Otakku…


otakku sampai pada suatu pintu, yang mana pintu tersebut hanya terdapat dalam pikiran, yang mana di dalamnya terdapat sebuah keajaiban dunia yang di sebut “jiwa”, Jiwa atau Jiva berasal dari bahasa sanskerta yang artinya benih kehidupan, dalam bahasa inggris disebut “soul”. Dalam berbagai agama dan filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah (immaterial) dari seseorang.

otakku memberi salam pada jiwaku, ia sowan padanya dengan kithmad, merundukkan otaknya ke jiwaku, merendahkan logikanya pada imajinasiku…

jiwaku tersenyum, jiwanya bunga, jiwaku bahagia, jiwanya riang tak terkira mendengar otakku mencelotehkan apa yang ada di dalam otaknya, dalam pikiranku, ..

dengan kalem jiwaku berdiri, dengan kedua kaki imajinya, dengan telapak kusamnya ia berjalan keluar pintu yang hanya terdapat pada pikiran, menuju ke luar ke arahku…

otakku berlari lagi, berlari layaknua orang yang tak berlari, menuju ruang dimensi kelima, melewati jembatan yang tak terkira tipisnya, setipis iman dan keyakinan yang berbenturan karena goncangan kehidupan…

otakku berhenti sejenak, mengeluarkan separuh nafasnya yang berbentuk serpihan otak yang terparut, terparut kegelisahan masalah yang ada, masalah yang seolah inilah batas yang mampu di kerjakan bosnya otakku. aku…

otakku memelototi sekelilingnya, yang pasti hanya terdapat kegelapan yang terang, yang jelas hanya terlihat kecerahan yang suram. otakku sepertinya bingung, akan kemana lagi ia harus mencari sahabat lamanya untuk menghiburku??.

otakku berjalan gontai dengan keputusasaanya, menelusuri batas kegelisahannya, sampai pada sesaat kemudian, otakku tersentak kagum dengan kedatangan hati nurani yang anggun..Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia dalam situasi konkret.

hati nuraniku bergumam pelan, sehalus benang sutra yang tersulam, sehalus kapas yang baru saja terbang… menggumamkan keprihatinannya pada aku, sang bos hati nuraniku…

otakku seperti orang lugu, tak satupun dapat ia mengerti dengan apa yang di katakan oleh hati nuraniku, karena memang otak dan hati, memiliki tingkatan berbeda dalam segala hal, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam beragama…

otakku sekali lagi seperti orang yang berwajah tampa dosa, yang hanya bisa mengira dengan sabda yang terus saja mengalir sehalus aliran darah arteri, sehalus wajah putri kumalasari, putri khayalan tingkat tinggi…

ia bersama hatiku, mengajaknya ke aku, sang bos mereka yang tetap murung di sudut pintu penyesalan, menyesali penyesalan yang telah aku sesalkan.

jiwaku berada di depanku, dengan anggun ia memasang wajah semenarik mungkin, yang bahkan wanita alim pun akan luluh ketika melihat wajahnya, yang bahkan membuat malu para lelaki ketika memandangnya…

otakku berada di kedua sisiku, ia si kanan dan si kiri yang terus saja  mempermainkan permainan otaknya, dengan logika serta imajinya, dengan wajah semanis coklat pasta ia memegang pundakku, ah bukan, akan tetapi kedua pundakku, mereka meremasinya, selah takut akan kehilangannya…

terakhir hati nuraniku, ia dengan kehangatannya memeluk mesra tubuhku, berharap dinginnya penyesalan berubah menjadi hangatnya aura positive, aura yang bahkan mampu membuat Tuhan Allah tersenyum malu, yang bahkan membuat alam bertakbir kepadaNya, yang bahkan membuat semesta takhluk tak berdaya…

mereka semua sangat luarbiasa, otak dengan kegemilangan pikirannya, jiwa dengan keteguhan pendiriannya, serta hati nurani dengan semua auranya telah mampu membuatku- sang bos mereka, berdiri, tersenyum, tertawa, melamun bersyukur karena Tuhan Allah telah mentakdirkanku mempunyai mereka yang luar biasa dalam diriku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s