang punyamakna potensial dihubungkan dengan struktur kognitif. Belajar bermakna dan belajar manghafal bukan dua hal yang benar-benar bersifat dikotomis, tetapihanya menunjukkan apakah sesuatu kegiatan belajar lebih mengarah pada bermakna atau kurang bermakna.Suatu kegiatan belajar yang kurang bermakna akan muncul apabila:1.

Materi yang dipelajari kurang memilik kebermaknaan logis.2.

Siswa kurang memiliki konsep-konsep yang sesuai dalam struktur kognitifnya.3.

Siswa kurang memiliki kesiapan untuk melakukan kegiatan belajar bermakna.Belajar bermakna akan menghasilkan konsep-konsep, ide-ide barn yang punya makna, penuh arti, jelas, nyata perbedaannya dengan yang lain. Konsepyang demikian tidak akan mudah digoyahkan dibandingkan dengan konsep-konsep yang dibentuk melalui hubungan atau asosiasi arbitrer. Dengan belajar bermakna, siswa akan menguasai dan mengingat konsep-konsep inti. Dalam belajar menghafal sering konsep inti dan konsep bukan inti berbaur dan salingmenghambat, tetapi dalam belajar makna keduanya bisa dibedakan dengan jelas.Mengapa seseorang melakukan kegiatan belajar dengan menghafalMinimal ada tiga sebab utama:1)

Mereka belajar dari pengelaman yang kurang menyenangkan yang secaramaterial memberikan jawaban yang benar, tetapi kurang memberikanhubungan yang bermakna. Adanya tuntutan memberikan jawaban yang bersifat fakta-fakta sering mendorong siswa untuk belajar dengan caramengingat dan menghafal.2)

Siswa mengalami kecemasan yang cukup besar. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena ia gagal dalam menguasai pelajaran, atau karena kurangyakin akan kemampuan belajar bermakna. Untuk mengatasi kecemasantersebut ia belajar dengan cara menghafal.3)

Siswa berada dalam suatu tekanan untuk selalu memperhatikan keberhasilandan kelancaran belajar, atau menyembunyikan kekurangan-kekurangannya.

b.

Macam-Macam Belajar BermaknaMakna merupakan isi dari struktur kognitif, yang terjadi karena materiyang memiliki kebermaknaan potensial disatukan dengan struktur kognitif. Proses penyatuan tersebut berbeda-beda dan dapat diletakkan dalam suatu hierarki dariyang bersifat represensional sampai dengan belajar tingkat tinggi, perbuatan belajar kreatif.Belajar represensional merupakan suatu proses belajar untuk mendapatkanarti atau makna dari simbol-simbol. Kalau orang tua mengatakan kucing sambilmenunjuk seekor kucing, maka pada struktur kognitif anak akan terbentuk rangsangan internal yang akan memberi makna pada kata kucing sebagai binatangkucing. Kata kucing menjadi simbol yang mewakili binatang kucing. Melalui proses representasi tersebut anak akan mengenal banyak nama dan tiap benda punya nama sendiri. Belajar represensional juga berlaku bagi nama-nama bukan benda. Kata depan terjadi melalui hubungan antara dua objek seperti kucing diatas meja, air di dalam gelas dsb.Belajar konsep dapat mempunyai makna logis dan makna psikologis.Makna logis terbentuk melalui fenomena adanya benda-benda yangdikelompokkan karena memiliki ciri-ciri yang sama. Berbagai macam kucing danharimau karena cirinya yang sama, dikelompokkan sebagai kucing. Dalam maknalogis ada ciri-ciri utama yang menunjukkan sekumpulan sifat-sifat yang dimilikioleh setiap anggota suatu kelas konsep. Ciri-ciri utama tersebut berbeda antarasuatu kelas konsep dengan kelas yang lain. Makna psikologis suatu konsepterbentuk dalam dua tahap. Pada tahap pertama konsep terbentuk melalui pengalaman nyata. Secara induktif anak menemukan ciri-ciri utama benda-bendatertentu. Melalui permainan dengan bermacam-macam warna dan bentuk kubusanak akan memiliki konsep tentang kubus, walaupun tidak tahu namanya. Padatahap berikutnya bila anak telah bersekolah ia belajar makna konsep secara formaldari nama dan kata-kata. Kedua tahap proses pembentukan makna konsep tersebutterjadi hampir dalam semua kegiatan anak belajar konsep. Pembentukan konsepselanjutnya terjadi melalui proses asimilasi yaitu definisi-definisi.Belajar proposisi. Proposisi atau kaidah merupakan suatu kalimat yangmenunjukkan hubungan antara dua hal. Proposisi ini ada yang bersifat umum,

