Beranda » Catatan Hidup » Perjalanan Hidup » Nafas Yang Masih Tertinggal

Nafas Yang Masih Tertinggal


Dengan mengucapkan salam Aku pun melangkahkan kakinya, melanjutkan keinginan kakinya, menikmati semilir dingin di keningnya, menikmati suara merdu sang dunia, menikmati zikir binatang kepada Yang Maha Sempurna.

Waktu itu, Di hadapan patung pahlawan lokal, yang terpahat sangat gagah, dengan dada bidang menantang, dengan raut wajah bak menghadapi perang. Patung itu merangkum semangat juang masyarakat sekitar, semangat yang tak akan mungkin bisa terbayang oleh generasi sekarang, pasti tak mungkin bisa…

Aku tak sanggup melangkahkan kakinya lagi. Entah dorongan apa yang membuat Aku harus berada di sana, meski sejenak berlalu. Tiba tiba pilu serasa memukul keras perasaan Aku, serasa kehilangan seseorang yang paling berharga baginya, bagi Aku. Patung itu seakan memandangi Aku dengan tajam, seolah olah ingin menyampaikan padanya bahwasanya “penderitaan serta bebanku jauh lebih besar daripada apa yang kau bawa!!!”, semenjak berlalu, detak jarum jam tak tahu malu…

Secercah air mata meluncur, di samping jurang mata, mengisak tangis dan tawa, menggores luka tak kunjung sirna. Aku memahami itu, tentu dengan apa yang paling dia tahu…

Dengan salam Aku lekas beranjak pergi, tak kuasa lagi menghadapi dentuman yang langsung mengarah pada rasa, pada raga, dan pada jiwa. Baginya hal itu sangatlah cukup untuk obat jiwa, bagi Aku…

Di ujung jalan, Aku tak berhenti untuk menanti, menanti hal yang tak pasti itu ada, yang tak pasti menyambut kedua tangannya, yang tak pasti merangkul hatinya…

Di ujung jalan, Aku berjalan dan mengelilingi jalan, mencari nafas yang masih tertinggal, yang masih “mungkin” berzikir pada Illahi Robbi, yang mungkin  sadar bahwa hidup Cuma sekedar segelintir biji kopi.

Tepat di ujung subuh, Aku dan matanya mendapati seorang tua renta memakai baju serba biasa, yang tak Nampak kenikmatan dunia di sana, yang Cuma Nampak kesederhanaan yang ada. Dengan halus ia mengambil sapu serta peralatannya, tak ragu dia mulai menyapu di jalan itu, jalan yang di lalui waktu dengan beberapa takdir, di lalui oleh sang pelampiasan hasrat pembalap, di lalui oleh si penikmat dunia, juga di lalui oleh mereka yang di tinggal mati keluarganya ( tentu dengan menyebarkan bunga setaman di dalamnya ).

Aku memandangi si tua renta, memahami apa yang terjadi, memahami betapa hebatnya takdir yang mampu merangkai ini semua, di ujung subuh, di mana tak mungkin seorang satupun memulai pekerjaan kesehariaanya, kecuali si tua renta dan teman temannya. Kecuali pasukan kuning di ujung subuh.

Aku yang ingin kau tahu, yang tak harus berfikir, yang tak harus merasa, yang tak harus terlibat di dalamnya… seperti kata idola Aku yang tertuang dalam maha karyanya…

“Hidup adalah perjuangan tampa henti henti”

“ tak ada yang jatuh dari langit dengan Cuma Cuma, semua ( butuh ) usaha dan doa “

“hadapi dengan senyuman, semua yang terjadi biar terjadi”

Dan “ karena manusia pun bisa mengambil hikmah…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s