sunset diLosari


“Siapa?”

“Kak Sam.”

“Jadi dia masih sering menghubungimu?”

“Tidak juga. Kak Sam menghubungiku hanya untuk sesuatu yang penting.”

“Hanya bertanya kabar dan basa-basi tidak jelas adalah sesuatu yang penting?”

“Bukankah itu wajar Res? Kami sudah lama tidak bertemu. Kak Sam hanya ingin minta sedikit bantuanku.”

“Halah…itu pasti akal-akalannya saja agar bisa dekat denganmu. Berikan handphone itu padaku May.”

“Tapi Res, aku dan Kak Sam hanya …”

“hanya apa May?” Aku terdiam. Tatapan tajam Restu membuatku malas melanjutkan percakapan. Tak akan ada akhirnya. Restu tidak mungkin mengalah. Tanpa bertanya dan negoisasi denganku, Restu menghubungi kak Sam. Memintanya untuk tidak menghubungiku lagi.

Hujan mulai merintik di luar sana. Kaca-kaca bus mengembun. Dingin mulai menusuk. Perjalanan malam ini harusnya menyenangkan. Aku menghela napas panjang. Bayangan Kak Sam berletikan di mataku. Ada rasa bersalah yang menyesak. Mana mungkin aku memutuskan silaturrahim dengan orang yang sudah kuanggap kakak sendiri. Kulirik wajah Restu. Ah mengapa aku sangat mencintainya. Bahkan di saat rasa bersalah pada Kak Sam menyesak, juga ada bahagia karena kecemburuan Restu. Perjalanan pulang kampung setelah enam bulan kuliah, malam ini, hanya berlalu dengan diam. Tak ada kalimat selain penjelasan singkat Restu “itu karena aku cemburu May.”

**

Sudah berjam-jam aku menangis. Buliran hangat itu tak mampu kutahan lama-lama untuk hanya sekedar menggenang di kelopak mataku. Rasanya aku tak lagi berpijak di bumi. Tubuhku kurasakan melesak jauh, entah ke mana. Kabar senja tadi benar-benar membuat seluruh sendiku melemah. Kesadaranku hampir saja hilang. Napasku naik turun. Kepalaku pening. Kabar itu…kabar yang paling menyesakkan. Kabar tentang berpulangnya Bapak ke rahmatullah.

Dengan lembut Restu menyeka air mataku. Menggenggam erat tanganku dan menenangkanku dengan sederet kata-kata semangat.

“Maya yang kukenal adalah gadis yang tangguh. Apa pun yang terjadi besok, kamu harus tetap kuat May. Janji?” aku hanya mengangguk. Ada kekuatan yang menelusup ke dalam hatiku.

Bagaimana mungkin aku tak sangat mencintai Restu, dia selalu ada untukku. Dalam bus arah Makassar-Palopo, aku benar-benar menumpahkan semua air mataku, hingga akhirnya aku lelah dan jatuh tertidur. Restu masih di sampingku. Setia menjagaku walau harus mengorbankan ujian semesternya besok pagi.

Gerimis turun satu-satu. Tak ada senja seindah senja kali ini. Jingga bercampur kelabu yang menyerabut penuh pesona di kaki langit, ditambah aroma tanah basah yang menyegarkan. Juga kedatangan Ibu ke kota ini yang menjadi pelengkap semuanya. Aku dan Restu berkeliling pasar, menemani Ibu belanja. Dalam becak bertiga, sepayung bertiga dan menikmati tetes hujan bersama. Bagaimana mungkin aku tak sangat mencintai Restu, jika dia selalu ada untukku dalam kondisi apa pun.

Bagaimana mungkin aku tak sangat mencintai Restu, jika semua keluargaku menantikan kehadirannya. Bagaimana mungkin aku tak sangat mencintai Restu, jika bersamanya nyanyian alam paling merdu akan segera dinyanyikan. Bagaimana mungkin aku tak sangat mencintai Restu, jika dia selalu menunjukkan indahnya warna-warna lampu kota. Tak ada alasan untuk tidak mencintainya.