“binatang buas makan daging” yang berisi banyak konsep dan ada pula yang bersifat khusus, harimau makan kelinci yang hanya berisi satu konsep.Dalam belajar proposisi yang bermakna, kalimat yang dipelajari dihubungkandengan konsep yang ada dalam struktur kognitif. Ada tiga macam caramenghubungkan:1)

Hubungan antar-bagian. Bahan baru yang dipelajari siswa merupakan bagiandari konsep-konsep yang telah ada. Dalam belajar hubungan antar-bagian iniada dua macam bagian, yaitu bagian yang bersifat derivative dan correlative.Pada bagian derivative siswa melukiskan atau meneruskan hal yang dicakupdalam sutu proposisi. Contoh: “kucing memanjat pohon”, bagian derivative-nya “kucing tetangga memanjat pohon saya”. Dalam bagian correlative, belajar berfungsi memperluas, mengelaborisasi, memodifikasi proposisi- proposisi yang telah ada. Contoh anak telah mengenal jajaran genjang,dengan correlative preposition anak akan mengenal belah ketupat.2)

Hubungan superordinat. Bahan yang dipelajari merupakan superordinat darikonsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya. Anak telahmengenal besar sudut segi tiga siku-siku 180 derajat, segi tiga sama sisi 180derajat, dan sebagainya, maka dalam kegiatan belajar sampai pada proposisi bahwa jumlah sudut setiap segi tiga besarnya 180 derajat.3)

Hubungan kombinasi. Bahan yang dipelajari bukan merupakan bagian bukan juga superordinat dari yang telah ada, akan tetapi merupakan kombinasi dari banyak hubungan. Contohnya adalah belajar model.Belajar diskaveri atau mencari. Bahan yang dipelajari tidak disajikansecara tuntas tetapi membutuhkan beberapa kegia tan mental untuk menuntaskandan menyatakannya dengan struktur kognitif. Belajar diskoveri terbagi atas duamacam kegiatan belajar, yaitu belajar pemecahan masalah dan belajar kreatif.Belajar pemecahan masalah, memiliki proses psikologis yang lebihkompleks dibandingkan dengan belajar proposisi. Dalam belajar pemecahanmasalah, anak dihadapkan pada masalah-masalah yang memerlukan pemecahan.Guru mengajukan beberapa pertanyaan yang mengarahkan siswa agar menemukan pemecahan atau jawabannya sendiri.

Belajar kreatif. Kreativitas merupakan suatu kemampuan untuk meng-hasilkan sesuatu yang baru, baik baru bagi dirinya maupun orang lain. Belajar kreatif adalah siswa proses belajar merencanakan, melaksanakan, danmembuktikan sendiri‡percobaan-percobaan. Mereka berusaha mencari hubunganantara konsep-konsep yang baru dan konsep-konsep yang telah ada pada struktur kognitifnya.3.

