Beranda » Catatan Hidup » Perjalanan Hidup » Jangan Lupa

Jangan Lupa


Dari dulu saya memang pelajar yang biasa-biasa saja. Saya tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bahkan untuk lulus SMA saja penuh drama. Nilai UN yang ada dijazahpun nyaris diambang batas. Sangat tak layak dibanggakan. Bukan saja karena saya tak mau, tapi juga karena saya tak bisa. Bebal. Kata-kata kalo dia bisa aku pasti bisa, sama sekali ga ada di kamusku. Otak saya beda dengan yang rank 1. Kalo sekarang saya disuruh mengerjakan MTK-Fisika. Saya mending menyerah. Saya bahkan sudah lupa semua materi pelajaran IPA. Kecuali pengetahuan umum dan sejarah. Dari SD memang udah darahnya IPS. Nasib berkata lain ternyata.

Saya tidak pernah sekalipun dipanggil guru untuk mendapat penghargaan saat penerimaan rapor tiba. Sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.

Saya memilih menjadi pelajar santai. Datang beberapa menit sebelum bel, keluar tepat setelah bel, main kekantin di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan komunikasi. Nonton LAPTOP sampe malem hingga pagi harinya tepar. Tapi tetap mengerjakan tugas dari dosen secapek apapun. Bukan mahasiswa yang mengejar cum laude. Karena sekeras apapun saya berusaha, saat tetap tak akan mendapatkan itu.

Saat ini jika melihat teman-teman pake toga, lama-kelamaan hati ini tersiram jeruk nipis. Perih. Berapa besar rasa malu jika harus bertemu keluarga besar? Rasa malu saat bertemu teman lama? Kalo pun bisa cepat, bisa lebih dulu, sudah kukerahkan yang aku bisa. Tapi apa mau dikata, banyak hambatan disana sini. Alhamdulillah ibu tau apa yang kualami, ia tak protes mengapa aku belum juga bertoga. Maaf bu’.

Tapi aku gak mau menyerah. Seluruh waktu aku korbankan. Kalo yang lain sudah kerja, sudah magang, aku lebih memlih fokus 100% buat skripsi ini. Bolak-balik kampus-rumah yang jaraknya 3km. Buat ketemu dosen yang entah kapan datangnya. Belum lagi kalo hujan, kalo macet dijalan ditengah kondisi cuaca yang sangat terik. Luar biasa melelahkan. Tapi akhirmya sebentar lagi itu usai.

Mungkin pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang lebih penting lagi..

Saya harus tumbuh menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Saya tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat keluarga besar yang dokter dan dosen.

Saya harusnya tidak boleh terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap mama, bapak dan tante. Saya seharusnya menjadi seorang anak yang merdeka. Saya harus menjadi anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tua, seharusnya tak apa tak dianggap pintar,  yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas, tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.

Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu,
tapi bagaimana saya bisa bermanfaat bagi sekitar
Bagaimana saya bisa berdiri tegap tentang apa yang dipilihnya,
walau saya tak menjadi dosen kelak.

Intinya saya harus bahagia. Apapun yang nanti saya pilih. Apapun jalan hidup saya meski tak sama dengan kelurga besar. Tapi saya harus bahagia. Kadang sederhana, tapi jika tak ada rasa bahagia, hidup ini serasa sia-sia tak ada arti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s