**

“Hubungan kita sampai di sini May. Jangan hubungi aku lagi.” Kata-kata itu benar-benar menohok jantungku. Sakit.

“Tapi kenapa Res? Apa aku punya salah?” aku memburu tanya. Aku tak mengerti, apa yang terjadi.

“Tidak May, kamu tidak punya salah. Aku hanya bosan, dan …” Restu menarik napas “aku jatuh cinta pada orang lain.” Pengakuan Restu serasa menghilangkan sendiku. Jatuh cinta pada orang lain? Aku tak percaya. Bukankah selama ini hubunganku dengannya baik-baik saja. Bukankah kami bahagia. Tap…tapi…mengapa …dia mengakui hal lain.

“Mencintai orang lain Res? Bagaimana mungkin, bukankah selama ini kita baik-baik saja?”

“Kamu tidak akan mengerti May. Sudahlah, fokus saja sama kuliahmu. Lupakan aku. Biarkan aku bahagia dengan orang yang kucintai.”

“Aku mengenalmu Res. Kamu bohong kan?” dengan terbata aku minta penjelasan Restu, ah lebih tepatnya minta persetujuan bahwa dia memang berbohong.

“May…kamu mengerti bahasa Indonesia kan? Sudah kukatakan, lupakan aku, lupakan aku, May.” Suara Restu meninggi. Kini sesak di dadaku benar-benar luruh lewat air mata. Aku terisak. Rasanya ada godam raksasa menghantam tubuhku. Sakit.

Aku masih belum mengerti hingga kuputuskan untuk benar-benar pergi dari kehidupan Restu. Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Dan aku, memilih untuk menyembuhkan lukaku sendiri. Lampu-lampu kota kehilangan warna, sepanjang Makassar hanya menyisakan kenangan yang menggurat luka. Aku ingin melesak jauh dari sini, entah ke mana.

**

Tiga tahun berlalu. Semuanya bergerak lamban…sangat lamban. Aku masih di sini, di kota daeng. Tapi aku tak lagi berteman luka. Aku telah ikhlas dengan semua yang ditakdirkan Tuhan. Menatap sunset di pantai ini cukup membuatku bahagia. Yah, tiga tahun terakhir, aku berteman sunset. Tiga tahun terakhir, Tuhan mengganti Restu dengan sesuatu lain yang juga sangat berharga. Tapi, kuakui rasa itu masih ada. Dan senja kali ini, di pantai ini, pantai Losari, aku kembali bertemu Restu.

“Maafkan aku, May. Aku sungguh tidak bermaksud menyakitimu.” Dengan sedikit serak, Restu berusaha mencairkan suasana yang dari tadi beku dan bisu. Aku jelas melihat sesal tergambar di wajahnya.

“Sudahlah Res, aku sudah melupakan semuanya…” aku menghela napas “yah seperti keinginanmu waktu itu.”

“Semuanya bohong May. Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain kamu.” Aku tersentak. Kaget.

“Tapi waktu itu …”

“waktu itu aku takut tidak mampu membahagiakanmu, May. Aku merasa tidak pantas untuk mendampingimu. Aku pikir meninggalkanmu adalah cara terbaik. Tapi aku berjanji pada diriku, ketika aku sukses, aku akan kembali melamarmu” Restu menarik napas dalam-dalam “May maukah kamu menikah denganku?” Restu berlutut di hadapanku.

Ada rasa aneh yang menyusup ke relung-relung hatiku. Bahagia yang menyiksa. Restu, aku, rasa itu…ah aku pening. Buliran hangat menggenangi mataku.

“Maafkan aku Res. Aku telah menikah dengan Kak Sam.” Restu terdiam. Aku juga diam, berusaha memendam cintaku dalam-dalam. Sunset di Losari benar-benar kehilangan warna.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s