Hubungan macam-macam belajar dengan taksonomi BloomMacam-macam belajar yang telah diuraikan sebelum ini, menunjukkanadanya beberapa kategori tingkah laku belajar, yaitu belajar bermakna, menghafalmenerima, dan diskaveri. Belajar bermakna pun berbeda-beda pula dari yang bersifat represensional sampai dengan belajar kreatif. Karena adanya pengkategorian tersebut maka dapat dicari hubungannya dengan kategori belajar atau taksonomi dari. Bloom.Karena pengetahuan atau knowledge Bloom lebih banyak berhubungandengan ingatan maka dapat dikelompokkan sebagai belajar menghafal (rotelearning). Mulai dari pemahaman sampai dengan evaluasi dapat dikategorikansebagai belajar bermakna. Belajar konsep dan preposisi dapat disamakan dengan pemahaman, pemecahan masalah dengan analitis dan kreativitas dengan sintesisyang sukar dimasukkan dalam kategori tersebut adalah aplikasi dan evaluasi.Dari pembandingan dengan taksonomi Bloom juga dapat ditarik kesimpulan bahwa macam-macam belajar bermakna ini, lebih menyangkut ranahkognitif. Ranah afektif dan psikomotor tidak tercakup dengan macam-macamkategori belajar ini.4.

Mengingat dan lupaBelajar merupakan proses menguasai makna dari sesuatu bahan pelajaranyang secara potensial bermakna. Mengingat merupakan suatu proses memelihara penguasaan sesuatu makna baru. Lupa merupakan kemunduran atau kehilangan penguasaan suatu makna yang telah dikuasai.
Suatu konsep baru dipelajari oleh individu, diingat untuk beberapa saatdan sebagian ada yang terlupakan. Proses ini terjadi dalam dua langkah: (1) penguasaan dan penyimpanan, (2) mengingat dan lupa.Penguasaan dan penyimpanan. Suatu konsep dipelajari dengan cara yang bermakna dan disatukan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Interaksi antara konsep baru dengan konsep-konsep yang telah adamenimbulkan suatu makna. Makna baru tersebut mungkin mengubah,memperluas, mempersempit konsep yang telah ada, tetapi dalam bebe rapa halmungkin juga tidak mengubah konsep lama.Dalam struktur kognitif suatu konsep baru, tidak hanya berhubungandengan suatu konsep tetapi dengan beberapa konsep yang telah ada. Kekuatanhubungan dengan masing-masing konsep tidak selalu sama, ada yang kuat sekali,lemah sekali di samping yang tidak berhubungan sama sekali.Mengingat dan lupa. Konsep-konsep baru yang kurang umum, melalui periode waktu bersatu atau berasimilasi dengan konsep-konsep yang telah ada.Keadaan tersebut dapat terjadinya pengurangan makna, karena terjadi pengurangan hubungan (reduksi). Karena proses asimilasi dan reduksi tersebut berjalan spontan dan berangsur-angsur maka konsep-konsep tersebut terlupakan.Ada dua tingkat kritis untuk mengingat kembali konsep yang terlupakan.Tingkat yang tertinggi berada pada tingkat yang berhubungan dengan mengingatkembali (recall). Bila suatu konsep di bawah tingkat recall maka anak tidak dapatmengingatnya kembali. Suatu konsep yang berada di bawah tingkat recall,mungkin masih terletak di atas tingkat recognition. Sesuatu yang terlupakan samasekali, kalau dipelajari kembali akan terjadi recognition.Apabila dirangkumkan maka ada tiga faktor yang mempengaruhi penguasaan kembali konsep dari ingatan:1)

Kekuatan hubungan antara konsep yang telah ada dengan konsep baru.2)

Efektivitas usaha untuk menguasai kembali konsep yang terlupakan, baik yang memperkuat penguasaan kembali, maupun yang menghambat lupa.3)

Macam penguasaan apakah pada tingkat recall atau recognition
5.

Kelebihan belajar bermaknaSuatu bahan dipelajari secara bermakna atau dihafal bergantung pada (1)sifat bahan apakah secara potensial bermakna atau tidak bermakna, (2) kesiapan si pelajar sendiri untuk melakukan belajar bermakna.Hasil belajar bermakna lebih lama dikuasai daripada belajar menghafal.Dengan demikian belajar bermakna lebih efisien dibandingkan dengan belajar menghafal. Hal itu disebabkan adanya hubungan yang substantif dan non-arbitrer dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif. Keadaan demikianmemungkinkan sejumlah besar bahan dapat disatukan dalam struktur kognitif dengan penguasaan yang lebih efektif. Hubungan suatu konsep yang dipelajaridengan bermakna dengan struktur kognitif menyebabkan konsep tersebut lebihlama dikuasai dalam ingatan. Dalam belajar yang bersifat menghafalhubungannya tidak mendalam, karena terjadi hubungan secara arbitrer, terputus- putus dan terisolasi.6.

Inhibisi proaktif dan retroaktif Salah satu penyebab utama dari lupa pada belajar bermakna adalah pengu-rangan makna dari suatu konsep dalam struktur kognitif.Pada belajar yang bersifat menghafal, masalah lupa disebabkan olehhilangnya atau lemahnya asosiasi antara dua hal. Dalam belajar mengingatadadua hambatan (inhibition) yang mungkin terjadi yaitu hambatan proaktif danretroaktif. Hambatan proaktif merupakan hambatan dalam mengingat sesuatukarena adanya pengaruh dari bahan yang telah dipelajari lebih dahulu. Hambatanretroaktif merupakan hambatan dalam mengingat yang lama karena bahan baru.Ketimpangan isi yang diajarkan dan yang diingat. Sering terjadi perbedaan antaraisi bahan yang diajarkan dengan diingat, hal itu dilatarbelakangi oleh beberapahal:a.

Ketidakjelasan, kekacauan, keraguan arti sesuatu konsep sejak awal proses belajar, karena kekurangtepatan makna konsep pokok dalam struktur kognitif.Kekurangstabilan dan kekurangjelasan konsepkonsep pokok tersebut,menyebabkan terjadinya perbedaan isi antara bahan baru dengan konsep pokok
b.

Pada saat memberikan penafsiran pertama terhadap bahan baru yang bersifatselektif, terjadi kesalahan dan penghilangan atau pengurangan ciri-ciri. Padafase mengingat kembali bahan-bahan tersebut cenderung terjadi penguranganterhadap konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Jika suatu bahan baru salah penafsirannya karena adanya kelainan dalam struktur kognitif, kesalahan tersebut akan menetap malah akan diperkuat pada masa-masa asimilasi.c.

Kesalahan dan penyimpangan dapat terjadi bila suatu makna yang telahtersimpan dirumuskan kembali secara verbal.Dalam menerima suatu konsep baru terjadi “leveling” dan “sharpening”.Leveling adalah penyusutan bentuk yang tidak lazim dalam bentuk yang lebihlazim, sedang sharpening adalah penajaman suatu konsep atau perangsangmenjadi lebih sempurna lebih baik. Masalah lupa memiliki nilai positif dan juganilai negatif. Nilai positifnya adalah menyeleksi ideide baru mana yang lebihstabil, lebih penting dan lebih memperkuat konsep-konsep yang telah ada, dantidak mengingat semua perangsang yang masuk.Mengingat bermakna yaitu memasukkan konsep-konsep penting dalamstruktur kognitif sangat penting bagi kegiatan belajar Iebih lanjut dan kegiatan-kegiatan pemecahan masalah sebab konsep-konsep tersebut merupakan pijakandan bahan yang akan diolah dalam proses belajar selanjutnya. Penguasaan konsep-konsep penting sering mengabaikan konsep-konsep atau detail-detail yang kurang penting. Hal itu disebabkan bahan-bahan yang tidak penting sudah tercakup dalamhal-hal yang penting. Karena merasa sudah tercakup sering terlupakan. Sebab lain,terjadi karena bahan-bahan baru yang kurang penting tersebut dalam penyatuannya dengan yang telah ada kurang stabil, kurang kuat, kurang jelassehingga mudah sekali terlupakan
.

D.

Kesiapan Belajar
Tiap bahan pelajaran dapat diajarkan kepada anak secara efektif bila sesuaidengan tingkat perkembangan anak tersebut. Ada tiga masalah penting berkenaandengan penyesuaian bahan ajar dengan perkembangan anak;
1.

Perkernbangan intelek Hasil penelitian berkenaan dengan perkembangan intelek anak menun- jukkan, bahwa tiap tingkat perkembangan mempunyai karakteristik tertentutentang cara anak melihat lingkungannya dan cara memberi arti bagi dirinyasendiri. Mengajarkan suatu bahan pelajaran kepada anak, adalahmempresentasikan struktur bahan pelajaran sesuai dengan cara anak memandangatau mengartikan bahan pelajaran tersebut. Pengajaran merupakan suatutranslation. Suatu dugaan umum bahwa ide atau konsep dapat direpresentasikandengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya sesuai dengan tingkat pemikirananak pada tingkat usia tertentu, dan representasi pertama diperkuat dan diperbaiki pada tingkat selanjutnya.Menurut Piaget, ada empat tingkat perkembangan anak: Tingkat pertamaadalah tingkat Sensory motor, masa lahir sampai 2 tahun merupakan masa perkembangan kemampuan bergerak dan merespons terhadap rangsangan.Tingkat kedua, masa 2 sampai 7 tahun disebut tingkat Preoperasional. Tugas perkembangan anak pada masa ini terutama membentuk hubungan antara pengalaman dengan kegiatan. Melalui berbagai kegiatan anak bermanipulasidengan lingkungan. Tingkat ini mulai dari perkembangan awal berbahasa sampaianak marnpu belajar bermanipulasi dengan simbol-simbol. Kemampuan simbolik utama yang harus dipelajari anak, adalah bagaimana merepresentasikan dunia luar melalui pembentukan simbol-simbol anak, tidak ada batas perbedaan antara motif dan peranan dirinya dengan kegiatan lingkungannya. Matahari bergerak karenadidorong oleh Tuhan, dan bintang-bintang tidur seperti dia. Anak tidak dapatmembedakan antara tujuan dengan cara atau alat untuk mencapainya. Hal itukarena anak lebih dipengaruhi oleh intuisi daripada oleh kegiatan simbolik, lebih banyak dipengaruhi perbuatan trial and error daripada hasil pemikiran.Kekurangan utama pada tingkat ini adalah anak belum memiliki konsep perbedaan atau perlawanan (reversibility). Bila suatu benda berubah anak belumdapat menangkap ide bahwa benda tersebut dapat dikembalikan pada keadaanasalnya. Kekurangan tersebut sering menghambat penguasaan ide dasar bidangstudi tertentu terutama matematika dan fisika. Tingkat ketiga, masa antara 7sampai 11 tahun, merupakan masa anak sekolah, disebut juga tingkat “concrete
operational”. Tingkat ini merupakan tingkat operasional yang berbeda dengantingkat pertama yang semata-mata hanya aktif.Operasi merupakan pengumpulan data tentang dunia sekitarnya, kemudianditransformasikan sehingga dapat disusun dan digunakan secara selektif dalammemecahkan masalah. Operasi bersifat internalisasi dan reversible. Internalisasi berarti bahwa anak memecahkan masalah bukan dengan cara trial and error tetapidengan pemikiran, trial and error digunakan untuk menjadi pembantu atau bahan pembanding pemikiran. Reversibility diperlukan, karena dalam operasidibutuhkan adanya “complete compensation”. Suatu operasi dapat dikompensasidengan operasi sebaliknya. Pengurangan dikompensasi oleh penjumlahan, perkalian oleh pembagian.Dengan operasi konkret anak mengembangkan struktur internalnya.Struktur internal merupakan hal yang sangat esensial, karena dengan struktur internal anak mampu beroperasi. Pada diri anak ada sistem simbolik internal yangmerepresentasikan dunia luar. Agar anak menguasai apa yang diajarkan, maka bahan ajar harus disesuaikan dengan “bahasa” struktur internal tersebut. Operasikonkret dibimbing oleh “logika kelas” dan “logika” hubungan yang merupakanalat penstrukturan kenyataan yang dihadapinya dan pernah dialaminya pada saatyang lalu, tetapi ma belum mampu menghadapi kemungkinan-kemungkinan yangsama sekali asing baginya. Ini tidak berarti anak yang beroperasi secara konkrettidak mampu mengantisipasi hal-hal yang tidak ada. Anak belum mampu secarasistematik melampaui informasi yang diberikan, untuk mendeskripsikan apa yangterjadi.Tingkat keempat, masa antara 11 sampai dengan 14 tahun, merupakantingkat “formal operation”. Kegiatan intelektual anak didasarkan atas kemampuan beroperasi pada tingkat hipotetis dan bukan lagi pada tingkat pengalaman, atauterbatas pada apa yang telah dikenalnya. Seorang anak mampu memikirkankemungkinan variabel-variabel, dan bahkan mampu mendeduksi hubungan potensial yang dapat dicek dengan percobaan atau pengamatan. Operasiintelektual telah berkembang sampai pada tingkat semacam operasi logis ahlilogika, sarjana atau para pemikir lainnya. Pada tingkat ini anak mampumemberikan pernyataan formal atau pernyataan axiomatik pada ide-ide yang konkret, sebelum langkah pemecahan masalah. Pada tingkat operasi konkret anak mampu menangkap secara intuitif dan konkret, sejumlah ide-ide dasar ilmu pengetahuan.Yang sangat penting dalam mengajarkan konsep-konsep dasar adalah anak dibantu untuk berkembang dari berpikir konkret pada menggunakan cara berpikir yang lebih konseptual. Hal itu akan sia-sia saja, bila guru mengajarkannya dengancara menyajikan penjelasan-penjelasan formal yang didasarkan atas logika,kurang disesuaikan dengan cara berpikir anak serta kurang mengaplikasikannya.Dalam pengajaran matematika sering anak bukan belajar “aturan matematis”,tetapi belajar menggunakan alatalat atau resep-resep matematis tanpamemahaminya.Perkembangan intelek anak bukanlah suatu rangkaian perkembangan yang bersifat tertutup, tetapi terbuka, merespons terhadap pengaruh lingkungannyaterutama lingkungan sekolah. Perkembangan intelek anak perlu ditunjang olehkesempatan-kesempatan yang berguna agar berkembang lebih pesat. MenurutDavid Page seorang ahli dan guru yang sangat berpengalaman dalam mengajar matematika, dalam pengajaran dari Taman Kanak-Kanak sampai PerguruanTinggi dalam perkembangan intelek menunjukkan kecenderungan yang sama, bahwa anak lebih spontan, lebih kreatif, lebih energik dibandingkan dengan orangdewasa. Belajar anak dalam segala hal lebih cepat dibandingkan dengan orang tua.2.

Kegiatan belajar Belajar sesuatu bidang pelajaran, minimal meliputi tiga proses. Pertama, proses mendapatkan atau memperoleh informasi baru untuk melengkapi ataumenggantikan informasi yang telah dimiliki atau menyempurnakan pengetahuanyang telah ada. Kedua, transformasi, yaitu proses memanipulasi pengetahuan agar sesuai dengan tugas yang baru. Transformasi meliputi cara-cara mengolahinformasi untuk sampai pada kesimpulan yang lebih tinggi. Ketiga, prosesevaluasi untuk mengecek apakah manipulasi sudah memadai untuk dapatmenjalankan tugas rnencapai sasaran. Apakah kesimpulan yang telah dilakukandengan saksama, dapat dioperasikan dengan baik.

Dalam mempersiapkan bahan pelajaran, biasanya kita susun bahan pelajaran tersebut dalam rentetan episode (satuan pelajaran). Dalam tiap episodeterdapat ketiga proses di atas. Episode belajar dapat panjang, juga dapat pendek, berisi banyak konsep, atau hanya beberapa konsep saja. Dalam menyajikan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan murid, episode-episode bahan pelajaran, kita manipulasi dengan beberapa cara. Cara-cara yang biasa dilakukanadalah: memperpanjang atau memperpendek isi episode, memberikan ganjarandalam bentuk pujian, pemberian gelar juara, dan sebagainya, mempersiapkan pertanyaan yang dapat memberikan motivasi intrinsik atau ekstrinsik.3.

Spiral KurikulumJika prinsip-prinsip perkembangan anak telah diperhatikan, bahan ajar telah disusun dalam urutan yang logis dan cukup mendorong perkembangan dankeadaan memungkinkan untuk memperkenalkannya seawal mungkin; apakahanak akan menjadi orang dewasa dan berpengetahuan. Bila sudah cukup berpengetahuan apakah menjadi orang dewasa yang lebih baik? Bila javvabannyacenderung ke arah tidak atau tidak jelas (ambigius), hal itu menunjukkan belumadanya keteraturan dalam mated, kurikulum.Kurikulum bukan sesuatu yang staffs tertutup, tetapi merupakan spiralterbuka. Kurikulum memiliki struktur bahan ajar, yang disusun atau dibentuk disekitar prinsip-prinsip, masalah-masalah dan nilai-nilai dalam masyarakat.Kurikulum selalu membutuhkan baik anak didik maupun masyarakat sekitarnya.
E.

Minat dan Motif Belajar
Dalam perencanaan kurikulum sering dibedakan antara tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Seorang yang berpendirian lebih praktis lebihmengutamakan tujuan jangka pendek, yang dapat dicapai dengan penggunaan bahan yang singkat serta metode yang sederhana. Orang yang lebih ideal, lebihmengutamakan tujuan jangka panjang, karena tujuan jangka pendek tidak memberikan arah sama sekali. Kedua macam tujuan tersebut sama pentingnya dandiperlukan dalam pelaksanaan program. Tujuan jangka panjang merupakan tujuanakhir pendidikan (the end of education), penting, sebab merupakan sasaran akhir
tetapi tujuan jangka pendek juga penting sebab dengan tujuan tersebut lebihkonkret, lebih mudah dicapai dan akan selalu ditemukan tujuan yang baru menujusasaran akhir.Pendidikan di Amerika Serikat dewasa ini sangat menekankan padakeunggulan (excellence). Masalahnya, untuk mencapai hal tersebut, apa yangharus diajarkan, bagaimana mengajarkannya serta bagaimana membangkitkanminat belajar murid. Pencapaian keunggulan bukan hanya bagi anak-anak yangcerdas tetapi juga ditujukan bagi anak-anak biasa. Konsep pendidikan atau pengajaran hanya dipersiapkan bagi anak ratarata agar sesuai bagi setiapkelompok anak, adalah kurang tepat. Persoalannya, bagaimana menyiapkan bahan pengajaran yang dapat merangsang minat belajar anak cerdas, tetapi juga tidak mematikan minat atau tetap mendorong minat belajar anak-anak yang tidak cerdas. Untuk mencapai cita-cita pendidikan unggul dibutuhkan kurikulum yangsesuai, pendidikan guru yang efektif, menggunakan alat-alat bantu pengajaranyang cukup serta diciptakan berbagai usaha pemberian motivasi.Pembangkitan motif belajar pada anak, sukar dilaksanakan apabila proses belajar lebih menekankan pada satuan-satuan kurikulum, sistem kenaikan kelas,sistem ujian, serta mengutamakan kontinuitas dan pendalaman belajar.Mengenai pemusatan perhatian dan minat belajar terletak dalam suatukontinum yang bergerak dari sikap apatis atau sama sekali tidak menaruhminatsampai dengan yang sangat berminat. Minat atau perhatian belajar ini sangat berhubungan dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar juga bergerak dari yangaktif, yang berbentuk suatu proyek yang berisi kegiatan kompetitif, yang banyak membangkitkan minat belajar anak sampai dengan kegiatan yang bersifatexcessive yakni setiap anak secara pasif menanti giliran penugasan, yang banyak memberikan kebosanan dan apatisme.Pembangkitan minat belajar pada anak, ada yang bersifat sementara(jangka pendek), dan ada juga yang lebih bersifat menetap (jangka panjang).Terdapat perbedaan usaha untuk membangkitkan minat yang bersifat sementaradengan yang lebih bersifat menetap. Penggunaan film, audio visual aid, dan lain-lain dapat membangkitkan minat yang bersifat sementara. Untuk yang lebih berjangka lama, film, audio visual aid, dan lain-lain dapat menimbulkan
kepasifan. Film dan audio visual aid merupakan alat yang berorientasi padahiburan, seperti halnya kebudayaan komunikasi massa dapat menimbulkankepasifan dan sikap monoton. Sikap belajar menonton yang pasif (the spectator’s possitivy) merupakan hal yang membahayakan dalam perkembangan anak. Untuk membangkitkan minat yang lebih bersifat menetap (jangka panjang), langkah pertama yang harus diusahakan adalah membangkitkan otonomi yang aktif, yangmerupakan lawan dari kepenontonan yang pasif. Motif belajar pada anak umumnya campuran, antara yang bersifat sementara, antara otonomi aktif denganmenonton.Beberapa hal dapat diusahakan untuk membangkitkan motif belajar padaanak yaitu pemilihan bahan pengajaran yang berarti bagi anak, menciptakankegiatan belajar yang dapat membangkitkan dorongan untuk menemukan(discovery), menerjemahkan apa yang akan diajarkan dalam bentuk pikiran yangsesuai dengan tingkat perkembangan anak. Sesuatu bahan pengajaran yang berarti bagi anak yang disajikan dalam bentuk yang sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak, dan disampaikan dalam bentuk anak lebih aktif, anak banyak terlibat dalam proses belajar dapat membangkitkan motif belajar yang lebih berjangka panjang.Salah satu sistem untuk membangkitkan motif belajar para siswa, yangsekarang sedang dikembangkan adalah yang disebut meritocracy. Meritocracymerupakan sistem pengajaran yang menekankan pada kompetisi atau persaingan.Dalam sistem meritocracy siswa mempunyai kesempatan untuk maju terus sesuaidengan prestasi belajar yang dicapainya. Posisi dalam sekolah selanjutnyaditentukan oleh record di sekolah sebelumnya. Kesempatan pendidikan selan- jutnya bahkan juga kesempatan pekerjaan selanjutnya, ditentukan oleh suksessebelumnya. Dalam sistem meritocracy anak yang pandai dapat berkembang pesat, jauh meninggalkan teman-temannya, tetapi sebaliknya anak yang kurang pandai akan jauh tertinggal. Sistem meritocracy dapat membangkitkan motif yangsangat besar bagi anakanak yang pandai, tetapi dapat mematahkan semangat anak-anak yang kurang. Sistem meritocracy selain mempunyai beberapa kebaikan, jugamempunyai beberapa efek negatif terutama berkenaan dengan suasana belajar Efek yang kurang baik dalam suasana belajar dapat dikontrol dengan perencanaanyang matang.Dalam sekolah yang menekankan sistem kompetitif, dibutuhkan usaha-usaha remedial terutama untuk anak-anak lambat belajar. Penyuluhan khusussering dibutuhkan bukan saja oleh anak-anak yang lambat tetapi juga anak cepat.Remedial dan penyuluhan bukan satu-satunya jawaban untuk mengatasi masalah belajar yang bersifat kompetitif. Salah satu kelemahan sistem meritocracy adalahterlalu menekankan pada science dan teknologi, pelajaran yang berkenaan denganhumanisme kurang sekali. Hal itu dapat diatasi dengan menggunakan sistem pendidikan yang pluralistis. Pendidikan seni, musik, drama serta pendidikanhumanitas lainnya sangat membantu untuk mencapai keseimbangan.

5 thoughts on “PENGEMBANGAN KURIKULUMTEORI DAN PRAKTEK

  1. I don’t know what I want to do after university much does paxil cost 6= Other Coverage Denied – Not a participating provider (This functions the same
    lamisil cost confidentiality and privacy. Rarely respects peers and privacy. Usually and privacy. Always
    buy inderal online or sold to any third party. Non-personal, aggregate information may be utilized for nationwide, school-
    ec-naprosyn 500mg in trash bags labeled with the biohazard sign. The bags do no require treatment such as

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s